Satria berada di kamar kost Roni. Ia melihat betapa sempitnya kost-an tersebut.
Kehidupan Roni berubah drastis. Dulu atasannya itu memiliki rumah yang cukup bagus di komplek perumahan. Tapi, katanya setelah resign rumah itu pun dijual untuk modal membuka usaha.
Dan usahanya tidak berjalan lancar.
Sebenarnya Satria ingin sekali mengajak Roni tinggal saja di rumahnya. Ia sedang tinggal sendirian di rumah yang cukup besar. Tapi mulutnya tidak berani mengatakan maksud hatinya. Takut Roni tersinggung padanya.
Satria menggelengkan kepala. Biarkan sajalah, ia tidak mau ikut campur urusan pribadi dan agak sensitif itu. Pasti nanti atasannya itu akan kembali membeli rumah dengan uang hasil gajinya bekerja.
"Mau makan apa, Sat?" tanya Roni setelah keluar dari kamar mandi. Ia mulai lapar, perutnya minta diisi.
"Apa yang enak, pak?" tanya Satria seraya mendudukkan diri di tempat tidur.
Tak lama, mereka kini sedang makan di warung bakso yang tidak jauh dari kost-an Roni. Hanya perlu berjalan kaki sebentar, mereka sudah sampai di warung bakso itu.
"Sat, ponselmu!" Roni memberitahu Satria ponsel yang bergetar di atas meja.
"Saya jawab sebentar, pak." ucap Satria langsung meraih ponsel tersebut. Itu panggilan penting, jika lama dijawab wanita itu akan merepet.
"Halo... Selamat malam, nona." sapa Satria dengan semangat sekali.
"Lama sekali kamu jawab telepon dari saya!" ucap Maudy dengan nada kesal. Ia jadi harus berkali-kali mendengar nada tut tut tut itu.
"Maaf, nona. Saya kelamaan."
"Sat, lusa saya sudah kembali ke kantor. Segera kamu kirimkan pekerjaan yang beberapa hari ini saya tinggalkan!" pinta Maudy ke intinya. Besok ia sudah kembali pulang dan akan kembali pada tanggung jawabnya.
"Siap, nona. Malam ini akan segera saya kirimkan pada anda!"
"Terima kasih."
"Sa-" belum lagi Satria menjawab. Maudy sudah mengakhiri panggilan begitu saja.
Satria memaklumi. Sikap atasannya memang begitu. Menelepon jika ada perlu saja dan segera mengakhiri jika dirasa tidak perlu lagi.
"Telepon dari nona Maudy, pak. Lusa nona sudah kembali ke kantor." Satria memberitahu kabar tersebut.
Satria juga memberitahu jika Maudy itu anak dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Makanya wanita itu menempati posisi wakil direktur di usia yang masih muda.
Roni mengangguk mengerti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Siang itu, Maudy tersenyum sambil bergandengan tangan dengan sang putra.
"Mama, apa opa dan oma akan menjemput kita?" tanya bocah kecil itu. Ia merindukan keduanya dan ingin segera bertemu.
"Iya, nak. Opa dan oma sudah menunggu di depan."
"Ayo, ma!" Jeri pun menarik mamanya untuk berjalan lebih cepat.
Maudy mengikuti sambil menggeret koper bawaan mereka.
"Opa, oma!" teriak Jeri saat melihat kedua orang tua melambaikan tangan.
"Sayang, jangan lari-lari!" ucap Maudy khawatir. Putranya segera melepas tangannya dan berlari ke arah opa dan omanya.
Maudy takut putranya terjatuh dan terluka. Ia tidak mau melihat dan mendengar Jeri menangis lagi.
"Oma sangat merindukan Jeri." ucap oma Novia memeluk cucu semata wayangnya. Beberapa hari Jeri pergi, rumah sangat sepi. Ia merasa sangat kehilangan.
Jeri dipeluk bergantian oleh opa dan omanya. Ia juga senang bertemu dengan mereka.
"Ayo, kita pulang." ajak opa Agus yang langsung menggendong cucunya. Jalan ke parkiran mobil cukup jauh, nanti cucu kesayangannya bisa kecapekan.
"Opa, Jeri bawa banyak ole-ole untuk opa dan oma." ucapnya memberitahu. Mereka sempat membeli itu.
"Terima kasih ya cucunya opa." ucap opa Agus sambil tersenyum. Jeri selalu mengingat mereka.
