Malam hari Adam mengunjungi Bara di kedai nasi goreng nya, ya... bila malam hari Bara mempunyai pekerjaan sebagai tukang nasi goreng, dirinya membantu sang bapak untuk berjualan malam hari.
Saat Bara melihat kedatangan sahabatnya, dirinya yang telah selesai melayani masyarakat pembeli pun duduk di kursi plastik di samping Adam.
"Ada apaan mau beli nasgor? "tanya Bara santai.
" Nggak cuma... gue pengen tanya sesuatu ajah boleh? "tanya Adam.
" Ya boleh ajah siapa yang ngelarang "jawab Bara santai.
" Tadi Nika ngira gue yang nyelametin dia, gue nggak bisa ngomong apa-apa soalnya dia histeris dan langsung meluk gue gitu, sorry ya gur belum sempat ngomong yang sebenarnya ke Nika"Adam bercerita kejadian di rumah sakit.
"Ooo itu nggak masalah bagi gue malah bagus hehehe" Bara malah tertawa senang.
"Ck kok elu seneng sih, gue nggak seneng yang ada itu cewe bisa nempel mulu sama gue" Adam kesal.
"Hahaha iya ya... tapi bagus kan dia nempel mulu sama elu dari pada sama gue hahaha" Bara benar-benar terlihat senang.
"Ish... sialan lu gue nggak demen sama cewe modelan dia, buat elu ajah sono" Adam sewot.
"Ogah" tolak Bara telak.
"Kalo ogah ngapain juga tadi elu nolongin dia pas dia di culik... hadeuh... elu suka kan sama Nika? ngaku deh lu buktinya ajah slayer kesayangan elu sampe rela elu robek untuk ngebalut luka dia? " Adam sewot.
Bara lalu mengeluarkan slayer yang sudah sobek itu dari saku celananya.
Dia menatap seolah menerawang ke masa lalu saat menatap slayer berwarna biru tua dengan gambar batik berwarna putih.
"Ini mamah yang bikin buat gue, waktu dia ikut les batik, dia berikan karya pertama nya buat gue hingga barang ini sangat berarti buat gue tapi gara-gara tongkol warteg dia jadi rusak" gumam Bara.
Adam hanya menggelengkan kepalanya saja disaat sahabat nya ini mengenang mamahnya yang telah tiada rasa sedih pun mengiringi tapi itu semua luntur saat ada saja julukan yang dia berikan untuk Nika.
"Punya temen kapan seriusnya heran" gumam Adam sedikit kesal.
"Oia Cup... dari tadi ada orang tuh ngeliatin kesini mulu" ucap Adam yang memberitahu Bara ada seseorang yang sejak tadi mengintai kedainya.
Bara langsung melihat tajam kearah yang di lihat Adam meski orang itu bersembunyi di balik semak-semak tapi Bara tetap mengetahui keberadaan orang tersebut.
"Bentar Dam gue mau usir curut dulu" Bara langsung mengambil spatula miliknya dan membawanya ke semak-semak tersebut.
Saat di dekat semak tersebut Bara langsung berbicara.
"Keluar nggak lu?! " ucap Bara dengan nada dingin.
Tak lama orang tadi siang meminjamkan motor sport nya itu keluar dari semak tersebut.dengan wajah ketakutan.
"Eh tuan muda" ucapnya gugup.
"Diem lu jangan panggil gue kaya begitu kalo bukan di rumah, ngapain lu?! " sentak Bara.
"Saya hanya di perintah tuan besar untuk mengawasi keamanan anda" jelasnya.
"Heuh ngawasin keamanan gue? tanpa di awasi juga gue aman kali, pergi lu dari sini sebelum temen gue tahu siapa gue sebenarnya" usir Bara.
"Tapi tuan" tolak orang tersebut.
Set.
Bara langsung mengacungkan spatula miliknya kearah leher orang tersebut.
"Di tangan gue spatula ini bisa bikin urat nadi lu putus elu pilih pergi apa pilih mati" ucap Bara sadis.
"Bbbbb bababaik tuan muda maafkan saya" orang itu pun gelagapan bukan tanpa alasan dirinya ketakutan seperti itu dirinya sangat tahu sepak terjang Bara meski masih muda tapi bila jiwa pembunuhnya muncul tak ada yang bisa selamat darinya.
Saat orang tersebut pergi Bara pun berbalik badan dan betapa terkejut nya dirinya saat melihat keberadaan sahabatnya yang terdiam dan seolah shock melihat kearah Bara.
"Siapa elu sebenarnya? " tanya Adam bingung.
Bara menghela nafasnya dalam sebelum berbicara.
"Ayo ikut gue nanti gue jelasin" ajak Bara ke kedainya kembali.
Adam dan Bara pun duduk di kursi plastik yang tersedia disana, dan mumpung sepi pembeli Bara pun menjelaskan siapa dirinya sebenarnya.
"Gue sebenarnya anak sulung dari Tama Baldovino"Bara memulai cerita.
Adam nampak berfikir siapa itu Tama Baldovino dia tidak kenal.
Bara tertawa kecil saat melihat ekspresi sahabat nya seperti itu.
" Elu pasti bertanya-tanya siapa Tama Baldovino ya kan? "tanya Bara dan Adam pun hanya mengangguk saja.
" Dia adalah mafia keturunan Itali, tapi sejak gue tahu gue keturunan mafia gue nggak mau tinggal sama dia dan memilih tinggal sama Bapak gue yang sekarang yang sebenarnya adalah pelayan di rumah bapak kandung gue"jelas Bara.
"Kenapa elu nggak mau tinggal sama keluarga bener lu dan memilih susah? " tanya Adam bingung disaat orang lain menginginkan kehidupan seperti Bara yang bisa memiliki segalanya tapi sahabatnya malah memilih kebalikannya.
"Kehidupan mafia itu nggak tenang Dam.... musuh ada dimana-mana persaingan bisnis hitam yang rela menghabisi musuh tanpa belas kasih, dan terakhir kali adalah kejadian tiga tahun lalu saat gue menyaksikan sendiri mamah gue mati ketembak di depan mata gue itu gara-gara pria tua bangka yang nggak tahu diri itu dia ngundang musuhnya ke rumah hingga mamah gue jadi korban nya Dam... mangkanya gue nggak mau tinggal sama dia lagi, gue nggak mau lihat orang terdekat gue jadi korban berikut nya cuma gara-gara perebutan daerah kekuasaan atau masalah bisnis "jelas Bara panjang lebar.
Adam baru menyadari selama ini sahabatnya ini selalu menyembunyikan sikap yang sebenarnya di balik sikap konyol nya.
"Tapi laki-laki tua itu nggak ngebiarin gue bebas begitu ajah di luar dia masih ajah nyuruh mata-mata buat ngawasin gue, dan itu salah satu dari mereka yang selalu ngawasin keseharian gue" lanjut Bara bercerita.
"Apa elu sebenci itu sama bapak elu? " tanya Adam.
"Nggak sih cuma dia itu mengharapkan gue jadi penerusnya gue nggak mau, gue lebih baik hidup seperti ini jadi tukang nasi goreng, tapi gue tenang" cerita Bara lagi.
"Tapi gue mohon elu jangan cerita kesiapa pun tentang identitas asli gue, karena itu bisa membahayakan nyawa lu sendiri" Bara memperingati.
"Oia elu jadian dong sama tongkol warteg? " tiba-tiba Bara tidak serius lagi.
Dan Adam hanya menggelengkan kepala nya saja.
"Nggak kan tadi udah gue bilang gue nggak suka sama cewe modelan begitu, buat elu ajah sana" Adam sedikit kesal.
"Idih... kaga la yaw... males amat gue sama tongkol warteg kalo dimakan bisa alergi gue kumat" Bara asal bicara.
Adam hanya tertawa kecil saja dia benar-benar tidak habis fikir dengan Bara yang seorang keturunan mafia, dan sikap nya bisa berubah 360° bila saat dirinya sedang marah dan terusik.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Lina Cibou Silo
tongkol goreng 😂😂
2025-03-29
0