Malam pun tiba....
Malam ini Vior sama sekali tidak bisa tidur, entah kenapa dia teringat kepada arwah Ayu. "Apakah arwah Kak Ayu sudah bisa keluar dari sana? aku takut jika arwah Kak Ayu tidak bisa keluar juga dan besok adalah hari terakhir untuk aku menguak kasus ini," batin Vior cemas.
Sementara itu di kampus, Dodo dan Ramdan sedang menjalani tugasnya sebagai satpam. Sebenarnya shift malam itu Ramdan, hanya saja Ramdan meminta Dodo untuk menemaninya sebentar saja karena rekan Ramdan satunya lagi tidak bisa masuk karena sakit. Dodo yang merasa kasihan kepada Ramdan, akhirnya memutuskan untuk menemaninya.
"Bang, abang merasa tidak jika malam ini dingin banget?" ucap Ramdan sembari mengeratkan jaketnya.
"Iya, dingin dan sunyi," sahut Pak Dodo.
Keduanya duduk di pos sembari ngopi kopi hitam, tiba-tiba terdengar suara bunyi benda terjatuh sangat keras membuat Dodo dan Ramdan tersentak kaget. "Suara apa itu, Bang?" ucap Ramdan kaget.
"Entahlah, tapi sepertinya suara itu dari salah satu ruangan," sahut Pak Dodo.
"Sebaiknya kita periksa Bang, takutnya ada pencuri yang menyusup masuk ke area kampus," usul Ramdan.
"Baiklah, ayo kita periksa," sahut Pak Dodo.
Ramdan dan Dodo mulai menyalakan senter mereka dan menyorot ke setiap sudut kampus namun tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Lagi-lagi terdengar suara benda jatuh, dan suaranya terdengar semakin dekat. "Bang, sepertinya suara itu dari ruangan foto," ucap Ramdan.
"Pasti arwah sialan itu sedang berontak lagi," batin Pak Dodo.
Dodo pun segera melangkahkan kakinya menuju ruangan itu dan mengeluarkan kunci untuk membukanya. Pada saat pintu terbuka, suasana dingin sangat terasa bahkan bulu kuduk Ramdan sudah berdiri dari tadi. Begitu pun dengan Dodo, tidak biasanya malam ini dia sedikit muncul rasa takut dalam dirinya.
"Apa yang jatuh?" tanya Ramdan.
Dodo terus mengarahkan senternya ke setiap sudut ruangan itu, hingga tidak lama kemudian senternya menemukan sebuah buku yang terjatuh. "Nah, pasti tadi suara buku itu yang jatuh," ucap Pak Dodo.
Dodo mulai melangkahkan kakinya dan mengambil buku itu. Sedangkan Ramdan mengekor dari belakang dengan rasa takut yang semakin terasa besar. Dengan tangan yang bergetar, Dodo mengambil buku itu dan Dodo membukanya.
"KAMU HARUS MATI"
Dodo terkejut melihat tulisan itu, bahkan tulisan itu ditulis dengan darah membuat Dodo seketika memundurkan langkahnya begitu pun dengan Ramdan. Lampu ruangan itu mulai berkedip-kedip. "Astaga, ada apa ini? bukanya lampu di ruangan ini sudah tidak berfungsi," ucap Ramdan ketakutan.
Ramdan dan Dodo mulai ketakutan, hingga akhirnya sosok Ayu pun muncul dan itu membuat Ramdan langsung pingsan di tempat. "KAMU HARUS MATI."
"Setan sialan, kamu tidak akan bisa membunuhku," ucap Pak Dodo dengan senyuman sinisnya.
Dodo mulai mengeluarkan keris kecil dari tas kecilnya dan segera duduk bersila sembari komat-kamit membacakan mantra. Belum juga selesai dia membaca mantra, tubuh Dodo melayang ke atas dengan leher yang tercekik. Dodo tampak kesusahan untuk bernapas bahkan matanya melotot seakan hendak lepas dari tempatnya.
"Nyawa harus dibayar dengan nyawa, kalian adalah orang-orang biadab yang tidak boleh dibiarkan hidup," ucap arwah Ayu.
"Le-pas-kan," lirih Pak Dodo.
Arwah Ayu semakin bringas, matanya semakin memerah menahan amarah dan dendam yang sudah puluhan tahun tidak bisa tersalurkan. "Mati kamu!" teriak Ayu.
Ayu melempar tubuh Dodo dan terbentur dinding, darah langsung mengalir dari hidung, telinga, dan kepala, mata Dodo melotot hingga akhirnya Dodo pun tewas dengan posisi mata yang masih melotot. Arwah Ayu tampak puas, dia pun menghilang dan kali ini pergi menuju rumah Wisnu, dosen Vior dan Caramel. Jendela kamar Wisnu terbuka membuat udara dingin masuk ke dalam kamar Wisnu.
