"Beraninya kau menyentuh putraku?!" Maudy meluapkan emosinya. Ia melayangkan bogeman mentah di wajah pria itu.
Beberapa tahun sudah berlalu, seenaknya saja Denis datang dan akan merebut putranya. Ia sudah merawat dan membesarkan Jeri sendirian. Menjadi ayah dan ibu bagi putranya itu.
"Nona, apa yang anda lakukan?" tanya Roni melihat wanita itu. Ia sedikit meringis memegangi wajahnya. Tiba-tiba dilayangkan bogeman, apa salahnya?
"Loh, kok kamu?" Maudy jadi bingung melihat orang yang dihajarnya. Bukan Denis, melainkan orang lain. Melihat sekitar juga tidak ada pria jahat itu di ruangannya.
"Mama, jangan pukul papa!" bela Jeri yang kini berdiri di depan pria itu. Merentangkan kedua tangan sebagai bentuk perlindungan. Akan melindungi papanya, biar tidak dipukul mamanya lagi.
"Pa-papa?" tanya Maudy makin bingung, Jeri mengatakan pria modus itu papanya. Apa maksudnya ini?
"Nona, Jeri sudah menemukan papanya." Satria mencoba memberi penjelasan. Atasannya itu tampak kebingungan.
"Saya bukan papanya, Sat!" sanggah Roni pada ucapan Satria. Ia tidak pernan punya hubungan dengan wanita itu.
"Tenang, pak. Saya akan bantu menjelaskan!" Satria akan menjelaskan duduk persoalan secara detil. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.
Satria pun mulai menceritakan awal mulanya. Menjelaskan begini begitu dan bla bla bla. Menjelaskan semua sambil berjalan dan memperagakan.
Maudy sudah salah paham lantaran ucapan Satria di awal. Ia sedikit menyesal karena langsung berasumsi papa yang dimaksud Satria adalah pria jahat itu. Padahal putranya menganggap orang lain adalah papanya.
"Kenapa kamu tidak menjelaskan semua dari awal saat saya meneleponmu?" tanya Maudy. Jika saat menelepon Satria menjelaskan semua, tidak mungkin ia berasumsi bahwa Denis yang datang. Dan ia juga tidak perlu merasakan pikiran yang bercampur aduk seperti ini.
"Saya tadi mau menjelaskan, nona. Tapi anda langsung mengakhiri panggilan telepon begitu saja!" Satria membela diri, tidak mau disalahkan.
Maudy terdiam sesaat saat mengingat itu. Tadi begitu Satria mengatakan tentang papa, pikirannya langsung kemana-mana. Perasaan takut putranya akan diambil Denis itu yang membuatnya tidak bertanya maksud perkataan Satria.
Wanita itu hanya takut kehilangan putranya. Takut Jeri dibawa kabur oleh pria itu. Makanya ia buru-buru menemui mereka.
"Tapi tetap saja, kenapa kamu tidak menelepon saya lagi?! Lagian kenapa kamu menelepon saya dan mengatakan Jeri bersama papanya?"tanya Maudy, kesalahpahaman ini karena Satria yang salah. Pria itu yang buat masalah.
Satria menunjuk ke arah bocah kecil yang berwajah polos itu. "Jeri yang bilang begitu, bahwa pak Roni itu papanya!"
Jeri yang mengaku Roni papanya. Bukan ia yang buat-buat cerita.
"Karena anda sudah berada di sini, saya akan pergi." ucap Roni akan beranjak pergi. Mama bocah itu sudah datang. Sudah malas berlama-lama di ruangan ini, banyak perdebatan.
"Papa, jangan pergi!" Jeri menahan kaki Roni dan kembali menangis dengan suara melengking.
Kembali lagi suara tangisan terdengar di ruangan itu.
"Jeri, ayo sini sama mama!" bujuk wanita itu meraih Jeri dan menggendongnya.
"Mama, Jeri mau sama Papa! Jeri mau sama papa!" bocah itu makin menangis . Ia menggeliat akan turun dari gendongan mamanya, ingin memeluk papanya.
"Jeri, om ini bukan papa kamu! Sudah jangan menangis lagi ya, nanti mama belikan ayam kriuk!" Maudy membujuk sang anak agar tenang. Tapi tetap percuma, Jeri terus menangis.
Roni menghela nafas pelan, ia bisa saja pergi sekarang. Tapi melihat ini, merasa tidak tega dan kasihan. Suara tangisan Jeri makin memilukan.
"Papa, jangan pergi! Jeri mau sama papa!huhuhu..." dalam gendongan Maudy, Jeri terus menggeliat. Tangannya ingin meraih papanya yang berjarak darinya.
Roni berjalan menghampiri dan meraih Jeri. Begitu dalam gendongan, Jeri langsung memeluk lehernya dengan begitu erat.
"Papa, jangan pergi ya! Jangan tinggalin Jeri lagi!"
"Sudah-sudah ya. Jeri jangan nangis lagi ya." bujuk Roni dengan suara yang lembut. Ia mengelus kepala lalu punggungnya. Mengelus untuk menenangkan.
Maudy terheran sesaat. Suara tangisan yang meraung itu langsung terhenti saat pria itu bicara. Jeri langsung patuh menurut.
"Jeri, sini sama mama! Kita makan siang dulu ya, nak!" ajak Maudy kembali akan meraih putranya.
"Papa!" Jeri kembali menangis. Ia tidak mau lepas dari Roni.
"Jangan nangis ya!" bujuk Roni kembali.
"Jeri mau makan sama papa!" ucap Jeri sambil mengusap air matanya.
"Om akan makan siang sama Jeri." Roni akan mengalah dan menurut.
"Yeee!" bocah itu kini bersorak gembira. Wajah sedihnya sudah berubah jadi tersenyum.
"Sat, pesankan makanan!" pinta Maudy akan menuruti kemauan putranya dan Satria langsung menurut lalu bergegas pergi.
Sementara kedua orang dewasa itu saling melihat sambil berpikir. Seperti pernah mengalami hal serupa.
Beberapa tahun yang lalu, Jeri juga bersikap seperti ini. Menganggap pria asing adalah papanya. Dan sama, Jeri tidak mau lepas dari pria itu. Sampai akhirnya Jeri tertidur, barulah pria itu bisa pergi. Jika putranya masih melek akan terus menangis dan menahan pria itu.
Dan Roni juga mulai mengingat. Saat di taman seorang bocah kecil memegang kakinya dan menganggap dirinya papa. Tidak mau lepas darinya dan terus-terusan menangis.
'Apa dia?' batin keduanya dengan pikiran masing-masing.
Bruk... Suara pintu mengagetkan mereka yang berada di dalam.
"Maudy, apa yang terjadi?" tanya opa Agus begitu masuk ke ruangan anaknya. Tadi begitu menerima telepon dari sang putri, ia segera menyelesaikan rapat dengan klien. Dan segera melajukan mobil kembali ke kantor.
Opa Agus sangat cemas dan khawatir dengan putri dan cucunya. Kini wajah cemasnya jadi bingung saat melihat Jeri digendong seorang pria. Pria itu bukan Denis.
"Opa, Jeri punya papa. Ini papanya Jeri!" bocah itu dengan bangga memperkenalkan papa barunya pada pria tua itu. Ia masih berada digendongan Roni.
"Papa?" Opa Agus bingung. Jeri bilang pria itu papanya. Tapi Maudy mengatakan Jeri anaknya Denis. Apa sebenarnya Jeri bukan anaknya Denis, tapi anak dari pria yang menggendong cucunya saat ini?
Putrinya ini sangat liar di masa lalu, pernah berselingkuh dari mantan tunangannya. Bisa saja berselingkuh dengan banyak pria. Opa Agus menatap tajam putrinya meminta penjelasan.
Maudy pun membawa papanya sedikit menjauh. Akan menjelaskan semua.
Opa Agus mendengar penjelasan putrinya sambil matanya melihat sang cucu yang digendong pria itu. Keduanya melihat pemandangan luar jendela sambil berbicara.
Pria yang dianggap papa oleh Jeri itu, tampak seperti seorang ayah yang memanjakan putranya. Dan Jeri terlihat anteng dan senang bersamanya. Bahkan keduanya tertawa-tawa.
"Jadi dia bukan papa kandungnya Jeri?" tanya opa Agus masih memastikan. Dilihat-lihat Jeri dan pria itu mirip.
"Bukan, Pa!" sanggah Maudy segera. Papanya malah mikir ia memiliki banyak pria. Ia hanya melakukan hal terlarang itu dengan Denis seorang.
"Benar itu?" pria tua itu masih tidak yakin.
"Maaf, pak. Saya tidak pernah punya hubungan dengan nona Maudy!" jelas Roni dengan tegas. Tadi ia sedikit mendengar pak Agus mengatakan jika ia ayah kandung dari Jeri.
Makanya langsung menghampiri dan akan menjelaskan biar tidak ada salah paham.
Opa Agus mengangguk pelan. "Kalau kalian punya hubungan juga tidak apa."
Melihat cucunya begitu lengket dengan pria itu, Agus tidak mempermasalahkan hubungan keduanya. Selama itu membuat cucu kesayangannya senang dan bahagia.
"Tidak akan!" kompak keduanya menjawab. Mereka menolak segera.
"Papa merestui kalian berdua."
"Papa!"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
yee Opa Agus kasih yess setuju demi kebahagiaan sang cucu Jeri terima aja Roni Maudy demi Jeru hehe
2024-09-01
1
umatin khuin
bagus opa agus....setuju dg opa....mereka sangat kompak....ayo maudy papamu sudah merestui itu....gaskeun...semua demi jeri...
2024-08-15
2
LISA
Hahaaa..Opa Agus setuju Roni jadi papanya Jeri..tp mrk berdua g setuju
2024-08-15
2