Di malam yang sunyi, hanya terdengar suara pahatan kayu dari balik sebuah gubuk sederhana. Seorang laki-laki tengah serius mengerjakan kerajinan dari bahan kayu. Dengan ketekunan, ia menciptakan berbagai peralatan, mulai dari cangkir, piring, mangkuk, hingga sendok, hanya dengan bermodalkan pisau batu yang diberi sihir penguat agar dapat mengikis kayu dengan mudah.
Ia melakukannya sepanjang malam, berharap dapat meningkatkan level pekerjaan craftsman miliknya. Hingga larut sekitar jam dua pagi, ia berhenti sejenak.
[Craftsman level: 2 (54%)]
“Huft~ setelah naik level dua, aku tak mendapatkan skill baru. Mungkin karena Alchemy, Black Smith, dan Craftsman adalah job dalam kategori yang sama. Jadi, Quick Craft adalah skill yang bisa didapatkan dari ketiga job ini,” gumam Ash sambil mendesah dan bersandar pada dinding gubuk.
Dengan langkah pelan, ia berdiri dan mengibaskan debu di celananya. Melirik ke arah pintu keluar, Ash berjalan keluar dan mendapati langit malam yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang, bagaikan kain hitam yang ditaburi permata. Namun, dua bulan berwarna biru dan merah menarik perhatian. Meskipun ia sudah terbiasa dengan pemandangan ini, keindahan langit di dunia ini masih mengagumkan. Di Bumi, sulit untuk melihat langit yang seindah ini.
Gumamnya penuh rasa syukur, “Aku masih beruntung bisa melihat ini.”
Ash meraba saku celananya dan mengeluarkan sebuah batu sihir goblin, memandangi batu berwarna ungu gelap tersebut. Batu sihir yang didapatkan dari monster ini merupakan katalis sihir yang sangat berguna untuk peralatan yang mengandung sihir, baik itu alat sehari-hari maupun senjata.
Ia melangkah menuju perapian dan menyalakan api unggun. Dengan sebuah ranting kayu sepanjang 60 cm, ia menggunakan skill Quick Craft untuk membuat pedang kayu pendek. “Saatnya bereksperimen!” serunya lirih namun penuh semangat.
Sejauh ini, Ash tahu bahwa senjata dari bahan kayu hanya bisa menahan satu penguatan saja. Namun, ia bertanya-tanya, bagaimana jika senjata itu ditanamkan batu sihir? Pada dasarnya, senjata sihir harus memiliki bahan khusus yang paling terkenal, yaitu mithril, karena mithril memiliki konduksi sihir terbaik dibandingkan logam lainnya.
“Bukan berarti semua senjata sihir harus berbahan mithril,” pikir Ash, merasa tertantang. “Aku ingin tahu apakah pedang kayu ini bisa mengalirkan sihir dengan baik.”
Dengan fokus, Ash mengaktifkan kemampuan Black Smith dan Craftsman-nya. Ia melubangi pedang kayu di antara gagang dan bilah dengan ukuran yang pas untuk batu sihir goblin. Dengan hati-hati, ia memasang batu sihir tersebut.
Menggenggam gagang pedang, Ash mulai mengalirkan energi sihirnya. Sebuah sinar putih transparan mulai menyelimuti pedang kayu itu, namun seketika pedang tersebut meledak, hancur berkeping-keping.
“Awh!” Ash terjerembab ke belakang, mengangkat tangannya ke atas akibat terpental oleh ledakan kecil dari pedang kayu yang tak sanggup menahan energi sihir.
“Hmmm... gagal, yah?” gumamnya, menatap serpihan pedang yang berserakan di tanah, termasuk batu sihir goblin yang juga pecah.
Ketika Ash masih merenung, menatapi kepingan kayu yang hancur, tiba-tiba sebuah tangan lembut memegang pundaknya. Terkejut, Ash reflek menangkap tangan itu dan bergerak cepat, menahan orang yang memegangnya.
“Awh! Sa-sakit! Apa yang kau lakukan?!” seru Azusa sambil menahan rasa sakit.
