"Jeri, papa sedang sibuk. Tidak bisa pulang bersama Jeri." ucap Maudy memberi alasan.
Wanita itu kini yakin sekali, tah apa saja yang sudah dikatakan pria modus itu pada Jeri. Putranya sudah didoktrin pria itu.
Maudy melihat putranya yang juga melihatnya dengan tatapan polos. Jeri masih sangat kecil, mudah sekali mengelabuhi bocah tersebut.
"Mama, telepon papa dulu. Tadi papa sudah janji akan bertemu Jeri lagi." ucapnya. Papa Roni tadi pamitnya begitu, kerja dulu dan akan menemuinya kembali.
'Apa yang sudah diajarkan pria modus itu pada Jeri?!' rasanya Maudy ingin meremas-remas si papa jadi-jadian itu.
Putranya bisa begitu lengket dan manja pada pria itu. Malah menganggap Roni papanya.
"Jeri, om Roni bilang apa saja sama Jeri?" tanya Maudy ingin tahu. Jeri masih kecil pasti bicara jujur.
"Papa bilang kalau Jeri tidak boleh menangis, karena Jeri anak laki-laki."
"Terus apa lagi?" tanya Maudy merasa tidak puas dengan jawaban putranya. Tidak Roni mungkin mengatakan itu.
"Papa juga bilang Jeri harus nurut sama mama."
Maudy makin kecewa, bukan itu yang mau didengarnya. Doktrin pria modus itu yang ingin didengarnya.
Karena mereka bicara sambil berjalan dan bergandengan tangan, kini mereka telah sampai di depan mobil yang terparkir.
"Mama, telepon papa!" ucap Jeri. Gara-gara cerita sama mamanya, membuatnya lupa jika papa Roni akan menemuinya.
Jeri tidak mau nanti ketika papa Roni datang ke ruangan mamanya, mereka sudah pulang. Nanti papanya tidak mau bertemu lagi dengannya.
Begitulah pemikiran bocah kecil tersebut.
"Mama, telepon papa cepat!" paksa Jeri menggoyang-goyangkan tangan mama Maudy.
"Mama tidak punya nomor papa, sayang." ucap Maudy kemudian.
Memang ia tidak punya nomor pria modus itu, lagian untuk apa juga ia menyimpan nomornya.
"Tanya sama om Satria, pasti punya nomor papa." saran Jeri. Ia melihat Satria akrab dengan papa Roni. Pasti menyimpan nomor papanya.
"Sayang, ayo kita pulang ya. Nanti kita beli ayam kriuk. Jeri juga mau mandi bola, nanti kita ke sana." Maudy berusaha melupakan pikiran Jeri tentang papa jadi-jadian itu. Mengatakan semua kesukaan putranya.
"Mama, telepon papa dulu!" desak Jeri kembali.
Sepertinya bujukkan Maudy tidak berlaku.
"Mama!" ucap Jeri saat mama Maudy menaikkannya ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman.
"Mama, telepon papa dulu. Bilang kalau kita sudah pulang!" Jeri memaksa mamanya yang baru naik ke mobil dari pintu pengemudi.
"Mama!" Jeri masih merengek juga.
"Pesan papa tadi apa? Jeri tidak boleh nangis! Mau mama bilang sama papa kalau Jeri nangis?" Maudy kini seperti punya cara baru untuk membuat putranya menurut.
Jeri jadi menyesal menceritakan pada mamanya. Jika nanti mama bilang pada papa kalau dia menangis, papanya nanti akan pergi lagi dan tidak mau bertemu dengannya. Bisa tidak punya papa lagi dia.
"Jeri tidak mau nanti papa kecarian, ma." ucap Jeri dengan suara lemah.
"Papa sibuk, sayang. Nanti papa pasti akan menemui Jeri lagi." kini Maudy membujuk putranya.
"Mama sayang sekali sama Jeri." ucap Maudy kini mengecupi kedua pipi putranya. Bocah gembul itu cemberut padanya.
"Ma, nanti telepon papa ya. Mama tanya kapan papa menemui Jeri lagi."
Maudy melihat putranya yang berwajah sangat berharap. Jeri begitu merindukan sosok itu, hingga pria modus itu pun diakui sebagai papanya.
"Nanti mama telepon papa ya." Maudy mengangguk pelan, diiyakan saja dulu.
