Bab 15 - Sulit Bilang Maaf

"Nona, ayah anda sudah salah paham pada kita." ucap Roni. Pak Agus tadi memberikan restu, membuatnya jadi merinding jika memiliki hubungan dengan wanita itu.

Sudah sombong dan angkuh. Ditambah lagi wanita itu tukang pukul. Terus tipe wanita yang mau menang sendiri dan tidak pernah mau mendengarkan orang lain.

Itu wanita yang paling dihindarinya dalam hidup ini.

"Tadi kan kamu sudah mendengar sendiri, saya sudah menjelaskan semua pada papa saya. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan itu, lagian saya juga tidak ada hubungan denganmu!" jelas Maudy panjang lebar. Sudah menjelaskan dengan rinci dan papanya malah memberi restu pada mereka. Restu apaan coba?

"Lagian perlu kamu ingat, kamu itu sama sekali bukan tipe saya!" sambung Maudy kembali. Ia juga tidak mau dengan Roni.

"Sama!" balas Roni tidak mau kalah. Siapa yang mau dengan wanita sombong itu.

Tok... Tok... tok... pintu diketuk.

"Masuk." ucap Maudy kemudian.

"Nona, ini makan siangnya." Satria masuk membawakan bungkusan berisi makan siang pesanan atasannya.

"Letak saja di meja, Sat!" pinta Maudy dan akan meraih sang putra dari gendongan Roni.

"Papa!" Jeri menolak. Ia makin mengeratkan pegangannya.

"Jeri, ayo kita makan dulu ya nak!" bujuk Maudy, ini sudah jam makan siang. Mau sampai kapan Jeri nempel terus dengan pria itu.

"Papa temani Jeri makan kan?" tanyanya memastikan.

Maudy mengangguk cepat. "Jeri digendong sama mama dulu, papa mau cuci tangan."

Mata Roni mendelik mendengar perkataan Maudy. Malah ikut mengatakan dirinya papa.

"Mak-maksud mama, om Roni mau cuci tangan. Tapi mau temani Jeri makan." Maudy segera membenarkan perkataannya. Ia juga ngedumel dalam hati karena malah ceplos mengatakan hal itu.

Jeri pun menurut dan berpindah dari gendongan Roni ke gendongan Maudy. Ia tidak menangis karena akan segera makan siang ditemani papanya.

"Hmm."

Suara deheman itu membuat mereka menoleh. Ternyata Satria belum pergi.

"Kalian sudah seperti keluarga kecil yang bahagia." ucap Satria melihat interaksi mereka. Pasangan suami istri dengan satu anak laki-laki. Tampak seperti keluarga yang harmonis.

"Kamu mau dipecat?" tanya Maudy menajamkan matanya. Satria malah mengatakan hal yang menurutnya sangat tidak benar.

"Saya permisi." Satria akan undur diri dari drama keluarga kecil itu. Tapi sebelum menutup pintu,

"Nona, kalian sangat cocok sekali. Saya sangat merestui kalian." ucap Satria sekalian menggoda.

"Satria!" ucap Roni dan Maudy dengan kesal. Tidak terima jika mereka dibilang cocok.

Satria segera menutup pintu sambil tertawa-tawa. Senang sekali menggoda keluarga kecil itu.

Roni membuang nafasnya dengan kasar. Kesal sekali ia dengan pria yang lebih muda darinya itu. Ada saja yang dikatakannya.

"Papa, mama, ayo kita makan!"

Ajakan Jeri membuat keduanya menoleh.

Tak lama Roni menemani Jeri makan, ia akan makan nanti saja. Roni duduk di samping bocah yang sedang makan dengan lahap. Jeri makan sendiri dan banyak nasi berlepotan di pipi.

'Dia sangat perhatian pada Jeri?' batin Maudy melihat pria itu membersihkan nasi di pipi putranya.

Sikap Roni terlihat penyayang dan punya sifat kebapakan.

"Jeri, minum dulu." Maudy meletakkan segelas air minum. Dari tadi putranya makan terus dan belum minum.

Roni membantu Jeri untuk minum. Dan Maudy tanpa sadar kembali memandangi pria itu.

Hatinya tersentuh dengan perlakuan Roni pada Jeri. Perlakuan Roni begitu hangat.

"Apa yang anda lihat, nona?" tanya Roni yang melihat wanita itu termenung melihatinya.

Maudy tersadar dan akan mencari alasan. Ia tadi malah sempat memandangi wajah pria itu.

"Itu, itu-" Maudy berpikir untuk mencari alasan yang masuk akal. Dan terlihat luka di sudut bibir pria itu.

Pasti itu luka karena pukulannya tadi. Mau minta maaf, gengsi Maudy terlalu tinggi untuk mengatakan itu. Ia anti untuk 2 kata itu.

"Ada luka di situ, akan saya ambilkan obat!" Maudy menunjuk ke arah bibir itu. Ia pun beranjak pergi dan akan mengambilkan obat.

Tak lama kemudian,

"Sudah saya saja, nona!" ucap Roni saat Maudy akan mengobatinya.

"Diam saja kamu!" ucap Maudy. Ia sudah meletakkan sedikit salep di jarinya, tinggal di oles saja di bibir pria itu.

"Saya saja, nona!" Roni masih menolak. Ia bisa mengobati lukanya sendiri. Tak perlu lah Maudy repot-repot.

"Kamu diam saja, biar saya obati!" paksa Maudy. Ia pun duduk di samping pria itu.

Sebenarnya Maudy merasa sedikit bersalah karena telah salah memukul orang, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak mau meminta maaf.

"Nona-" Roni menjauhkan tangan Maudy. Ia tidak mau diobati wanita itu.

"Bibir kamu itu luka, saya sedang berbaik hati jadi biar saya saja yang obati!" paksa Maudy mengatakan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Yang buat luka di bibir saya itu anda!" ucap Roni menahan kekesalannya. Sedang berbaik hati katanya, alasan yang membuat kesal.

"Saya tahu itu." ucap Maudy. Masih ingat ia sempat memukulnya.

"Terus kenapa nona tidak meminta maaf?" tanya Roni. Maudy sudah memukul orang yang tidak tahu apa-apa.

Maudy tampak berpikir. Ia tidak bisa mengatakan maaf. Ini juga bukan kesalahannya.

"Ini semua karena Satria!" ucap Maudy. Semua ini karena Satria.

Roni mengerutkan dahinya. Tinggal bilang maaf saja, kenapa bawa-bawa Satria segala.

"Jika dari awal Satria bilang kalau Jeri mengatakan kamu itu papanya, saya juga tidak mungkin berpikiran kalau ayah kandung Jeri sebenarnya yang datang!" jelas Maudy. Ia tidak bersalah, semua salahnya satria. Jadi ia tidak akan meminta maaf.

"Lalu?" Tanya Roni. Apa lagi yang mau dikatakan wanita itu. Ia masih menunggu kata maaf.

"Semua salah Satria!" Maudy tetap bersikeras.

Roni menghela nafas dengan berat. Wanita itu memang tidak mau mengaku bersalah. Tinggal katakan maaf karena salah memukul orang. Ini malah beralasan begini begitu.

"Sini saya obati dulu!" ucap maudy. Tangannya mengarahkan wajah pria itu ke hadapannya. Lalu perlahan mengoleskan salep tersebut.

Roni terpaku sejenak pada wanita itu. Jarak sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu. Maudy sangat cantik, pantas saja banyak karyawan pria yang begitu memujanya. Meskipun sikapnya sombong dan angkuh, tapi bisa dimaklumi lah.

"Sudahlah, nona!" Roni menjauhkan tangan Maudy dari wajahnya. Ia tidak nyaman diperlakukan begini.

"Diam dulu, diobati sekali lagi!" Maudy tidak peduli dan tidak menerima penolakan. Ia menambahkan salep ke jari dan dioleskan di sudut bibir Roni kembali.

Selain mengoles, wanita itu juga meniup-tiup kan pelan supaya lebih cepat keringnya.

"Nanti dioles la-" Maudy menjeda ucapannya saat pandangannya melihat mata itu.

Keduanya kini saling bertatapan dengan nafas yang saling menerpa wajah masing-masing.

Dan,

Cup...

"Kamu mau modus ya?"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

Asyik siapa yg cium duluan td Roni/Maudy hehe

2024-09-01

1

LISA

LISA

Awas lo awalnya benci ntar lama² jdi suka 😃😃

2024-08-15

1

umatin khuin

umatin khuin

yeeayy jd terbawa suasana kan....hayo....hayo....cie ciee....

2024-08-15

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!