"Nona, ayah anda sudah salah paham pada kita." ucap Roni. Pak Agus tadi memberikan restu, membuatnya jadi merinding jika memiliki hubungan dengan wanita itu.
Sudah sombong dan angkuh. Ditambah lagi wanita itu tukang pukul. Terus tipe wanita yang mau menang sendiri dan tidak pernah mau mendengarkan orang lain.
Itu wanita yang paling dihindarinya dalam hidup ini.
"Tadi kan kamu sudah mendengar sendiri, saya sudah menjelaskan semua pada papa saya. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan itu, lagian saya juga tidak ada hubungan denganmu!" jelas Maudy panjang lebar. Sudah menjelaskan dengan rinci dan papanya malah memberi restu pada mereka. Restu apaan coba?
"Lagian perlu kamu ingat, kamu itu sama sekali bukan tipe saya!" sambung Maudy kembali. Ia juga tidak mau dengan Roni.
"Sama!" balas Roni tidak mau kalah. Siapa yang mau dengan wanita sombong itu.
Tok... Tok... tok... pintu diketuk.
"Masuk." ucap Maudy kemudian.
"Nona, ini makan siangnya." Satria masuk membawakan bungkusan berisi makan siang pesanan atasannya.
"Letak saja di meja, Sat!" pinta Maudy dan akan meraih sang putra dari gendongan Roni.
"Papa!" Jeri menolak. Ia makin mengeratkan pegangannya.
"Jeri, ayo kita makan dulu ya nak!" bujuk Maudy, ini sudah jam makan siang. Mau sampai kapan Jeri nempel terus dengan pria itu.
"Papa temani Jeri makan kan?" tanyanya memastikan.
Maudy mengangguk cepat. "Jeri digendong sama mama dulu, papa mau cuci tangan."
Mata Roni mendelik mendengar perkataan Maudy. Malah ikut mengatakan dirinya papa.
"Mak-maksud mama, om Roni mau cuci tangan. Tapi mau temani Jeri makan." Maudy segera membenarkan perkataannya. Ia juga ngedumel dalam hati karena malah ceplos mengatakan hal itu.
Jeri pun menurut dan berpindah dari gendongan Roni ke gendongan Maudy. Ia tidak menangis karena akan segera makan siang ditemani papanya.
"Hmm."
Suara deheman itu membuat mereka menoleh. Ternyata Satria belum pergi.
"Kalian sudah seperti keluarga kecil yang bahagia." ucap Satria melihat interaksi mereka. Pasangan suami istri dengan satu anak laki-laki. Tampak seperti keluarga yang harmonis.
"Kamu mau dipecat?" tanya Maudy menajamkan matanya. Satria malah mengatakan hal yang menurutnya sangat tidak benar.
"Saya permisi." Satria akan undur diri dari drama keluarga kecil itu. Tapi sebelum menutup pintu,
"Nona, kalian sangat cocok sekali. Saya sangat merestui kalian." ucap Satria sekalian menggoda.
"Satria!" ucap Roni dan Maudy dengan kesal. Tidak terima jika mereka dibilang cocok.
Satria segera menutup pintu sambil tertawa-tawa. Senang sekali menggoda keluarga kecil itu.
Roni membuang nafasnya dengan kasar. Kesal sekali ia dengan pria yang lebih muda darinya itu. Ada saja yang dikatakannya.
"Papa, mama, ayo kita makan!"
Ajakan Jeri membuat keduanya menoleh.
Tak lama Roni menemani Jeri makan, ia akan makan nanti saja. Roni duduk di samping bocah yang sedang makan dengan lahap. Jeri makan sendiri dan banyak nasi berlepotan di pipi.
'Dia sangat perhatian pada Jeri?' batin Maudy melihat pria itu membersihkan nasi di pipi putranya.
Sikap Roni terlihat penyayang dan punya sifat kebapakan.
"Jeri, minum dulu." Maudy meletakkan segelas air minum. Dari tadi putranya makan terus dan belum minum.
Roni membantu Jeri untuk minum. Dan Maudy tanpa sadar kembali memandangi pria itu.
Hatinya tersentuh dengan perlakuan Roni pada Jeri. Perlakuan Roni begitu hangat.
"Apa yang anda lihat, nona?" tanya Roni yang melihat wanita itu termenung melihatinya.
