Chapter 6 : Eksperimen

Di malam yang sunyi, hanya terdengar suara pahatan kayu dari balik sebuah gubuk sederhana. Seorang laki-laki tengah serius mengerjakan kerajinan dari bahan kayu. Dengan ketekunan, ia menciptakan berbagai peralatan, mulai dari cangkir, piring, mangkuk, hingga sendok, hanya dengan bermodalkan pisau batu yang diberi sihir penguat agar dapat mengikis kayu dengan mudah.

Ia melakukannya sepanjang malam, berharap dapat meningkatkan level pekerjaan craftsman miliknya. Hingga larut sekitar jam dua pagi, ia berhenti sejenak.

[Craftsman level: 2 (54%)]

“Huft~ setelah naik level dua, aku tak mendapatkan skill baru. Mungkin karena Alchemy, Black Smith, dan Craftsman adalah job dalam kategori yang sama. Jadi, Quick Craft adalah skill yang bisa didapatkan dari ketiga job ini,” gumam Ash sambil mendesah dan bersandar pada dinding gubuk.

Dengan langkah pelan, ia berdiri dan mengibaskan debu di celananya. Melirik ke arah pintu keluar, Ash berjalan keluar dan mendapati langit malam yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang, bagaikan kain hitam yang ditaburi permata. Namun, dua bulan berwarna biru dan merah menarik perhatian. Meskipun ia sudah terbiasa dengan pemandangan ini, keindahan langit di dunia ini masih mengagumkan. Di Bumi, sulit untuk melihat langit yang seindah ini.

Gumamnya penuh rasa syukur, “Aku masih beruntung bisa melihat ini.”

Ash meraba saku celananya dan mengeluarkan sebuah batu sihir goblin, memandangi batu berwarna ungu gelap tersebut. Batu sihir yang didapatkan dari monster ini merupakan katalis sihir yang sangat berguna untuk peralatan yang mengandung sihir, baik itu alat sehari-hari maupun senjata.

Ia melangkah menuju perapian dan menyalakan api unggun. Dengan sebuah ranting kayu sepanjang 60 cm, ia menggunakan skill Quick Craft untuk membuat pedang kayu pendek. “Saatnya bereksperimen!” serunya lirih namun penuh semangat.

Sejauh ini, Ash tahu bahwa senjata dari bahan kayu hanya bisa menahan satu penguatan saja. Namun, ia bertanya-tanya, bagaimana jika senjata itu ditanamkan batu sihir? Pada dasarnya, senjata sihir harus memiliki bahan khusus yang paling terkenal, yaitu mithril, karena mithril memiliki konduksi sihir terbaik dibandingkan logam lainnya.

“Bukan berarti semua senjata sihir harus berbahan mithril,” pikir Ash, merasa tertantang. “Aku ingin tahu apakah pedang kayu ini bisa mengalirkan sihir dengan baik.”

Dengan fokus, Ash mengaktifkan kemampuan Black Smith dan Craftsman-nya. Ia melubangi pedang kayu di antara gagang dan bilah dengan ukuran yang pas untuk batu sihir goblin. Dengan hati-hati, ia memasang batu sihir tersebut.

Menggenggam gagang pedang, Ash mulai mengalirkan energi sihirnya. Sebuah sinar putih transparan mulai menyelimuti pedang kayu itu, namun seketika pedang tersebut meledak, hancur berkeping-keping.

“Awh!” Ash terjerembab ke belakang, mengangkat tangannya ke atas akibat terpental oleh ledakan kecil dari pedang kayu yang tak sanggup menahan energi sihir.

“Hmmm... gagal, yah?” gumamnya, menatap serpihan pedang yang berserakan di tanah, termasuk batu sihir goblin yang juga pecah.

Ketika Ash masih merenung, menatapi kepingan kayu yang hancur, tiba-tiba sebuah tangan lembut memegang pundaknya. Terkejut, Ash reflek menangkap tangan itu dan bergerak cepat, menahan orang yang memegangnya.

“Awh! Sa-sakit! Apa yang kau lakukan?!” seru Azusa sambil menahan rasa sakit.

Ash langsung melepaskan tangannya, “Ah, ma-maaf! Aku tak tahu jika itu kamu, Azusa.”

