Bab 7 - Sempat Dilema

Roni menarik nafas panjang lalu membuangnya pelan. Ia menatap dirinya dalam pantulan cermin. Melihat dirinya yang kini kembali memakai pakaian kantoran.

"Baiklah, mari kita bekerja keras!" Roni menyemangati diri sendiri.

Pria itu mengunci pintu kamar kost, lalu ia naik ke sepeda motornya. Ia akan meluncur menuju tempat kerjanya.

"Hei-hei, itu bukannya Roni. Anak kost kesayangan mamamu!" seorang wanita menunjuk saat sepeda motor pria itu melewati mereka.

"Iya, benar. Sepertinya ia sudah dapat kerjaan!" sambung temannya yang lain. Tidak pernah melihat pria itu berpakaian seperti itu.

"Halah, paling baru juga interview." cibir Cici. Ia kesal selalu diledeki dengan duda pengangguran itu.

Tak lama, Roni telah sampai di ruangannya. Ia berdecak kagum pada ruangan yang sangat rapi dan cukup luas.

Masih tidak menyangka, jika ia benar-benar akan bekerja di kantoran lagi. Ini seperti mimpi baginya.

Seorang staff masuk dan membawa Roni untuk berkeliling perusahaan. Mengenalkan tentang lingkungan tempat kerja mereka.

Lagi dan lagi, Roni kagum. Perusahaan ini berskala besar. Luar biasa Satria bisa masuk di perusahaan ini. Jadi penasaran di bagian apa Satria bekerja.

Setelah berkeliling sejenak. Roni kembali ke ruangannya, ia akan mulai memahami pekerjaan dan tanggung jawabnya. Akan bekerja dengan giat dan semangat. Harus memanfaatkan kesempatan ini untuk melanjutkan hidupnya.

Saat jam makan siang, Roni bersama Satria. Mereka makan siang bersama.

"Sat, kamu bekerja di divisi apa?" tanya Roni ingin tahu. Penasaran dengan pria itu.

"Saya hanya staff biasa, pak." jawab Satria sambil mengunyah. Ia tidak memberitahu, nanti juga Roni tahu sendiri.

Roni tidak percaya hanya staff biasa, pasti Satria punya jabatan yang tinggi di perusahaan ini. Karena ia memperhatikan banyak para karyawan yang menundukkan kepala sejenak saat berpapasan dengannya.

Setelah selesai makan siang, kini Roni berada di ruang rapat. Karena ia orang baru, ia dipersilahkan memperkenalkan diri pada orang-orang yang berada di ruangan itu.

Dan tidak lama kemudian,

'Pantesan!' batin Roni saat Satria yang memimpin rapat. Ia tahu juga jabatan pria yang lebih muda darinya itu.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"Pak, kebetulan di perusahaan tempat saya bekerja sedang membutuhkan manajer. Makanya saya merekomendasikan anda!" jelas Satria.

Roni mengatakan jika ia memakai koneksi agar bisa bekerja di sana. Dan merasa tidak enak.

"Tapi-"

"Sudahlah, pak. Perusahaan sedang membutuhkan orang yang berpengalaman dan itu anda!" jelas Satria kembali. Perusahaan butuh orang pengalaman dan ia merekomendasikan atasannya itu. Dan itu tidak salah.

Jika Roni tidak pernah berada di posisi manajer, mungkin ia juga tidak akan berani merekomendasikan untuk berada di posisi itu. Mungkin akan merekomendasikan Roni sesuai jabatan terakhir.

"Anda memang pantas berada di posisi itu, pak! Pak Roni yang dulu saya tahu, sangat bersemangat dan pantang menyerah!"

Roni mendengus lalu ia akhirnya mengangguk. Tidak akan mempertanyakan itu lagi. Ia harus menunjukkan kinerjanya untuk membuktikan bahwa dia memang layak.

"Oh iya, Sat. Wakil direktur tadi kenapa tidak ada?" tanya Roni. Tadi rapat dengan wakil direktur dan dihandle oleh Satria sebagai asistennya.

"Nona Maudy sedang mengambil cuti, pak. Ia membawa anaknya liburan." jawab satria.

"Nona Maudy?" ucap Roni. Panggilan nona terasa aneh. Biasa dalam lingkungan bekerja memanggil wanita dengan Bu.

"Nona Maudy tidak mau di panggil Bu Maudy, pak. Ia tidak suka dan akan marah jika ada yang memanggilnya begitu." ucap Satria memberitahu. Atasannya paling anti dipanggil begitu di perusahaan ini.