Maudy tersadar dan akan mencari alasan. Ia tadi malah sempat memandangi wajah pria itu.
"Itu, itu-" Maudy berpikir untuk mencari alasan yang masuk akal. Dan terlihat luka di sudut bibir pria itu.
Pasti itu luka karena pukulannya tadi. Mau minta maaf, gengsi Maudy terlalu tinggi untuk mengatakan itu. Ia anti untuk 2 kata itu.
"Ada luka di situ, akan saya ambilkan obat!" Maudy menunjuk ke arah bibir itu. Ia pun beranjak pergi dan akan mengambilkan obat.
Tak lama kemudian,
"Sudah saya saja, nona!" ucap Roni saat Maudy akan mengobatinya.
"Diam saja kamu!" ucap Maudy. Ia sudah meletakkan sedikit salep di jarinya, tinggal di oles saja di bibir pria itu.
"Saya saja, nona!" Roni masih menolak. Ia bisa mengobati lukanya sendiri. Tak perlu lah Maudy repot-repot.
"Kamu diam saja, biar saya obati!" paksa Maudy. Ia pun duduk di samping pria itu.
Sebenarnya Maudy merasa sedikit bersalah karena telah salah memukul orang, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak mau meminta maaf.
"Nona-" Roni menjauhkan tangan Maudy. Ia tidak mau diobati wanita itu.
"Bibir kamu itu luka, saya sedang berbaik hati jadi biar saya saja yang obati!" paksa Maudy mengatakan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Yang buat luka di bibir saya itu anda!" ucap Roni menahan kekesalannya. Sedang berbaik hati katanya, alasan yang membuat kesal.
"Saya tahu itu." ucap Maudy. Masih ingat ia sempat memukulnya.
"Terus kenapa nona tidak meminta maaf?" tanya Roni. Maudy sudah memukul orang yang tidak tahu apa-apa.
Maudy tampak berpikir. Ia tidak bisa mengatakan maaf. Ini juga bukan kesalahannya.
"Ini semua karena Satria!" ucap Maudy. Semua ini karena Satria.
Roni mengerutkan dahinya. Tinggal bilang maaf saja, kenapa bawa-bawa Satria segala.
"Jika dari awal Satria bilang kalau Jeri mengatakan kamu itu papanya, saya juga tidak mungkin berpikiran kalau ayah kandung Jeri sebenarnya yang datang!" jelas Maudy. Ia tidak bersalah, semua salahnya satria. Jadi ia tidak akan meminta maaf.
"Lalu?" Tanya Roni. Apa lagi yang mau dikatakan wanita itu. Ia masih menunggu kata maaf.
"Semua salah Satria!" Maudy tetap bersikeras.
Roni menghela nafas dengan berat. Wanita itu memang tidak mau mengaku bersalah. Tinggal katakan maaf karena salah memukul orang. Ini malah beralasan begini begitu.
"Sini saya obati dulu!" ucap maudy. Tangannya mengarahkan wajah pria itu ke hadapannya. Lalu perlahan mengoleskan salep tersebut.
Roni terpaku sejenak pada wanita itu. Jarak sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu. Maudy sangat cantik, pantas saja banyak karyawan pria yang begitu memujanya. Meskipun sikapnya sombong dan angkuh, tapi bisa dimaklumi lah.
"Sudahlah, nona!" Roni menjauhkan tangan Maudy dari wajahnya. Ia tidak nyaman diperlakukan begini.
"Diam dulu, diobati sekali lagi!" Maudy tidak peduli dan tidak menerima penolakan. Ia menambahkan salep ke jari dan dioleskan di sudut bibir Roni kembali.
Selain mengoles, wanita itu juga meniup-tiup kan pelan supaya lebih cepat keringnya.
"Nanti dioles la-" Maudy menjeda ucapannya saat pandangannya melihat mata itu.
Keduanya kini saling bertatapan dengan nafas yang saling menerpa wajah masing-masing.
Dan,
Cup...
"Kamu mau modus ya?"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
Asyik siapa yg cium duluan td Roni/Maudy hehe
2024-09-01
1
LISA
Awas lo awalnya benci ntar lama² jdi suka 😃😃
2024-08-15
1
umatin khuin
yeeayy jd terbawa suasana kan....hayo....hayo....cie ciee....
2024-08-15
2