"Makanan Jeri banyak, om!" ucapnya begitu keluar dari mini market. Satu bungkusan sudah dipegang oleh om Satria.
Satria tersenyum dengan terpaksa. Tadi mama anak itu hanya memberikan selembar uang dan ternyata sampai mini market ia harus membayar sampai 2 lembar.
Jeri banyak meminta ini dan itu. Uang pemberian mamanya jadi kurang. Untung ada bukti struk, nanti akan meminta ganti dengan nona Maudy.
Keduanya bergandengan tangan masuk ke lobi kantor. Satria memegang tangan Jeri dengan erat. Takut terjadi sesuatu dengan anak atasannya itu, bisa digorok ia sama mamanya.
Satria dan jeri berdiri di depan lift, menunggu lift yang akan membawa mereka ke lantai ruangan wakil direktur.
"Pak Roni dari mana?" tanya Satria melihat Roni yang baru tiba.
"Kepala saya sedikit pusing, tadi beli obat sebentar." jawab Roni.
Roni kaget saat celananya tiba-tiba dipegang oleh seorang bocah. Bocah itu tersenyum lebar padanya.
"Siapa, Sat? Anakmu?" tanya Roni kemudian. Satria membawa anak saat bekerja.
Satria menggelengkan kepala dengan cepat. Ia saja belum menikah, bagaimana bisa memiliki anak.
"Ini anaknya nona Maudy, pak!" jelasnya cepat, supaya jangan ada salah paham.
Roni mengangguk. Ia pun melihat anak wanita angkuh itu sangat polos dan menggemaskan. Sangat berbeda jauh dengan mamanya.
"Adik, siapa namanya?" Roni bertanya sambil berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan bocah itu.
"Jeri." jawabnya. Ia pun langsung memeluk pria di hadapannya.
Tadi saat melihat Roni, hati bocah kecil itu sangat senang dan bahagia sekali.
Roni kaget dan juga jadi bingung, kenapa Jeri malah memeluk dirinya. Ia melihat ke arah Satria dan malah pria muda itu mengangkat bahu.
"Papa. Jeri kangen sama papa." sambung Jeri kembali. Senangnya ia karena sekarang punya papa. Merasa jika pria itu adalah papanya.
"Papa?" Roni jadi bingung, kenapa Jeri malah mengatakan dia papanya. Mereka tidak ada ikatan apapun.
Sama dengan Roni. Satria juga bingung anak atasannya mengatakan Roni papanya. Baru kali ini Jeri mengklaim seorang pria sebagai papanya.
"Jeri, ayo kita temui mama dulu ya!" Satria akan menarik Jeri yang memeluk Roni dan suara tangisan pun terdengar.
"Jeri mau sama papa. Mau sama papa!" bocah itu masih memeluk Roni dengan erat. Saat ini ia hanya mau dengan papanya.
"Jeri, om bukan papanya Jeri." kini Roni yang bicara. Ia membujuk anak laki-laki itu. Jeri salah orang jika menganggapnya begitu.
"Ini papa Jeri!" anak laki-laki itu masih bersikeras menganggap Roni papanya.
"Pak, Jeri anak anda?" tanya Satria mulai meledek. Bocah kecil itu mengatakan jika Roni papanya.
Roni mendengus kesal. Malah ia dibilang punya anak. Dan Satria malah nyengir sesaat.
"Ayo, Jeri. Kita temui mama ya!" bujuk Satria kemudian. Ia akan meraih bocah itu dan malah makin menangis.
"Huwa... papa!"
Suara tangisan Jeri yang melengking itu jadi menarik perhatian orang-orang sekitar. Orang-orang terlihat bingung.
"Sudah ya, Jeri. Jangan menangis lagi, anak laki-laki tidak boleh menangis!" Roni membujuk dengan mengelus pelan kepala Jeri.
"Wow!" Satria langsung berdecak kagum.
Bagaimana tidak kagum, suara tangisan yang melengking dan meraung-raung seketika langsung berhenti. Jeri langsung menurut apa yang dikatakan Roni. Seolah menurut pada perintah papanya.
"Jeri, om bukan papanya kamu. Jeri salah orang. Om bukan-" Roni menjeda ucapannya ketika melihat wajah yang akan menangis kembali.
"Sudahlah, pak. Akui saja anda papanya!" Satria meledek Roni.
Dan Roni memelototi Satria. Akui bagaimana, ia saja bukan papa dari anak itu.
"Saya bukan papanya, Sat. Kapan saya menikah dengan mamanya?!" Roni kesal sekali dengan Satria yang terus menerus meledeknya.
