Sekelumit rasa

...unΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Tidak bisa, Clara. kau tidak bisa tinggal di sini!." Jawab Nathan, lalu tanpa peringatan lebih dulu, Nathan menarik tangan Clara agar keluar dari kamarnya.

Gladys menghela nafasnya dalam-dalam, terlebih ia baru menyadari jika sikap Clara masih juga sama dengan yang dulu.

Clara masih mencintai suaminya. Dan itu membuat Gladys semakin tidak tenang.

Ceklek

Tak berselang lama, pintu kembali terbuka. Gladys melihat Nathan kembali ke kamar mereka dengan wajah yang kusut.

"Ada apa kak? Di mana Clara?"

Nathan menghentikan Niatnya untuk masuk ke dalam toilet, lalu berjalan mendekati Gladys yang masih berada di tempatnya semula.

"kau belum tidur?"

Nathan duduk di tepi ranjang, Tak ada yang ia lakukan selain menatap wajah Gladys yang semakin pucat.

"Belum," Jawabnya sembari menatap ke arah pintu, siapa tau Clara tiba-tiba masuk kembali dari sana.

"Ada apa? kau butuh sesuatu?"

Nathan mencoba mengalihkan fokus Gladys, agar tidak terlalu mengkhawatirkan Clara.

"Ahh tidak, Aku hanya lupa belum meminum obatku saja."

"Ah iya kebetulan."

Nathan bangkit lalu berjalan ke arah meja sofa. Ia mengambil gelas yang berisi teh hangat yang ternyata sudah dingin.

"Ah sial, bisa-bisanya aku lupa."

Nathan menepuk keningnya sendiri, lalu ia memutuskan untuk membawa teh itu turun agar di ganti dengan teh hangat yang baru.

"Kenapa kak?" Tanya Gladys penasaran.

"Maaf, tehnya sudah dingin. aku akan menggantinya dengan yang hangat untuk mu!" Ucapnya dengan lembut.

Gladys tersenyum canggung, ini kali pertama Nathan bersikap lembut dan perhatian padanya.

Sembari menunggu Nathan kembali, Gladys memutuskan untuk tidur. Niatnya yang ingin merebahkan diri saja malah berakhir tidur dengan nyenyak.

"Glad, ini tehnya."

Nathan masuk ke dalam kamar dengan secangkir teh di tangannya.

"Gladys, minum ini!"

Nathan menyodorkan gelas itu ke arah Gladys yang tidur membelakangi dirinya.

Sejenak Nathan termenung. Ia melihat tubuh Gladys bergerak seiring dengan nafas yang teratur.

"kau sudah tidur rupanya."

Nathan memutuskan meletakkan kelas itu ke atas meja. Lalu, Menarik tubuh Gladys untuk tidur terlentang menghadapnya.

Di dalam tidurnya. Gladys merasa wajahnya di belai oleh seseorang yang ia yakini adalah Nathan.

Selain di belai, Ia juga merasakan benda kenyal seolah tengah mengecup bibirnya cukup lama.

Di dalam tidurnya, ia juga mendengar jika seseorang itu memintanya untuk tidur dengan nyenyak.

"Tidurlah Glad! tidur yang nyenyak, bukankah aku sudah memintamu beristirahat? tapi kenapa kau masih bebal juga? kau harus sembuh!"

Ucap Nathan, sesaat sebelum Gladys berbalik lalu tenggelam kembali dalam tidurnya.

Ketika dia bangun, Langit sudah mulai terang. Sayup-sayup mata Gladys merasakan silau dari sinar matahari yang masuk melalui jendela yang kordennya terbuka.

Uhh

Leguh Gladys, Lalu merentangkan kedua tangannya untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya.

"Nona, anda sudah bangun?"

Pelayan itu membantunya duduk dan menyentuh keningnya. "Syukurlah, akhirnya demam anda sudah turun.

Gladys menatap teduh pelayan yang duduk di hadapannya saat ini.