"Bu ibu ibu, kapan saya menikah dengan bapakmu?" ucap Satria menirukan gaya bicara Maudy yang meninggi. Lengkap dengan gaya sombong dan angkuhnya.

Roni terkekeh, ada-ada saja yang Satria bilang.

"Benar loh, pak. Nanti jika nona Maudy sudah masuk kembali, anda harus memanggilnya nona. Jika tidak, ia akan bicara seperti itu pada anda!" Satria mengingatkan. Roni masih baru dan juga harus tahu aturan seperti itu.

"Baiklah."

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Maudy menikmati liburan bersama anaknya. Ia mengunjungi berbagai tempat. Dan Jeri tampak senang sekali mendatangi berbagai tempat baru. Senyum di wajah polos itu terus merekah.

Maudy juga membawa Jeri liburan ke pantai. Putranya nampak sibuk membangun istana pasir, menumpuk-numpuk pasir tersebut.

Dan ia hanya menemani. Memandangi wajah Jeri yang terus menerus tersenyum.

"Ma, ini istana Jeri!" ucapnya menunjukkan hasil karyanya pada mamanya.

"Wah, bagus. Jeri hebat!" puji Maudy. Istana pasir yang dibuat Jeri lebih mirip gundukan tanah, tapi Maudy memuji untuk menghargai usaha sang anak.

"Ma, nanti kalau sudah besar. Jeri mau buat istana, nanti kita tinggal di sana ya."

Maudy mengangguk cepat. Setuju saja apa yang dikatakan anaknya. Yang penting Jeri senang.

"Nanti Jeri akan menjaga mama, karena Jeri sayang sama mama." sambungnya kemudian.

Maudy meneteskan air mata. Ucapan putranya membuat hatinya bergetar.

"Mama jangan menangis." Jeri mengusap air mata di wajah Maudy dengan tangan mungilnya.

"Terima kasih, sayang. Mama juga sangat menyayangi Jeri." ucap Maudy. Ia membawa sang anak dalam pelukan. Memeluk anugerah terindah dengan begitu erat.

"Ayo, kita foto di istana pasirnya Jeri. Nanti kita tunjukkan pada opa dan oma!" ajak Maudy. Ia akan mengabadikan moment terindahnya ini.

Dan jepret, jepret, jepret.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Maudy membenarkan selimut Jeri dan mengecup keningnya dengan sayang. Memandangi sejenak wajah polos yang begitu menggemaskan. Wajah polos itu juga semangat dalam hidupnya.

Masih ingat dengan jelas betapa ia frustasi setelah melahirkan Jeri. Sengaja membawa bayinya kepada Denis agar pria itu luluh dan mengakui anak mereka. Tapi, memang dasar Denis itu pria kurang ajar dan tidak bertanggung jawab. Sudah tidak mau mengakui malah mengatakan anak haram segala.

Maudy sempat dilema dengan bayinya. Sempat berpikir untuk meninggalkannya saja di luar negeri dan pulang ke negaranya sendirian.

Ya, niat Maudy pernah begitu. Karena yang orang tuanya tahu ia kabur dari pernikahan dan terbang keluar negeri. Orang tuanya tidak pernah tahu alasan sebenarnya membatalkan pernikahan karena ia telah hamil anak dari pria lain. Dan kepergiannya keluar negeri itu untuk meminta pertanggung jawaban Denis.

Jadi jika ia kembali ke negeranya dengan membawa anak, apa yang akan dikatakan kedua orang tuanya. Belum lagi julid-an orang-orang tentang anaknya yang tanpa ayah.

Makanya saat itu, Maudy meletakkan Jeri di jalanan yang sepi. Berharap nanti ada orang baik yang akan merawat anaknya.

Maudy melangkah meninggalkan bayinya di pinggir jalan. Tapi, ia berlari kembali menghampiri dan meraihnya.

"Jeri, maafkan mama. Maafkan mama ya!" Maudy menangis memeluki dan menciumi anaknya. Ia tidak bisa setega itu pada putranya. Putranya tidak bersalah.

Wanita itu pun akhirnya bertekad akan membesarkan Jeri seorang diri. Tidak akan meninggalkannya lagi.

Maudy mengusap air matanya, ia sangat menyesal pernah berpikiran untuk meninggalkan Jeri sendirian di luar negeri.

"Maafkan mama ya, Jeri. Maafkan mama." Maudy menangis pelan di sebelah putranya yang sudah tertidur lelap.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

terkejut Roni lamar kerja di tempatkan di bagian Manager terima aja lrn yg kosong bagian manager Ron semangat semoga mengubah hidup mu lebih baik lg Roni

2024-08-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!