Bab 13 - Oh, Tidak Bisa

Nafas Maudy terasa memburu mendengar apa yang Satria katakan bahwa Jeri sedang bersama papanya. Langsung menebak jika Denis masih hidup dan kini mencari mereka.

Jadi menyesal tadi membiarkan Jeri dijemput Satria. Lebih baik ia yang menjemput Jeri sendiri. Putranya pasti tidak akan dibawa pria tidak bertanggung jawab itu. Ia akan langsung menghadapinya.

Satria pasti tadi langsung saja memberikan Jeri, saat Denis bilang dia papa dari putranya. Padahal seharusnya tidak bisa diberikan begitu saja, harus mengatakan padanya. Harus dengan persetujuannya.

Memanglah pria satu itu minta dipecat.

'Jeri itu anakku! Aku yang merawat dan membesarkannya!' batin Maudy.

Maudy tidak akan membiarkan pria jahat itu mengambil putranya. Anak yang dulu tidak diakui dan ditolak mentah-mentah bahkan dikatakan anak haram oleh pria itu. Sekarang Denis mau mengambilnya. Oh, tidak bisa! Tidak semudah itu!

Maudy segera berlari keluar ruangannya. Saat ini ia harus segera mengambil Jeri kembali. Jeri tidak boleh dibawa pria tidak bertanggung jawab itu.

Wanita itu sangat geram sekali. Jika sampai melukai Jeri sedikit saja, akan dipatahkannya tangan pria itu.

Rasa geram, marah, cemas, khawatir, takut telah campur aduk.

"Papa, Denis membawa putraku!" ia pun menelepon papanya sambil menangis mengadukan kegelisahan hatinya.

Papanya harus melakukan sesuatu untuk melindungi Jeri. Denis harus diamankan segera, pria yang dikiranya sudah mati itu ternyata masih hidup dan mengganggu kehidupan mereka.

Para karyawan menundukkan kepala saat Maudy lewat. Mereka merasa heran, atasan mereka yang terkenal angkuh dan sombong itu bisa menangis juga. Berjalan sambil terus mengusap air mata.

Sikap angkuh dan sombong nona Maudy yang seperti biasanya tiada terlihat lagi. Hanya muka bersedih dan putus asa, seolah telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Maudy memang tidak peduli bagaimana ekspresinya, sekarang yang lebih penting putranya. Jeri itu nyawa dan dunianya.

Sampai di lantai 1, Maudy melihat sekitar mencari di mana anaknya berada. Tapi tidak ada sang anak di sana. Pasti Denis sudah membawanya kabur.

'Jeri, kamu di mana nak?' Maudy merasakan sesak di dada. Dunianya terasa sudah hancur berantakan. Putranya tidak ada di sisinya. Apa jadinya dia?

Maudy menenangkan perasaannya, ia tidak boleh down dulu. Di saat sekarang ia harus tetap kuat untuk mencari dan merebut Jeri dari pria yang tidak bertanggung jawab itu.

Maudy meraih ponsel dan akan bertanya pada Satria. Pasti Satria tahu ke arah mana anaknya dibawa pria itu.

"Kamu di mana, Sat?" tanya Maudy begitu panggilan terhubung.

"Kami di ruangan anda, nona." jawaban dari sana.

Darah Maudy terasa mendidih mendengar ucapan Satria. Kami? Maksudnya, Denis juga ada bersama mereka di ruangannya.

Langsung mengakhiri panggilan begitu saja dan Maudy segera berlari menuju ruangannya. Ia akan memberi perhitungan dengan Denis, untuk tidak bermain-main dengannya.

Maudy yakin sekarang Denis akan memanfaatkan Jeri agar diberikan uang. Pria itu hanya mau uang saja darinya. Dulu saja ia diporoti.

'Argh!' Maudy kini berteriak kesal dalam hati. Lama sekali lift ini bergerak. Tidak sabar ia bertemu Jeri dan menghajar Denis.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"Ayo kita masuk saja, pak" ajak Satria sambil membuka pintu ruangan atasannya itu.

Tadi sekretarisnya bilang, nona Maudy sedang keluar. Jadi mereka akan menunggu di dalam saja. Nona pasti akan marah jika putra kesayangannya menunggu di luar.

Roni menurunkan Jeri dari gendongannya. Dan bocah itu meraih bungkusan yang dipegang Satria.

"Pa, Jeri banyak makanan." ucapnya sambil mengeluarkan jajanannya dan disusun di atas meja. Nanti mau memakan itu dengan papa dan mamanya.

Roni hanya mengangguk sambil tersenyum dan ia melihat Satria.

"Sat, saya pergi dulu." ucapnya pelan. Jeri lagi anteng, akan ditinggalkan dengan Satria saja sembari menunggu nona Maudy datang.

"Papa mau pergi?" Satria sengaja berucap cukup keras, biar Jeri mendengar. Dari pada nanti saat bocah itu menyadari Roni sudah pergi dan langsung menangis, kan jadi repot.

Dan benar, bocah itu meninggalkan jajanannya begitu saja dan memeluk kaki Roni. Ia tidak mau papanya pergi.

Roni membuang nafasnya dengan kasar. Satria memang buat kesal minta ampun lah. Dilihati malah nyengir pula.

"Jeri, kamu tunggu mama di sini sama om Satria ya." bujuk Roni dan hanya gelengan yang ditunjukkan Jeri.

"Om mau makan dulu." ucapnya. Sudah masuk jam makan siang.

"Papa makan sama Jeri saja. Nanti kita makan sama mama juga." ucap Jeri dengan senyuman polosnya.

Roni mendadak merinding jika harus makan bersama wanita kepedean itu. Tah apa nanti yang akan dikatakan nona Maudy padanya.

Wanita itu sudah salah paham dengan dirinya, mengira ia sedang berusaha mendekatinya. Dan sekarang apa lagi nanti katanya, sengaja mendekati anaknya untuk mendapatkan mamanya.

Yang benar saja?!

"Jeri harus makan bersama papa dan mama kan?!" Satria mulai ngomporin. Tidak akan membiarkan Roni pergi sebelum mama anak itu datang.

"Sat!!!" Roni merapatkan giginya.

"Kamu sama om Satria, om pergi dulu!" Roni melepaskan pegangan tangan Jeri di celananya. Dan,

"Huwa... Papa!" suara tangisan melengking itu pun terdengar.

Dan tidak lama,

"Sudah-sudah ya Jeri. Jangan menangis lagi!" bujuk Roni sambil menggendongnya kembali. Mengelus-elus kepala dan pundak bocah itu biar tenang.

"Papa jangan pergi ya!" Jeri makin mengeratkan pelukannya. Ia tidak akan membiarkan papanya pergi lagi.

"Iya, Jeri. Papa Roni tidak akan pergi meninggalkan kamu. Kalau pergi, nanti om Satria yang menangkap dan membawa papa Roni pada Jeri!" ucap Satria dengan sangat yakin.

"Benar, om?" Jeri memastikan bahwa Satria ada di pihaknya. Akan membantu mencari papanya jika pergi lagi.

"Benar. Kapan om Satria yang ganteng ini bohong sama Jeri?!"

Rasanya Roni ingin saja melakban mulut Satria. Menyebalkan sekali pria itu, pakai bicara begitu segala.

"Papa, Jeri mau pipis."

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Bugh... Suara pintu.

Seorang wanita masuk dengan nafas memburu. Ia masuk dan tidak melihat putranya di ruangan itu.

Ke mana anaknya? Apa Denis sudah pergi lagi?

"Sat, di mana Jeri?" tanya Maudy ketika melihat Satria duduk di kursi sofa.

"Lagi pipis, nona." jawab Satria sambil menunjuk ke arah kamar mandi.

Maudy melihat pintu kamar mandi terbuka dan terlihat seorang pria mengangkat Jeri. Pria itu juga berjongkok untuk memasangkan tali pinggang putranya. Posisi yang membelakangi, membuatnya tidak bisa melihat wajah Denis yang sekarang.

"Mama." Jeri melambaikan tangan pada Maudy.

Roni sudah selesai memasangkan tali pinggang, karena tadi Jeri ingin buang air kecil dan hanya mau dibantu dengannya.

Pria yang sedang berjongkok itu akan bangkit dan membalikkan badannya. Dan saat berbalik,

Bugh...

"Beraninya kau menyentuh anakku?!"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

waduh salah pagmham maudy mukul pun salah sasaran sabar Roni buar Maudy Mama Jeri mukil km pasti Jeri bela km Papa Roni

2024-09-01

1

umatin khuin

umatin khuin

waduh salah orang maudy....dia bukan denis tapi roni...ish ish ish...main pukul aja...hihi....

2024-08-14

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!