Bab 11 - Modus

"Nanti pulang sekolah, mama jemput Jeri?" tanya bocah laki-laki yang sedang sarapan.

"Nanti oma yang jemput Jeri." Oma Novia yang menjawab.

Maudy melihat wajah putranya yang jadi murung. Jeri sepertinya sedang manja-manjanya.

"Mama lagi banyak kerjaan, sayang." ucap Maudy seraya meletakkan segelas susu. "Rabu depan mama pasti jemput kamu."

Maudy akan berencana begitu. Dalam seminggu sekali ia harus menjemput sang anak.

"Nanti Jeri pulang sekolah ke kantor mama ya." mohonnya. Ia mau menggambar di sana dan menunjukkan hasil gambarannya langsung pada sang mama.

Hatinya sangat senang begitu mama Maudy memujinya hebat dan pintar.

"Ya sudah, nanti oma minta supir menjemput dan mengantar Jeri ke sana." ucap oma Novia. Karena Jeri ingin ke kantor mamanya, Novia tidak mau ikut. Ia bisa bosan menunggu di sana.

Maudy mengangguk setuju ucapan mamanya. Tidak apa-apa sesekali putranya datang ke kantor.

"Yeee!" Jeri bersorak gembira. Senangnya ia diizinkan ke sana.

"Sudah cepat habiskan sarapan Jeri. Biar mama antar kamu ke sekolah!" pintanya.

Beberapa waktu berlalu, Maudy turun dari mobil. Ia telah sampai di parkiran kantor setelah tadi mengantar Jeri ke sekolah.

Wanita itu akan berjalan menuju lobi perusahaan. Dan lagi seseorang menabrak bahunya.

"Ma-maaf." ucap pria itu dengan ponsel di telinga. Ia segera menutup ponsel saat melihat wanita yang tidak sengaja ditabraknya.

Roni menggerutu lantaran Satria menelepon dan ia jadi tidak melihat sekitar.

"Kamu lagi!" ucap Maudy. Sepertinya pria itu sengaja sekali menabraknya. Sudah 2 kali.

"Maafkan saya, nona. Saya tidak sengaja." Roni kembali meminta maaf. Ia memang tidak sengaja menabrak wanita itu.

"Lain kali jalan pakai mata!" ucap Maudy dengan kesal. Alasan klasik, tidak sengaja katanya.

"Bukannya jalan pakai kaki ua." Roni membenarkan perkataan Maudy. Seharusnya melihat yang pakai mata.

Maudy melengos dan berlalu pergi. Pria itu seperti sengaja sekali ingin dekat dengannya. Ia bukan wanita gampangan.

"Nona... apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Roni. Ia sudah berusaha mengingat di mana pernah bertemu wanita itu, tapi tidak tahu di mana. Mungkin saja nona Maudy juga merasa pernah bertemu sebelumnya dengan dia.

Maudy menghentikan langkah dan berbalik.

"Saya tidak tertarik dengan kamu!" jelas Maudy dengan tegas. Wanita itu berasumsi bahwa pria itu sengaja mengatur siasat agar tidak ketara jika sedang mendekati.

Yang pertama. Sengaja menabraknya sampai 2 kali, agar bisa bicara dengannya.

Yang kedua. Sengaja bilang pernah bertemu dengannya, jelas sekali itu hanya akal-akalan pria temannya Satria itu untuk mendekatinya.

Modus pria itu sudah terbaca olehnya.

"Apa?" ucap Roni merasa aneh. Ia tanya apa, malah Maudy bilang apa. Wanita itu tidak nyambung.

"Saya tegaskan ya, jika kamu itu bukan tipe saya. Jadi berhentilah mendekati saya!" jelas Maudy sambil melipat tangan di dada. Ia melihat dengan sinis ke arah pria itu yang berani-beraninya mendekati wanita cantik seperti dirinya.

Setelah itu Maudy melangkah pergi. Ia tidak punya waktu untuk berbasa basi dengan pria itu.

Roni tidak bisa berkata-kata. Wanita itu sudah salah paham padanya. Mengira ia mau mendekatinya, padahal ia cuma mau tanya saja. Jadi merasa menyesal menanyakan hal tersebut.

Nona Maudy itu memang pedenya luar biasa.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"Pak Roni!" panggil Satria sambil melambaikan tangan saat pria itu masuk ke kantor.

Roni mendengus. Satria sudah menunggunya saja. Benar-benarlah pria itu begitu bersemangat sekali dengan rencananya.

"Pak, bagaimana? Cantikkan?" tanya Satria. Ia sudah mengirimkan foto seorang wanita. Wanita yang akan dicomblangi dengan Roni.

Roni tidak menjawab dan berjalan saja melewati Satria. Melihat itu Satria segera menyusul dari belakang.

"Pak." panggilnya kembali.

"Saya tidak mau, Sat." jawab Roni sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam lift.

Satria pun jadi berwajah cemberut. Ia ikut masuk ke dalam lift juga.

Dan masuklah juga seorang wanita. Kotak besi itu mendadak menjadi wangi.

"Se-selamat pagi, nona." sapa Satria saat melihat Maudy yang masuk ke dalam lift. Ia menundukkan kepala sejenak sebagai tanda hormat.

Pantas saja lift ini jadi wangi. Atasannya pasti memakai parfum mahal dan wanginya awet.

"Hmm, pagi." jawab Maudy dengan nada datar.

Matanya kini tertuju pada pria di samping Satria. Itu pria modus yang berniat mendekatinya.

Roni menundukkan kepala sejenak dan Maudy melengoskan wajahnya.

Kini di dalam lift hanya ada mereka bertiga. Kedua pria itu berada di belakang, sedang Maudy membelakangi mereka.

"Pak, ayolah!" Satria masih membujuk Roni. Ia sudah berjanji pada temannya itu.

"Saya tidak mau, Sat." Roni ingin fokus pada pekerjaannya. Tidak mau dekat dengan wanita atau menikah dalam waktu dekat.

"Hanya kenalan saja loh, pak!" paksa Satria.

"Tidak, Sat!"

"Sttt!" Maudy pun menoleh ke belakang, ia memelototi Satria dan Roni yang berisik sekali. Bikin pusing saja.

"Maaf, nona." Satria jadi nyengir. Ia melupakan masih ada wanita itu di dalam lift.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Maudy saat ini sedang sibuk berkutat dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Meski perusahaan ini milik papanya, ia tetap harus bekerja keras.

Sebenarnya papanya menyuruh dirinya di rumah saja fokus pada Jeri. Semua apapun kebutuhan akan ditanggung.

Tapi Maudy bersikeras tetap ingin bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Ia harus menafkahi anak semata wayangnya.

Ayah kandung Jeri tidak mau menafkahi, maka ia sebagai ibu kandung yang harus mengambil kewajiban itu.

Maudy ingin menjadi ayah dan ibu bagi Jeri. Maka ia harus bekerja sebagai ayah dan merawat Jeri sebagai ibu. Dan ia menikmati perannya saat ini.

Tok, tok, tok... Pintu diketuk.

"Masuk." jawabnya sekena saja

"Nona, ini berkas yang anda minta." Satria meletakkan setumpuk berkas di meja atasannya itu.

Maudy membuang nafas panjang menatap apa yang dibawa Satria. Banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikannya.

Suara deringan ponsel mengalihkan tatapannya, panggilan masuk dari supirnya.

"Oh sudah mau sampai ya, pak. Baiklah, akan saya jemput di lobi." ucap Maudy lalu tidak lama mengakhiri panggilan.

"Anda mau menjemput siapa di lobi, nona?" tanya Satria. Sedikit mendengar pembicaraan itu.

"Jeri datang kemari." jawabnya.

"Biar saya saja yang menjemput Jeri, nona." tawar Satria. Ia menawarkan diri.

Maudy tampak berpikir dan mengangguk setuju.

"Ya, sudah. Segera kamu jemput Jeri di bawah. Terus sekalian belikan cemilan untuknya." ucap Maudy sambil menyerahkan selembar uang.

"Siap, nona!" Satria meraih uang tersebut dan undur diri.

"Sat, jangan lama-lama ya!" wanti Maudy.

"Ok!" jawab Satria sambil berlalu.

Selama menunggu, Maudy akan menyelesaikan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi. Lalu nanti akan makan siang bersama putranya. Dan berkas menumpuk yang dibawa Satria, akan dikerjakannya setelah makan siang.

Beberapa saat berlalu, Maudy melihat jam tangannya, jam makan siang akan tiba. Kenapa putranya belum sampai juga ke ruangannya?

Apa Satria tidak bertemu dengan Jeri?

Karena tadi fokus pada kerjaan, ia jadi lupa dengan kedatangan putranya.

Maudy mencoba menelepon Satria. Menanyakan di mana mereka sekarang?

"Sat, Jeri di mana?" tanya Maudy begitu panggilan tersambung. Ia khawatir dengan anak semata wayangnya.

Sempat saja terjadi sesuatu pada Jeri, ia akan mengkuliti Satria hidup-hidup.

"Ini, nona. Jeri sedang bersama papanya." ucap Satria dari seberang sana.

"Apa???"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

pasti Roni yg ketemu Jeri ingat wajah Roni yg di anggap papa Jeri krn setahu Jeri Roni Papanya bukan Denies

2024-09-01

1

LISA

LISA

Papanya Jeri ? yg mana nih 😃

2024-08-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!