Bab 4 - Akan Menakuti

"Sayang, Jeri jangan nangis lagi ya." bujuk Maudy sambil memeluk sang putra.

Tadi guru tk Jeri menelepon dan mengatakan jika putranya menangis dan tidak mau berhenti. Makanya ia pun buru-buru datang.

"Hu, hu, hu... Kata Nanda, Jeri tidak punya papa, ma." bocah kecil itu menangis sampai terisak-isak. Ia sedih karena tidak memiliki papa seperti teman-teman lainnya.

"Sudah ya, Jeri jangan nangis lagi. Nanti mama belikan robot-robotan." bujuk Maudy. Ia sudah tidak berani lagi mengatakan jika papanya Jeri, sudah mati dan dimakan cacing. Nanti putranya bisa makin bersedih. Jadi menyesal pernah membuat alasan itu.

"Tadi Nanda juga bilang, katanya Jeri anak haram. Padahal Jeri kan anaknya mama." bocah kecil itu mengadukan semua apa yang dikatakan temannya itu.

Maudy meremas tangannya, anak sekecil itu kenapa bisa mengatakan hal tersebut. Pasti mendengar pembicaraan orang tuanya.

"Mama akan bicara sama Nanda, biar dia tidak menganggu Jeri lagi ya." Maudy mengelus kepala lalu mengusap air mata di wajah polos itu. Hatinya begitu sangat sedih melihat putra kesayangannya menangis sampai sesedih itu.

Maudy kini melihat bocah laki-laki yang berdiri melihati mereka, wajah anak itu tampak ketakutan.

"Kamu yang bernama Nanda?" tanya Maudy dengan tatapan tajam. Anak sekecil itu berani sekali membuat putranya menangis. Ia tidak akan merasa kasihan karena menganggap masih anak-anak.

"I-iya, tante." jawab Nanda yang ketakutan. Mamanya Jeri seperti hantu, sangat menyeramkan.

"Kamu dan Jeri kan teman sekelas. Sebagai teman kamu tidak boleh mengatakan hal buruk pada temanmu. Kalau membuat teman sekelas menangis, kamu bisa dicampakkan ke neraka. Dibakar hidup-hidup. Mulut kamu yang bicara buruk pada Jeri, akan tusuk dengan besi panas!" Maudy menakuti bocah kecil itu.

"Bu, sudahlah!" ucap Bu guru mengingatkan. Mamanya Jeri bukan menasehati malah menakuti.

"Huwa... Mama!!!" Nanda pun menangis, Maudy membuatnya takut.

"Kenapa kamu membuat anakku menangis?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke ruang guru.

Melihat orang yang masuk, Nanda pun berlari ke arahnya.

"Mama, aku takut!" ucapnya masih sambil menangis.

"Kenapa kamu membuat anakku menangis?" tanya wanita itu tidak senang.

"Kita perlu bicara!" Maudy menarik wanita itu.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"Kenapa kamu membuat anakku menangis?" tanya Angel tidak terima wanita itu memarahi anaknya. Mereka kini berada di ruangan lain yang sedang kosong.

"Anakmu yang mulai duluan! Dia membuat anakku menangis!" jawab Maudy tidak mau kalah.

"Apa kamu tidak bisa mendidik anak? Kamu itu tidak becus!" Maudy berkacak pinggang dengan gaya sombongnya.

Angel memelototi Maudy. Seenaknya saja mengatakan ia tidak becus jadi orang tua.

"Anak sekecil Nanda saja, bisa mengatakan hal buruk. Orang tua macam apa yang mengajarkan keburukan pada anaknya!" Maudy melengos. Putranya Angel bisa bicara perihal anak haram, pasti mendengar dari mulut wanita jahanam ini saat bicara yang tidak-tidak.

"Aku tidak pernah mengajarkan anakku hal buruk. Kamu jangan sembarangan bicara!"

"Terus kenapa anak sekecil itu bisa mengejek Jeri tidak memiliki papa? Dan yang lebih parah, anakmu itu mengatakan anakku anak haram! pasti mulut busukmu pasti yang mengatakan itu!" Maudy memelototi wanita yang tampak kaget.

Angel kaget mendengar putranya mengatakan hal itu. Ia tidak pernah bercerita apapun pada Nanda. Wanita itu mulai mengingat, saat ia sering menggosipi Maudy di telepon. Dan mungkin saja anaknya mendengar pembicaraannya.

"Ka-kamu omongan anak kecil saja didengar dan dipermasalahkan. Kekanak-kanankan sekali sikapmu!" Angel membela diri. Maudy lebay, hal sepele saja jadi masalah.

Maudy rasanya mau menerkam wanita di hadapannya itu. "Masih kecil saja sudah berucap buruk, bagaimana besarnya nanti! Anak itu dari kecil harus diberitahu!"