"kau di sini, di mana suamiku?"

"Tuan, sudah berangkat ke kantor. tadi tuan berpesan jika anda, istirahat saja di rumah!"

Gladys mengangguk dengan sorot mata yang meredup. Hatinya terasa perih semalam dalam mimpi ia berharap jika Nathan lah yang merawatnya.

Namun, pagi ini yang ia lihat adalah pelayan kediaman Collins lah yang merawatnya.

Selagi Gladys merenung, pelayan itu membawakan sebuah mangkok bubur untuknya.

"Nona, silahkan makan bubur ini. lalu, segera minum obat."

Mencium aroma bubur itu membuat Gladys tiba-tiba mual.

"Nona, anda kenapa?"

Pelayan itu nampak panik, Lalu berusaha untuk menjauhkan bubur itu dari hadapan Gladys.

"Tolong, jangan paksa aku memakannya!" Gladys menutup hidungnya kuat-kuat sembari menahan mual.

"Tapi, Nona...."

Pelayan itu nampak ketakutan untuk melanjutkan ucapannya.

"Nanti aku akan memakannya, taruh saja di meja dekat sofa."

Gladys menunjuk ke arah sofa yang berada sedikit jauh darinya.

Pelayan itu mengangguk, lalu dengan terpaksa beranjak menaruh mangkuk itu ke atas meja sesuai perintah sang Nona.

"Terimakasih." Ucap Gladys.

Pelayan itu mengangguk, "Nona, apa anda mau saya ambilkan buah?" tawar sang pelayan lagi.

Ia harus mastikan jika sang Nona muda makan pagi ini. karena ia takut tuan Nathan akan marah jika Nona Gladys tidak makan dan minum obatnya.

"kau bisa membuatkan aku susu!"

"Baik Nona,"

Akhirnya pelayan itu keluar untuk membuatkan apa yang di minta Gladys.

Setelah memastikan pelayan itu benar-benar keluar, Gladys dengan segera mengambil mangkok itu meskipun dengan hidung yang harus ia jepit menggunakan kedua jarinya.

Dengan gerakan cepat, Gladys membuang semua bubur itu ke dalam toilet agar hanyut tak bersisa.

Setelahnya, Gladys berpura-pura duduk di atas sofa seolah-olah tengah menghabiskan buburnya.

Lima belas menit kemudian. Akhirnya, Pelayan itu kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas susu pesanannya.

Meskipun sempat terkejut saat melihat Gladys sudah berpindah tempat. Akhirnya pelayan itu meletakkan segelas susu itu tepat di hadapan Gladys.

"Ini Nona,"

Ucap pelayan itu sembari melirik Gladys sekilas.

"Terimakasih,"

Jawab Gladys, sembari berpura-pura meletakkan mangkuk kosong di atas meja.

Pelayan itu melirik mangkok yang sudah kosong, ia lega karena akhirnya Gladys mau memakannya.

"Apakah ada yang Nona inginkan lagi?"

Pelayan itu mengambil mangkuk kosong itu untuk ia bawa keluar. sembari menunggu Gladys memberikan perintah padanya.

"Tidak perlu, keluarlah!"

Setelah memastikan pelayan itu keluar, Gladys dapat bernafas dengan lega. Ia bisa menikmati susu itu dengan tenang tanpa di awasi siapapun.

"Setidaknya, perutku terisi dengan susu ini." Ucap Gladys, sembari menatap gelas kosong itu dengan mata berbinar.

Setelahnya, Ia baru ingat jika dokter kandungannya memberikannya sebuah obat. Lalu, dengan segera ia berjalan mencari tasnya.

Anehnya, tas itu tak ada di mana-mana. ia bingung mencarinya kesana kemari namu tak kunjung ketemu.

"Aduh kemana tasku?"

"Apa yang kau lakukan?"

Deg

Seketika jantung Gladys berdetak tak karuan. ia, nampak panik mendengar suara Nathan yang tiba-tiba muncul.

Ia merasa tertangkap basah saat ini.

Gladys berbalik, lalu tersenyum lebar berusaha untuk menetralkan detak jantungnya.

"Kak, kau sudah pulang? bukankah seharusnya, kakak berada di kantor jam seperti ini?"

Meskipun sedang gugup, Gladys berusaha menutupi kegugupannya agar Nathan tak semakin curiga padanya.

Dahi Nathan mengerut. lalu, melangkah maju mendekati Gladys yang malah melangkah mundur.

"Aku pulang cepat." Jawab Nathan to do Points. sehingga Gladys tak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk kembali menghindarinya.

Hingga akhirnya tubuh Gladys membentur meja nakas yang berada tak jauh dari ranjangnya.

Deg

Nathan berhasil mengunci tubuh Gladys, tepat dalam kungkungannya.

Episodes
1 Kembalinya sang pelakor
2 Kembalinya sang pelakor 2
3 Sikap Asli Clara
4 Dendan
5 Dendam 2
6 Kehamilan rahasia
7 Kehamilan rahasia 2
8 Tak sengaja bertemu
9 Fakta sebenarnya
10 Cibiran
11 Sekelumit rasa
12 Kecewa
13 Mulai curiga
14 Kejutan pahit
15 Mulai canggung
16 Sikap tegas Nathan
17 Hampir ketahuan
18 Hasutan Clara.
19 Sekelumit rasa
20 Sedikit perdebatan
21 Keras kepala.
22 Keras kepala 2
23 Sedikit perdebatan
24 Kecewa
25 Tak sengaja bertemu
26 Bertemu kembali
27 Ketakutan
28 Sebuah Alibi
29 Salahh pahamnya Gladys
30 Akal licik Clara
31 Racun
32 Manipulatif
33 Pengganggu
34 Bertemu kembali
35 Kekesalan Clara
36 Perasaan sebenarnya
37 Perasaan Nathan yang sesungguhnya.
38 Sikap Asli Clara
39 Perubahann sikapp Nathan.
40 Kekesalan Clara
41 Kejujuran
42 Cemburu
43 Mari bercerai??
44 EGO
45 Mulai cemburu
46 Alasan
47 Ketegangan
48 Mulai posesif
49 Salah paham
50 Sikap Tegas Nathan
51 Mengerjai
52 Mulai hangat
53 Ulah Clara.
54 Gladys vz Clara.
55 Gladys vz Clara 2
56 Kemunculan yang tiba-tiba
57 Terjebak
58 Terjebaknya Clara
59 Cemburu
60 Rencana baru Clara.
61 Upaya menyadarkan
62 Teguran
63 Ketahuan
64 Cemburu
65 Sadarnya Nyonya Juita 1
66 Siasat Clara
67 Perubahan sikap
68 Mencoba bernegosiasi
69 Putusan
70 Ancaman
71 Sikap tegas Yuda
72 Puncak Rencana
73 Fakta menyakitkan.
74 Pingsan
75 Sadar
76 Kerja sama
77 Kabur
78 Berhasil Kabur
79 Penyesalan
80 Pelarian
81 Pertolongan
82 Hilang tanpa jejak
83 Karma
84 terbongkar
85 Terbongkar2
86 kisah sebenarnya
87 Cerita sebenarnya
88 Kegilaan Nathan
89 Kecurigaan
90 Lima tahun kemudian.
91 Brian
92 Cinta yang tulus
93 Lamaran Valdo
94 Rencana
95 Rencana Nathan
96 Surabaya
97 Surabaya 2
98 Kembali
99 Bertemu Kembali
100 Pertemuan tak terduga
101 Ketegasan
102 Bertemu Brian 1
103 Bertemu Brian 2
104 pertemuan tak terduga
105 Pertemuan tak terduga
106 Kejutan
107 Kabur
108 Skandal
109 Harmonis
