Setelah seharian kemarin tidur, akhirnya pagi ini Vior dan Caramel kembali ke rutinitas seperti biasa. Keduanya berangkat menuju kampus dengan wajah yang berseri-seri dan semangat baru. Kampus itu sudah kembali beroperasi dengan baik, bahkan garis polisi pun sudah dicopot.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sampai di kampus. "Ah, aku rindu sekali dengan suasana kampus," ucap Caramel sembari melepas helmnya.
"Iya, baru saja sehari kita masuk kuliah sudah libur satu minggu karena kasus itu," sahut Vior.
"Semoga tidak akan ada kejadian aneh-aneh lagi di sini," ucap Caramel.
Vior dan Caramel baru saja menyimpan helmnya, tiba-tiba terdengar klakson mobil. Ternyata itu adalah mobil Deril, Valdo, dan juga Deki.
"Halo, aku rindu sama kalian." Valdo menghampiri Vior dan Caramel, lalu memeluk keduanya secara bergantian.
Vior dan Caramel sampai diam mematung mendapat pelukan dari Valdo. Valdo memang orangnya sangat ramah dan baik, bahkan dia terlihat penyayang sekali dan menganggap Vior dan Caramel seperti adik-adiknya sendiri.
"Selama seminggu ini kalian liburan ke mana?" tanya Deki.
"Aku pulang kampung, Kak. Nenek aku sakit, jadi aku liburan di rumah nenek," sahut Vior.
"Kok kalian gak ajak kita sih, padahal kita bosan banget di rumah main game. Coba kalau kalian ajak kita, pasti seru tuh liburan di perkampungan," ucap Deki.
Vior tersenyum. "Nanti deh, kalau aku pulang kampung lagi, aku ajak kalian," ucap Vior.
"Janji ya, awas kalau tidak ajak-ajak lagi," ucap Valdo.
"Oke."
Deril hanya geleng-geleng kepala dengan wajah dinginnya kala melihat tingkah kedua sahabatnya. Dia baru lihat jika Valdo dan Deki begitu sangat dekat dengan Vior dan Caramel, karena selama ini setiap ada mahasiswa baru mereka tidak pernah seperti itu. Valdo merangkul pundak Vior, sedangkan Deki merangkul pundak Caramel, mereka berjalan masuk menuju ruangan kelas mereka.
"Ih, lihat deh Van, kok mereka jadi dekat sama bocil-bocil itu sih?" sinis Sandra.
"Iya, aneh banget. Apa jangan-jangan mereka pakai pelet? soalnya selama ini Valdo dan Deki tidak pernah bersikap manis kepada mahasiswa baru," sahut Vanilla.
"Gara-gara mereka, Deril dan yang lainnya jadi dingin sama kita," kesal Sandra.
"Harus diberi peringatan tuh bocil-bocil," sahut Vanilla.
Ketiga cowok idaman kampus itu mengantar Vior dan Caramel sampai di depan kelas mereka membuat semua orang melihat ke arah mereka. "Masuklah, dan belajar dengan rajin," ucap Valdo sembari mengacak-acak rambut Vior.
"Siap, Kak," sahut Vior.
"Sok cantik," ketus Deril.
"Apaan sih Kak, siapa juga yang sok cantik!" kesal Vior.
Deril melengos pergi dari sana membuat Vior semakin kesal. "Sudah, jangan ditanggapi. Si Deril memang seperti itu orangnya, dingin dan kaku banget," ucap Valdo.
"Dia ketolong sama wajah yang tampan saja, jika wajahnya jelek sudah pasti dia tidak akan mempunyai teman sama sekali," timpal Deki.
Vior dan Caramel pun tersenyum. "Ya sudah Kak, kalau begitu kita masuk dulu," ucap Caramel.
"Oke, selamat belajar," sahut Deki.
Vior dan Caramel pun masuk ke dalam ruangan kelas mereka, sedangkan Valdo dan Deki juga segera menuju ruangan kelas mereka. Setelah Valdo dan Deki pergi, Sandra dan Vanilla masuk ke dalam ruangan kelas Vior dan langsung menghampiri kedua gadis itu. Vanilla menggebrak meja sampai Vior dan Caramel pun terkejut.
"Kita sudah bilang, jangan dekati Deril dan teman-temannya kenapa kalian tidak nurut!" bentak Sandra.
