"Tuan Bara silahkan anda coba taxidonya" ucap pelayan butik tersebut.
"Hem... baiklah oiya aku juga mau kau mencoba baju pengantin mu nona" ucap Bara.
Dan akhirnya keduanya pun mencoba pakaian pengantin mereka dengan warna yang sama, warna yang pertama mereka coba adalah warna pink peach.
"Astaga tak ada warna lain kah kenapa harus pink i don't like pink" keluh kesal Bara.
"Hahaha bukan kah itu cocok untuk mu tuan muda" ledek Nika.
"Diam kau tusuk sate, kau tahu saat kau memakai gaun ini bukannya terlihat indah di tubuh mu kau bak wafer stik berbalut coklat stroberi hahaha"
"Apa kau bilang.... kau sendiri apa otot besar memakai pink bak laki-laki lembayung"
"Ck lagi pula siapa sih yang merekomendasikan warna ini?! " Bara kesal.
"Aku tak suka warna-warna feminin aku laki-laki kalian mengerti?! cari warna yang lain dan pasangkan dengan kontras dengan gaun pengantin calon istri ku" Bara kesal.
Deg.
Entah kenapa jantung Nika langsung berdegup tak karuan saat Bara menyebutnya sebagai calon istrinya.
"Bila tidak ada yang bagus dan cocok sebaiknya kalian tutup saja butik ini" Bara masih kesal.
Apa rumah tangga mereka akan baik-baik saja belum resmi menikah saja mereka bertengkar mulut terus.tapi hanya Nona Nika saja yang bisa membuat tuan muda berbicara seperti itu.
Matheo hanya bisa membatin.
Dia baru kali ini melihat bosnya banyak bicara dengan wanita.
"Tuan muda maaf kami punya beberapa model taxido dan gaun pengantin yang kemungkinan Anda suka anda bisa memilihnya di album desain koleksi kami, nanti karena bila mengandalkan barang yang ada kami yakin anda kurang menyukainya" jelas leader di butik tersebut.
"Coba aku lihat" Bara meminta album foto yang berisikan berbagai model pakaian pengantin.
Leader tersebut pun menyerahkan album tersebut kepada Bara.
Bara membolak-balikan lembaran-lembaran foto tersebut dan dia sepertinya menemukan satu model yang dia sukai.
"Nah ini aku suka warna ini" Bara menunjukkan kepada leader tersebut dan menunjukkan nya kepada Nika.
Nika langsung melotot saat melihat model gaun tersebut.
"Apa kau gila?! ini warna hitam kita mau menikah atau mau berduka?! " Nika kesal.
"Ya menikah lah... kita buat konsep berbeda dari yang lain, biasanya pakaian pengantin itu cerah tapi kita buat gelap bukankah kau menyukai perbedaan? "
"Dasar otak monokrom kau ini bisa nggak sih berfikir jernih, selama ini otak mu itu sepertinya kurang di cuci hingga fikiran mu sangat buram" sentak Nika.
"Hei siapa yang kau bilang otak monokrom, aku dan kamu memang punya selera berbeda terserah kau mau pakai gaun atau tidak pada pesta pernikahan kita yang jelas aku akan tetap pada pendirian ku hitam adalah warna ku" Bara ikut emosi.
"Lagi pula bukankah kau biasa memakai pakaian yang kurang bahan! " lanjut Bara.
"Hei... itu masa lalu sialan" Nika kesal.
Astaga mereka bisa-bisanya bertengkar saat fitting baju pernikahan mereka.
Batin Matheo.
Sementara mamah Nika sudah frustasi melihat putri nya kembali ke mode awal.
Dan para karyawan dan juga leader butik pun rasanya ingin berteriak saja karena ada ya... calon pengantin yang selalu bertengkar apa lagi sedikit lagi menjelang pernikahan mereka. kalau bukan karena Bara adalah pelanggan tetap butik ini mungkin mereka sudah mengusir Bara dan Nika dan menyuruh mereka datang ke butik yang lain, tapi karena keluarga Bara itu pelanggan tetap butik ini Mereka pun tak berani melakukan itu karena boleh di bilang Bara adalah pelanggan VIP mereka yang bila membeli barang di butik ini tak segan-segan.
"Ehm... tuan maaf bagaimana bila berbeda warna tapi masih singkron bila di pasangan" leader itu memberikan saran.
"Maksudnya?! " Bara memicingkan matanya.
"Begini taxido tuan tetap berwarna hitam dan gaun untuk calon istri anda berwarna putih memang ini couple standar tapi setidaknya ini lebih baik dari pada... "
"Baiklah kalau begitu aku setuju" Nika langsung memotong perkataan leader tersebut.
"Hei kau tidak bertanya kepada ku dulu jangan memutuskan sendiri?! " Bara kesal.
" Lalu apa kau tadi juga bertanya kepada ku dahulu tidak kan? aku mau putih "Nika kukuh.
" Dasar gadis keras kepala, terserah kamu mau putih atau warna pelangi aku tak peduli aku mau kembali kekantor kau membuang waktu ku saja "Bara mulai berjalan kearah pintu butik.
"Kau yang membuang waktu ku sialan sejak. siang aku berada disini hanya untuk menunggu mu kau fikir waktu ku tidak terbuang sia-sia"Nika kesal.
" Tidak lagi pula apa kerja mu hah?! bukankah berdiri saja kau tidak mampu? lantas apa yang bisa kau kerjakan hem? "ucap Bara sarkas.
" Bara Pratama kau keterlaluan aku benci pada mu benciiiiii"Nika menjerit hingga suaranya memenuhi ruangan butik tersebut.
"Nika stop Nika jangan bicara begitu pada calon suami mu" Mamahnya mencoba menenangkan dirinya.
"Heuh... sudah ku duga ini pasti akan terjadi" gumam Bara yang langsung meninggalkan butik tersebut tanpa melihat kearah Nika sama sekali.
Nika mengepal tangannya kencang bahkan bergetar itu semua karena dia menahan rasa marah, dia jadi ingat kejadian tiga tahun yang lalu kejadian dimana Bara meninggalkan ruang rawatnya tanpa satu kata sedikit pun.
"Kamu masih belum berubah Bara aku benci pada mu" geramnya.
"Mamah ayo kita pulang saja terserah dia mau memilih pakaian pengantin seperti apa aku tak peduli" ucap Nika menahan geram.
Mamah pun hanya bisa menuruti putrinya ini, meski dia tahu putrinya saat ini sedang marah besar hingga hanya terdiam saja selama di perjalanan menuju rumahnya.
"Kenapa kau jadi pendiam lagi? padahal kau begitu banyak bicara tadi saat ada tuan muda" tanya mamah bingung.
"Sudahlah mah jangan bahas dia, bagi ku ini hanya pernikahan bisnis saja tak lebih dari itu" ucap Nika sinis.
"Nika... maafkan mamah dan papah ya? " mamah jadi merasa bersalah.
"Mamah tak perlu minta maaf seharusnya aku yang meminta maaf karena aku hanya bisa menyusahkan kalian saja selama aku menjadi anak kalian" ucap Nika datar.
"Nika... jangan bicara begitu nak, kami sebenarnya senang karena ada yang ingin menikahi mu, mungkin saat ini cinta belum tumbuh di hati kalian tapi seiring berjalannya waktu mungkin saja cinta itu akan tumbuh di hati kalian"
Dulu iya aku sempat mencintai dirinya tapi sekarang aku jadi semakin membenci nya entah kenapa jadi seperti ini.
Batin Nika.
Dulu dia diam-diam memang menyukai Bara sosok yang selalu menjadi penolongnya tapi... sejak. kejadian itu dirinya jadi berbalik membenci sosok Bara, namun semesta seolah mempermainkan dirinya karena tiba-tiba dirinya di jodohkan oleh pria yang sangat di benci nya.
Akankah cinta itu bisa tumbuh lagi seiring berjalannya waktu saat mereka menikah nanti.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments