"Ma, nanti pulang sekolah Jeri ke kantor mama ya." ucap bocah kecil saat sedang sarapan.
Maudy menggelengkan kepala tanda menolak permintaan anaknya. Jika Jeri bertemu lagi dengan pria modus itu, putranya akan terus lengket.
Itu yang diinginkan Roni, mendekati dirinya lewat Jeri. Maudy tidak suka dengan pria itu, jadi ia tidak akan memberi kesempatan sedikitpun.
Tadi malam juga, Jeri cukup lama bicara dengan pria itu di telepon. Jadi sudah cukup lah.
"Jeri pulang sekolah, langsung pulang ke rumah. Mama nanti akan pulang lebih cepat."
Jeri mengcemberutkan wajahnya. Ia ingin ke kantor mama Maudy untuk bertemu papa. Tapi mama tidak mengizinkan.
"Jeri, om Roni itu bukan papa kandungnya Jeri. Papa kandungnya Jeri sudah meninggal, nak." jelas Maudy sambil melihat wajah sang anak.
Ia menjelaskan jika pria jahat itu sudah meninggal dan tidak mengatakan jika sudah mati dimakan cacing.
"Papa Roni papanya Jeri, mama!" Jeri tidak mau papa lain selain papa Roni.
"Bukan, sayang. Papanya Jeri sudah meninggal du-"
"Jeri mau papa Roni!" sela Jeri tidak terima. Papanya itu papa Roni, titik. Tidak bisa diganggu gugat.
"Sudahlah, Maudy." opa Agus menggeleng. Cucunya wajahnya sudah mulai bersedih. Jadi kasihan melihatnya.
Jeri menahan untuk tidak menangis, karena tidak mau mama mengadu pada papa.
"Ma, Jeri mau papa tinggal di sini bersama kita." pinta Jeri kemudian. Teman-temannya begitu, papa mereka pulang dan menginap di rumah.
Opa dan oma hanya diam menjadi penonton. Mendengar pembicaraan anak dan cucunya.
"Tidak bisa, nak!" tolak Maudy. Tidak akan membiarkan pria asing tinggal di rumah mereka.
"Kenapa, ma?"
"Kalau mau papanya Jeri tinggal di sini, mama Maudy harus menikah dengan om Roni." kini oma Novia yang menjawab. Dengan menikah, putrinya akan memiliki sebuah keluarga kecil. Dan cucunya memiliki ayah sambung.
"Tidak mau!" tolak Maudy segera. Apa-apa an itu?
"Mama menikah saja dengan papa ya." pinta Jeri. Ia bicara tanpa tahu artinya. Yang penting kata oma, papa Roni bisa menjadi papanya kalau mama Maudy menikah. Jadi ya sudah mama menikah saja dengan papanya itu.
Maudy menggelengkan kepala, tidak setuju.
"Ayo, Jeri. Kita berangkat ke sekolah!" Maudy pun mengakhiri pembahasan yang tidak jelas itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Roni keluar dari kamar kost-nya, ia akan berangkat ke kantor. Saat akan naik ke mobil,
"Tu-tunggu!"
Pria itu pun berbalik melihat siapa yang memanggilnya.
"Ini!" ucap Cici memberikan kotak bekal.
"Tidak usah repot-repot." tolak Roni. Ia juga sudah sarapan.
"Ini dari mama! Mama yang menyuruhku memberikan padamu." alasan Cici sambil menyerahkan bekal itu. Ia memang sengaja sudah membuatnya dan tidak terima jika ditolak begitu saja.
"Terima kasih." ucap Roni. Karena pemberian dari ibu kost, ia merasa segan untuk menolak. Jadi diterima saja.
Setelah menerima dan berterima kasih, Roni akan naik ke mobilnya. Tidak ada basa basi lain.
"Mas, mau kerja ya?" tanya Cici mengajak bicara duluan.
"Hah?"
Cici menggerutu dalam hati. Susah payah ia mengajak bicara malah direspon hah.
"Mau berangkat kerja ya?" tanya Cici kembali.
Roni mengangguk tanda mengiyakan.
"Kerja di mana?" tanya Cici. Pria itu malah mau masuk saja ke mobil.
"Di sana!" jawab Roni sekenanya.
'Argh!' Cici berteriak kesal.
Cici sudah menurunkan sedikit gengsinya untuk mengajak bicara, tapi respon pria itu begitu. Tah memang sedang jual mahal atau memang tipe yang irit bicara.
Wanita itu kesal melihat mobil pria itu sudah melaju pergi. Tapi ia tersenyum tipis melihat pria pengangguran itu sudah berubah drastis.
Roni itu sekarang sangat rapi dan begitu berwibawa. Ditambah lagi, ternyata pria itu juga tampan. Ia jadi menyesal tidak menyadari pesona duda satu itu.
Beberapa saat kemudian, Roni sampai kantor. Ia memarkirkan mobilnya. Saat akan menutup pintu mobil dari depan seorang wanita melihatinya.
Wanita itu segera menutup pintu mobil dan berjalan menghampirinya.
"Kamu mengikutiku ya?" tanya Maudy sambil melipat tangan di dada. Pria modus itu tertangkap basah.
Maudy sudah berasumsi jika Roni sengaja menunggunya, agar mereka bertemu dan berjalan beriringan masuk ke kantor.
Wanita itu sudah paham betul dengan modus lama seperti itu.
Roni menutup pintu mobil sambil membuang nafasnya perlahan. Masih pagi sudah bertemu wanita kepedean ini.
"Tidak! Aku mau bekerja, nona." jawab Roni. Pria itu berjalan meninggalkannya. Mengikuti apa, ia saja datang untuk bekerja. Dan kebetulan mereka bertemu di parkiran.
"Kamu memang sengaja menungguku, agar kita bertemu. Berhentilah mendekatiku!" ucap Maudy memperingatkan.
Roni menghentikan langkah dan berbalik badan. Melihat wanita kepedean itu dengan kesal.
"Nona... sepertinya kamu yang mendekatiku, kamu parkir mobil di sana loh!" jelas Roni. Ia tidak ada mendekati wanita itu.
"Aku kemari untuk memperingatkanmu, berhentilah mendekatiku!" jawab Maudy.
"Aku tidak berniat mendekatimu, aku tidak tertarik padamu, nona!" ucap Roni lalu berjalan dengan langkah lebar meninggalkan wanita itu.
Maudy jadi kesal dengan perkataan Roni. 'Tidak tertarik padaku?'
Di depan lift, Roni menunggu lift yang akan membawanya ke lantai tempat kerjanya. Ia melihat sekitar memastikan wanita itu tidak berada di dekatnya.
Wanita itu selalu menuduhnya berniat mendekatinya. Padahal ia tidak begitu. Mereka bekerja di kantor yang sama, jadi wajar saja jika bertemu.
Lift terbuka dan Roni pun naik bersama karyawan lainnya. Pria itu mengambil posisi di belakang.
'Astaga!' batinnya saat melihat wanita kepedean itu masuk.
Para karyawan minggir memberi tempat di tengah untuk atasan mereka.
Maudy tersenyum sinis saat bertatapan dengan pria modus itu dan segera membalikkan badan dengan gaya angkuhnya.
'Argh!' kesal Roni. Rambut panjang wanita itu menerpa wajahnya. Posisi wanita itu kini berdiri di depannya.
Tiba-tiba lift tersendat dan berguncang sebentar. High heels yang dipakai Maudy terlalu tinggi, membuat wanita itu tidak dapat menjaga keseimbangan,
Hap...
Seseorang menahan tubuhnya, hingga tidak terjatuh.
"Anda tidak apa, nona?" tanya Roni bersikap formal. Sudah berada di area kantor, ia harus bersikap sopan pada atasannya itu dan di lift ini juga banyak orang.
Maudy tidak menjawab dan berusaha membenarkan posisi berdirinya kembali. Ia menatap pria itu sejenak lalu membuang muka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Oma!" panggil Jeri seraya melambaikan tangan. Ia setengah berlari menghampiri wanita tua tersebut.
Oma Novia menggandeng cucunya dan mereka naik ke dalam mobil.
"Jeri mau ke kantor mama?" tanya oma. Ia penasaran dan ingin melihat pria yang sedang dekat dengan Maudy.
Tadi malam ia juga sempat mendengar Jeri teleponan dengan pria itu. Pasti sedang dalam tahap pdkt.
"Mau, oma! Jeri mau ketemu papa juga!" jawabnya bersemangat. Lalu tidak lama menggelengkan kepala.
"Tadi mama tidak bolehi Jeri ke sana, oma." sambung Jeri dengan lemah.
"Tidak usah beritahu mama. Kita kan ke sana mau temui opa." ide oma. Mereka akan beralasan menemui opa Agus di sana.
Jeri mengangguk setuju. "Ayo, oma. Kita ke kantor opa!"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
asyik bertemu Papa Roni lg ya Jeri lamou hijau dr keluarga Maudy Ron terima aja
2024-09-02
1