Bab 3 - Tidak Punya Papa

"Nona Maudy sudah menikah belum sih? Kok sudah punya anak saja!"

"Sepertinya belum menikah."

"Pasti waktu pacaran terlalu bebas,"

"Benar-benar. Begitu hamil ditinggal begitu saja!"

Di toilet kantor beberapa wanita sedang menggosipi atasan mereka. Gosip yang sepertinya begitu sangat seru, sampai membuat mereka tertawa-tawa.

Bugh... Suara salah satu pintu kamar mandi.

Wanita-wanita itu terkejut batin melihat orang yang keluar. Mereka langsung saling menjaga jarak aman dan menunduk.

"Serahkan surat pengunduran diri kalian!" ucap Maudy. Berani-beraninya ia terus menjadi bahan gosipan.

"Ma-maaf, Nona." kompak mereka menundukkan kepala berkali-kali.

Maudy sudah sering mendengar ia digosipkan orang-orang di kantor perihal memiliki anak tanpa ikatan pernikahan. Ia hanya memarahi mereka saja dan ternyata itu tidak berpengaruh.

Wanita itu berpikir harus membuat efek jera. Jadi jika mau menggosipinya lagi, akan berpikir 2 kali. Mereka masuk ke perusahaan ini untuk bekerja, bukan untuk membahas dirinya.

"Kamu, kamu, dan kamu! Aku memecat kalian!" tunjuk Maudy pada wanita-wanita itu. Ia akan bersikap tegas.

"Ja-jangan, nona! Maafkan kami!" mereka pun memelas meminta maaf. Merasa menyesal seharusnya tadi lihat-lihat situasi jika mau menggosip.

"Aku tidak butuh karyawan seperti kalian!" jelas Maudy sambil berkacak pinggang, lalu meraih ponselnya.

"Sat, kamu urus pemecatan..." Maudy menyebutkan nama-nama wanita itu. Melihat nama di bad yang tergantung.

"Nona, anda tidak boleh mencampurkan masalah pribadi ke pekerjaan!" salah satu dari mereka protes. Ia tidak terima gara-gara hal sepele, malah dipecat.

Maudy mengangguk. "Apa yang tadi kalian bicarakan itu urusan pekerjaan?"

Pertanyaan balik dari Maudy membuat mereka menciut. Mana tatapan atasan mereka itu menyeramkan.

"Ta-tapi nona sangat keterlaluan. Kami hanya membicarakan kenyataannya! Jika nona wanita baik-baik tidak mungkin punya anak tanpa menikah!"

Tanduk Maudy rasanya akan keluar. Karyawannya itu sangat menyebalkan sekali.

"Terus urusannya dengan kalian apa???"

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Pemecatan wanita-wanita pengghibah itu, menjari perbincangan di perusahaan itu.

Maudy terkenal sebagai wakil direktur yang pemarah dan sombong juga angkuh. Kini julukannya bertambah menjadi super tega.

Harus tega, karena dengan begitu tidak akan terdengar lagi karyawan yang mengghibahi nya. Mereka akan berpikir panjang kali lebar jika mau membahas dirinya.

"Nona, 30 menit lagi kita akan bertemu klien di luar kantor." ucap Satria, asistennya.

"Sudah kamu siapkan semua?"

"Sudah, nona! Aman terkendali!" jawab Satria dengan semangat. Soal pekerjaan, Maudy memang sangat profesional.

Maudy membenarkan makeupnya terlebih dahulu. Bukan karena akan bertemu dengan siapa, tapi tampil cantik tetap menjadi kewajibannya. Wanita itu sangat menjaga penampilan.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"Nanti hari minggu aku mau ke pantai sama papaku, Jeri." ucap Nanda, teman sekelas Jeri. Ia bercerita.

Jeri diam saja mendengarnya, sejenak ia jadi membayangkan bermain bersama papanya. Dalam bayangannya muka papanya samar-samar.

"Papaku sangat sayang padaku. Papa sering membelikanku mainan." sambungnya lagi.

Jika mainan saja, mamanya pun sering membelikan mainan. Mainannya juga sangat banyak.

"Papamu mana, Jeri? Kenapa tidak pernah mengantar ke sekolah?" tanya Nanda lagi. Ia pergi selalu diantar papa dan pulang dijemput mama.

"Papaku lagi sibuk." jawab Jeri. Kata mama papanya sudah mati dimakan cacing. Jika ia bilang seperti itu, nanti bisa diledeki temannya.

"Papaku juga sibuk, tapi selalu mengantarku."

"Papaku sibuk sekali!" jelas Jeri kemudian.

"Kamu tidak punya papa kan! Jeri tidak punya papa! Jeri tidak punya papa!" Nanda pun mengejek Jeri.

"Aku punya papa!" jawab bocah itu dengan mata berair.

"Kamu tidak pernah pernah diantar papamu, mana papamu? Jeri tidak punya papa!" Nanda masih meledek juga.

"Jeri punya papa!" balas Jeri sambil mengusap air matanya.

"Jeri tidak punya papa, kata mamaku Jeri itu anak haram. Jeri anak haram! Jeri anak haram!" nanda berkali-kali mengucapkan kata haram. Arti dari kata haram itu sendiri, anak kecil itu saja tidak mengerti.

"Jeri anak mama!" Jeri pun jadi menangis.

Guru yang melihat itu segera menghampiri.

"Jeri kenapa menangis?" tanyanya.

"Kata Nanda, Jeri tidak punya papa. Jeri punya papa, Bu." jawab Jeri dengan terisak-isak.

"Kata mama, Jeri tidak punya papa. Dia juga anak haram." ucap Nanda yang sering mendengar mamanya bicara seperti itu.

"Nanda, kamu tidak boleh bicara begitu ya. Itu tidak baik!" Bu guru menasehati. Ucapan itu tidak bagus.

"Minta maaf pada Jeri. Kalian kan teman!"

"Jeri tidak mau berteman dengan Nanda. Dia jahat!" Jeri menolak.

"Aku juga tidak mau berteman dengan anak yang tidak punya papa!"

"Aku bilang mamaku kamu ya!" Jeri makin menangis.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"Terima kasih atas kerja samanya." Maudy menyalami klien. Ia telah selesai meeting.

Setelah kliennya pergi, Maudy duduk sambil bernafas lega. Kerja samanya berjalan lancar.

"Akhirnya selesai juga!" ucap Maudy sambil membereskan berkas-berkasnya.

"Nona, mau makan siang di mana?" tanya Satria. Mereka sedang di luar, jadi sekalian saja.

"Ini masih pukul 10, Sat. Belum waktunya makan siang. Ayo kembali ke kantor!"

Satria mengangguk pelan, memang masih pukul 10. Tapi ia sudah lapar saja.

Tidak berapa lama, Satria mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ia melirik ke spion belakang, nona Maudy memejamkan mata. Sepertinya tidur.

"Lihat jalan depan, Sat! Jika kamu menabrak, saya potong gajimu!" walau sedang terpejam, Maudy tahu jika asistennya itu melihatinya.

"Maaf, nona. Saya mau menawarkan mungkin anda ingin mampir untuk minum kopi." Satria melihat Maudy yang sangat mengantuk. Mungkin butuh kopi untuk membuka mata.

"Segera kembali ke kantor!"

Melihat mata terbuka dan menajam padanya, membuat Satria ciut. Ia pun segera fokus pada jalanan.

Maudy merogoh ponsel, ada panggilan masuk.

"Halo, selamat siang bu guru." jawab Maudy. Itu telepon dari guru tk anaknya.

"Apa? Baiklah, saya akan segera ke sana!" lalu mengakhiri panggilan.

"Sat, menepi!" pinta Maudy kemudian.

Setelah mobil menepi, Maudy turun dan berjalan ke arah pintu pengemudi.

"Turun!" pintanya.

"Ba-baik, nona!" jawab Satria menurut.

Maudy segera masuk mobil dan memasang sabuk pengamannya. Ia membuka kaca mobil.

"Sat, saya ada urusan penting. Kamu kembali ke kantor sendiri!" ucap Maudy lalu melajukan mobilnya.

Satria menggaruk kepalanya setelah mobil itu berlalu. Ia ditinggal atasannya di pinggir jalan. Sungguh tega sekali.

Kruk... bunyi suara perut.

Sebelum kembali ke kantor, Satria makan dulu. Ia mengisi perutnya.

Setelah perut kenyang, Satria akan kembali ke kantor. Ia melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Begitu sampai kantor pasti sudah jam makan siang.

'Mana ojeknya?' pria itu sudah memesan ojek. Ia akan kembali ke kantor naik itu. Mau naik taksi, sudah bulan tua. Jadi harus berhemat.

"Atas nama mas Satria?" ucap pengendara motor menghampiri.

"Benar, mas." jawab Satria. Ojeknya sampai juga.

Pengendara itu memberikan helm dan Satria menerimanya.

"Terima ka-" Satria menjeda ucapannya saat melihat pengendara ojek. Seperti pernah mengenal dan berusaha mengingatnya.

"Pak-pak Roni ya?"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

Jeri punya Papa cm Papamu g mau tangging jawanmb sm Km dan mama my Jeri apa Nanda anak Denis dan Angel Denis mikih nikah sm Angel dan Maudy di buang sm Anaknya Jeri

2024-08-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!