Sedikit perdebatan

...AKanΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Jangan begini Kak!"

Gladys mendorong tubuh Nathan agar menjauh darinya. Di sisi lain, harga diri Nathan sangat terluka karena lagi-lagi Gladys seolah menolak untuk berdekatan dengannya.

"Kenapa?" Cicit Nathan, lalu menarik tangan Gladys hingga membentur dada badannya.

Kali ini Gladys di buat membeku hingga tak dapat berkata apapun lagi.

"Bakat kita sudah sering melakukan lebih dari ini. tapi, kenapa seolah kau begitu jijik padaku akhir-akhir ini Glad?"

"Omong kosong, aku tidak pernah merasa melakukan itu! huekkkkk"

Tiba-tiba perut Gladys terasa mual. entah kenapa aroma tubuh Nathan saat ini berbeda dari biasanya.

"Oh my god, jangan lagi!!!"

Nathan menyingkir, lalu dengan cepat Gladys berlari ke arah kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.

Nathan mengikutinya dari belakang, Keningnya mengerut sinis. tingkah Gladys membuatnya sedikit curiga, apalagi beberapa hari ini ia melihat sendiri bagaimana tingkah Gladys yang sering memuntahkan isi perutnya.

"Sebenernya, kau ini sakit apa?"

Mendengar itu, Gladys terdiam sejenak. lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Nathan meskipun dari balik cermin.

"Aku hanya masuk angin," Jawabnya dengan berbohong.

"Apa ini karena kau kehujanan? Ku rasa kau harus di bawa ke rumah sakit!"

Mendengar itu, dengan cepat Gladys menggelengkan kepalanya meskipun sedikit lemah.

"Tidak, itu tidak perlu. aku sudah sedikit mendingan." Gladys memperagakan gerakan kecil menggunakan jarinya agar Nathan bisa melihatnya dari balik cermin.

Akan tetapi, Nathan masih menatapnya dengan curiga. "Benarkah? Lalu mana obatmu? sejak kemarin, aku bahkan belum melihatmu meminum obat itu."

Pungkas Nathan, Lalu melipat kedua tangannya seolah-olah tengah menunggu jawaban dari Gladys atas pertanyaannya tadi.

Gladys hanya bisa menjawabnya dengan tak acuh. "Obatnya terlalu pahit, aku tidak suka meminumnya."

"What? Jangan bercanda Glad! mana ada hanya karena pahit. lalu, kau tidak meminumnya, itu sungguh keterlaluan!"

Cicit Nathan tak habis pikir dengan jalan pikiran Gladys saat ini.

Gladys berbalik, kini tatapan mata keduanya bertemu. Tatapan yang biasanya penuh dengan cinta, kini seolah lenyap dan itu membuat Nathan seolah-olah berhadapan dengan orang lain.

"Jika tidak ada lagi yang ingin kakak tanyakan,aku ijin untuk turun ke bawah! aku lapar dan ingin makan."

Pamit Gladys, lalu berjalan keluar melewati Nathan begitu saja. Bahkan, Gladys tak sengaja menyenggol bahu Nathan hingga pria itu seperti terkejut.

Deg

Jantung Nathan seolah berdetak tak karuan. ia merasa ada yang hilang dari dirinya saat ini, Rasanya begitu sesak kala menatap kedua netra Gladys yang tak seperti biasanya.

Reflek tangan Nathan, memegangi dada sebelah kirinya. "Ada apa ini? kenapa rasanya sakit sekali, kenapa aku jadi sedih ketika menatap matanya?"

Terlepas Nathan masih belum bisa memahami perasaannya saat ini.

Gladys memilih pergi dengan segera dari sana karena, Ia tidak ingin terlibat pembicaraan terlalu jauh dengan Nathan.

Ada rahasia besar yang harus ia sembunyi kan saat ini, yang tidak ingin Nathan mengetahuinya.

Tak berselang lama, Nathan berlari mengikuti langkah Gladys yang keluar dari kamarnya menuju ke arah Pantry.

Di sana pelayan tengah sibuk menyiapkan makan siang sesuai perintah Nathan sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.

"Nona, apa anda membutuhkan sesuatu?"

Tanya Pelayan yang tak sengaja melihat Gladys berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

Gladys segera menghampirinya, lalu menarik kursi makan dan duduk di sana.

"Perutku lapar, bisakah kupas kan buah untukku!"

Pelayan itu tersenyum. lalu mengangguk dengan patuh dan pergi.

Sementara Nathan, akhirnya sampai juga di meja makan. ia melihat Gladys tengah duduk seolah menunggu sesuatu.

Nathan hanya menatap wajah pucat Gladys dengan kening yang mengerut. sementara itu, pelayan yang tadi di mintai tolong oleh Gladys, akhirnya datang dengan membawa buah apel yang sudah di kupas.

"Apa itu?" Nathan menarik piring yang berisi buah itu untuk ia lihat.

"Apa ini? kenapa kau hanya memakan buah? kau sedang sakit, seharusnya kau banyak amalan agar segera sembuh!"

Gladys hanya menghela nafasnya dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya untuk melihat Nathan.

"sudah ku katakan jika aku masih belum bisa banyak makan, mulutku masih pahit."

Setelah menjawab semua pertanyaan Nathan, Gladys dengan berani menarik piring buah itu dari tangan Nathan.

Ia tidak perduli dengan apa reaksi Nathan setelah ini. yang jelas ia ingin memakan buah itu dengan segera.

Mungkin inilah yang di namakan ngidam. sejak tadi, Gladys ingin sekali menghabiskan buah manis asam itu dengan segera.

Dan benar saja, Tak membutuhkan waktu lama Gladys menghabiskan dua buah apel yang di potong dadu itu sendiri.

Sementara Nathan, pria itu hanya diam menatap Gladys yang tengah asik menghabiskan makannya.

Entah mengapa, Nathan malah semakin curiga dengan gelagat aneh yang di tunjukkan Gladys.

ia merasa ada yang tidak beres, namun ia tidak bisa menjelaskan nya dengan kata-kata.

Nathan berubah gelisah, perubahan sikap Gladys membuatnya tidak tenang.

"Sebenernya apa yang terjadi? kenapa, ada apa denganmu Glad? "

Nathan terus menatap Gladys, hingga akhirnya tiba-tiba terdengar bunyi ponsel milik Nathan. Akhirnya dengan terpaksa pria itu pergi meninggalkan tempat itu untuk mengangkat panggilan dari ponselnya.

Sepeninggal pria itu, Gladys berusah payah untuk mengendalikan emosinya. "Tenang, tenang Glad!"

Gladys mencoba untuk mengontrol emosinya dan meredakan detak jantungnya, guna nafasnya stabil.

Gladys menundukkan wajahnya. lalu, menatap perutnya yang masih rata. "Ku mohon bertahanlah! tumbuhlah menjadi anak yang kuat dan tak terkalahkan."

Gumamnya, hingga tanpa sadar mengelus perutnya yang masih datar itu.

Hanya saja. kejadian itu terjadi cuma sesaat karena Gladys buru-buru kembali bersikap biasa agar tidak ada yang mencurigai dirinya.

Tak berselang lama, tiba-tiba ada seorang pelayan yang membawakannya segelas jamu.

Kening Gladys mengerut, lalu dengan segera ia menutup hidungnya rapat-rapat agar tidak merasakan mual.

"Apa itu?" Tangannya dengan suara yang cukup tinggi.

"Ini jamu, Nona." Jawab sang pelayan dengan takut.

"Untuk apa? bawa pergi sana! aku mual mencium baunya."

"Tapi, Nona. ini bagus untuk orang yang sedang masuk angin."

Pelayan itu mencoba untuk menjelaskan. namun, Gladys buru-buru pergi dari sana sehingga ia tidak sempat untuk mendengarkan keterangan dari pelayan rumahnya.