"Astaga, kok bisa jendelanya terbuka," gumam Wisnu.
Wisnu hanya tinggal sendirian di rumah itu karena istrinya sudah meninggal, sedangkan anak-anaknya sudah tinggal di rumah masing-masing bersama pasangan mereka. Perlahan Wisnu turun dari atas ranjang hendak menutup jendela yang terbuka, tapi pada saat Wisnu di depan jendela tiba-tiba arwah Ayu muncul membuat Wisnu terjungkal ke lantai. "Ke-kenapa ka-mu ada di-si-ni?" tanya Pak Wisnu ketakutan.
"KAMU HARUS MATI."
"Tidak, aku belum mau mati!" teriak Pak Wisnu.
Wisnu segera bangkit dan berlari keluar kamar. Dia berlari sekuat tenaga, sedangkan arwah Ayu terus mengikuti Wisnu. Saking takutnya, Wisnu sampai tergelincir dari tangga dan terjatuh ke lantai dasar.
"Astaga." Wisnu terlihat lemas, kepalanya berdarah namun dia masih hidup.
Arwah Ayu berdiri di samping Wisnu dan Wisnu sangat terkejut dan ketakutan bahkan arwah Ayu terlihat sudah memegang sebuah pisau. "Ampun, jangan bunuh saya. Saya minta maaf, saya akan menyerahkan diri saya ke polisi asalkan kamu jangan bunuh saya," ucap Pak Wisnu memelas.
Wisnu menyeret tubuhnya ke belakang dengan rasa sakit di kepalanya dan Ayu terus berjalan menghampiri Wisnu. "Saya mohon jangan bunuh saya," ucap Pak Wisnu ketakutan.
Mata Ayu kembali memerah, hingga setelah dirasa dekat, Ayu pun menancapkan pisau itu ke perut Wisnu. Mata Wisnu melotot, dan lagi-lagi pelaku kedua mati di tempat. Ayu langsung menghilang dan menuju kepada pelaku ketiga.
Pelaku ketiga adalah seorang mantan kepala desa, saat ini mengalami stroke. Ayu kembali hadir di kamar pelaku, pelaku yang bernama Dadang itu membuka matanya karena merasa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya Dadang membuka matanya dan seketika matanya melotot kala melihat Ayu ada di sana. Dadang ingin berteriak dan lari namun dia tidak bisa melakukan apa-apa, dengan mudahnya Ayu mencekik Dadang dan tidak membutuhkan waktu lama Dadang pun tewas di tempat.
Terakhir, Ayu menuju rumah Anwar yang merupakan Paman dari Deril. Saat ini Anwar sedang mengotak-atik laptopnya dan belum tidur sama sekali. Lampu mulai berkedip-kedip membuat Anwar panik.
"Kenapa ini lampu, kok kedap-kedip," batin Pak Anwar.
Anwar bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari dalam ruangan kerjanya tapi tiba-tiba Ayu muncul di hadapan Anwar. Seketika Anwar tersentak kaget dan memundurkan langkahnya. "Kamu harus tanggung jawab."
"Tidak, pergi kamu!" teriak Pak Anwar.
"Aku tidak akan pergi sampai kamu mau mengakui kesalahan kamu dan memberitahukan di mana letak jasad aku kepada keluargaku. Dan kamu juga harus minta maaf kepada keluargaku, atau nasibmu akan sama seperti ketiga pria brengsek itu tewas dengan cara yang sangat mengenaskan," ucap Ayu.
"Tidak, aku tidak mau mati!"
"Lakukan apa perintahku, atau aku akan menghantui kamu seumur hidupmu," ancam Ayu.
Istri Anwar datang karena mendengar teriakan Anwar, dan arwah Ayu pun seketika menghilang. "Pa, Papa kenapa?" tanya Istrinya.
Anwar tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya, wajahnya sudah penuh dengan keringat dan matanya melotot. Anwar benar-benar merasa takut dengan kedatangan arwah Ayu yang secara tiba-tiba itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟℕ𝔸𝔹𝕀𝕃𝕃𝔸ˢ⍣⃟ₛ
kenapa Anwar tidak ikut dibunuh saja🤣🤣🤣
2025-02-20
1
Bunda Elsha
Akhirnya mati semua tuh tersangka, semoga jasad ayu segera ditemukan
2024-09-10
1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
sokor dah pada mati ... tinggal si Anwar aja tuh sisa nya ..awas aja kalo sampai gak mau mengakui kesalahannya buat mati juga sekalian
2024-08-28
1