Bab 10 - Jeri Sayang Mama

Roni masuk ke ruang rapat, hari ini akan rapat dengan wakil direktur. Tapi saat masuk tidak ada siapapun di sana. Ia melihat arloji yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Rapatnya akan diadakan pukul 10.

Satria yang baru masuk terkejut melihat Roni berada di ruangan itu.

"Kenapa anda kemari, pak?" tanya Satria. Rapat diundur hingga pukul 2.

"Bukannya kita akan rapat?" tanya Roni. Tadi informasinya begitu.

Satria menepuk jidatnya, ia lupa memberitahu Roni.

"Maaf, pak. Rapat diundur dan akan dilaksanakan pukul 2. Nona Maudy sedang keluar untuk menjemput anaknya pulang sekolah."

Begitulah tadi yang dikatakan Maudy. Wanita itu mengundur rapat dan tidak ada yang berani komplen atau pun protes. Malah banyak yang berharap rapat dengannya tidak jadi saja.

"Oh, begitu." Roni mengangguk. Wanita itu tadi tampak sombong dan angkuh, ditambah pemarah. Tapi sepertinya penyayang anak.

"Baiklah, saya kembali ke ruangan saja." ucap Roni. Ia akan melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.

Satria mengangguk.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Maudy telah sampai rumah, ia menggantikan pakaian anaknya. Setelah selesai ia mengajak untuk makan siang.

Maudy berencana setelah makan siang, baru akan kembali ke kantornya. Banyak pekerjaan yang menunggunya.

Jeri makan dengan lahap. Maudy membiarkan putranya makan sendiri. Putranya makan belepotan, nasi-nasi menempel di wajah.

Dan Maudy mengutipi nasi di wajah gembul itu. Ia senang, anaknya makan dengan lahap.

"Mama, tidak ke kantor?" tanya Jeri masih sambil mengunyah. Biasanya mamanya hanya mengantar saja, hari ini menjemput dan menemaninya makan siang.

"Setelah Jeri makan, mama akan kembali ke kantor." jelas Maudy. Ia tadi sengaja menjemput Jeri, karena takut putranya dibuly anaknya Angel lagi.

Dan ia bersyukur, Nanda tidak mengatai anaknya lagi. Takut jika ucapan itu mempengaruhi mental anaknya.

Jika Nanda atau ada anak lain yang menganggu putranya, ia tidak akan bersikap wajar pada mereka. Meskipun mereka itu anak-anak.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Maudy kembali masuk ke kantor. Ia berjalan cepat karena harus menghadiri rapat dengan para karyawan.

"Ayo, kita mulai!" ucap Maudy membuka pintu ruang rapat.

Orang-orang yang berada di ruangan itu terkejut pada orang yang tiba-tiba masuk. Ternyata nona Maudy yang datang.

Tidak ada yang berani komplen saat Maudy telat 15 menit dalam rapat. Tapi jika ada karyawan yang telat datang rapat, akan dimarahi habis-habisan.

Roni yang berada di ruang rapat juga melihat wanita itu. Ternyata benar wanita yang tidak sengaja bersenggolan dengannya di parkiran adalah nona Maudy. Atasan mereka.

"Apa saja yang kalian kerjakan?" tanya Maudy saat salah satu karyawan mempresentasikan kinerja divisi mereka.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, nona." jawabnya membela diri. Mereka sudah melakukan yang terbaik.

Maudy berdecih. Berusaha apa jika hasil terus menurun. Tidak mengalami kemajuan.

"Saat rapat bulan depan, jika tidak ada peningkatan. Saya pecat kamu!" ucap Maudy dengan nada datar dan terkesan dingin.

Orang-orang yang berada di ruangan itu mulai gugup dan takut. Aura wanita itu kuat sekali. Sangat menyeramkan.

Maudy mengepakkan tangan. Mengisyaratkan karyawan itu untuk tidak melanjutkan presentasenya.

Kini giliran Roni. Walau gugup, karena sudah lama tidak bicara di depan banyak orang. Tapi ia harus tenang dan bisa mengendalikan diri.

Maudy melihat dan mendengarkan dengan serius presentase yang disampaikan Roni. Ia ingat teman yang direkomendasikan Satria, yang katanya sangat pengalaman. Jadi akan melihat seperti apa kinerjanya selama seminggu ini.

Dan sepertinya memang sangat pengalaman. Selama seminggu ini, kinerja divisi itu mengalami peningkatan.

