Chapter 3 : Perseteruan

Pada hari pertama setelah dipindahkan ke dunia lain, kebingungan melanda semua orang. Namun, kelompok Wibu tampak tenang dan mengerti, seolah mereka sudah akrab dengan situasi seperti ini, seperti yang sering mereka lihat dalam anime, komik, dan novel yang mereka baca.

"Bu Natsumi, bagaimana nasib kita sekarang?" tanya anak-anak dengan nada gelisah, wajah mereka dipenuhi kecemasan.

"Semuanya tenang, ya? Ibu akan mencari cara," jawab Bu Natsumi dengan suara tenang, berusaha memberi keyakinan kepada murid-muridnya.

Sementara itu, para Wibu berkumpul, saling bertukar informasi mengenai status senjata dan skill yang mereka miliki. Dalam kebisingan tersebut, kelompok anak-anak berandalan mulai membuat keributan, menunjukkan skill dan senjata yang mereka dapat.

Di sudut lain, kelompok gadis-gadis kaya hanya duduk diam, terus mengeluh, kecuali Luna, yang berusaha membantu Bu Natsumi menenangkan teman-teman sekelasnya. Luna, sebagai ketua kelas, merasakan tanggung jawab untuk menjaga kedamaian di tengah kekacauan ini.

Namun, keributan yang dibuat oleh para anak berandalan menyebabkan goblin mulai muncul dan mengepung mereka. Semua orang membeku melihat monster untuk pertama kalinya, kecuali para Wibu yang langsung melawan dengan keberanian.

Melihat Wibu yang bertarung dengan semangat, anak-anak berandalan tak mau kalah dan ikut terjun ke pertempuran. Meskipun tidak berpengalaman, mereka berhasil membuat goblin mundur.

Setelah pertempuran, para Wibu mengeluarkan peralatan survival dari tas penyimpanan mereka—tenda, panci, obor, roti, daging kering, dan wadah air.

"Kita harus mencari sungai dan mendirikan kemah di sana. Kita perlu persiapan untuk perjalanan menuju kota Ranvel, seperti yang dikatakan oleh Dewi," jelas Yuuto, salah satu dari kelompok Wibu, dengan nada tegas.

Bu Natsumi mengangguk setuju, dan para murid yang lain mengikuti tanpa banyak bertanya, meski kebingungan masih terbayang di wajah mereka.

Para Wibu pun meminta murid lain yang mengambil peralatan survival untuk mengeluarkan alat-alat mereka. Murid yang memiliki skill memasak pun diminta untuk menyiapkan makanan. Dengan semua orang saling bekerja sama, suasana yang semula tegang perlahan mulai membaik.

Setelah satu hari berlalu, saat semua orang sudah tenang, diskusi untuk merencanakan masa depan dimulai. Namun, suasana yang awalnya akrab tiba-tiba memanas.

"Hah? Kenapa kami harus melakukannya? Bukankah kalian yang seharusnya melakukan ini?" ucap Risa, salah satu dari kelompok gadis-gadis kaya, menentang permintaan para Wibu dengan nada menyentak.

"Tunggu Risa," Luna menyela. "Aku juga melakukannya, jadi ayo lakukan sama-sama."

"Aku tidak mau! Kita ini gadis-gadis berkelas, Luna, bukan gadis-gadis biasa dengan pekerjaan kasar!" balas Risa, suara penuh ketidakpuasan.

Keributan pun tak terhindarkan. Para berandalan mulai bertingkah, berusaha menyerang para gadis. Namun, para Wibu berhasil menghentikan keributan itu, meskipun beberapa dari anak-anak berandalan akhirnya pergi dengan kemarahan membara.

Semua orang yang seharusnya bersatu kini berpisah, bagaikan kaca yang jatuh dan pecah menjadi ribuan kepingan.

...---...

Kembali pada Ash...

Ash bersembunyi di balik pohon, mencoba memahami situasi. Ia melihat kelompok berandalan yang mengejar kelompok gadis-gadis kaya, dan hatinya bergetar melihat ketidakadilan itu.

"Menjauh! Dasar berengsek!" teriak Risa, suaranya bergetar ketakutan.

"Hehehe! Menyerah saja dan biarkan kami menggunakan tubuh kalian!" balas salah satu anak berandalan dengan senyum mesum.

Melihat kejadian itu, Ash menghela napas berat. "Huft~ mau di dunia manapun, sampah tetaplah sampah, yah?" gumamnya dalam hati.

"Huh?!" para anak berandalan itu berbalik, memandang Ash dengan tatapan kesal.

"Hee~ kukira siapa, ternyata hanya anak nolep yang muncul lagi setelah pergi sendiri di hari pertama. Apa? Kau ingin bermain pahlawan?" ejek salah satu dari mereka, tawa mengejek menyebar di antara mereka.

"Entahlah, aku hanya mendengar teriakan seorang gadis, lalu aku datang dan melihat penjahat yang hendak menyerangnya," balas Ash dengan nada acuh, seolah meremehkan mereka.

"Padahal baru satu hari tapi kalian sudah gila, aneh sekali. Apa ini pahlawan yang dipilih oleh Dewi itu?" tambah Ash dengan tatapan dingin.

Amarah para anak berandalan semakin memuncak, dan mereka menyerang Ash dengan senjata yang mereka peroleh dari pemilihan saat bertemu Dewi. Di antara mereka ada pengguna pedang besar, tombak, busur panah, penyihir, dan paladin.

Cih, meskipun mereka menyerang secara membabi buta, ini tetap merepotkan melihat komposisi kelompok mereka, batin Ash sambil terus menghindari setiap serangan yang diarahkan kepadanya.

Saat pemanah mengarahkan panahnya ke arah para gadis, Ash tidak berpikir dua kali. Ia melemparkan pisaunya, memutuskan tali busur dengan presisi tinggi.

"Apa kau bodoh? Melemparkan senjata satu-satunya demi menolong para gadis itu?" teriak pengguna pedang besar, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.

Ash melompat ke samping untuk menghindari serangan itu.

-Bam!

Sebuah pohon besar terbelah dan tumbang menghantam tanah dengan keras, membuat debu beterbangan ke udara.

Ash berlari maju, berdiri di depan para gadis yang ketakutan. "Kalian cepatlah lari," bisiknya tanpa menoleh ke belakang.

"Kaki kami tak bisa digerakkan lagi... tenaga kami sudah habis," jawab Risa, suaranya bergetar.

Pengguna tombak langsung menyerang Ash, menusukkan tombaknya ke arahnya. Dengan gerakan cepat, Ash menghindar dan menangkap tombak tersebut, lalu menendang perut anak berandalan itu hingga terjatuh dan kehilangan kendali atas senjatanya.

Dengan tombak di tangannya, Ash melemparkan senjata itu, mengenai kaki pengguna busur dan melumpuhkannya. Kini tersisa tiga orang lagi.

"Cih! Bagaimana orang ini bisa sangat kuat? Bukankah dia hanya mengambil kemampuan kehidupan saja?" gerutu pemimpin anak berandalan dengan nada ketakutan.

"Ada apa? Masih mau lanjut?" tantang Ash dengan senyum sinis, mengambil ranting kayu yang seukuran pedang.

"Kau pikir bisa melawanku dengan ranting kayu, hah!?" pemimpin anak berandalan dengan pedang besar maju ke depan dengan percaya diri.

"Quick Craft: Wooden Sword! Enchant: Penetration!"

Ranting kayu itu tiba-tiba berubah menjadi pedang kayu.

...[Wooden Sword 7★]...

...(Penguatan Penetrasi)...

-Slash!

Pertemuan kedua senjata itu menghasilkan suara yang menggema.

"Apa yang..." pemimpin para berandalan itu terkejut, gemetar saat melihat pedangnya terbelah oleh pedang kayu.

"Ada apa? Masih mau lanjut?" tanya Ash, tatapan dinginnya menembus ketakutan pemimpin itu.

Tanpa berkata-kata lagi, pemimpin dan teman-temannya berbalik dan melarikan diri, meninggalkan Ash sendirian.

Ash menghela napas lega, tetapi tangannya masih bergetar, pedang kayunya hancur akibat penggunaan yang berlebihan. "Ahaha, itu benar-benar pertaruhan yang berisiko. Membelah pedang besi dengan pedang kayu, jika bukan pedang kayu 7★ dengan penguatan penetrasi, aku tak yakin bisa melakukannya," gumam Ash lirih sambil memandang tangan kanannya yang masih gemetar.

Ia menoleh ke belakang. "Apa kalian baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

Para gadis hanya mengangguk diam, tetapi Luna tiba-tiba berdiri dan memeluk Ash dengan erat.

"Terima kasih, Ash!" seru Luna, suara leganya menghiasi suasana yang tegang.

"Lu-Luna?!" Ash terkejut, wajahnya memerah mendengar ungkapan rasa terima kasih itu.

Luna dan Ash adalah teman masa kecil, mereka selalu bersekolah di tempat yang sama dari taman kanak-kanak hingga SMA, sehingga momen ini membawa kembali banyak kenangan indah.

"Ah, bisakah kau melepaskan aku dulu?" tanya Ash, merasa canggung dengan pelukan Luna yang tiba-tiba.

Luna melepaskan pelukannya dengan lembut, air mata masih mengalir di pipinya.

Lalu tiba-tiba terdengar suara tapak kaki kuda yang cukup banyak, getaran dari tanah membuat daun-daun kering bergetar. “Kalian semua pergilah menuju ke arah sana, aku akan melihat keadaan sekitar,” ujar Ash sambil menunjuk ke arah gubuk yang dibangun olehnya.

Luna dan teman-temannya mengangguk pelan, wajah mereka masih menunjukkan rasa takut namun penuh harapan, dan segera beranjak mengikuti petunjuk Ash. Mereka tahu bahwa saat ini, saling percaya satu sama lain adalah hal yang penting.

Ash berlari menuju sumber suara, jantungnya berdegup kencang. Ia melompat ke atas dahan pepohonan, memanjat dengan lincah dan bersembunyi di antara cabang-cabang yang rimbun. Dari sana, ia mengamati pemandangan di bawahnya.

Di kejauhan, sebuah pasukan berkuda muncul, berkendara dengan anggun di atas kuda-kuda yang berkilau. Mereka membawa bendera berwarna biru dengan lambang kerajaan yang megah, simbol dari kekuatan dan keadilan. Di tengah barisan, Ash melihat guru dan teman-teman sekelasnya berkumpul dengan ekspresi campur aduk—kekhawatiran dan harapan. Tak lama setelah itu, kelompok anak berandalan yang tadi melawan pun bergabung dengan mereka, menambah kekacauan di tengah ketegangan itu.

“Jadi, mereka jemputan ya?” gumam Ash, menyadari situasi yang kini semakin kompleks. Sebuah rasa lega mulai menyelimuti hatinya. Mungkin mereka akan mendapatkan bantuan yang sangat dibutuhkan.

Sebaiknya aku kembali dan mengabari para gadis itu. Bu Natsumi sepertinya tak akan pergi selagi murid-muridnya belum lengkap. Pikiran ini mendorongnya untuk segera kembali ke gubuk.

Dengan langkah hati-hati, Ash menjauh dari tempat pengintaian dan berusaha menyusuri jalur yang sama tanpa menimbulkan suara. Setiap gerakan di tengah hutan seolah terasa lebih intens, bahkan suara angin pun terdengar lebih jelas.