Ash langsung melepaskan tangannya, “Ah, ma-maaf! Aku tak tahu jika itu kamu, Azusa.”
“Emh~ ah, iya, tak apa. Lagi pula salahku karena membuatmu terkejut,” balas Azusa sambil mengusap tangannya yang terasa sakit.
“Maaf, apa aku membangunkanmu?” Ash bertanya, merasa tidak enak telah mengganggu ketenangan malam.
“Tidak, aku memang mau...” Azusa terhenti, menatap ke arah lain dengan wajah memerah. “Me-melihat bunga,” lanjutnya ragu.
Ash memiringkan kepalanya, bingung. Melihat bunga? Tengah malam begini? batinnya bertanya-tanya.
“Berbahaya jika pergi sendiri, biar aku temani,” ucap Ash, nada suaranya penuh kepedulian.
Azusa hanya tersenyum simpul, “Tak perlu, hanya di dekat sungai itu,” ujarnya sambil menunjuk ke arah sungai.
“Emangnya ada bunga di sana? Hmm...,” Ash merasa heran, tetapi ia mengabaikannya.
“Baiklah, tetaplah waspada,” ujar Ash, lalu membungkuk untuk mengumpulkan serpihan kayu yang hancur untuk dilemparkan ke dalam api unggun.
Duduk di atas dahan kayu dekat perapian, Ash mengeluarkan sekantung batu sihir goblin dan mengambil beberapa batu serta kayu untuk membuat senjata dari batu. Ia menyadari skill Quick Craft tak bisa digunakan karena ia belum mencapai jumlah tertentu dalam membuat senjata dari bahan batu tersebut.
...Name Item: Stone Knife...
...Kualitas Tertinggi Yang Dicapai: 5★...
...Persentase Agar Bisa Menggunakan Skill Quick Craft: 70%...
Maka, Ash berfokus untuk membuat pisau batu agar bisa membuka kemampuan Quick Craft pada item tersebut serta meningkatkan kualitasnya ke 7★.
“Jumlah untuk menggunakan Quick Craft telah terpenuhi!” teriaknya dengan gembira.
Namun, setelah sekian banyaknya membuat pisau batu, kualitasnya masih berhenti di 5★. Sekarang, ada sekitar 30 pisau batu yang telah dibuat, dan akan menjadi 31 jika ditambah dengan pisau yang telah diperkuat olehnya. Batu sihir goblin yang dimiliki Ash hanya tersisa 19.
“Jadi aku hanya punya 19× kesempatan untuk mencobanya, yah?” gumamnya, wajahnya kini serius.
Ash terus menerus mencoba membuat senjata sihir, tetapi setiap kali dialiri energi sihir, senjata-senjata itu hancur. Tak lama kemudian, jumlah batu sihir goblin yang dimilikinya tersisa tiga.
Ash termenung, menatapi semua pisau dan batu sihir yang telah hancur. Dalam kepalanya, ia berpikir keras mencari cara agar eksperimennya ini berhasil. Suara alam di sekelilingnya terasa seolah mengingatkan, setiap kegagalan adalah langkah menuju kesuksesan. Dengan tekad yang bulat, ia bersiap untuk mencoba lagi, berharap bahwa usahanya tidak akan sia-sia.
.
.
.
"Ada apa? Wajahmu serius begitu?" tanya Azusa sambil duduk di samping Ash. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Ash kehilangan konsentrasinya, sehingga satu batu sihir goblin yang hendak dipasang ke pisau batu itu pun pecah.
"Ah!" Ash terkejut, lalu menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan betapa putus asanya dia, melihat hasil percobaan yang terus-menerus gagal.
"Maaf, apa aku mengagetkanmu?" tanya Azusa dengan nada bersalah.
Ash hanya bisa mengeluh dalam hati, ini kali kedua kalimat itu diucapkan. “Tidak, tak apa-apa. Lagi pula, aku sudah menghancurkan lebih dari sepuluh, jadi bertambah satu bukan apa-apa,” balas Ash dengan senyum masam yang terlihat dipaksakan.
Azusa, merasa tertarik dengan banyaknya pisau hancur di dekat Ash, bertanya, “Kamu sedang melakukan apa?”
