Zea berusaha membantu Nika kembali ke kursi rodanya, sementara Bara memberikan pelajaran kepada kedua laki-laki yang mengganggu bahkan melakukan kekerasan kepada Nika, api kemarahan menguasai dirinya.
Nika terkejut karena kemarahan Bara kali ini berbeda dari yang tempo dulu dia lihat aura Bara begitu terasa sangat hitam.
si... siapa dia?.
Batin Nika yang seolah tidak percaya.
Bahkan kedua orang itu di buat tak berdaya, hingga orang-orang di sekitar tak ada yang berani melerai perkelahian itu.
"Bara hentikan kau bisa membunuh mereka! " jerit Nika.
Bara langsung menghentikan tangannya yang sudah mengudara bersiap untuk memberikan bogem mentah kepada keduanya.
Bara langsung melempar tubuh keduanya seperti sampah di pinggir jalan.
Bara lalu mendekat kepada Nika.
"Kau tidak apa-apa? pipi mu bagaimana? " tanya Bara cemas.bahkan laki-laki itu mengelus pipi mulus Nika yang saat ini berubah merah karena bekas tamparan orang tadi.
"Ti... tidak apa-apa aku baik-baik saja" Nika gugup.
"Pipi mu merah pasti sakit apa di mobil mu ada salep pereda nyeri? " tanya Bara cemas.
"Ehm... sepertinya ada sebentar gue ambil" Zea langsung berlari kearah mobil yang terparkir di area parkir taman.
"Gila... pantesan Nick suka banget sama dia ternyata memang dia seluar biasa itu" gumam Zea saat berjalan ke arah mobil.
Tak lama kemudian Zea kembali kepada mereka dengan membawa salep pereda nyeri, Bara mengambil benda itu dari tangan Zea dan langsung membuka tutup nya dan mengeluarkan isinya dan mengoleskannya di pipi Nika.
Tanpa Bara sadari jantung Nika rasanya ingin melompat keluar dari tempat nya dan aliran darah Nika yang dipompa oleh jantung tersebut pun seolah berdesir dengan cepat hingga begitu cepat nya aliran darah berpindah dari bilik kanan kebilik kiri jantung.
"Sudah... lain kali jangan keluar tanpa pengawalan" ucap Bara.
"Mereka yang cari gara-gara duluan dan aku tidak ingin di anggap lemah" ucap Nika kesal.
"Aku tahu kamu itu wanita kuat, tapi dengan kondisi mu seperti ini? "
"Jangan anggap aku cacat Bara?! " jerit Nika.
Bara langsung terdiam saat Nika berkata keras kepada nya.
"Terserah" ucap Bara datar dia yang kesal pun akhirnya meninggalkan gadis itu bersama temannya.
Zea melihat kearah Nika dengan tatapan bingung masalahnya dia melihat Nika terlihat berbeda saat dulu bila menceritakan Bara padanya, dulu bila menceritakan Bara padanya mata Nika dipenuhi dengan rasa cinta.
"Nick kenapa? " tanya Zea.
"Kita pulang saja Zea gue udah capek" ucap Nika lemas tak bersemangat.
"Oke kalau begitu" Zea pun membantu Nika mendorong kursi rodanya menuju mobil Zea pun membantu Nika masuk kedalam mobil dan duduk disana.
Mobil pun berjalan di ke darai oleh Zea. Zea sesekali memperhatikan Nika yang sejak tadi hanya terdiam.
"Elu kenapa sih? " tanya Zea lembut.
"Nggak apa-apa" jawab Nika pelan.
"Maksud gue elu kenapa sama Bara kok kayanya elu malah benci sama dia padahal dulu cinta banget sama dia" ucap Zea santai.
"Itu dulu lagi pula yang gue cinta itu Bara si tukang nasi goreng yang biasa dipanggil Ucup, bakan Bara yang sekarang ini, gue nggak kenal dia yang sekarang,malah boleh di bilang gue takut sama dia yang sekarang" jelas Nika.
"Kok takut? bukannya dia makin keren dan makin ganteng ya sekarang? " Zea bingung.
"Tapi dia makin kejam Zea... beda sama Ucup yang dulu, dia emang pandai berkelahi tapi dia nggak sekejam yang tadi elu lihat sendiri kan dia orang tadi hampir mati di tangan dia padahal dia ngelawan dengan tangan kosong tapi mereka nggak bisa lawan Bara, elu bisa bayangkan gimana kekuatan dia sekarang?"ucap Nika menggebu.
"Nick... elu lihat dan perhatikan nggak sih pas dia mukul itu dia marah besar karena ada orang lain yang berani berbuat kasar sama elu, hingga amarahnya memuncak seperti itu, itu artinya... "
"Artinya apa?! " Nika ketus.
"Artinya elu itu berarti untuk dia, dia mengakui elu sebagai calon istri nya di depan banyak orang tanpa ragu, itu artinya kan elu berarti untuk dia Nick" jelas Zea.
"Nggak mungkin... gue tahu banget dia benci banget sama gue kalo gue berarti buat dia tiga tahun lalu dia nggak akan ninggalin gue di rumah sakit tanpa kata-kata Zea" Nika mulai kesal.
"Dia nggak ninggalin elu dia tetap nungguin elu sampe elu sadar dan akhirnya keluarga lu dateng, saat keluarga elu mandang dia sebelah mata dia sadar diri dia nggak mungkin berada disisi elu terus sebab keluarga elu nggak kasih tanggung jawab itu ke dia"jelas Zea.
"Tapi waktu itu gue memohon sama dia gue bujuk dia untuk tetap nemenin gue disana, mungkin kalau waktu itu dia nemenin gue terus mungkin gue udah bisa berjalan sekarang"
"Elu kecewa sama dia hingga elu memutuskan untuk nggak mau berjalan lagi dan menutup diri"
"Ya buat apa gue bisa berjalan dan berlari sebab apa yang gue kejar selama ini tak pernah menganggap gue berarti" jawab Nika pasrah.
"Huftt gue nggak ngerti sih apa yang sebenarnya dirasakan Bara sama elu tapi jujur dari awal ketemu sama Bara pas dia bawa elu ke ambulans dia nungguin elu dengan cemas di depan ruang operasi, gue ngeliat dia tuh care sebenarnya sama elu meski dia selalu berlagak cuek di depan elu"
"Ya... sebenarnya kalian berdua itu menurut gue sama, sama-sama pura-pura cuek dan nggak peduli tapin dibalik itu semua kalian nggak bisa melihat kalau salah satu dari kalian itu tersakiti atau kesulitan" jelas Zea panjang lebar.
Nika hanya terdiam dan mengulum bibirnya karena tak ingin banyak bicara lagi atau membahas tentang Bara lagi, diri nya tak mau membicarakan pria yang sebentar lagi akan menjadi suami dalam waktu dekat ini.
Sementara itu di tempat lain.
Bara yang telah pulang ke mansion nya dengan mengendari motor sport nya pun pulang dengan hati yang masih kesal, dia kesal karena harus bertemu dengan wanita keras kepala dan egois dan sayangnya sebentar lagi wanita itu akan menjadi istri.
Saat Bara turun dari motor sport nya dan berjalan kedalam. mansion nya, Tiba-tiba ada yang menegur nya.
"Kak Bara apa kabar? " tanya seorang wanita bertubuh ramping dan tinggi, berambut coklat kepirangan dan berwajah Eropa.
"Eh... kamu" hanya itu jawaban Bara.
"Ish... kakak ini kebiasaan deh selalu acuh begitu sama aku" keluhnya manja.
"Hei... Luna... jangan berakting manja di depan gue karena gue udah males banget ngadepin cewek modelan kaya elu begini cukup si tusuk sate ajah yang manja, egois dan keras kepala jangan elu ikut-ikutan" omel Bara.
Hatinya sedang kesal. di tambah harus kedatangan sepupunya yang seperti itu, sungguh dia sangat malas berhasrat dengan wanita saat ini bila ingat siapa yang bertemu dengannya tadi.
Bara pun berjalan kearah lift dan menuju kamar nya dia ingin segera membersihkan dirinya setelah tadi badannya penuh dengan keringat.
"Wanita mana sih yang si maksud kak Bara dan siapa itu tusuk sate? " gumam Luna penasaran.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments