"Nona Maudy sudah menikah belum sih? Kok sudah punya anak saja!"
"Sepertinya belum menikah."
"Pasti waktu pacaran terlalu bebas,"
"Benar-benar. Begitu hamil ditinggal begitu saja!"
Di toilet kantor beberapa wanita sedang menggosipi atasan mereka. Gosip yang sepertinya begitu sangat seru, sampai membuat mereka tertawa-tawa.
Bugh... Suara salah satu pintu kamar mandi.
Wanita-wanita itu terkejut batin melihat orang yang keluar. Mereka langsung saling menjaga jarak aman dan menunduk.
"Serahkan surat pengunduran diri kalian!" ucap Maudy. Berani-beraninya ia terus menjadi bahan gosipan.
"Ma-maaf, Nona." kompak mereka menundukkan kepala berkali-kali.
Maudy sudah sering mendengar ia digosipkan orang-orang di kantor perihal memiliki anak tanpa ikatan pernikahan. Ia hanya memarahi mereka saja dan ternyata itu tidak berpengaruh.
Wanita itu berpikir harus membuat efek jera. Jadi jika mau menggosipinya lagi, akan berpikir 2 kali. Mereka masuk ke perusahaan ini untuk bekerja, bukan untuk membahas dirinya.
"Kamu, kamu, dan kamu! Aku memecat kalian!" tunjuk Maudy pada wanita-wanita itu. Ia akan bersikap tegas.
"Ja-jangan, nona! Maafkan kami!" mereka pun memelas meminta maaf. Merasa menyesal seharusnya tadi lihat-lihat situasi jika mau menggosip.
"Aku tidak butuh karyawan seperti kalian!" jelas Maudy sambil berkacak pinggang, lalu meraih ponselnya.
"Sat, kamu urus pemecatan..." Maudy menyebutkan nama-nama wanita itu. Melihat nama di bad yang tergantung.
"Nona, anda tidak boleh mencampurkan masalah pribadi ke pekerjaan!" salah satu dari mereka protes. Ia tidak terima gara-gara hal sepele, malah dipecat.
Maudy mengangguk. "Apa yang tadi kalian bicarakan itu urusan pekerjaan?"
Pertanyaan balik dari Maudy membuat mereka menciut. Mana tatapan atasan mereka itu menyeramkan.
"Ta-tapi nona sangat keterlaluan. Kami hanya membicarakan kenyataannya! Jika nona wanita baik-baik tidak mungkin punya anak tanpa menikah!"
Tanduk Maudy rasanya akan keluar. Karyawannya itu sangat menyebalkan sekali.
"Terus urusannya dengan kalian apa???"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pemecatan wanita-wanita pengghibah itu, menjari perbincangan di perusahaan itu.
Maudy terkenal sebagai wakil direktur yang pemarah dan sombong juga angkuh. Kini julukannya bertambah menjadi super tega.
Harus tega, karena dengan begitu tidak akan terdengar lagi karyawan yang mengghibahi nya. Mereka akan berpikir panjang kali lebar jika mau membahas dirinya.
"Nona, 30 menit lagi kita akan bertemu klien di luar kantor." ucap Satria, asistennya.
"Sudah kamu siapkan semua?"
"Sudah, nona! Aman terkendali!" jawab Satria dengan semangat. Soal pekerjaan, Maudy memang sangat profesional.
Maudy membenarkan makeupnya terlebih dahulu. Bukan karena akan bertemu dengan siapa, tapi tampil cantik tetap menjadi kewajibannya. Wanita itu sangat menjaga penampilan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Nanti hari minggu aku mau ke pantai sama papaku, Jeri." ucap Nanda, teman sekelas Jeri. Ia bercerita.
Jeri diam saja mendengarnya, sejenak ia jadi membayangkan bermain bersama papanya. Dalam bayangannya muka papanya samar-samar.
"Papaku sangat sayang padaku. Papa sering membelikanku mainan." sambungnya lagi.
Jika mainan saja, mamanya pun sering membelikan mainan. Mainannya juga sangat banyak.
"Papamu mana, Jeri? Kenapa tidak pernah mengantar ke sekolah?" tanya Nanda lagi. Ia pergi selalu diantar papa dan pulang dijemput mama.
"Papaku lagi sibuk." jawab Jeri. Kata mama papanya sudah mati dimakan cacing. Jika ia bilang seperti itu, nanti bisa diledeki temannya.
"Papaku juga sibuk, tapi selalu mengantarku."
"Papaku sibuk sekali!" jelas Jeri kemudian.
"Kamu tidak punya papa kan! Jeri tidak punya papa! Jeri tidak punya papa!" Nanda pun mengejek Jeri.
"Aku punya papa!" jawab bocah itu dengan mata berair.
"Kamu tidak pernah pernah diantar papamu, mana papamu? Jeri tidak punya papa!" Nanda masih meledek juga.
"Jeri punya papa!" balas Jeri sambil mengusap air matanya.
"Jeri tidak punya papa, kata mamaku Jeri itu anak haram. Jeri anak haram! Jeri anak haram!" nanda berkali-kali mengucapkan kata haram. Arti dari kata haram itu sendiri, anak kecil itu saja tidak mengerti.
"Jeri anak mama!" Jeri pun jadi menangis.
Guru yang melihat itu segera menghampiri.
"Jeri kenapa menangis?" tanyanya.
"Kata Nanda, Jeri tidak punya papa. Jeri punya papa, Bu." jawab Jeri dengan terisak-isak.
"Kata mama, Jeri tidak punya papa. Dia juga anak haram." ucap Nanda yang sering mendengar mamanya bicara seperti itu.
"Nanda, kamu tidak boleh bicara begitu ya. Itu tidak baik!" Bu guru menasehati. Ucapan itu tidak bagus.
"Minta maaf pada Jeri. Kalian kan teman!"
"Jeri tidak mau berteman dengan Nanda. Dia jahat!" Jeri menolak.
"Aku juga tidak mau berteman dengan anak yang tidak punya papa!"
"Aku bilang mamaku kamu ya!" Jeri makin menangis.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Terima kasih atas kerja samanya." Maudy menyalami klien. Ia telah selesai meeting.
Setelah kliennya pergi, Maudy duduk sambil bernafas lega. Kerja samanya berjalan lancar.
"Akhirnya selesai juga!" ucap Maudy sambil membereskan berkas-berkasnya.
"Nona, mau makan siang di mana?" tanya Satria. Mereka sedang di luar, jadi sekalian saja.
"Ini masih pukul 10, Sat. Belum waktunya makan siang. Ayo kembali ke kantor!"
Satria mengangguk pelan, memang masih pukul 10. Tapi ia sudah lapar saja.
Tidak berapa lama, Satria mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ia melirik ke spion belakang, nona Maudy memejamkan mata. Sepertinya tidur.
"Lihat jalan depan, Sat! Jika kamu menabrak, saya potong gajimu!" walau sedang terpejam, Maudy tahu jika asistennya itu melihatinya.
"Maaf, nona. Saya mau menawarkan mungkin anda ingin mampir untuk minum kopi." Satria melihat Maudy yang sangat mengantuk. Mungkin butuh kopi untuk membuka mata.
"Segera kembali ke kantor!"
Melihat mata terbuka dan menajam padanya, membuat Satria ciut. Ia pun segera fokus pada jalanan.
Maudy merogoh ponsel, ada panggilan masuk.
"Halo, selamat siang bu guru." jawab Maudy. Itu telepon dari guru tk anaknya.
"Apa? Baiklah, saya akan segera ke sana!" lalu mengakhiri panggilan.
"Sat, menepi!" pinta Maudy kemudian.
Setelah mobil menepi, Maudy turun dan berjalan ke arah pintu pengemudi.
"Turun!" pintanya.
"Ba-baik, nona!" jawab Satria menurut.
Maudy segera masuk mobil dan memasang sabuk pengamannya. Ia membuka kaca mobil.
"Sat, saya ada urusan penting. Kamu kembali ke kantor sendiri!" ucap Maudy lalu melajukan mobilnya.
Satria menggaruk kepalanya setelah mobil itu berlalu. Ia ditinggal atasannya di pinggir jalan. Sungguh tega sekali.
Kruk... bunyi suara perut.
Sebelum kembali ke kantor, Satria makan dulu. Ia mengisi perutnya.
Setelah perut kenyang, Satria akan kembali ke kantor. Ia melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Begitu sampai kantor pasti sudah jam makan siang.
'Mana ojeknya?' pria itu sudah memesan ojek. Ia akan kembali ke kantor naik itu. Mau naik taksi, sudah bulan tua. Jadi harus berhemat.
"Atas nama mas Satria?" ucap pengendara motor menghampiri.
"Benar, mas." jawab Satria. Ojeknya sampai juga.
Pengendara itu memberikan helm dan Satria menerimanya.
"Terima ka-" Satria menjeda ucapannya saat melihat pengendara ojek. Seperti pernah mengenal dan berusaha mengingatnya.
"Pak-pak Roni ya?"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
Jeri punya Papa cm Papamu g mau tangging jawanmb sm Km dan mama my Jeri apa Nanda anak Denis dan Angel Denis mikih nikah sm Angel dan Maudy di buang sm Anaknya Jeri
2024-08-31
1