"Mama juga belikan Jeri mainan pesawat terbang." ucapnya memberitahu. Mainannya tambah banyak sekarang.
Opa Agus tersenyum. Cucunya tampak sangat senang sekali.
Di perjalanan, Jeri duduk di kursi belakang dengan omanya. Sementara Maudy duduk di sebelah papanya yang mengemudikan mobil.
"Jeri sangat mengantuk." ucap oma Novia membenarkan posisi tidur cucunya, biar lebih nyaman.
"Iya, ma. Tadi di pesawat Jeri tidak tidur." ucap Maudy. Selama di pesawat mata putranya tidak terpejam.
Padahal ia sudah menyuruh untuk tidur sebentar, karena perjalanan mereka begitu panjang. Tapi tetap setiap ia terbangun putranya masih terjaga.
"Jeri tidak tidur, nak?" tanya Maudy. Ia tadi terpejam sebentar. Tidak bisa tidur nyenyak di pesawat.
Bocah itu menggeleng. "Mama tidur saja, Jeri akan jagai mama."
Maudy terenyuh. Putranya membuat hatinya menghangat.
"Mama tidur lagi saja!" ucap Jeri. Ia menyandarkan kepala mamanya yang besar ke bahunya.
Hati Maudy begitu terharu. Jeri begitu pengertian.
"Mama, terima kasih ya selalu menyayangi Jeri." ucapnya seraya menggenggam tangan yang lebih besar darinya itu.
Air mata Maudy berlinang. Ia kembali diliputi rasa menyesal dan bersalah, karena saat itu sempat akan membuang Jeri. Dulu ia juga sempat menganggap Jeri itu beban dan aib baginya.
"Terima kasih, nak. Mama juga sangat sayang sama kamu."
Maudy melihat Jeri dengan mata berkaca-kaca. Bocah polos yang begitu tulus dan menggemaskan.
Setelah sampai rumah, Maudy menurunkan Jeri dari mobil. Ia menggendong Jeri menuju kamar.
Putranya itu makin hari makin tinggi, makin besar dan makin berat pastinya. Tapi walau begitu, Maudy masih sanggup menggendongnya.
Maudy segera mengganti baju putranya. Selama melepaskan pakaian, Jeri begitu anteng. Tidak terganggu sama sekali.
"Aku mandi dululah." gumam Maudy. Tubuhnya terasa lengket. Ia akan berendam sejenak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Maudy, bangunin Jeri. Kita akan makan malam!" pinta oma Novia pada putrinya.
Maudy mengangguk dan berjalan ke kamar anaknya.
"Jeri, ayo bangun sayang!" ucap Maudy begitu masuk kamar.
"Papa, papa!" ucap Jeri dalam pejamnya. Bocah itu juga berkeringat.
"Jeri, ayo bangun!" Maudy mencoba membangunkan Jeri lagi. Putranya pasti bermimpi buruk.
"Papa, papa, huhuhu..." Jeri terbangun dan langsung menangis ia bermimpi bertemu papanya.
"Sudah, nak. Kamu cuma mimpi. Mama di sini." Maudy memeluk dan menenangkan putranya. Tah mimpi apa Jeri hingga memanggil-manggil papa.
"Ma, tadi Jeri mimpi papa." ucap Bocah itu melihat mamanya.
Maudy bingung mau menanggapi. Ia malas membahas papa.
"Cuma mimpi itu, sayang." Maudy mengusap air mata di wajah Jeri.
"Papa pergi setelah melihat Jeri. Terus Jeri kejar, tapi papa terus lari." cerita Jeri masih sambil menangis.
Maudy membuang nafasnya pelan. Wajar saja Jeri mimpi begitu, karena memang papa kandungnya kabur begitu diminta tanggung jawab.
"Jeri cuma mimpi. Ayo, bangun! kita akan makan malam." ajak Maudy menutup pembahasan itu.
Maudy menggendong Jeri dan menurunkan di kamar mandi. Ia menyuruh sang anak untuk mencuci muka, biar segar kembali.
"Oma sudah masak ayam kriuk untuk Jeri." ucap Maudy setelah mengelap wajah Jeri dengan handuk.
Mendengar ayam kriuk, Jeri lupa akan mimpinya. Ia sangat suka ayam kriuk, itu makanan favoritnya.
"Ayo, ma. Kita makan!" kini Jeri menarik mamanya untuk segera ke ruang makan.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
ajer8 minpi bertemu Papa kandungnya Denis /orang lain yg akan jd Papa sambung Jeri
2024-08-31
1