Terpopuler

Comments

Vemas Ardian

Vemas Ardian

familiar bngt, pasti ini terinspirasi sama anime bochi bochi itu kan? wkwkwkwk

2024-11-24

1

ꪱׁׁׁׅׅׅᥴհíᥒ᥆ׅ꯱ꫀׁׅܻ݊

ꪱׁׁׁׅׅׅᥴհíᥒ᥆ׅ꯱ꫀׁׅܻ݊

bahh serasa nonton hittoribocchi eps 2🗿

2025-02-14

0

ꪱׁׁׁׅׅׅᥴհíᥒ᥆ׅ꯱ꫀׁׅܻ݊

ꪱׁׁׁׅׅׅᥴհíᥒ᥆ׅ꯱ꫀׁׅܻ݊

hitoribocchi/Sweat/

2025-02-14

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Dunia Baru
2 Chapter 2 : Pertarungan Pertama
3 Chapter 3 : Perseteruan
4 Chapter 4 : Pilihan
5 Chapter 5 : Menjelajah
6 Chapter 6 : Eksperimen
7 Chapter 7 : Menjadi Guru
8 Chapter 8 : Tamer
9 Chapter 9 : Menyerang Desa Goblin
10 Chapter 10 : Pertarungan Di Desa Goblin
11 Chapter 11 : Memulai Perjalanan
12 Chapter 12 : Pedagang Daniel
13 Chapter 13 : Kota Ranvel
14 Chapter 14 : Mendaftar Sebagai Petualang
15 Chapter 15 : Menjadi Pedagang
16 Chapter 16 : Belanja
17 Chapter 17 : Persiapan
18 Chapter 18 : Kehidupan Yang Damai?
19 Chapter 19 : Naga Hitam
20 Chapter 20 : Stampede
21 Chapter 21 : Extinction Ray!
22 Chapter 22 : Sang Pahlawan
23 Chapter 23 : Masa Pemulihan
24 Chapter 24 : Pahlawan
25 Chapter 25 : Misi Yang Telah Terukir Kembali
26 Chapter 26 : Serangan Fang Wolf
27 Chapter 27 : Menuju Kota Sirius
28 Chapter 28 : Keluarga Bangsawan
29 Chapter 29 : Pertunangan
30 Chapter 30 : Bertambahnya Satu Orang Di Dalam Kelompok
31 Chapter 31 : Menuju Ibu Kota
32 Chapter 32 : Ibu Kota
33 Chapter 33 : Pertemuan Kembali
34 Chapterr 34 : Membuka Kios
35 Chapter 35 : Risa Melawan Ahli Tombak Gareth
36 Chapter 36 : Hati Yang Terluka
37 Chapter 37 : Pertandingan Pembalasan
38 Chapter 38 : Kecepatan Melawan Kekuatan
39 Chapter 39 : Risa Vs Ren
40 Chapterr 40 : Serangan Di Ibu Kota
41 Chapter 41 : Kematian
42 Chapter 42 : Mika Sang Flugel
43 Chapter 43 : Keputus-asaan
44 Chapter 44 : Kebangkitan Sang Pahlawan
45 Chapter 45 : Memulai Perjalanan Baru
46 Chapter 46 : Kota Chovo
47 Chapter 47 : Warna Asli
48 Chapter 48 : Sebuah Sekte?
49 Chapter 49 : Sebuah Kebenaran
50 Chapter 50 : Menyusup
51 Chapter 51 : Mendapatkan Teman Baru
52 Chapter 52 : Mengungkapkan Kebenaran
53 Chapter 53 : Perjalanan Menuju Ibu Kota Lindwon
54 Chapter 54 : Satu Hari Dengan Dua Kejadian
55 Chapter 55 : Konflik Dengan Seorang Bangsawan
56 Chapter 56 : Mengungkapkan Rahasia
57 Chapter 57 : Perasaan Yang Rumit
58 Chapter 58 : Cinta Dan Kewajiban
59 Chapter 59 : Hasutan
60 Chapter 60 : Akademi Sihir
61 Chapter 61 : Ujian Masuk
62 Chapter 62 : Elysium Blade
63 Chapter 63 : Kegaduhan
64 Chapter 64 : Melanjutkan Perjalanan Seorang Diri
65 Chapter 65 : Kejadian 200 Tahun Yang Lalu
66 Chapter 66 : Penghianatan
67 Chapter 67 : Pelelangan
68 Chapter 68 : Budak—Gadis Rubah
69 Chapter 69 : Menuju Kota Treal
70 Chapter 70 : Serangan
71 Chapter 71 : Kota Treal
72 Chapter 72 : Mimpi Buruk
73 Chapter 73 : Perjalanan Menuju Ibu Kota
74 Chapter 74 : Elven Garden
75 Chapter 75 : Roh Pahlawan
76 Chapter 76 : Dendam Dari Masa Lalu
77 Chapter 77 : Kebencian Yang Besar
78 Chapter 78 : Aku Adalah Dirimu
79 Chapter 79 : Kota Aqualis