110 Peringatan
111 Hak asuh
112 Amarah tuan Nando
113 Amarah Tuan Nando
114 Kecelakaan
115 pertemuan tak terduga
116 Peringatan untuk Clara
117 Sadar
118 Ada apa dengan Brian?
119 Rahasia Clara
120 Kesal
121 Hari Yang di tunggu
122 H- 1 tamat
123 Menjelang ending
124 Bonus Bab.
125 Terbongkar
126 Tamat
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Kembalinya sang pelakor
2
Kembalinya sang pelakor 2
3
Sikap Asli Clara
4
Dendan
5
Dendam 2
6
Kehamilan rahasia
7
Kehamilan rahasia 2
8
Tak sengaja bertemu
9
Fakta sebenarnya
10
Cibiran
11
Sekelumit rasa
12
Kecewa
13
Mulai curiga
14
Kejutan pahit
15
Mulai canggung
16
Sikap tegas Nathan
17
Hampir ketahuan
18
Hasutan Clara.
19
Sekelumit rasa
20
Sedikit perdebatan
21
Keras kepala.
22
Keras kepala 2
23
Sedikit perdebatan
24
Kecewa
25
Tak sengaja bertemu
26
Bertemu kembali
27
Ketakutan
28
Sebuah Alibi
29
Salahh pahamnya Gladys
30
Akal licik Clara
31
Racun
32
Manipulatif
33
Pengganggu
34
Bertemu kembali
35
Kekesalan Clara
36
Perasaan sebenarnya
37
Perasaan Nathan yang sesungguhnya.
38
Sikap Asli Clara
39
Perubahann sikapp Nathan.
40
Kekesalan Clara
41
Kejujuran
42
Cemburu
43
Mari bercerai??
44
EGO
45
Mulai cemburu
46
Alasan
47
Ketegangan
48
Mulai posesif
49
Salah paham
50
Sikap Tegas Nathan
51
Mengerjai
52
Mulai hangat
53
Ulah Clara.
54
Gladys vz Clara.
55
Gladys vz Clara 2
56
Kemunculan yang tiba-tiba
57
Terjebak
58
Terjebaknya Clara
59
Cemburu
60
Rencana baru Clara.
61
Upaya menyadarkan
62
Teguran
63
Ketahuan
64
Cemburu
65
Sadarnya Nyonya Juita 1
66
Siasat Clara
67
Perubahan sikap
68
Mencoba bernegosiasi
69
Putusan
70
Ancaman
71
Sikap tegas Yuda
72
Puncak Rencana
73
Fakta menyakitkan.
74
Pingsan
75
Sadar
76
Kerja sama
77
Kabur
78
Berhasil Kabur
79
Penyesalan
80
Pelarian
81
Pertolongan
82
Hilang tanpa jejak
83
Karma
84
terbongkar
85
Terbongkar2
86
kisah sebenarnya
87
Cerita sebenarnya
88
Kegilaan Nathan
89
Kecurigaan
90
Lima tahun kemudian.
91
Brian
92
Cinta yang tulus
93
Lamaran Valdo
94
Rencana
95
Rencana Nathan
96
Surabaya
97
Surabaya 2
98
Kembali
99
Bertemu Kembali
100
Pertemuan tak terduga
101
Ketegasan
102
Bertemu Brian 1
103
Bertemu Brian 2
104
pertemuan tak terduga
105
Pertemuan tak terduga
106
Kejutan
107
Kabur
108
Skandal
109
Harmonis
110
Peringatan
111
Hak asuh
112
Amarah tuan Nando
113
Amarah Tuan Nando
114
Kecelakaan
115
pertemuan tak terduga
116
Peringatan untuk Clara
117
Sadar
118
Ada apa dengan Brian?
119
Rahasia Clara
120
Kesal
121
Hari Yang di tunggu
122
H- 1 tamat
123
Menjelang ending
124
Bonus Bab.
125
Terbongkar
126
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!