Pada hari pertama setelah dipindahkan ke dunia lain, kebingungan melanda semua orang. Namun, kelompok Wibu tampak tenang dan mengerti, seolah mereka sudah akrab dengan situasi seperti ini, seperti yang sering mereka lihat dalam anime, komik, dan novel yang mereka baca.
"Bu Natsumi, bagaimana nasib kita sekarang?" tanya anak-anak dengan nada gelisah, wajah mereka dipenuhi kecemasan.
"Semuanya tenang, ya? Ibu akan mencari cara," jawab Bu Natsumi dengan suara tenang, berusaha memberi keyakinan kepada murid-muridnya.
Sementara itu, para Wibu berkumpul, saling bertukar informasi mengenai status senjata dan skill yang mereka miliki. Dalam kebisingan tersebut, kelompok anak-anak berandalan mulai membuat keributan, menunjukkan skill dan senjata yang mereka dapat.
Di sudut lain, kelompok gadis-gadis kaya hanya duduk diam, terus mengeluh, kecuali Luna, yang berusaha membantu Bu Natsumi menenangkan teman-teman sekelasnya. Luna, sebagai ketua kelas, merasakan tanggung jawab untuk menjaga kedamaian di tengah kekacauan ini.
Namun, keributan yang dibuat oleh para anak berandalan menyebabkan goblin mulai muncul dan mengepung mereka. Semua orang membeku melihat monster untuk pertama kalinya, kecuali para Wibu yang langsung melawan dengan keberanian.
Melihat Wibu yang bertarung dengan semangat, anak-anak berandalan tak mau kalah dan ikut terjun ke pertempuran. Meskipun tidak berpengalaman, mereka berhasil membuat goblin mundur.
Setelah pertempuran, para Wibu mengeluarkan peralatan survival dari tas penyimpanan mereka—tenda, panci, obor, roti, daging kering, dan wadah air.
"Kita harus mencari sungai dan mendirikan kemah di sana. Kita perlu persiapan untuk perjalanan menuju kota Ranvel, seperti yang dikatakan oleh Dewi," jelas Yuuto, salah satu dari kelompok Wibu, dengan nada tegas.
Bu Natsumi mengangguk setuju, dan para murid yang lain mengikuti tanpa banyak bertanya, meski kebingungan masih terbayang di wajah mereka.
Para Wibu pun meminta murid lain yang mengambil peralatan survival untuk mengeluarkan alat-alat mereka. Murid yang memiliki skill memasak pun diminta untuk menyiapkan makanan. Dengan semua orang saling bekerja sama, suasana yang semula tegang perlahan mulai membaik.
Setelah satu hari berlalu, saat semua orang sudah tenang, diskusi untuk merencanakan masa depan dimulai. Namun, suasana yang awalnya akrab tiba-tiba memanas.
"Hah? Kenapa kami harus melakukannya? Bukankah kalian yang seharusnya melakukan ini?" ucap Risa, salah satu dari kelompok gadis-gadis kaya, menentang permintaan para Wibu dengan nada menyentak.
"Tunggu Risa," Luna menyela. "Aku juga melakukannya, jadi ayo lakukan sama-sama."
"Aku tidak mau! Kita ini gadis-gadis berkelas, Luna, bukan gadis-gadis biasa dengan pekerjaan kasar!" balas Risa, suara penuh ketidakpuasan.
Keributan pun tak terhindarkan. Para berandalan mulai bertingkah, berusaha menyerang para gadis. Namun, para Wibu berhasil menghentikan keributan itu, meskipun beberapa dari anak-anak berandalan akhirnya pergi dengan kemarahan membara.
Semua orang yang seharusnya bersatu kini berpisah, bagaikan kaca yang jatuh dan pecah menjadi ribuan kepingan.
...---...
Kembali pada Ash...
Ash bersembunyi di balik pohon, mencoba memahami situasi. Ia melihat kelompok berandalan yang mengejar kelompok gadis-gadis kaya, dan hatinya bergetar melihat ketidakadilan itu.
"Menjauh! Dasar berengsek!" teriak Risa, suaranya bergetar ketakutan.
"Hehehe! Menyerah saja dan biarkan kami menggunakan tubuh kalian!" balas salah satu anak berandalan dengan senyum mesum.
Melihat kejadian itu, Ash menghela napas berat. "Huft~ mau di dunia manapun, sampah tetaplah sampah, yah?" gumamnya dalam hati.
"Huh?!" para anak berandalan itu berbalik, memandang Ash dengan tatapan kesal.
"Hee~ kukira siapa, ternyata hanya anak nolep yang muncul lagi setelah pergi sendiri di hari pertama. Apa? Kau ingin bermain pahlawan?" ejek salah satu dari mereka, tawa mengejek menyebar di antara mereka.
"Entahlah, aku hanya mendengar teriakan seorang gadis, lalu aku datang dan melihat penjahat yang hendak menyerangnya," balas Ash dengan nada acuh, seolah meremehkan mereka.
"Padahal baru satu hari tapi kalian sudah gila, aneh sekali. Apa ini pahlawan yang dipilih oleh Dewi itu?" tambah Ash dengan tatapan dingin.
Amarah para anak berandalan semakin memuncak, dan mereka menyerang Ash dengan senjata yang mereka peroleh dari pemilihan saat bertemu Dewi. Di antara mereka ada pengguna pedang besar, tombak, busur panah, penyihir, dan paladin.
Cih, meskipun mereka menyerang secara membabi buta, ini tetap merepotkan melihat komposisi kelompok mereka, batin Ash sambil terus menghindari setiap serangan yang diarahkan kepadanya.
Saat pemanah mengarahkan panahnya ke arah para gadis, Ash tidak berpikir dua kali. Ia melemparkan pisaunya, memutuskan tali busur dengan presisi tinggi.
"Apa kau bodoh? Melemparkan senjata satu-satunya demi menolong para gadis itu?" teriak pengguna pedang besar, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.
Ash melompat ke samping untuk menghindari serangan itu.
-Bam!
Sebuah pohon besar terbelah dan tumbang menghantam tanah dengan keras, membuat debu beterbangan ke udara.
Ash berlari maju, berdiri di depan para gadis yang ketakutan. "Kalian cepatlah lari," bisiknya tanpa menoleh ke belakang.
"Kaki kami tak bisa digerakkan lagi... tenaga kami sudah habis," jawab Risa, suaranya bergetar.
Pengguna tombak langsung menyerang Ash, menusukkan tombaknya ke arahnya. Dengan gerakan cepat, Ash menghindar dan menangkap tombak tersebut, lalu menendang perut anak berandalan itu hingga terjatuh dan kehilangan kendali atas senjatanya.
Dengan tombak di tangannya, Ash melemparkan senjata itu, mengenai kaki pengguna busur dan melumpuhkannya. Kini tersisa tiga orang lagi.
"Cih! Bagaimana orang ini bisa sangat kuat? Bukankah dia hanya mengambil kemampuan kehidupan saja?" gerutu pemimpin anak berandalan dengan nada ketakutan.
"Ada apa? Masih mau lanjut?" tantang Ash dengan senyum sinis, mengambil ranting kayu yang seukuran pedang.
"Kau pikir bisa melawanku dengan ranting kayu, hah!?" pemimpin anak berandalan dengan pedang besar maju ke depan dengan percaya diri.
"Quick Craft: Wooden Sword! Enchant: Penetration!"
Ranting kayu itu tiba-tiba berubah menjadi pedang kayu.
...[Wooden Sword 7★]...
...(Penguatan Penetrasi)...
-Slash!
Pertemuan kedua senjata itu menghasilkan suara yang menggema.
"Apa yang..." pemimpin para berandalan itu terkejut, gemetar saat melihat pedangnya terbelah oleh pedang kayu.
"Ada apa? Masih mau lanjut?" tanya Ash, tatapan dinginnya menembus ketakutan pemimpin itu.
Tanpa berkata-kata lagi, pemimpin dan teman-temannya berbalik dan melarikan diri, meninggalkan Ash sendirian.