"Kamu juga harus beritahu anakmu asal usulnya dari mana dan masa lalumu itu. Sudah kabur dari pernikahan, hamil dengan pria lain. Dan anakmu tidak diakui ayahnya. Apa kamu sudah memberitahu itu?" Angel tersenyum sinis. Maudy sok menasehati cara bijak mendidik anak, wanita sombong itu saja tidak jelas.

"Kau!" Maudy akan melayangkan tangannya. Ia geram sekali ingin menampar mulut jahanam wanita itu.

"Maudy-Maudy. Makanya jadi wanita yang benar, kasihan anakmu itu. Anak haram dan tidak diakui ayahnya. Kan jadi kasihan sekali nasibnya, tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh seperti Nanda. Kasih sayang dari papa dan mama, bisa mempengaruhi pertumbuhan anak lho!" Angel berkata dengan senyuman miring.

"Makanya di masa lalu jadi wanita bener, jangan seperti jallang!" bisiknya kembali.

Plak... Tangan Maudy pun melayang juga. Angel lebih baik ditampar. Makin menjadi-jadi menyulut emosinya.

"Kau berani menamparku?!" Angel akan membalas dan Maudy menahan tangan Angel.

"Aku akan jadi jallang dari suamimu!" ucap Maudy menaikkan alisnya.

Angel tampak bingung mencerna apa maksud perkataan Maudy.

"Apa kamu mau jadi pelakor? Kamu mau merebut suamiku?" Angel tidak habis pikir. Maudy berniat begitu.

"Katamu aku jallang! jadi aku akan menggoda suamimu. Lihatlah aku cantik, seksi dan begitu menggoda. Mustahil suamimu bisa menahan diri!" Maudy tersenyum sinis. Ia akan memberikan pelajaran pada wanita itu.

"Kamu!!! Ja-jangan macam-macam pada suamiku!" Angel mulai takut. Ia bagaikan upil jika dibandingkan dengan Maudy. Maudy itu wanita yang sangat, sangat, sangat cantik. Bahkan saat di kampus dulu wanita itu begitu populer dan digilai para lelaki.

Jika Maudy benar-benar menggoda suaminya, habislah dia. Keluarganya bisa hancur berantakan.

"Jika tidak mau aku menggoda suamimu, ajari anakmu yang benar. Jika ku dengar anakmu berucap buruk pada putraku lagi, aku tidak segan merebut papanya untuk menjadi papanya Jeri!" ancam Maudy.

"Maudy!!!" teriak Angel kesal. Ia kalah telak dari wanita itu.

Maudy tersenyum puas dan meninggalkan wanita itu.

Maudy kini kembali pada putranya. "Ayo nak kita pulang!"

Maudy pun menggendong Jeri.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"Pak-Pak Roni?"

"Kamu mengenal saya?" tanya Roni melihat ke pria yang order ojeknya.

"Saya dulu bawahan anda di Perdana grup, Pak." Satria mengingatkan.

Pengendara ojek itu mengangguk. Ia mulai mengingat.

Satria pun mengajak Roni ke sebuah kafe. Ia ingin mengobrol dengan atasan lamanya.

"Jadi kamu sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi?" tanya Roni. Ia juga dulu sempat lama bekerja di sana, tapi terpaksa keluar karena itu perusahaan milik suami dari wanita yang pernah ditinggalkan saat hari pernikahan.

"Tidak, pak. Semenjak anda resign, suasana kantor sudah tidak nyaman lagi. Apa lagi dengan bu Upik, mantan anda itu sangat menyebalkan!" cerita Satria mengingatkan sedikit.

Roni malah terkekeh mendengar bu Upik mantannya. "Bu Upik bukan mantan saya, Sat!"

"Tapi bu Upik galau dan uring-uringan tidak jelas semenjak anda resign. Ia juga jadi kejam dan mau marah-marah saja!" cerita Satria. Itu yang membuatnya resign juga, tidak sanggup jadi bawahan wanita itu.

"Sekarang pak Roni bekerja di mana?" tanya Satria. Ia melihat penampilan Roni yang kusam dan kulitnya agak gelap. Mungkin karena kena polusi dan panas-panasan di jalan.

Padahal dulu saat masih bekerja di kantoran, Roni itu salah satu karyawan populer di kalangan para karyawan wanita. Makanya bu Upik mengejar-ngejarnya.

"Lagi tidak ada kerjaan, saya narik ojek." jawab Roni. Ia jadi agak minder dengan kehidupannya sekarang.

"Oh... saya boleh minta nomor anda, pak."

Roni mengangguk dan memberikan nomor ponselnya.

Kini Satria melirik arlojinya, sudah masuk jam makan siang. Ia harus segera ke kantor, nona Maudy akan memarahinya jika ia mengular.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

penasaran siapa Papa Nanda dan suami Angel apa Denis/orang lain

2024-08-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!