Setelah memulai perjalanan, Ash akhirnya tiba di kota Ranvel bersama pedagang bernama Daniel, yang ia selamatkan saat diserang oleh para bandit. Di depan gerbang kota, pemeriksaan dilakukan, dan para bandit diserahkan kepada para penjaga.
Salah satu dari bandit itu ternyata memiliki bounty. Meskipun tidak terlalu besar, kepala bandit tersebut dihargai lima koin emas karena keterlibatannya dalam penculikan, pembunuhan, pemerkosaan, dan pengedaran obat-obatan terlarang. Sementara untuk bandit lainnya, masing-masing dihargai sepuluh koin perak. Meskipun jumlahnya tidak mencukupi untuk hidup selama seminggu, setidaknya Ash masih mendapatkan sedikit imbalan.
Karena Ash dan para gadis tidak memiliki tanda pengenal, ia terpaksa membayar sejumlah uang untuk dapat memasuki kota. Setelah berhasil masuk, Daniel memberikan sekantung uang sebagai upah atas pengawalan yang telah dilakukan Ash selama perjalanan.
"Aku punya toko di kota ini, tepat di pertigaan dekat guild petualang," ujar Daniel sambil menyerahkan kantong uang.
"Terima kasih. Nanti aku akan mampir ke sana," jawab Ash dengan senyuman sambil menerima kantong uang tersebut.
Setelah berpisah dengan Daniel, Ash dan para gadis mulai mencari penginapan. Setelah bertanya ke sana-sini, mereka akhirnya menemukan penginapan yang terletak tidak jauh dari guild petualang, hanya sepuluh rumah jauhnya.
"Apakah itu toko milik Daniel?" gumam Ash melihat sebuah toko yang berdiri di persimpangan.
"Ada apa, Ash?" Luna bertanya, melihat Ash yang menatap satu arah terlalu lama.
"Ah, tidak, bukan apa-apa. Ayo masuk dan pesan kamar. Setelah itu, aku ingin berkeliling kota untuk mengumpulkan informasi," jawab Ash sambil tersenyum kecil.
Setelah memesan kamar, Ash segera keluar dari penginapan diikuti oleh para gadis. Tujuan utama mereka adalah mendaftar di guild petualang untuk mendapatkan pekerjaan dan uang dari penyelesaian misi, serta menjual batu sihir goblin yang mereka kumpulkan.
Namun, sebelum menuju guild petualang, mereka memutuskan untuk berkeliling kota dan melihat pasar, termasuk harga makanan dan barang-barang. Tentunya, hal ini membuat Ash kerepotan. Ketika gadis-gadis digabungkan dengan kata "belanja," dapat dipastikan akan terjadi keributan.
Lima belas menit berlalu...
Ash tampak bosan. Ia duduk di dekat pancuran, menatap kedai-kedai di pasar dengan tatapan kosong. Menghela napas panjang, ia menatap langit, Sampai kapan aku harus menunggu? batinnya mengeluh.
Tiba-tiba, sesuatu menarik perhatiannya. Ia bangkit dan berjalan menuju Koharu yang sedang berada di depan kedai sate.
"Koharu," panggil Ash.
"Hmm? Ya?" jawab Koharu sambil mengunyah makanan.
"Aku mau melihat-lihat sekitar. Jika kalian sudah selesai belanja, langsung pulang ke penginapan, ya? Jangan keluyuran," ujar Ash.
"Ya, ya," balas Koharu dengan cuek. "Paman, aku pesan dua tusuk lagi!"
Ash berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju toko yang menarik perhatian. Toko itu memiliki papan bertanda "Anvil dan Palu," menandakan bahwa itu adalah toko pandai besi.
-Kleng... kleng..!
Suara bel berbunyi saat pintu toko dibuka. Ruangan itu penuh dengan senjata yang dipajang di dinding dan rak-rak yang teratur. Ash melirik semua senjata itu dan mengaktifkan skill penilaiannya.
"Oh, selamat datang! Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" sambut pemilik toko dengan ramah.
"Ya," jawab Ash, melangkah ke meja di mana pemilik toko berdiri.
"Hoo~" Pemilik toko memperhatikan Ash dengan cermat, "Sepertinya kau tidak datang untuk membeli senjata. Jadi, apa yang kau perlukan?"
"Apa Anda punya tungku peleburan dan alat tempa?" tanya Ash sopan.
"Tentu, saya punya. Untuk apa kau mencarinya? Apakah kau ingin membuat senjata?" balas pemilik toko.
Ash mengangguk pelan. Melihat itu, pemilik toko menghela napas pendek. "Baiklah, tetapi ada syaratnya. Kau harus membayar dua perak untuk sekali pembuatan senjata."
Tanpa ragu, Ash mengeluarkan dua koin perak dan menyerahkannya.
"Silakan masuk, tungkunya ada di belakang," kata pemilik toko, membuka pintu ke ruang kerjanya.
Ruangan itu sempit dan panas, dengan sebuah tungku berisi batu bara panas. Ash mengeluarkan senjata-senjata goblin dari kantung dimensinya yang dipinjam dari Azusa. Satu per satu, pisau besi dimasukkan ke dalam tungku untuk dilebur. Ash berniat membuat katana.
Sepuluh pisau dilebur untuk membuat satu katana. Berkat suhu tinggi dan lingkaran sihir yang menjaga kestabilan suhu, proses peleburan berlangsung cepat.
-Ting! Tang!
Palu dipukul, membentuk balok besi padat. Setelah itu, Ash memanaskan dan memukulnya hingga memanjang dengan kepadatan yang baik. Dengan penuh konsentrasi, ia mulai membentuk pedangnya, dengan panjang 60 cm dan berat 1 kg.
-Psshhh~
Pedang dimasukkan ke dalam air setelah selesai dibentuk. Ash mengeluarkan batang kayu kecil untuk membuat gagang pedang, menyatukan gagang dan bilahnya. Dengan demikian, sebuah katana telah selesai dibuat.
...[Katana Besi 5★]...
...Slot kemampuan yang bisa ditambahkan:...
...•...
...•...
...•...
Woah, karena level kemampuan sudah meningkat, aku jadi tahu berapa banyak enchanted yang bisa dimuat oleh senjata ini, gumam Ash dalam hati, takjub melihat hasil karyanya.
"Pedang apa itu, nak?" tanya pemilik toko, penasaran dengan bentuk katana yang dibuat Ash.
"Katana. Itu namanya," jawab Ash.
"Maaf, bolehkah aku meminjam ruangan ini sebentar lagi? Aku ingin membuat sarungnya," lanjut Ash.
"Tentu," balas pemilik toko yang terus memperhatikan Ash dengan seksama.
Anak ini, dia memiliki bakat! pikir pemilik toko saat melihat kemampuan Ash.
Setelah selesai membuat sarung katana, Ash pamit dan mengucapkan terima kasih pada pemilik toko. Ia berjalan kembali menuju penginapan, menyadari bahwa hari telah menjelang petang. Waktu terasa sangat cepat karena terlalu fokus dalam membuat senjata.
"Besok aku akan mendaftar di guild petualang dan pedagang, lalu mencari toko yang dapat disewa dengan harga murah," gumam Ash sambil berjalan.
Saat ia melintas di depan guild petualang, ia berpapasan dengan seorang elf. Secara refleks, Ash membuang muka dan berpura-pura pergi ke kedai terdekat.
Kenapa dia ada di sini? gumamnya sambil melirik ke belakang melihat sosok gadis elf yang mulai menjauh.
...----------------...
Setelah selesai berbelanja, para gadis mulai kembali ke penginapan. Dengan penuh tas belanjaan, mereka tampak bersemangat, bercanda dan tertawa di sepanjang jalan. Koharu, yang sebelumnya sangat menikmati makanan dari kedai sate, tidak bisa menahan senyumnya saat menceritakan betapa enaknya sate yang ia makan.
