Bab 12 - Papa Jeri

"Makanan Jeri banyak, om!" ucapnya begitu keluar dari mini market. Satu bungkusan sudah dipegang oleh om Satria.

Satria tersenyum dengan terpaksa. Tadi mama anak itu hanya memberikan selembar uang dan ternyata sampai mini market ia harus membayar sampai 2 lembar.

Jeri banyak meminta ini dan itu. Uang pemberian mamanya jadi kurang. Untung ada bukti struk, nanti akan meminta ganti dengan nona Maudy.

Keduanya bergandengan tangan masuk ke lobi kantor. Satria memegang tangan Jeri dengan erat. Takut terjadi sesuatu dengan anak atasannya itu, bisa digorok ia sama mamanya.

Satria dan jeri berdiri di depan lift, menunggu lift yang akan membawa mereka ke lantai ruangan wakil direktur.

"Pak Roni dari mana?" tanya Satria melihat Roni yang baru tiba.

"Kepala saya sedikit pusing, tadi beli obat sebentar." jawab Roni.

Roni kaget saat celananya tiba-tiba dipegang oleh seorang bocah. Bocah itu tersenyum lebar padanya.

"Siapa, Sat? Anakmu?" tanya Roni kemudian. Satria membawa anak saat bekerja.

Satria menggelengkan kepala dengan cepat. Ia saja belum menikah, bagaimana bisa memiliki anak.

"Ini anaknya nona Maudy, pak!" jelasnya cepat, supaya jangan ada salah paham.

Roni mengangguk. Ia pun melihat anak wanita angkuh itu sangat polos dan menggemaskan. Sangat berbeda jauh dengan mamanya.

"Adik, siapa namanya?" Roni bertanya sambil berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan bocah itu.

"Jeri." jawabnya. Ia pun langsung memeluk pria di hadapannya.

Tadi saat melihat Roni, hati bocah kecil itu sangat senang dan bahagia sekali.

Roni kaget dan juga jadi bingung, kenapa Jeri malah memeluk dirinya. Ia melihat ke arah Satria dan malah pria muda itu mengangkat bahu.

"Papa. Jeri kangen sama papa." sambung Jeri kembali. Senangnya ia karena sekarang punya papa. Merasa jika pria itu adalah papanya.

"Papa?" Roni jadi bingung, kenapa Jeri malah mengatakan dia papanya. Mereka tidak ada ikatan apapun.

Sama dengan Roni. Satria juga bingung anak atasannya mengatakan Roni papanya. Baru kali ini Jeri mengklaim seorang pria sebagai papanya.

"Jeri, ayo kita temui mama dulu ya!" Satria akan menarik Jeri yang memeluk Roni dan suara tangisan pun terdengar.

"Jeri mau sama papa. Mau sama papa!" bocah itu masih memeluk Roni dengan erat. Saat ini ia hanya mau dengan papanya.

"Jeri, om bukan papanya Jeri." kini Roni yang bicara. Ia membujuk anak laki-laki itu. Jeri salah orang jika menganggapnya begitu.

"Ini papa Jeri!" anak laki-laki itu masih bersikeras menganggap Roni papanya.

"Pak, Jeri anak anda?" tanya Satria mulai meledek. Bocah kecil itu mengatakan jika Roni papanya.

Roni mendengus kesal. Malah ia dibilang punya anak. Dan Satria malah nyengir sesaat.

"Ayo, Jeri. Kita temui mama ya!" bujuk Satria kemudian. Ia akan meraih bocah itu dan malah makin menangis.

"Huwa... papa!"

Suara tangisan Jeri yang melengking itu jadi menarik perhatian orang-orang sekitar. Orang-orang terlihat bingung.

"Sudah ya, Jeri. Jangan menangis lagi, anak laki-laki tidak boleh menangis!" Roni membujuk dengan mengelus pelan kepala Jeri.

"Wow!" Satria langsung berdecak kagum.

Bagaimana tidak kagum, suara tangisan yang melengking dan meraung-raung seketika langsung berhenti. Jeri langsung menurut apa yang dikatakan Roni. Seolah menurut pada perintah papanya.

"Jeri, om bukan papanya kamu. Jeri salah orang. Om bukan-" Roni menjeda ucapannya ketika melihat wajah yang akan menangis kembali.

"Sudahlah, pak. Akui saja anda papanya!" Satria meledek Roni.

Dan Roni memelototi Satria. Akui bagaimana, ia saja bukan papa dari anak itu.

"Saya bukan papanya, Sat. Kapan saya menikah dengan mamanya?!" Roni kesal sekali dengan Satria yang terus menerus meledeknya.

"Besok pun boleh menikah, pak!"

Roni seolah mengeluarkan tanduk melihat pria yang lebih muda darinya itu. Tah apa sekarang yang dibahas oleh Satria.

"Maksud saya begini, pak. Iyakan saja dulu, Jeri menganggap anda papanya. Biar Jeri tidak menangis lagi dan segera kita kembalikan pada mamanya. Nona Maudy pasti sudah menunggu kedatangan Jeri." jelas Satria dengan senyuman. Ia memberikan penjelasan yang masuk akal.

"Papa!" ucap Jeri dengan suara terisak-isak. Air matanya sudah berlinang. Ia ingin bersama papanya.

Melihat wajah mewek bocah kecil itu membuat Roni jadi tidak tega. Ia mengusap air mata di pipi gembul itu.

"Akan om antar kamu ke mama ya." ucap Roni pelan. Mau diantar Satria, Jeri malah menangis. Jadi ia saja yang akan mengantar ke sana.

Jeri mengangguk dan menurut. Ia pun merentangkan tangan. Minta digendong.

Roni pun meraih Jeri dan menggendong bocah kecil tersebut. Dan bocah itu kembali tersenyum dengan lebar.

"Pak, kalian seperti ayah dan anak!" Satria tersenyum lebar. Roni tampak seperti ayah yang sedang memanjakan anak laki-lakinya. Terus juga jika dilihat lagi, mereka berdua mirip.

Orang akan mengira jika Jeri memang anak kandungnya Roni.

"Diam kamu!" ucap Roni dengan kesal. Satria terus-terusan berkata Jeri anaknya. Senang sekali Satria meledeknya.

Satria kini meraih ponsel, ada panggilan masuk dari nona Maudy.

Begitu ponsel ditempel di telinga, Satria segera menjauhkannya. Suara wanita itu memekikkan telinga.

"Ini, nona. Jeri sedang bersama papanya." jawab Satria yang membuat Roni kembali menatapnya dengan sengit.

"Apa?" wanita di seberang sana tampak kaget sekali.

Lagi, Satria menjauhkan ponsel. Benar-benar nona Maudy selalu berteriak, seperti tarzan saja.

"Kalian di mana?"

"Masih di lantai 1. Ini mau-" Satria mendengus. Maudy telah mengakhiri panggilan begitu saja.

Padahal ia mau mengatakan mereka akan segera ke ruangannya.

"Siapa yang menelepon?" tanya Roni. Mereka kini sudah masuk ke dalam lift dan pandangan orang-orang melihati dirinya yang menggendong seorang anak.

Orang-orang pada berbisik-bisik. Tah apa yang dibicarakan, ia juga tidak dengar. Bisikkan yang seperti kumur-kumur.

"Mamanya, pak." jawab Satria.

"Pa, besok antar Jeri ke sekolah ya." harap bocah itu. Ia akan memamerkan papanya itu. Biar teman-temannya tahu jika ia punya papa juga.

Roni hanya tersenyum tipis. Bocah kecil itu masih saja menganggap ia papanya.

"Pa, nanti kita main bola ya."

"Pa, nanti kita berenang ya."

"Pa, nanti kita ke pantai ya."

Jeri mengatakan semua keinginannya pada pria itu. Hal yang selalu dibayangkan akan dilakukan jika punya papa.

"Papa..." Kini mata Jeri sudah berair menatap pria yang sedang menggendongnya. Papanya dari tadi tidak menjawab dan hanya diam saja.

Roni memang tidak tega pada anak kecil. "Baiklah, Jeri."

"Terima kasih, papa. Jeri sayang sama papa." ucap anak laki-laki itu dan kembali memeluk Roni. Begini rasanya punya papa. Apa yang dia mau dituruti. Senang rasanya.

"Sama-sama, Jeri. Papa juga sayang sama kamu."

Itu bukan Roni yang menjawab, melainkan Satria. Satria gemas sekali melihat interaksi mereka.

"Satria, kamu bisa diam tidak?!"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

wah benar"maudy g akan berkutik krn Jeri g mau pisah dg Roni g tega dg anak kecil Pertemuan ke 2 Jeri dan Roni pertama saat masih 2 thn di taman ke 2 kantor Mama

2024-09-01

1

umatin khuin

umatin khuin

haha...cu bgt sih jeri...nganggap roni itu papanya....roni2 ko g ingat jeri ama maudy sih...hmmm

2024-08-13

3

LISA

LISA

Roni udh cocok deh jdi papanya Jeri..

2024-08-13

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!