“Emh~ ah, iya, tak apa. Lagi pula salahku karena membuatmu terkejut,” balas Azusa sambil mengusap tangannya yang terasa sakit.

“Maaf, apa aku membangunkanmu?” Ash bertanya, merasa tidak enak telah mengganggu ketenangan malam.

“Tidak, aku memang mau...” Azusa terhenti, menatap ke arah lain dengan wajah memerah. “Me-melihat bunga,” lanjutnya ragu.

Ash memiringkan kepalanya, bingung. Melihat bunga? Tengah malam begini? batinnya bertanya-tanya.

“Berbahaya jika pergi sendiri, biar aku temani,” ucap Ash, nada suaranya penuh kepedulian.

Azusa hanya tersenyum simpul, “Tak perlu, hanya di dekat sungai itu,” ujarnya sambil menunjuk ke arah sungai.

“Emangnya ada bunga di sana? Hmm...,” Ash merasa heran, tetapi ia mengabaikannya.

“Baiklah, tetaplah waspada,” ujar Ash, lalu membungkuk untuk mengumpulkan serpihan kayu yang hancur untuk dilemparkan ke dalam api unggun.

Duduk di atas dahan kayu dekat perapian, Ash mengeluarkan sekantung batu sihir goblin dan mengambil beberapa batu serta kayu untuk membuat senjata dari batu. Ia menyadari skill Quick Craft tak bisa digunakan karena ia belum mencapai jumlah tertentu dalam membuat senjata dari bahan batu tersebut.

...Name Item: Stone Knife...

...Kualitas Tertinggi Yang Dicapai: 5★...

...Persentase Agar Bisa Menggunakan Skill Quick Craft: 70%...

Maka, Ash berfokus untuk membuat pisau batu agar bisa membuka kemampuan Quick Craft pada item tersebut serta meningkatkan kualitasnya ke 7★.

“Jumlah untuk menggunakan Quick Craft telah terpenuhi!” teriaknya dengan gembira.

Namun, setelah sekian banyaknya membuat pisau batu, kualitasnya masih berhenti di 5★. Sekarang, ada sekitar 30 pisau batu yang telah dibuat, dan akan menjadi 31 jika ditambah dengan pisau yang telah diperkuat olehnya. Batu sihir goblin yang dimiliki Ash hanya tersisa 19.

“Jadi aku hanya punya 19× kesempatan untuk mencobanya, yah?” gumamnya, wajahnya kini serius.

Ash terus menerus mencoba membuat senjata sihir, tetapi setiap kali dialiri energi sihir, senjata-senjata itu hancur. Tak lama kemudian, jumlah batu sihir goblin yang dimilikinya tersisa tiga.

Ash termenung, menatapi semua pisau dan batu sihir yang telah hancur. Dalam kepalanya, ia berpikir keras mencari cara agar eksperimennya ini berhasil. Suara alam di sekelilingnya terasa seolah mengingatkan, setiap kegagalan adalah langkah menuju kesuksesan. Dengan tekad yang bulat, ia bersiap untuk mencoba lagi, berharap bahwa usahanya tidak akan sia-sia.

.

.

.

"Ada apa? Wajahmu serius begitu?" tanya Azusa sambil duduk di samping Ash. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Ash kehilangan konsentrasinya, sehingga satu batu sihir goblin yang hendak dipasang ke pisau batu itu pun pecah.

"Ah!" Ash terkejut, lalu menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan betapa putus asanya dia, melihat hasil percobaan yang terus-menerus gagal.

"Maaf, apa aku mengagetkanmu?" tanya Azusa dengan nada bersalah.

Ash hanya bisa mengeluh dalam hati, ini kali kedua kalimat itu diucapkan. “Tidak, tak apa-apa. Lagi pula, aku sudah menghancurkan lebih dari sepuluh, jadi bertambah satu bukan apa-apa,” balas Ash dengan senyum masam yang terlihat dipaksakan.

Azusa, merasa tertarik dengan banyaknya pisau hancur di dekat Ash, bertanya, “Kamu sedang melakukan apa?”

Ash menoleh, melihat gadis di sampingnya yang tampak polos. “Aku sedang mencoba membuat senjata sihir. Yah, sebenarnya aku sedang bereksperimen. Biasanya senjata sihir selalu dibuat dengan mithril, tapi aku tak punya itu. Jadi, aku mencoba menggunakan bahan lain. Namun, yah... seperti yang kamu lihat, semuanya gagal.”