"Aku tidak sabar untuk mencoba resep baru di penginapan!" serunya dengan semangat.
"Jangan terlalu berlebihan, Koharu. Nanti perutmu bisa sakit," Luna mengingatkan sambil tersenyum. Ia sangat menikmati kebersamaan mereka setelah berbelanja.
Sementara itu, Ash yang sedang berjalan dari arah berlawanan, tidak menyadari kehadiran mereka hingga mereka berpapasan.
"Ash!" seru Tama yang terkejut melihatnya.
Ash menghentikan langkahnya dan tersenyum saat melihat para gadis. "Kalian sudah selesai berbelanja?"
"Ya! Lihat apa yang kami beli!" kata Risa, dengan antusias menunjukkan beberapa barang yang mereka beli, termasuk bahan makanan dan pakaian baru.
Ash mengangguk, "Bagus sekali. Kalian tampak bersemangat. Aku juga baru saja selesai membuat sesuatu yang menarik."
"Oh, apa itu?" tanya Azusa dengan rasa ingin tahu, matanya berbinar-binar.
Sebelum Ash sempat menjawab, Koharu sudah mendekat, "Kau membuat senjata, kan? Aku ingin melihatnya!"
"Benar, aku membuat katana," jawab Ash sambil mengeluarkan katana yang baru saja ia buat dari sarungnya. Kilau pedang itu memantulkan cahaya sore, menambah kesan mengagumkan.
"Wah, itu indah sekali!" seru Luna, terpesona dengan desain dan detail katana tersebut. "Kau memang berbakat, Ash."
"Ya, sangat mengesankan!" tambah Risa, meskipun ia terlihat sedikit cemburu. "Tapi kita harus bergegas. Kita perlu beristirahat agar bisa mempersiapkan diri untuk mendaftar di guild petualang besok."
"Benar," kata Ash sambil mengangguk. "Setelah itu, kita bisa merencanakan apa yang akan kita lakukan."
Mereka semua setuju dan mulai berjalan kembali ke penginapan. Sambil berjalan, mereka saling berbagi cerita tentang pengalaman mereka masing-masing di kota Ranvel, membuat suasana semakin hangat dan akrab di antara mereka.
Ketika mereka tiba di penginapan, Ash membantu para gadis membawa barang belanjaan mereka. Di dalam penginapan, suasana nyaman dan hangat menyambut mereka. Mereka segera meletakkan barang-barang belanjaan di dalam kamar, dan kemudian berkumpul untuk merencanakan langkah selanjutnya.
"Bagaimana kalau kita membuat rencana untuk mendaftar di guild petualang dan langsung mencari misi yang cocok untuk kita?" saran Azusa.
"Setuju! Kita bisa mencari misi yang mudah terlebih dahulu untuk mengumpulkan uang," jawab Koharu, bersemangat.
Luna mengangguk, "Dan kita juga bisa menjual batu sihir goblin yang kita kumpulkan. Itu pasti bisa memberi kita modal awal."
Ash tersenyum melihat semangat mereka. "Baiklah, besok kita akan mendaftar dan mencari misi. Tapi ingat, kita harus tetap hati-hati dan tidak mengambil risiko yang terlalu besar."
Dengan rencana yang sudah dibuat, mereka beristirahat, siap menghadapi tantangan baru yang menanti di depan. Malam itu, Ash memandang katana yang baru dibuatnya dengan rasa bangga. Dalam hati, ia tahu bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai, dan banyak petualangan menanti mereka di kota Ranvel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Isekai Fantasy Novel
Ini ga bagus, kan risa sma tmen"nya pertama kali ke dunia lain, kenapa bisa tau guild petualang?
2024-10-20
2
Frando Wijaya
next Thor 😃
2024-09-01
0
Frando Wijaya
oee thor...bkn pemerkaosan tpi pemerkosaan loh
2024-09-01
0