"Besok pun boleh menikah, pak!"
Roni seolah mengeluarkan tanduk melihat pria yang lebih muda darinya itu. Tah apa sekarang yang dibahas oleh Satria.
"Maksud saya begini, pak. Iyakan saja dulu, Jeri menganggap anda papanya. Biar Jeri tidak menangis lagi dan segera kita kembalikan pada mamanya. Nona Maudy pasti sudah menunggu kedatangan Jeri." jelas Satria dengan senyuman. Ia memberikan penjelasan yang masuk akal.
"Papa!" ucap Jeri dengan suara terisak-isak. Air matanya sudah berlinang. Ia ingin bersama papanya.
Melihat wajah mewek bocah kecil itu membuat Roni jadi tidak tega. Ia mengusap air mata di pipi gembul itu.
"Akan om antar kamu ke mama ya." ucap Roni pelan. Mau diantar Satria, Jeri malah menangis. Jadi ia saja yang akan mengantar ke sana.
Jeri mengangguk dan menurut. Ia pun merentangkan tangan. Minta digendong.
Roni pun meraih Jeri dan menggendong bocah kecil tersebut. Dan bocah itu kembali tersenyum dengan lebar.
"Pak, kalian seperti ayah dan anak!" Satria tersenyum lebar. Roni tampak seperti ayah yang sedang memanjakan anak laki-lakinya. Terus juga jika dilihat lagi, mereka berdua mirip.
Orang akan mengira jika Jeri memang anak kandungnya Roni.
"Diam kamu!" ucap Roni dengan kesal. Satria terus-terusan berkata Jeri anaknya. Senang sekali Satria meledeknya.
Satria kini meraih ponsel, ada panggilan masuk dari nona Maudy.
Begitu ponsel ditempel di telinga, Satria segera menjauhkannya. Suara wanita itu memekikkan telinga.
"Ini, nona. Jeri sedang bersama papanya." jawab Satria yang membuat Roni kembali menatapnya dengan sengit.
"Apa?" wanita di seberang sana tampak kaget sekali.
Lagi, Satria menjauhkan ponsel. Benar-benar nona Maudy selalu berteriak, seperti tarzan saja.
"Kalian di mana?"
"Masih di lantai 1. Ini mau-" Satria mendengus. Maudy telah mengakhiri panggilan begitu saja.
Padahal ia mau mengatakan mereka akan segera ke ruangannya.
"Siapa yang menelepon?" tanya Roni. Mereka kini sudah masuk ke dalam lift dan pandangan orang-orang melihati dirinya yang menggendong seorang anak.
Orang-orang pada berbisik-bisik. Tah apa yang dibicarakan, ia juga tidak dengar. Bisikkan yang seperti kumur-kumur.
"Mamanya, pak." jawab Satria.
"Pa, besok antar Jeri ke sekolah ya." harap bocah itu. Ia akan memamerkan papanya itu. Biar teman-temannya tahu jika ia punya papa juga.
Roni hanya tersenyum tipis. Bocah kecil itu masih saja menganggap ia papanya.
"Pa, nanti kita main bola ya."
"Pa, nanti kita berenang ya."
"Pa, nanti kita ke pantai ya."
Jeri mengatakan semua keinginannya pada pria itu. Hal yang selalu dibayangkan akan dilakukan jika punya papa.
"Papa..." Kini mata Jeri sudah berair menatap pria yang sedang menggendongnya. Papanya dari tadi tidak menjawab dan hanya diam saja.
Roni memang tidak tega pada anak kecil. "Baiklah, Jeri."
"Terima kasih, papa. Jeri sayang sama papa." ucap anak laki-laki itu dan kembali memeluk Roni. Begini rasanya punya papa. Apa yang dia mau dituruti. Senang rasanya.
"Sama-sama, Jeri. Papa juga sayang sama kamu."
Itu bukan Roni yang menjawab, melainkan Satria. Satria gemas sekali melihat interaksi mereka.
"Satria, kamu bisa diam tidak?!"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
wah benar"maudy g akan berkutik krn Jeri g mau pisah dg Roni g tega dg anak kecil Pertemuan ke 2 Jeri dan Roni pertama saat masih 2 thn di taman ke 2 kantor Mama
2024-09-01
1
umatin khuin
haha...cu bgt sih jeri...nganggap roni itu papanya....roni2 ko g ingat jeri ama maudy sih...hmmm
2024-08-13
3
LISA
Roni udh cocok deh jdi papanya Jeri..
2024-08-13
2