“Huh...?” Azusa terdiam sejenak, menatap laki-laki yang terlihat lelah di sampingnya. Ia melirik ke satu pisau yang terpasang di pinggang Ash. “Hei, apa pisau yang ada di pinggangmu berbeda dengan pisau yang di tanah?”

“Eh? Iya... yang ada di pinggangku sudah kuperbuat dengan skill Enchanted Item,” jawab Ash, sedikit bangga.

Mendengar itu, Azusa terdiam sejenak, lalu berkata, “Hei, bagaimana jika kau memperkuat pisau itu terlebih dahulu sebelum memasang batu sihirnya?”

Ash terkejut mendengar saran itu. Dengan cepat, dia menoleh ke arah Azusa, matanya berkedip dua kali seakan menyadari sesuatu yang penting.

Benar juga, kenapa aku tak kepikiran? Dasar bodoh! batinnya.

Tanpa membuang waktu, Ash segera mencobanya. Dia menarik pisau yang terpasang di pinggangnya, memfokuskan energinya, dan mulai memasang batu sihir. Saat batu sihir itu tertanam, Ash mulai mengalirkan mana—kali ini dia merasa lebih percaya diri.

–Krak!

Pisau itu tetap hancur, tetapi waktu hancurnya lebih lama dibandingkan pisau-pisau sebelumnya.

"Ini..." Ash menyadari sesuatu yang penting. Hanya tersisa satu batu sihir lagi, dan ini adalah kesempatan terakhirnya. Dia mengambil pisau batu dan mengaktifkan skill Enchanted Item-nya.

"Enchant: Unbreaking, Smite!" ucapnya, berbeda dengan penguatan sebelumnya yang fokus pada ketajaman dan penetrasi. Kali ini, dia menambahkan penguatan berupa daya tahan dan ketajaman yang lebih besar.

“Baiklah, mari kita coba...” Dengan perasaan berdebar, Ash memasang batu sihir ke pisau batu yang telah diperkuat. Ia melakukannya dengan perlahan, hati-hati, dan penuh harap, mengaliri pisau itu dengan mana.

–Krak!

Tercipta retakan kecil pada pisau, tetapi kali ini pisau itu tidak hancur.

"Ber... berhasil!" seru Ash dengan gembira, suaranya menggema di malam yang sunyi. Dia menoleh, mengangkat tangan Azusa dalam sebuah gerakan penuh semangat. "Terima kasih! Berkatmu, aku berhasil membuatnya!"

“Eh!?” Azusa terkejut saat tangannya tiba-tiba dipegang oleh Ash. "I-Iya...!"

Setelah momen itu, mereka berdua saling bertatapan, kebingungan menyelimuti wajah Azusa yang mulai memerah. Dalam keraguan, dia segera berdiri dan kembali ke tenda, sementara Ash, merasa energik setelah keberhasilannya, melangkah masuk ke dalam gubuk.

Malam itu, Ash bisa tidur dengan nyenyak, merasakan kepuasan setelah eksperimennya berhasil. Namun, Azusa mengalami kesulitan untuk tidur. Pikiran tentang apa yang terjadi barusan terus mengganggu benaknya. Dia tak bisa berhenti memikirkan senyuman Ash, bagaimana matanya bersinar saat berhasil, dan betapa hangatnya tangannya saat digenggam.

Dalam gelap tenda, Azusa menggulung diri dalam selimut, berusaha menenangkan pikirannya, tetapi perasaan itu tetap membara. Dia tersenyum kecil, meski jantungnya berdegup kencang. Siapa sangka malam ini bisa seindah ini?

