Bab 5 - Merekomendasikan

"Pak, terima kasih banyak." ucap Satria memberikan ongkos ojek. Ia telah diantar sampai depan kantornya.

"Tidak usah, Sat!" tolak Roni akan mengembalikan.

Tapi Satria langsung berlari pergi. Ia merasa segan jika tidak membayar ongkos ojeknya.

"Pak Ron, nanti malam saya akan menelepon anda!" teriaknya. Ia akan melakukan sesuatu untuk atasan yang dulu sangat baik padanya.

Roni mendengus, suara Satria begitu kuat membuat orang-orang jadi melihati.

Roni melihat sekitar, jadi teringat saat ia masih kerja kantoran. Cukup lama ia bekerja, dari mulai staff biasa hingga menanjak menjadi manajer perusahaan.

Tapi ia memilih resign, karena malu dengan sang mantan.

Setelah resign, banyak hal yang dilakukannya. Mencoba membuka berbagai usaha. Dan usaha itu tidak ada yang berjalan lancar.

Modal pun makin menipis, bahkan rumah hasil kerja kerasnya ia jual juga untuk modal. Dan tetap saja gagal. Sepertinya ia tidak punya bakat menjadi pengusaha.

Sudah tidak punya modal lagi, ia mencoba melamar di beberapa perusahaan. Dan ditolak karena faktor usia, padahal ia sangat berpengalaman.

Jadilah ia kini melakukan pekerjaan serabutan. Ia menjadi buruh bangunan dan karena proyek sudah selesai, tidak ada kerjaan lagi. Kini ia menjadi pengendara ojek, sembari menunggu kerjaan lain.

Roni harus tetap berpenghasilan, harus mencukupi kebutuhan diri sendiri. Termasuk bayar kost-an.

"Bu, ini saya bayar uang kost." ucap Roni memberikan beberapa lembar uang.

"Masih tanggal berapa ini? Kok sudah dibayar saja?" tanya ibu kost. Roni, anak kost yang paling lancar bayar sewa. Belum tanggalnya saja sudah dibayar.

Roni merasa harus segera membayar uang kost, karena pendapatannya tidak menentu. Ia takut jika telat bayar dan tidak boleh menyewa di kost-an itu lagi. Mengingat kost-an itu yang paling murah.

"Itu, tuh... anak kost kesayangan mamamu." dari jauh seorang wanita meledek teman di sampingnya.

Cici mencibir seolah mengatakan yang benar saja.

"Calon suamimu itu!" ledek yang lain.

"Ihhh, yang benar saja. Sudah duda, kerjaan tidak jelas, jelek, miskin lagi. Mana level aku sama dia!" sanggah Cici tidak terima dijodohkan dengan Roni. Pria tua yang pengangguran.

Roni hanya dapat membuang nafasnya pelan. Ia mendengar pembicaraan wanita-wanita itu. Tapi ia juga tidak peduli.

Setelah membatalkan pernikahan kala itu, Roni pun malah memilih menikah dengan Ratu. Selang 4 tahun menikah, rumah tangga mereka kandas. Ia kini seorang duda.

Di kondisinya sekarang, Roni tidak berniat menikah lagi atau dekat dengan wanita manapun. Siapa juga wanita yang mau dengannya.

Hidup begitu berat yang dijalaninya sekarang.

Roni pun masuk ke kamarnya. Kamar kost berukuran 3×3. Sangat kecil namun baginya begitu nyaman.

Begitu berbaring di tempat tidur, ia pun terlelap.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Satria tampak terburu-buru. Ia telat masuk ke kantor.

"Nona sudah datang?" tanya Satria pada sekretaris Maudy. Sangat berharap atasannya itu belum sampai.

"Sudah, pak. Di dalam juga ada Jeri." sekretaris itu memberitahu.

"Jeri?" Satria mengangguk lalu bergegas pergi.

Sementara di sebuah ruangan, Maudy melihat putranya yang sedang menggambar.

"Jeri menggambar apa, nak?" tanya Maudy. Ia mengelus kepalanya dengan sayang.

"Pesawat, ma!" jawabnya dengan semangat. "Jeri nanti kalau sudah besar mau jadi pilot!"

"Kenapa Jeri mau jadi pilot?" tanya Maudy ingin tahu.

"Nanti Jeri bisa ajak mama jalan-jalan keliling dunia!" jawabnya kembali.

Maudy terenyuh mendengar itu. Ia mulai mewek.

"Mama sayang sekali sama Jeri." wanita itu pun memeluk sang putra dengan erat. Baginya Jeri adalah segalanya.

"Jeri juga sayang sama mama." jawab Jeri dengan nada bocahnya.

Karena gemas, Maudy pun menggelitiki putranya. Mereka pun saling tertawa bersama.

Hati Maudy senang melihat putranya tertawa dengan bahagia.

Maudy kini melihat jam tangannya, Satria belum terlihat juga. Ke mana asistennya itu.

"Sayang, mama mau menelepon om Satria dulu." ucap Maudy lalu meraih ponselnya.

Jeri yang berada di pangkuan Maudy, memperhatikan mamanya yang menekan-nekan ponsel lalu di tempel di telinga.

"Sat, kamu di mana?

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Tok, tok, tok... Pintu diketuk.

"Masuk." jawab Maudy dari meja kerjanya, ia berkutat dengan pekerjaan. Sedang Jeri masih menggambar di meja sofa.

"Se-selamat siang, nona." sapa Satria saat masuk. Walau gugup ia tetap tersenyum lebar.

"Dari mana saja kamu? Kenapa baru sampai sekarang?" tanya Maudy memelototi asistennya itu. Jelas sekali Satria mengular di jam kerja.

"Maafkan saya, nona. Saya baru sampai di kantor karena jalanan macet total. Karena tadi hujan turun dengan sangat lebat, hingga membanjiri jalanan." alasan Satria. Padahal tadi ia nongkrong sejenak dengan mantan atasannya.

"Alasan!" lengos Maudy. Hujan di mana, matahari begitu terik.

"Hai, Jeri." sapa Satria. Ia menghampiri anak atasannya itu. "Om bawa es krim loh!"

Mendengar kata es krim, Jeri melihat ke arah Satria yang menunjukkan bungkusan es krim.

"Terima kasih, om." ucap Jeri menerima es krim yang telah dibukakan bungkusnya oleh om Satria. Tinggal makan saja.

Satria pun tersenyum. Dan Maudy menggelengkan kepala. Asistennya sedang menyuap agar ia tidak marah karena mengular di jam kerja.

"Nona." panggil Satria.

"Hah," jawab Maudy. Ia masih fokus pada tanggung jawabnya.

"Begini, sa-saya mau minta bantuan nona." ucap Satri yang kini sudah berdiri di depan meja wanita itu.

"Apa yang bisa saya bantu, Sat?" tanyanya. Matanya masih fokus, tidak melihat ke Satria.

"Saya-, saya mau merekomendasikan teman saya bekerja di perusahaan ini, nona. Kebetulan ada posisi yang sedang kosong." ucap Satria berusaha untuk tidak gugup. Ia ingin membantu Roni mendapatkan pekerjaan.

Dulu saat ia masih awal mulai bekerja, selalu dimarahi oleh para atasannya. Wajar lah baru lulus kuliah jadi tidak mengerti pekerjaan dan juga sama sekali tidak memiliki pengalaman. Ia saat itu terancam akan dipecat.

Tapi, Roni lah yang menarik dan memindahkan dirinya ke divisi pria itu. Satria bekerja di bawah arahannya. Ia diajarkan dan dibimbing dengan sabar.

Bagi Satria, Roni itu atasan dan leader yang sangat luar biasa. Ia sangat menghormati pria itu.

"Kamu mau pakai jalur koneksi?" tanya Maudy.

"Bu-bukan begitu, tapi-, teman saya sangat pengalaman, nona. Ia pernah bekerja sebagai manajer di perusahaan lain. Pengalamannya tidak perlu diragukan. Nona tidak akan menyesal menerima dia!" ucap Satria. Ia harus mempromosikan Roni. Jika Maudy bilang ok, semua akan mulus. Semulus wajah atasannya itu.

Maudy kini menatap Satria yang wajahnya begitu berharap. "Baiklah, kamu atur saja!"

Maudy akan setuju. Lagian di posisi itu harus dipegang oleh orang yang benar-benar berpengalaman. Ia akan percaya dengan yang direkomendasikan Satria.

"Nona, terima kasih banyak. Nona memang wanita yang paling baik hati dan tidak sombong." puji Satria. Senangnya ia, Maudy tidak menolak.

Maudy hanya mendengus.

"Oh iya, Sat." ucap Maudy kemudian.

"Ya, nona." jawab Satria.

"Saya akan mengambil cuti beberapa hari. Saya mau mengajak Jeri liburan. Selama saya tidak berada di kantor, kamu handle semuanya ya!" pinta Maudy. Ia berencana mengajak Jeri jalan-jalan keluar negeri. Sejenak berlibur dengan sang putra.

"Siap, nona!" jawab Satria dengan semangat.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

eh malah Satrio bertemu Roni mantan Bos dan Mantan karyawan di perusahaan yg lm tempat kerja dl eh Sat jd keluar dr tempat kerja yg dl krn Bu Upik yg egois knp g ke pecat sih sm Yuan Bu Upik

2024-08-31

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!