Setelah Bara berteriak tiba-tiba munculah seseorang dari sudut dinding itu, dengan wajah tanpa dosa dan senyuman yang canggung Luna muncul dari sana.
"Sedang apa kau disitu? bukanlah kamar mu di lantai dua?Dan orang tua mu pun pasti sudah menunggu mu di bawah bukan?! " ucao Bara tegas.
"Hehehe aku hanya ingin berbarengan dengan kak Bara saat menuju meja makan" Luna beralasan.
"Ck dasar manja" gerutu Bara.
"Ayo Math" Bara malah hanya mengajak Matheo masuk kedalam lift.
Saat Luna ingin masuk kedalam lift juga Bara melarang nya.
"Mau apa kamu? " tanya Bara dingin.
"Mau ikut turun" ucap Luna polos.
"Turun dari tangga saja sana, aku tidak mengundang mu naik ke sini jadi kamu nggak berhak turun bersama ku" ucap Bara dingin.
Dan tak lama pintu lift pun tertutup meninggalkan Luna yang terbengong disana.
"Kak Bara benar-benar keterlaluan hanya sekedar turun bersama saja dia tidak mau dasar laki-laki tak berperasaan" gumam Luna kesal.
Dia pun akhirnya turun menunggu Bara turun dengan lift, dia mana mau turun dengan tangga hingga membuat kakinya pegal.
Bara pun berjalan ke meja makan bersama Matheo dengan gagah dia berjalan dan melangkah menuju meja makan, malam ini dia memakai jas dan kemeja merah maroon warna yang hampir senada dengan warna dress Nika yang malam itu juga memakai warna merah hanya bedanya Nika memakai merah cabai.
"Kau ini seperti wanita saja berdandan lama sekali" omel tuan Tama.
"Tuh kan apa kata ku pria tua ini pasti ngomel" gumam Bara dia lalu melirik kearah Nika tapi Nika tak melihat kearahnya dia malah melihat kearah lain.
wanita itu juga kenapa malah melihat ke arah lain bukan ke arah ku sialan.
Batin Bara.
Tuan Tama langsung menyuruh Bara duduk berdampingan dengan Nika dan Bara pun dengan langkah malas duduk di kursi yang berdampingan dengan kursi roda Nika.
Dan tak lama Luna pun datang dia menatap sinis kearah Nika, tapi. Nika hanya cuek saja tak memperdulikan nya.
Acara makan malam pun di mulai, beberapa menu tersaji di meja makan yang mewah dan besar.
"Silahkan menantu makanlah yang banyak" ucap tuan Tama antusias.
"Iya kakak ipar makanlah yang banyak agar tubuh mu lebih berisi" singgung Luna.
"Ya Terima kasih tapi aku memang tak biasa makan banyak" jawab Nika datar.
"Ooo pantas saja, Hati-hati kak bila berada di. luar bila ada angin cepat-cepatlah kamu berlindung karena bisa-bisa... "
"Luna cukup dia sedang sakit mangkanya bodynya seperti ini tapi saat dia sehat banyak laki-laki yang terobsesi dengan tubuh nya" ucap Bara dingin.
Nika terkejut saat mendengar Bara membela nya dari keluarga nya.
"Maksud kak Bara? " Luna bingung.
"Lanjutkan makan mu dan jangan banyak bicara, apa lagi mencela orang lain di depan makanan" ucap Bara dengan nada dingin.
"Luna makanlah jangan berdebat di meja makan" ucap ibunya Luna yang bernama nyonya Lucia.
Luna yang merasa tidak ada yang membela pun akhirnya terdiam.
Sial apa specialnya sih gadis lumpuh ini hingga kak Bara begitu membelanya.
Batin Luna kesal.
Dan setelah makan malam selesai mualailah tuan Tama membicarakan perencanaan pernikahan putranya dan Nika.
"Bagaimana kalau minggu ini juga kita laksanakan pernikahan itu, bukankah pakaian pengantin nya sudah selesai kamu kerjakan nak? " tanya tuan Tama ramah.