Ash menghela napas lega, tetapi tangannya masih bergetar, pedang kayunya hancur akibat penggunaan yang berlebihan. "Ahaha, itu benar-benar pertaruhan yang berisiko. Membelah pedang besi dengan pedang kayu, jika bukan pedang kayu 7★ dengan penguatan penetrasi, aku tak yakin bisa melakukannya," gumam Ash lirih sambil memandang tangan kanannya yang masih gemetar.
Ia menoleh ke belakang. "Apa kalian baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Para gadis hanya mengangguk diam, tetapi Luna tiba-tiba berdiri dan memeluk Ash dengan erat.
"Terima kasih, Ash!" seru Luna, suara leganya menghiasi suasana yang tegang.
"Lu-Luna?!" Ash terkejut, wajahnya memerah mendengar ungkapan rasa terima kasih itu.
Luna dan Ash adalah teman masa kecil, mereka selalu bersekolah di tempat yang sama dari taman kanak-kanak hingga SMA, sehingga momen ini membawa kembali banyak kenangan indah.
"Ah, bisakah kau melepaskan aku dulu?" tanya Ash, merasa canggung dengan pelukan Luna yang tiba-tiba.
Luna melepaskan pelukannya dengan lembut, air mata masih mengalir di pipinya.
Lalu tiba-tiba terdengar suara tapak kaki kuda yang cukup banyak, getaran dari tanah membuat daun-daun kering bergetar. “Kalian semua pergilah menuju ke arah sana, aku akan melihat keadaan sekitar,” ujar Ash sambil menunjuk ke arah gubuk yang dibangun olehnya.
Luna dan teman-temannya mengangguk pelan, wajah mereka masih menunjukkan rasa takut namun penuh harapan, dan segera beranjak mengikuti petunjuk Ash. Mereka tahu bahwa saat ini, saling percaya satu sama lain adalah hal yang penting.
Ash berlari menuju sumber suara, jantungnya berdegup kencang. Ia melompat ke atas dahan pepohonan, memanjat dengan lincah dan bersembunyi di antara cabang-cabang yang rimbun. Dari sana, ia mengamati pemandangan di bawahnya.
Di kejauhan, sebuah pasukan berkuda muncul, berkendara dengan anggun di atas kuda-kuda yang berkilau. Mereka membawa bendera berwarna biru dengan lambang kerajaan yang megah, simbol dari kekuatan dan keadilan. Di tengah barisan, Ash melihat guru dan teman-teman sekelasnya berkumpul dengan ekspresi campur aduk—kekhawatiran dan harapan. Tak lama setelah itu, kelompok anak berandalan yang tadi melawan pun bergabung dengan mereka, menambah kekacauan di tengah ketegangan itu.
“Jadi, mereka jemputan ya?” gumam Ash, menyadari situasi yang kini semakin kompleks. Sebuah rasa lega mulai menyelimuti hatinya. Mungkin mereka akan mendapatkan bantuan yang sangat dibutuhkan.
Sebaiknya aku kembali dan mengabari para gadis itu. Bu Natsumi sepertinya tak akan pergi selagi murid-muridnya belum lengkap. Pikiran ini mendorongnya untuk segera kembali ke gubuk.
Dengan langkah hati-hati, Ash menjauh dari tempat pengintaian dan berusaha menyusuri jalur yang sama tanpa menimbulkan suara. Setiap gerakan di tengah hutan seolah terasa lebih intens, bahkan suara angin pun terdengar lebih jelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Vemas Ardian
familiar bngt, pasti ini terinspirasi sama anime bochi bochi itu kan? wkwkwkwk
2024-11-24
1
ꪱׁׁׁׅׅׅᥴհíᥒ᥆ׅ꯱ꫀׁׅܻ݊
bahh serasa nonton hittoribocchi eps 2🗿
2025-02-14
0
ꪱׁׁׁׅׅׅᥴհíᥒ᥆ׅ꯱ꫀׁׅܻ݊
hitoribocchi/Sweat/
2025-02-14
0