Terpopuler

Comments

Umi Pertiwi

Umi Pertiwi

uhuyy kiw kiw

2024-11-23

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Dunia Baru
2 Chapter 2 : Pertarungan Pertama
3 Chapter 3 : Perseteruan
4 Chapter 4 : Pilihan
5 Chapter 5 : Menjelajah
6 Chapter 6 : Eksperimen
7 Chapter 7 : Menjadi Guru
8 Chapter 8 : Tamer
9 Chapter 9 : Menyerang Desa Goblin
10 Chapter 10 : Pertarungan Di Desa Goblin
11 Chapter 11 : Memulai Perjalanan
12 Chapter 12 : Pedagang Daniel
13 Chapter 13 : Kota Ranvel
14 Chapter 14 : Mendaftar Sebagai Petualang
15 Chapter 15 : Menjadi Pedagang
16 Chapter 16 : Belanja
17 Chapter 17 : Persiapan
18 Chapter 18 : Kehidupan Yang Damai?
19 Chapter 19 : Naga Hitam
20 Chapter 20 : Stampede
21 Chapter 21 : Extinction Ray!
22 Chapter 22 : Sang Pahlawan
23 Chapter 23 : Masa Pemulihan
24 Chapter 24 : Pahlawan
25 Chapter 25 : Misi Yang Telah Terukir Kembali
26 Chapter 26 : Serangan Fang Wolf
27 Chapter 27 : Menuju Kota Sirius
28 Chapter 28 : Keluarga Bangsawan
29 Chapter 29 : Pertunangan
30 Chapter 30 : Bertambahnya Satu Orang Di Dalam Kelompok
31 Chapter 31 : Menuju Ibu Kota
32 Chapter 32 : Ibu Kota
33 Chapter 33 : Pertemuan Kembali
34 Chapterr 34 : Membuka Kios
35 Chapter 35 : Risa Melawan Ahli Tombak Gareth
36 Chapter 36 : Hati Yang Terluka
37 Chapter 37 : Pertandingan Pembalasan
38 Chapter 38 : Kecepatan Melawan Kekuatan
39 Chapter 39 : Risa Vs Ren
40 Chapterr 40 : Serangan Di Ibu Kota
41 Chapter 41 : Kematian
42 Chapter 42 : Mika Sang Flugel
43 Chapter 43 : Keputus-asaan
44 Chapter 44 : Kebangkitan Sang Pahlawan
45 Chapter 45 : Memulai Perjalanan Baru
46 Chapter 46 : Kota Chovo
47 Chapter 47 : Warna Asli
48 Chapter 48 : Sebuah Sekte?
49 Chapter 49 : Sebuah Kebenaran
50 Chapter 50 : Menyusup
51 Chapter 51 : Mendapatkan Teman Baru
52 Chapter 52 : Mengungkapkan Kebenaran
53 Chapter 53 : Perjalanan Menuju Ibu Kota Lindwon
54 Chapter 54 : Satu Hari Dengan Dua Kejadian
55 Chapter 55 : Konflik Dengan Seorang Bangsawan
56 Chapter 56 : Mengungkapkan Rahasia
57 Chapter 57 : Perasaan Yang Rumit
58 Chapter 58 : Cinta Dan Kewajiban
59 Chapter 59 : Hasutan
60 Chapter 60 : Akademi Sihir
61 Chapter 61 : Ujian Masuk
62 Chapter 62 : Elysium Blade
63 Chapter 63 : Kegaduhan
64 Chapter 64 : Melanjutkan Perjalanan Seorang Diri
65 Chapter 65 : Kejadian 200 Tahun Yang Lalu
66 Chapter 66 : Penghianatan
67 Chapter 67 : Pelelangan
68 Chapter 68 : Budak—Gadis Rubah
69 Chapter 69 : Menuju Kota Treal
70 Chapter 70 : Serangan
71 Chapter 71 : Kota Treal
72 Chapter 72 : Mimpi Buruk
73 Chapter 73 : Perjalanan Menuju Ibu Kota
74 Chapter 74 : Elven Garden
75 Chapter 75 : Roh Pahlawan
76 Chapter 76 : Dendam Dari Masa Lalu
77 Chapter 77 : Kebencian Yang Besar
78 Chapter 78 : Aku Adalah Dirimu
79 Chapter 79 : Kota Aqualis
80 Chapter 80 : Menuju Kota Bawah Air
81 Chapter 81 : Kawasan Terlantar
82 Chapter 82 : Permata Roh Pelangi
83 Chapter 83 : Perjalanan Terakhir
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Chapter 1 : Dunia Baru
2
Chapter 2 : Pertarungan Pertama
3
Chapter 3 : Perseteruan
4
Chapter 4 : Pilihan
5
Chapter 5 : Menjelajah
6
Chapter 6 : Eksperimen
7
Chapter 7 : Menjadi Guru
8
Chapter 8 : Tamer
9
Chapter 9 : Menyerang Desa Goblin
10
Chapter 10 : Pertarungan Di Desa Goblin
11
Chapter 11 : Memulai Perjalanan
12
Chapter 12 : Pedagang Daniel
13
Chapter 13 : Kota Ranvel
14
Chapter 14 : Mendaftar Sebagai Petualang
15
Chapter 15 : Menjadi Pedagang
16
Chapter 16 : Belanja
17
Chapter 17 : Persiapan
18
Chapter 18 : Kehidupan Yang Damai?
19
Chapter 19 : Naga Hitam
20
Chapter 20 : Stampede
21
Chapter 21 : Extinction Ray!
22
Chapter 22 : Sang Pahlawan
23
Chapter 23 : Masa Pemulihan
24
Chapter 24 : Pahlawan
25
Chapter 25 : Misi Yang Telah Terukir Kembali
26
Chapter 26 : Serangan Fang Wolf
27
Chapter 27 : Menuju Kota Sirius
28
Chapter 28 : Keluarga Bangsawan
29
Chapter 29 : Pertunangan
30
Chapter 30 : Bertambahnya Satu Orang Di Dalam Kelompok
31
Chapter 31 : Menuju Ibu Kota
32
Chapter 32 : Ibu Kota
33
Chapter 33 : Pertemuan Kembali
34
Chapterr 34 : Membuka Kios
35
Chapter 35 : Risa Melawan Ahli Tombak Gareth
36
Chapter 36 : Hati Yang Terluka
37
Chapter 37 : Pertandingan Pembalasan
38
Chapter 38 : Kecepatan Melawan Kekuatan
39
Chapter 39 : Risa Vs Ren
40
Chapterr 40 : Serangan Di Ibu Kota
41
Chapter 41 : Kematian
42
Chapter 42 : Mika Sang Flugel
43
Chapter 43 : Keputus-asaan
44
Chapter 44 : Kebangkitan Sang Pahlawan
45
Chapter 45 : Memulai Perjalanan Baru
46
Chapter 46 : Kota Chovo
47
Chapter 47 : Warna Asli
48
Chapter 48 : Sebuah Sekte?
49
Chapter 49 : Sebuah Kebenaran
50
Chapter 50 : Menyusup
51
Chapter 51 : Mendapatkan Teman Baru
52
Chapter 52 : Mengungkapkan Kebenaran
53
Chapter 53 : Perjalanan Menuju Ibu Kota Lindwon
54
Chapter 54 : Satu Hari Dengan Dua Kejadian
55
Chapter 55 : Konflik Dengan Seorang Bangsawan
56
Chapter 56 : Mengungkapkan Rahasia
57
Chapter 57 : Perasaan Yang Rumit
58
Chapter 58 : Cinta Dan Kewajiban
59
Chapter 59 : Hasutan
60
Chapter 60 : Akademi Sihir
61
Chapter 61 : Ujian Masuk
62
Chapter 62 : Elysium Blade
63
Chapter 63 : Kegaduhan
64
Chapter 64 : Melanjutkan Perjalanan Seorang Diri
65
Chapter 65 : Kejadian 200 Tahun Yang Lalu
66
Chapter 66 : Penghianatan
67
Chapter 67 : Pelelangan
68
Chapter 68 : Budak—Gadis Rubah
69
Chapter 69 : Menuju Kota Treal
70
Chapter 70 : Serangan
71
Chapter 71 : Kota Treal
72
Chapter 72 : Mimpi Buruk
73
Chapter 73 : Perjalanan Menuju Ibu Kota
74
Chapter 74 : Elven Garden
75
Chapter 75 : Roh Pahlawan
76
Chapter 76 : Dendam Dari Masa Lalu
77
Chapter 77 : Kebencian Yang Besar
78
Chapter 78 : Aku Adalah Dirimu
79
Chapter 79 : Kota Aqualis
80
Chapter 80 : Menuju Kota Bawah Air
81
Chapter 81 : Kawasan Terlantar
82
Chapter 82 : Permata Roh Pelangi
83
Chapter 83 : Perjalanan Terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!