"Eh iya tuan sudah saya kerjakan dan sudah selesai semoga tuan muda menyukai hasil karya saya" ucap Nika sopan.
"Ow dia pasti sangat menyukai nya iya kan Bara" ucap tuan Tama berlebihan.
"Tergantung"jawab Bara santai.
"Bila tidak sesuai dengan selera mu maaf tapi sepertinya kau tetap harus memakai itu karena pernikahan akan secepatnya kita lakukan beberapa hari lagi" ucap tuan Tama.
"Terserah" jawab Bara acuh.
Luna melihat sikap Bara yang begitu acuh saat pembicaraan pernikahan ini pun tersenyum senang.
Aku fikir kak Bara tertarik dengan si lumpuh ini ternyata tidak berarti aku masih ada kesempatan dong...
Batin Luna.
Acara sudah selesai bukan aku ingin kembali ke kamar ku dan masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan "Bara bangkit dari kursi nya.
" Kamu ini benar-benar tidak tahu sopan santun Bara ada tamu masih saja mengurusi pekerjaan serahkan pekerjaan mu pada Matheo kamu temani Nika dan mengobrol lah dengannya agar kalian semakin dekat "omel Tuan Tama.
" Astaga tak ada hal yang lebih menarik kah"gumam Bara.
Tapi laki-laki itu tetap menuruti perintah papahnya dan mendorong kursi roda Nika kearah taman belakang rumahnya.
Dan kini mereka berdua berada di taman namun keduanya hanya terdiam saja. Nika pun hanya fokus memandangi lampu taman dan Bara sibuk memainkan ponselnya.
"Kenapa kau bawa aku kesini bila kau hanya sibuk dengan ponsel mu saja? " akhirnya Nika yang berbicara terlebih dahulu.
"Jangan memancing keributan aku tak mau papah mendengar kita berdebat seperti biasanya" ucap Bara yang masih menatap layar ponselnya.
"Bara... "panggil Nika.
" Ya ada apa? "jawab Bara malas.
" Terima kasih"ucap Nika.
Deg.
Entah kenapa dada Bara merasa ada yang menggelitik saat Nika berkata seperti itu, pasalnya ini pertama kali dirinya mendengar gadis ini berkata Terima kasih.
"Terima kasih untuk apa? " tanya Bara bingung.
"Terima kasih karena kau membela ku di depan keluarga mu" ucap Nika lagi.
"Ooo itu tak masalah" ucap Bara cuek.
"Tubuh ku seperti ini karena kesalahan ku sendiri, aku juga tak tahu apa aku bisa mengembalikan diri ku ini seperti dulu lagi atau tidak,yang jelas kau pasti kerepotan karena aku nantinya dan maafkan aku bila nanti aku banyak merepotkan mu" ucap Nika.
"Masalah itu jangan mau fikir kan disini banyak pelayan aku tak akan merasa kerepotan kok kau bisa dilayani oleh mereka bila kau butuhkan sesuatu" ucap Bara masih cuek.
Dia benar, dia tak mungkin akan mengurus ku pernikahan ini hanya karena terpaksa hingga dia tak mungkin mau aku repotkan.
Batin Nika yang kecewa dengan jawaban Bara.
"Padahal kau bisa sembuh dengan melakukan operasi dan terapi tapi kau malah tidak melakukan itu semua dan memilih seperti ini" singgung Bara.
"Heuh... meski aku bisa kembali normal juga rasanya percuma karena apa yang selalu aku kejar tak pernah bisa aku gapai" ucap Nika pelan bahkan dia melihat lurus kedepan.
Apa maksudnya.
Batin Bara.
"Apa kamu itu tak mempunyai mimpi? " tanya Bara lagi.
"Dulu ada tapi sekarang tidak semua impian ku telah hancur karena apa yang ingin aku gapai tak pernah tercapai, hingga aku memutuskan untuk mengubur dalam-dalam mimpi ku itu" jelas Nika lagi.
"Boleh aku menggali kembali kuburan mimpi mu itu agar mimpi mu kembali lagi pada mu? " tanya Bara.
Nika tertegun saat mendengar perkataan Bara yang cukup aneh menurut nya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments