Bab 14 - Salah Paham

"Beraninya kau menyentuh putraku?!" Maudy meluapkan emosinya. Ia melayangkan bogeman mentah di wajah pria itu.

Beberapa tahun sudah berlalu, seenaknya saja Denis datang dan akan merebut putranya. Ia sudah merawat dan membesarkan Jeri sendirian. Menjadi ayah dan ibu bagi putranya itu.

"Nona, apa yang anda lakukan?" tanya Roni melihat wanita itu. Ia sedikit meringis memegangi wajahnya. Tiba-tiba dilayangkan bogeman, apa salahnya?

"Loh, kok kamu?" Maudy jadi bingung melihat orang yang dihajarnya. Bukan Denis, melainkan orang lain. Melihat sekitar juga tidak ada pria jahat itu di ruangannya.

"Mama, jangan pukul papa!" bela Jeri yang kini berdiri di depan pria itu. Merentangkan kedua tangan sebagai bentuk perlindungan. Akan melindungi papanya, biar tidak dipukul mamanya lagi.

"Pa-papa?" tanya Maudy makin bingung, Jeri mengatakan pria modus itu papanya. Apa maksudnya ini?

"Nona, Jeri sudah menemukan papanya." Satria mencoba memberi penjelasan. Atasannya itu tampak kebingungan.

"Saya bukan papanya, Sat!" sanggah Roni pada ucapan Satria. Ia tidak pernan punya hubungan dengan wanita itu.

"Tenang, pak. Saya akan bantu menjelaskan!" Satria akan menjelaskan duduk persoalan secara detil. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.

Satria pun mulai menceritakan awal mulanya. Menjelaskan begini begitu dan bla bla bla. Menjelaskan semua sambil berjalan dan memperagakan.

Maudy sudah salah paham lantaran ucapan Satria di awal. Ia sedikit menyesal karena langsung berasumsi papa yang dimaksud Satria adalah pria jahat itu. Padahal putranya menganggap orang lain adalah papanya.

"Kenapa kamu tidak menjelaskan semua dari awal saat saya meneleponmu?" tanya Maudy. Jika saat menelepon Satria menjelaskan semua, tidak mungkin ia berasumsi bahwa Denis yang datang. Dan ia juga tidak perlu merasakan pikiran yang bercampur aduk seperti ini.

"Saya tadi mau menjelaskan, nona. Tapi anda langsung mengakhiri panggilan telepon begitu saja!" Satria membela diri, tidak mau disalahkan.

Maudy terdiam sesaat saat mengingat itu. Tadi begitu Satria mengatakan tentang papa, pikirannya langsung kemana-mana. Perasaan takut putranya akan diambil Denis itu yang membuatnya tidak bertanya maksud perkataan Satria.

Wanita itu hanya takut kehilangan putranya. Takut Jeri dibawa kabur oleh pria itu. Makanya ia buru-buru menemui mereka.

"Tapi tetap saja, kenapa kamu tidak menelepon saya lagi?! Lagian kenapa kamu menelepon saya dan mengatakan Jeri bersama papanya?"tanya Maudy, kesalahpahaman ini karena Satria yang salah. Pria itu yang buat masalah.

Satria menunjuk ke arah bocah kecil yang berwajah polos itu. "Jeri yang bilang begitu, bahwa pak Roni itu papanya!"

Jeri yang mengaku Roni papanya. Bukan ia yang buat-buat cerita.

"Karena anda sudah berada di sini, saya akan pergi." ucap Roni akan beranjak pergi. Mama bocah itu sudah datang. Sudah malas berlama-lama di ruangan ini, banyak perdebatan.

"Papa, jangan pergi!" Jeri menahan kaki Roni dan kembali menangis dengan suara melengking.

Kembali lagi suara tangisan terdengar di ruangan itu.

"Jeri, ayo sini sama mama!" bujuk wanita itu meraih Jeri dan menggendongnya.

"Mama, Jeri mau sama Papa! Jeri mau sama papa!" bocah itu makin menangis . Ia menggeliat akan turun dari gendongan mamanya, ingin memeluk papanya.

"Jeri, om ini bukan papa kamu! Sudah jangan menangis lagi ya, nanti mama belikan ayam kriuk!" Maudy membujuk sang anak agar tenang. Tapi tetap percuma, Jeri terus menangis.

Roni menghela nafas pelan, ia bisa saja pergi sekarang. Tapi melihat ini, merasa tidak tega dan kasihan. Suara tangisan Jeri makin memilukan.

"Papa, jangan pergi! Jeri mau sama papa!huhuhu..." dalam gendongan Maudy, Jeri terus menggeliat. Tangannya ingin meraih papanya yang berjarak darinya.

Roni berjalan menghampiri dan meraih Jeri. Begitu dalam gendongan, Jeri langsung memeluk lehernya dengan begitu erat.

"Papa, jangan pergi ya! Jangan tinggalin Jeri lagi!"

"Sudah-sudah ya. Jeri jangan nangis lagi ya." bujuk Roni dengan suara yang lembut. Ia mengelus kepala lalu punggungnya. Mengelus untuk menenangkan.

Maudy terheran sesaat. Suara tangisan yang meraung itu langsung terhenti saat pria itu bicara. Jeri langsung patuh menurut.

"Jeri, sini sama mama! Kita makan siang dulu ya, nak!" ajak Maudy kembali akan meraih putranya.

"Papa!" Jeri kembali menangis. Ia tidak mau lepas dari Roni.

"Jangan nangis ya!" bujuk Roni kembali.

"Jeri mau makan sama papa!" ucap Jeri sambil mengusap air matanya.

"Om akan makan siang sama Jeri." Roni akan mengalah dan menurut.

"Yeee!" bocah itu kini bersorak gembira. Wajah sedihnya sudah berubah jadi tersenyum.

"Sat, pesankan makanan!" pinta Maudy akan menuruti kemauan putranya dan Satria langsung menurut lalu bergegas pergi.

Sementara kedua orang dewasa itu saling melihat sambil berpikir. Seperti pernah mengalami hal serupa.

Beberapa tahun yang lalu, Jeri juga bersikap seperti ini. Menganggap pria asing adalah papanya. Dan sama, Jeri tidak mau lepas dari pria itu. Sampai akhirnya Jeri tertidur, barulah pria itu bisa pergi. Jika putranya masih melek akan terus menangis dan menahan pria itu.

Dan Roni juga mulai mengingat. Saat di taman seorang bocah kecil memegang kakinya dan menganggap dirinya papa. Tidak mau lepas darinya dan terus-terusan menangis.

'Apa dia?' batin keduanya dengan pikiran masing-masing.

Bruk... Suara pintu mengagetkan mereka yang berada di dalam.

"Maudy, apa yang terjadi?" tanya opa Agus begitu masuk ke ruangan anaknya. Tadi begitu menerima telepon dari sang putri, ia segera menyelesaikan rapat dengan klien. Dan segera melajukan mobil kembali ke kantor.

Opa Agus sangat cemas dan khawatir dengan putri dan cucunya. Kini wajah cemasnya jadi bingung saat melihat Jeri digendong seorang pria. Pria itu bukan Denis.

"Opa, Jeri punya papa. Ini papanya Jeri!" bocah itu dengan bangga memperkenalkan papa barunya pada pria tua itu. Ia masih berada digendongan Roni.

"Papa?" Opa Agus bingung. Jeri bilang pria itu papanya. Tapi Maudy mengatakan Jeri anaknya Denis. Apa sebenarnya Jeri bukan anaknya Denis, tapi anak dari pria yang menggendong cucunya saat ini?

Putrinya ini sangat liar di masa lalu, pernah berselingkuh dari mantan tunangannya. Bisa saja berselingkuh dengan banyak pria. Opa Agus menatap tajam putrinya meminta penjelasan.

Maudy pun membawa papanya sedikit menjauh. Akan menjelaskan semua.

Opa Agus mendengar penjelasan putrinya sambil matanya melihat sang cucu yang digendong pria itu. Keduanya melihat pemandangan luar jendela sambil berbicara.

Pria yang dianggap papa oleh Jeri itu, tampak seperti seorang ayah yang memanjakan putranya. Dan Jeri terlihat anteng dan senang bersamanya. Bahkan keduanya tertawa-tawa.

"Jadi dia bukan papa kandungnya Jeri?" tanya opa Agus masih memastikan. Dilihat-lihat Jeri dan pria itu mirip.

"Bukan, Pa!" sanggah Maudy segera. Papanya malah mikir ia memiliki banyak pria. Ia hanya melakukan hal terlarang itu dengan Denis seorang.

"Benar itu?" pria tua itu masih tidak yakin.

"Maaf, pak. Saya tidak pernah punya hubungan dengan nona Maudy!" jelas Roni dengan tegas. Tadi ia sedikit mendengar pak Agus mengatakan jika ia ayah kandung dari Jeri.

Makanya langsung menghampiri dan akan menjelaskan biar tidak ada salah paham.

Opa Agus mengangguk pelan. "Kalau kalian punya hubungan juga tidak apa."

Melihat cucunya begitu lengket dengan pria itu, Agus tidak mempermasalahkan hubungan keduanya. Selama itu membuat cucu kesayangannya senang dan bahagia.

"Tidak akan!" kompak keduanya menjawab. Mereka menolak segera.

"Papa merestui kalian berdua."

"Papa!"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

yee Opa Agus kasih yess setuju demi kebahagiaan sang cucu Jeri terima aja Roni Maudy demi Jeru hehe

2024-09-01

1

umatin khuin

umatin khuin

bagus opa agus....setuju dg opa....mereka sangat kompak....ayo maudy papamu sudah merestui itu....gaskeun...semua demi jeri...

2024-08-15

2

LISA

LISA

Hahaaa..Opa Agus setuju Roni jadi papanya Jeri..tp mrk berdua g setuju

2024-08-15

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!