Ash menoleh, melihat gadis di sampingnya yang tampak polos. “Aku sedang mencoba membuat senjata sihir. Yah, sebenarnya aku sedang bereksperimen. Biasanya senjata sihir selalu dibuat dengan mithril, tapi aku tak punya itu. Jadi, aku mencoba menggunakan bahan lain. Namun, yah... seperti yang kamu lihat, semuanya gagal.”
“Huh...?” Azusa terdiam sejenak, menatap laki-laki yang terlihat lelah di sampingnya. Ia melirik ke satu pisau yang terpasang di pinggang Ash. “Hei, apa pisau yang ada di pinggangmu berbeda dengan pisau yang di tanah?”
“Eh? Iya... yang ada di pinggangku sudah kuperbuat dengan skill Enchanted Item,” jawab Ash, sedikit bangga.
Mendengar itu, Azusa terdiam sejenak, lalu berkata, “Hei, bagaimana jika kau memperkuat pisau itu terlebih dahulu sebelum memasang batu sihirnya?”
Ash terkejut mendengar saran itu. Dengan cepat, dia menoleh ke arah Azusa, matanya berkedip dua kali seakan menyadari sesuatu yang penting.
Benar juga, kenapa aku tak kepikiran? Dasar bodoh! batinnya.
Tanpa membuang waktu, Ash segera mencobanya. Dia menarik pisau yang terpasang di pinggangnya, memfokuskan energinya, dan mulai memasang batu sihir. Saat batu sihir itu tertanam, Ash mulai mengalirkan mana—kali ini dia merasa lebih percaya diri.
–Krak!
Pisau itu tetap hancur, tetapi waktu hancurnya lebih lama dibandingkan pisau-pisau sebelumnya.
"Ini..." Ash menyadari sesuatu yang penting. Hanya tersisa satu batu sihir lagi, dan ini adalah kesempatan terakhirnya. Dia mengambil pisau batu dan mengaktifkan skill Enchanted Item-nya.
"Enchant: Unbreaking, Smite!" ucapnya, berbeda dengan penguatan sebelumnya yang fokus pada ketajaman dan penetrasi. Kali ini, dia menambahkan penguatan berupa daya tahan dan ketajaman yang lebih besar.
“Baiklah, mari kita coba...” Dengan perasaan berdebar, Ash memasang batu sihir ke pisau batu yang telah diperkuat. Ia melakukannya dengan perlahan, hati-hati, dan penuh harap, mengaliri pisau itu dengan mana.
–Krak!
Tercipta retakan kecil pada pisau, tetapi kali ini pisau itu tidak hancur.
"Ber... berhasil!" seru Ash dengan gembira, suaranya menggema di malam yang sunyi. Dia menoleh, mengangkat tangan Azusa dalam sebuah gerakan penuh semangat. "Terima kasih! Berkatmu, aku berhasil membuatnya!"
“Eh!?” Azusa terkejut saat tangannya tiba-tiba dipegang oleh Ash. "I-Iya...!"
Setelah momen itu, mereka berdua saling bertatapan, kebingungan menyelimuti wajah Azusa yang mulai memerah. Dalam keraguan, dia segera berdiri dan kembali ke tenda, sementara Ash, merasa energik setelah keberhasilannya, melangkah masuk ke dalam gubuk.
Malam itu, Ash bisa tidur dengan nyenyak, merasakan kepuasan setelah eksperimennya berhasil. Namun, Azusa mengalami kesulitan untuk tidur. Pikiran tentang apa yang terjadi barusan terus mengganggu benaknya. Dia tak bisa berhenti memikirkan senyuman Ash, bagaimana matanya bersinar saat berhasil, dan betapa hangatnya tangannya saat digenggam.
Dalam gelap tenda, Azusa menggulung diri dalam selimut, berusaha menenangkan pikirannya, tetapi perasaan itu tetap membara. Dia tersenyum kecil, meski jantungnya berdegup kencang. Siapa sangka malam ini bisa seindah ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Umi Pertiwi
uhuyy kiw kiw
2024-11-23
0