80 Chapter 80 : Menuju Kota Bawah Air
81 Chapter 81 : Kawasan Terlantar
82 Chapter 82 : Permata Roh Pelangi
83 Chapter 83 : Perjalanan Terakhir
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Chapter 1 : Dunia Baru
2
Chapter 2 : Pertarungan Pertama
3
Chapter 3 : Perseteruan
4
Chapter 4 : Pilihan
5
Chapter 5 : Menjelajah
6
Chapter 6 : Eksperimen
7
Chapter 7 : Menjadi Guru
8
Chapter 8 : Tamer
9
Chapter 9 : Menyerang Desa Goblin
10
Chapter 10 : Pertarungan Di Desa Goblin
11
Chapter 11 : Memulai Perjalanan
12
Chapter 12 : Pedagang Daniel
13
Chapter 13 : Kota Ranvel
14
Chapter 14 : Mendaftar Sebagai Petualang
15
Chapter 15 : Menjadi Pedagang
16
Chapter 16 : Belanja
17
Chapter 17 : Persiapan
18
Chapter 18 : Kehidupan Yang Damai?
19
Chapter 19 : Naga Hitam
20
Chapter 20 : Stampede
21
Chapter 21 : Extinction Ray!
22
Chapter 22 : Sang Pahlawan
23
Chapter 23 : Masa Pemulihan
24
Chapter 24 : Pahlawan
25
Chapter 25 : Misi Yang Telah Terukir Kembali
26
Chapter 26 : Serangan Fang Wolf
27
Chapter 27 : Menuju Kota Sirius
28
Chapter 28 : Keluarga Bangsawan
29
Chapter 29 : Pertunangan
30
Chapter 30 : Bertambahnya Satu Orang Di Dalam Kelompok
31
Chapter 31 : Menuju Ibu Kota
32
Chapter 32 : Ibu Kota
33
Chapter 33 : Pertemuan Kembali
34
Chapterr 34 : Membuka Kios
35
Chapter 35 : Risa Melawan Ahli Tombak Gareth
36
Chapter 36 : Hati Yang Terluka
37
Chapter 37 : Pertandingan Pembalasan
38
Chapter 38 : Kecepatan Melawan Kekuatan
39
Chapter 39 : Risa Vs Ren
40
Chapterr 40 : Serangan Di Ibu Kota
41
Chapter 41 : Kematian
42
Chapter 42 : Mika Sang Flugel
43
Chapter 43 : Keputus-asaan
44
Chapter 44 : Kebangkitan Sang Pahlawan
45
Chapter 45 : Memulai Perjalanan Baru
46
Chapter 46 : Kota Chovo
47
Chapter 47 : Warna Asli
48
Chapter 48 : Sebuah Sekte?
49
Chapter 49 : Sebuah Kebenaran
50
Chapter 50 : Menyusup
51
Chapter 51 : Mendapatkan Teman Baru
52
Chapter 52 : Mengungkapkan Kebenaran
53
Chapter 53 : Perjalanan Menuju Ibu Kota Lindwon
54
Chapter 54 : Satu Hari Dengan Dua Kejadian
55
Chapter 55 : Konflik Dengan Seorang Bangsawan
56
Chapter 56 : Mengungkapkan Rahasia
57
Chapter 57 : Perasaan Yang Rumit
58
Chapter 58 : Cinta Dan Kewajiban
59
Chapter 59 : Hasutan
60
Chapter 60 : Akademi Sihir
61
Chapter 61 : Ujian Masuk
62
Chapter 62 : Elysium Blade
63
Chapter 63 : Kegaduhan
64
Chapter 64 : Melanjutkan Perjalanan Seorang Diri
65
Chapter 65 : Kejadian 200 Tahun Yang Lalu
66
Chapter 66 : Penghianatan
67
Chapter 67 : Pelelangan
68
Chapter 68 : Budak—Gadis Rubah
69
Chapter 69 : Menuju Kota Treal
70
Chapter 70 : Serangan
71
Chapter 71 : Kota Treal
72
Chapter 72 : Mimpi Buruk
73
Chapter 73 : Perjalanan Menuju Ibu Kota
74
Chapter 74 : Elven Garden
75
Chapter 75 : Roh Pahlawan
76
Chapter 76 : Dendam Dari Masa Lalu
77
Chapter 77 : Kebencian Yang Besar
78
Chapter 78 : Aku Adalah Dirimu
79
Chapter 79 : Kota Aqualis
80
Chapter 80 : Menuju Kota Bawah Air
81
Chapter 81 : Kawasan Terlantar
82
Chapter 82 : Permata Roh Pelangi
83
Chapter 83 : Perjalanan Terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!