"Yee!" Jeri bersorak gembira. Ia akan bertemu papanya lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Pak Roni." panggil Satria berlari mengejar pria yang baru keluar dari ruangan.
Mendengar Satria memanggil namanya, Roni mempercepat langkah. Ia menghindari pria menyebalkan itu.
"Pak, selamat ya." ucap Satria seraya menepuk bahu Roni. Ia berhasil menyamakan langkah dengan pria itu.
"Saya tidak sedang berulang tahun!"
"Bukan selamat untuk itu, pak. Tapi selamat telah menjadi seorang papa."
Roni menghentikan langkah dan menatap tajam pada Satria. "Saya bukan papanya!"
"Tapi, Jeri sudah menganggap anda papanya." ucap Satria kembali mengejar Roni yang sudah mendahuluinya.
"Pak, apa anda sebelumnya pernah punya hubungan dengan nona Maudy?" tanya Satria ingin tahu. Penasaran kenapa Jeri bisa begitu lengket pada Roni.
Jeri itu tidak pernah mengakui pria manapun sebagai papanya. Meskipun banyak karyawan pria yang sengaja mendekati dan mengajak bicara, bahkan Jeri sering diberikan hadiah.
Dulu setiap Jeri datang, Satria yang selalu disuruh Maudy untuk menemani putranya itu jajan.
Saat bersamanya, banyak yang menghampiri Jeri dan tidak ada yang berhasil mendapatkan hati bocah itu. Tapi, kenapa dengan Roni bisa? Padahal tadi Roni diam saja dan Jeri sendiri yang tiba-tiba memanggilnya papa.
Pasti ada ikatan batin kan di antara mereka.
"Saya tidak pernah kenal dia!" jelas Roni. Kenal saja tidak, punya hubungan bagaimana. Meski dulu sempat mengenal si Eneng, tapi itu hanya sekedar kenal. Mereka tidak pernah dekat.
Satria tidak percaya pada perkataan Roni. "Apa nona Maudy mantan anda, pak?"
"Satria, kamu jangan buat gosip! Saya tidak punya hubungan apapun dengan nona Maudy!" Roni mempertegas ucapannya.
Mantan pacar?
Yang benar saja. Buat merinding saja.
"Tapi, pak. Anda dan jeri sangat mirip, jadi saya pikir mungkin saja Jeri itu anak anda." itu yang dipikirkan Satria.
Mendengar itu Roni berbalik dan kembali menatap tajam pada Satria.
"Jeri bukan anak saya, Sat!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Roni mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ia membelah jalanan di sore yang mulai macet tersebut. Jam pulang kerja, jadi wajar kenderaan menumpuk di jalanan.
Tan tin tan tin... Begitulah suara klakson saling menyahut. Berisik sekali jalanan di sore yang masih cerah itu.
Tak berapa lama, mobil pun masuk ke halaman kost-an. Setelah memarkirkan mobil, Roni pun turun.
Saat Roni turun dan akan berjalan menuju kamar kost-nya, sepasang mata memperhatikannya.
Roni sudah membuka pintu kamar kost dan saat akan masuk,
"Hmm." suara deheman.
Roni membalikkan badan. Melihat siapa yang berdehem.
"Mama menyuruhku mengantar ini!" ucap Cici dan memberikan piring berisi beberapa potong ayam goreng.
"Terima kasih." balas Roni. Ia meraih piring dan langsung menutup pintu.
Bugh... Suara pintu tertutup. Cici masih di depan pintu.
Cici menghembuskan nafasnya pelan dan menggerutu dalam hati. Pria itu tidak ada basa basinya sama sekali. Seharusnya kan tah bilang apa kek, ini cuma bilang terima kasih doang.
Merasa kesal, Cici pun segera kembali ke rumahnya. Saat akan masuk kamar ia melihat mamanya di dapur.
"Ci, tadi mama goreng ayam banyak loh. Kenapa tinggal sedikit ya?" tanya ibu kost merasa kebingungan. Ayam yang digorengnya satu piring penuh dan kini hanya tinggal 3 potong. Kemana ayam-ayamnya itu pergi?
"Dimakan kucing mungkin, ma!"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
ee2oh Ayam goemrengnya di curi Cici anakmu dikassihkan Roni hehe Cici modus
2024-09-02
2
umatin khuin
owalah cici...cici...sok''an g mau ama roni...sekarang kepincut kan...hehe...pake nyuri ayam goreng emak lg....
2024-08-18
2