"Kalian sengaja ya, mau bikin kita kesal," sambung Vanilla.
"Kita tidak pernah mendekati mereka Kak, tapi mereka yang selalu mendekati kita," sahut Caramel dengan penuh emosi.
"Percaya diri sekali kalian, memangnya kalian secantik apa sampai-sampai mereka mendekati kalian? asalkan kalian tahu ya, mereka tidak pernah sedekat itu sama mahasiswa baru, tapi tiba-tiba mereka sebaik itu sama kalian, apa kalian memakai pelet," tuduh Vanilla.
"Cukup Kak, kita tidak pernah menggunakan hal-hal seperti itu. Kakak jangan sembarangan kalau bicara!" bentak Vior.
Sandra mencengkram lengan Vior. "Berani sekali kamu membentak Vanilla, kalian itu cuma mahasiswa beasiswa di sini dan kita adalah anak dari donatur tetap di kampus ini, jadi kalian jangan macam-macam!" bentak Sandra.
"Kalau hidup kalian ingin tenang di kampus ini, jauhi Deril dan yang lainnya kalau tidak, kalian tidak akan tenang kuliah di sini," ancam Vanilla.
Sandra menghempaskan tangan Vior, lalu mereka pun pergi meninggalkan ruangan kelas Vior. Caramel lengan bajunya hendak melawan namun Vior menahannya dengan menarik ujung baju Caramel.
"Lepaskan Vi, aku mau lawan mereka," ucap Caramel.
"Sudahlah, duduk saja. Seharusnya kalau kamu mau melawan, tadi pas Kak Sandra mencengkram lengan aku bukannya mereka sudah pergi, kamu baru mau melawan," ucap Vior sembari mendelikan matanya.
"Kalau tadi aku gak berani," sahut Caramel.
"Lah, terus sekarang ngapain kamu sok-sok'an mau ngejar mereka?" tanya Vior bingung.
Seketika Caramel menggaruk kepalanya sembari cengengesan. "Cuma gaya-gayaan saja," sahut Caramel.
Vior langsung menoyor kepala Caramel karena merasa gemas. "Oh iya, pengganti Pak Wisnu siapa ya? Mudah-mudahan saja, dosennya masih muda biar bisa cuci mata sedikit," ucap Caramel cengengesan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara derap langkah kaki. Semua mahasiswa melihat ke arah pintu, terlihat seorang pria berusia kira-kira 30 tahunan masuk membuat mata para mahasiswi berbinar-binar. "Vi, doa aku terkabul. Dosen kita masih muda, mana tampan lagi," bisik Caramel.
Vior mencubit paha Caramel membuat Caramel reflek berteriak. "Ada apa itu?" tanya Dosen itu.
"Ah, tidak apa-apa Pak, maaf," sahut Caramel.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Dion, saya adalah dosen pengganti Pak Wisnu. Mulai sekarang, saya yang akan mengajar kalian dan saya ingin kalian mendengarkan mata pelajaran yang saya ajarkan dengan baik karena saya paling tidak suka dengan mahasiswa yang tidak fokus saat mata pelajaran saya. Saya juga paling tidak suka kepada mahasiswa yang terlambat, jadi saya minta kalian harus datang tepat waktu kalau tidak, saya tidak akan segan-segan untuk menghukum kalian!" tegas Pak Dion.
"Baik, Pak," sahut semuanya bersamaan.
"Busyet, sifatnya sebelas duabelas sama Kak Deril, dingin kaya kulkas sepuluh pintu," bisik Caramel.
"Sudah diam, jangan banyak protes," sahut Vior.
Dion pun mulai menjelaskan pelajaran, mata Dion sangat tajam membuat yang ditatap Dion bergidik ngeri. Vior memperhatikan Dion dengan seksama, dia merasa jika Dion bukan orang sembarangan. Vior merasa jika Dion sama seperti dirinya mempunyai kelebihan, tapi Vior masih belum bisa tahu kelebihan apa yang dimiliki Dion.
Dion melihat ke arah Vior. "Akhirnya aku bisa menemukanmu, Vior," batin Dion.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
aas
laaah siapaa kok kenal Vior? 🤔
2025-03-05
2
Nia Risma
si caramel malah ngelawak
2025-03-31
1
awesome moment
d bonding p an n?
2024-12-14
1