Mata Maudy menyipit saat mulai mengingat pria itu. Itu pria yang menabraknya di parkiran. Pria yang memanggilnya dengan sebutan Bu dan bukanlah Nona.

Tapi, Maudy berpikir sejenak. Wajah pria itu tidak asing. Mereka seperti pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana? Ia tidak ingat itu.

Rapat tak lama selesai juga. Orang-orang keluar dari ruangan itu dan bernafas lega. Rapat dengan nona Maudy sangat menegangkan, seperti naik roller coaster. Tidak bisa diprediksi kapan akan berteriak.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"Jeri, gambar apa nak?" tanya Maudy mendatangi sang putra yang tampak sibuk sekali.

Wanita itu duduk di sebelah putranya. Ia membawakan buah.

"Makan dulu, nak." Maudy menyuapkan buah yang telah dipotong ke mulut Jeri. Membuat pipi itu jadi menggembung.

"Ma, lihat ini!" ucap Jeri menunjukkan yang telah dibuatnya.

Maudy terdiam membaca apa yang ditulis si anak. Hatinya campur aduk saat ini.

Jeri menggambar seorang wanita yang sedang bergandengan tangan dengan anaknya. Di bawah gambar itu tertulis, Jeri sayang mama.

Bocah itu sudah pandai menulis dan membaca.

"Jeri pintar sekali, nak." puji Maudy dengan nada bergetar. Ia pun mengelus kepalanya dengan sayang dan menciumi pipinya.

"Namanya Jeri anak mama Maudy!" balas Jeri dengan bangga.

Maudy jadi tersenyum. Ia gemas dengan putranya dan mencubiti pipi sang anak.

"Ma, Jeri mau tunjukkan pada opa dan oma!" bocah itu pun berlari ke teras belakang rumah membawa buku gambarnya. Opa dan omanya sedang duduk-duduk di sana.

Sementara Maudy mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir. Kembali merasakan sesak, menyesal dan perasaan bersalah pada Jeri. Kesalahannya karena sempat membuang putranya di jalan.

Maudy tidak mau terus bersedih dan diliputi rasa itu. Ia akan meyakinkan dirinya bahwa ia tidak pernah membuang putranya, buktinya Jeri kini ada di sisinya, ada bersamanya.

Meninggalkan jeri di pinggir jalan memang kesalahannya, tapi ia kan segera berlari meraih kembali buah hatinya. Ia sadar dan sangat menyesal dengan pikiran dangkal yang sempat terlintas itu. Dan akan mulai melupakan itu.

"Jeri, ayo makan buah lagi!" Maudy pun berjalan ke belakang rumah. Ia kembali menyuapi putra tercintanya.

"Mama juga makan ya." kini gantian Jeri yang menyuapi mamanya buah.

"Terima kasih, nak." Maudy menerima suapan dari sang anak. Tersenyum disuapi anaknya.

"Opa dan oma juga." Anak laki-laki itu juga menyuapi mereka.

"Terima kasih, Jeri." ucap mereka juga senang sekali.

Beberapa saat kemudian, waktu kini sudah menunjukkan pukul 9 malam. Jeri masih menonton tv dengan opa dan omanya.

Maudy datang dengan membawa segelas susu hangat.

"Jeri, ayo minum susu!"

Jeri pun menghabiskan susunya.

"Ayo, kita tidur." ajak Maudy.

Bocah kecil itu pun merentangkan tangan, ia minta digendong. Dan dengan sigap sang mama menggendongnya.

"Opa, oma, Jeri tidur dulu ya." pamitannya.

"Jangan lupa gosok gigi dan cuci kaki sebelum tidur." pesan oma Novia.

"Nanti jangan lupa berdoa juga." opa Agus ikut berpesan.

"Siap opa, siap oma!" ucap Jeri dengan semangat.

Setelah gosok gigi dan cuci kaki. Kini Jeri sudah berbaring di tempat tidur. Mama Maudy berada di samping.

"Baca doa tidur dulu!"

Jeri tampak komat kamit, lalu tangannya mengusap wajah. Tanda ia sudah selesai berdoa.

Maudy menepuk-nepuk pelan pundak sang anak. Ia menidurkan Jeri sambil bersenandung kecil.

Dan tak butuh waktu lama, Jeri sudah terlelap saja.

"Mimpi indah ya, kesayangan mama."

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

kalin memang cocok dan berjodoh sm"lupa kl pernah bertemu di taman hehe

2024-08-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!