Ceklek

Sesampainya di ambang pintu, Gladys ingin menutupnya kembali. Namun sayup-sayup ia mendengar suara Nathan yang tengah asik mengobrol.

"Ya, nanti aku akan datang kesana. lebih baik kau beristirahat dan minum obatnya!" Ucapnya terdengar lembut. lembut, seolah Nathan tengah berbicara dengan seseorang yang sangat di cintainya.

Sepersekian detik. otak Gladys langsung mengarah pada Clara, siapa lagi seseorang yang bisa menaklukkan pria dingin seperti Nathan jika bukan adiknya.

Lagi-lagi Gladys di buat tersenyum miris, ia baru ingat jika Hanya Clara saja yang bisa meluluhkan hati Nathan, sesuatu yang sampai detik ini belum bisa ia lakukan.

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

Kabur aja Glad 😡

2025-01-15

0

lihat semua
Episodes
1 Kembalinya sang pelakor
2 Kembalinya sang pelakor 2
3 Sikap Asli Clara
4 Dendan
5 Dendam 2
6 Kehamilan rahasia
7 Kehamilan rahasia 2
8 Tak sengaja bertemu
9 Fakta sebenarnya
10 Cibiran
11 Sekelumit rasa
12 Kecewa
13 Mulai curiga
14 Kejutan pahit
15 Mulai canggung
16 Sikap tegas Nathan
17 Hampir ketahuan
18 Hasutan Clara.
19 Sekelumit rasa
20 Sedikit perdebatan
21 Keras kepala.
22 Keras kepala 2
23 Sedikit perdebatan
24 Kecewa
25 Tak sengaja bertemu
26 Bertemu kembali
27 Ketakutan
28 Sebuah Alibi
29 Salahh pahamnya Gladys
30 Akal licik Clara
31 Racun
32 Manipulatif
33 Pengganggu
34 Bertemu kembali
35 Kekesalan Clara
36 Perasaan sebenarnya
37 Perasaan Nathan yang sesungguhnya.
38 Sikap Asli Clara
39 Perubahann sikapp Nathan.
40 Kekesalan Clara
41 Kejujuran
42 Cemburu
43 Mari bercerai??
44 EGO
45 Mulai cemburu
46 Alasan
47 Ketegangan
48 Mulai posesif
49 Salah paham
50 Sikap Tegas Nathan
51 Mengerjai
52 Mulai hangat
53 Ulah Clara.
54 Gladys vz Clara.
55 Gladys vz Clara 2
56 Kemunculan yang tiba-tiba
57 Terjebak
58 Terjebaknya Clara
59 Cemburu
60 Rencana baru Clara.
61 Upaya menyadarkan
62 Teguran
63 Ketahuan
64 Cemburu
65 Sadarnya Nyonya Juita 1
66 Siasat Clara
67 Perubahan sikap
68 Mencoba bernegosiasi
69 Putusan
70 Ancaman
71 Sikap tegas Yuda
72 Puncak Rencana
73 Fakta menyakitkan.
74 Pingsan
75 Sadar
76 Kerja sama
77 Kabur
78 Berhasil Kabur
79 Penyesalan
80 Pelarian
81 Pertolongan
82 Hilang tanpa jejak
83 Karma
84 terbongkar
85 Terbongkar2
86 kisah sebenarnya
87 Cerita sebenarnya
88 Kegilaan Nathan
89 Kecurigaan
90 Lima tahun kemudian.
91 Brian
92 Cinta yang tulus
93 Lamaran Valdo
94 Rencana
95 Rencana Nathan
96 Surabaya
97 Surabaya 2
98 Kembali
99 Bertemu Kembali
100 Pertemuan tak terduga
101 Ketegasan
102 Bertemu Brian 1
103 Bertemu Brian 2
104 pertemuan tak terduga
105 Pertemuan tak terduga
106 Kejutan
107 Kabur
108 Skandal
109 Harmonis
110 Peringatan
111 Hak asuh
112 Amarah tuan Nando
113 Amarah Tuan Nando
114 Kecelakaan
115 pertemuan tak terduga
116 Peringatan untuk Clara
117 Sadar
118 Ada apa dengan Brian?
119 Rahasia Clara
120 Kesal
121 Hari Yang di tunggu
122 H- 1 tamat
123 Menjelang ending
124 Bonus Bab.
125 Terbongkar
126 Tamat
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Kembalinya sang pelakor
2
Kembalinya sang pelakor 2
3
Sikap Asli Clara
4
Dendan
5
Dendam 2
6
Kehamilan rahasia
7
Kehamilan rahasia 2
8
Tak sengaja bertemu
9
Fakta sebenarnya
10
Cibiran
11
Sekelumit rasa
12
Kecewa
13
Mulai curiga
14
Kejutan pahit
15
Mulai canggung
16
Sikap tegas Nathan
17
Hampir ketahuan
18
Hasutan Clara.
19
Sekelumit rasa
20
Sedikit perdebatan
21
Keras kepala.
22
Keras kepala 2
23
Sedikit perdebatan
24
Kecewa
25
Tak sengaja bertemu
26
Bertemu kembali
27
Ketakutan
28
Sebuah Alibi
29
Salahh pahamnya Gladys
30
Akal licik Clara
31
Racun
32
Manipulatif
33
Pengganggu
34
Bertemu kembali
35
Kekesalan Clara
36
Perasaan sebenarnya
37
Perasaan Nathan yang sesungguhnya.
38
Sikap Asli Clara
39
Perubahann sikapp Nathan.
40
Kekesalan Clara
41
Kejujuran
42
Cemburu
43
Mari bercerai??
44
EGO
45
Mulai cemburu
46
Alasan
47
Ketegangan
48
Mulai posesif
49
Salah paham
50
Sikap Tegas Nathan
51
Mengerjai
52
Mulai hangat
53
Ulah Clara.
54
Gladys vz Clara.
55
Gladys vz Clara 2
56
Kemunculan yang tiba-tiba
57
Terjebak
58
Terjebaknya Clara
59
Cemburu
60
Rencana baru Clara.
61
Upaya menyadarkan
62
Teguran
63
Ketahuan
64
Cemburu
65
Sadarnya Nyonya Juita 1
66
Siasat Clara
67
Perubahan sikap
68
Mencoba bernegosiasi
69
Putusan
70
Ancaman
71
Sikap tegas Yuda
72
Puncak Rencana
73
Fakta menyakitkan.
74
Pingsan
75
Sadar
76
Kerja sama
77
Kabur
78
Berhasil Kabur
79
Penyesalan
80
Pelarian
81
Pertolongan
82
Hilang tanpa jejak
83
Karma
84
terbongkar
85
Terbongkar2
86
kisah sebenarnya
87
Cerita sebenarnya
88
Kegilaan Nathan
89
Kecurigaan
90
Lima tahun kemudian.
91
Brian
92
Cinta yang tulus
93
Lamaran Valdo
94
Rencana
95
Rencana Nathan
96
Surabaya
97
Surabaya 2
98
Kembali
99
Bertemu Kembali
100
Pertemuan tak terduga
101
Ketegasan
102
Bertemu Brian 1
103
Bertemu Brian 2
104
pertemuan tak terduga
105
Pertemuan tak terduga
106
Kejutan
107
Kabur
108
Skandal
109
Harmonis
110
Peringatan
111
Hak asuh
112
Amarah tuan Nando
113
Amarah Tuan Nando
114
Kecelakaan
115
pertemuan tak terduga
116
Peringatan untuk Clara
117
Sadar
118
Ada apa dengan Brian?
119
Rahasia Clara
120
Kesal
121
Hari Yang di tunggu
122
H- 1 tamat
123
Menjelang ending
124
Bonus Bab.
125
Terbongkar
126
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!