Roni masuk ke ruang rapat, hari ini akan rapat dengan wakil direktur. Tapi saat masuk tidak ada siapapun di sana. Ia melihat arloji yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Rapatnya akan diadakan pukul 10.
Satria yang baru masuk terkejut melihat Roni berada di ruangan itu.
"Kenapa anda kemari, pak?" tanya Satria. Rapat diundur hingga pukul 2.
"Bukannya kita akan rapat?" tanya Roni. Tadi informasinya begitu.
Satria menepuk jidatnya, ia lupa memberitahu Roni.
"Maaf, pak. Rapat diundur dan akan dilaksanakan pukul 2. Nona Maudy sedang keluar untuk menjemput anaknya pulang sekolah."
Begitulah tadi yang dikatakan Maudy. Wanita itu mengundur rapat dan tidak ada yang berani komplen atau pun protes. Malah banyak yang berharap rapat dengannya tidak jadi saja.
"Oh, begitu." Roni mengangguk. Wanita itu tadi tampak sombong dan angkuh, ditambah pemarah. Tapi sepertinya penyayang anak.
"Baiklah, saya kembali ke ruangan saja." ucap Roni. Ia akan melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.
Satria mengangguk.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Maudy telah sampai rumah, ia menggantikan pakaian anaknya. Setelah selesai ia mengajak untuk makan siang.
Maudy berencana setelah makan siang, baru akan kembali ke kantornya. Banyak pekerjaan yang menunggunya.
Jeri makan dengan lahap. Maudy membiarkan putranya makan sendiri. Putranya makan belepotan, nasi-nasi menempel di wajah.
Dan Maudy mengutipi nasi di wajah gembul itu. Ia senang, anaknya makan dengan lahap.
"Mama, tidak ke kantor?" tanya Jeri masih sambil mengunyah. Biasanya mamanya hanya mengantar saja, hari ini menjemput dan menemaninya makan siang.
"Setelah Jeri makan, mama akan kembali ke kantor." jelas Maudy. Ia tadi sengaja menjemput Jeri, karena takut putranya dibuly anaknya Angel lagi.
Dan ia bersyukur, Nanda tidak mengatai anaknya lagi. Takut jika ucapan itu mempengaruhi mental anaknya.
Jika Nanda atau ada anak lain yang menganggu putranya, ia tidak akan bersikap wajar pada mereka. Meskipun mereka itu anak-anak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Maudy kembali masuk ke kantor. Ia berjalan cepat karena harus menghadiri rapat dengan para karyawan.
"Ayo, kita mulai!" ucap Maudy membuka pintu ruang rapat.
Orang-orang yang berada di ruangan itu terkejut pada orang yang tiba-tiba masuk. Ternyata nona Maudy yang datang.
Tidak ada yang berani komplen saat Maudy telat 15 menit dalam rapat. Tapi jika ada karyawan yang telat datang rapat, akan dimarahi habis-habisan.
Roni yang berada di ruang rapat juga melihat wanita itu. Ternyata benar wanita yang tidak sengaja bersenggolan dengannya di parkiran adalah nona Maudy. Atasan mereka.
"Apa saja yang kalian kerjakan?" tanya Maudy saat salah satu karyawan mempresentasikan kinerja divisi mereka.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, nona." jawabnya membela diri. Mereka sudah melakukan yang terbaik.
Maudy berdecih. Berusaha apa jika hasil terus menurun. Tidak mengalami kemajuan.
"Saat rapat bulan depan, jika tidak ada peningkatan. Saya pecat kamu!" ucap Maudy dengan nada datar dan terkesan dingin.
Orang-orang yang berada di ruangan itu mulai gugup dan takut. Aura wanita itu kuat sekali. Sangat menyeramkan.
Maudy mengepakkan tangan. Mengisyaratkan karyawan itu untuk tidak melanjutkan presentasenya.
Kini giliran Roni. Walau gugup, karena sudah lama tidak bicara di depan banyak orang. Tapi ia harus tenang dan bisa mengendalikan diri.
Maudy melihat dan mendengarkan dengan serius presentase yang disampaikan Roni. Ia ingat teman yang direkomendasikan Satria, yang katanya sangat pengalaman. Jadi akan melihat seperti apa kinerjanya selama seminggu ini.
Dan sepertinya memang sangat pengalaman. Selama seminggu ini, kinerja divisi itu mengalami peningkatan.
Mata Maudy menyipit saat mulai mengingat pria itu. Itu pria yang menabraknya di parkiran. Pria yang memanggilnya dengan sebutan Bu dan bukanlah Nona.
Tapi, Maudy berpikir sejenak. Wajah pria itu tidak asing. Mereka seperti pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana? Ia tidak ingat itu.
Rapat tak lama selesai juga. Orang-orang keluar dari ruangan itu dan bernafas lega. Rapat dengan nona Maudy sangat menegangkan, seperti naik roller coaster. Tidak bisa diprediksi kapan akan berteriak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Jeri, gambar apa nak?" tanya Maudy mendatangi sang putra yang tampak sibuk sekali.
Wanita itu duduk di sebelah putranya. Ia membawakan buah.
"Makan dulu, nak." Maudy menyuapkan buah yang telah dipotong ke mulut Jeri. Membuat pipi itu jadi menggembung.
"Ma, lihat ini!" ucap Jeri menunjukkan yang telah dibuatnya.
Maudy terdiam membaca apa yang ditulis si anak. Hatinya campur aduk saat ini.
Jeri menggambar seorang wanita yang sedang bergandengan tangan dengan anaknya. Di bawah gambar itu tertulis, Jeri sayang mama.
Bocah itu sudah pandai menulis dan membaca.
"Jeri pintar sekali, nak." puji Maudy dengan nada bergetar. Ia pun mengelus kepalanya dengan sayang dan menciumi pipinya.
"Namanya Jeri anak mama Maudy!" balas Jeri dengan bangga.
Maudy jadi tersenyum. Ia gemas dengan putranya dan mencubiti pipi sang anak.
"Ma, Jeri mau tunjukkan pada opa dan oma!" bocah itu pun berlari ke teras belakang rumah membawa buku gambarnya. Opa dan omanya sedang duduk-duduk di sana.
Sementara Maudy mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir. Kembali merasakan sesak, menyesal dan perasaan bersalah pada Jeri. Kesalahannya karena sempat membuang putranya di jalan.
Maudy tidak mau terus bersedih dan diliputi rasa itu. Ia akan meyakinkan dirinya bahwa ia tidak pernah membuang putranya, buktinya Jeri kini ada di sisinya, ada bersamanya.
Meninggalkan jeri di pinggir jalan memang kesalahannya, tapi ia kan segera berlari meraih kembali buah hatinya. Ia sadar dan sangat menyesal dengan pikiran dangkal yang sempat terlintas itu. Dan akan mulai melupakan itu.
"Jeri, ayo makan buah lagi!" Maudy pun berjalan ke belakang rumah. Ia kembali menyuapi putra tercintanya.
"Mama juga makan ya." kini gantian Jeri yang menyuapi mamanya buah.
"Terima kasih, nak." Maudy menerima suapan dari sang anak. Tersenyum disuapi anaknya.
"Opa dan oma juga." Anak laki-laki itu juga menyuapi mereka.
"Terima kasih, Jeri." ucap mereka juga senang sekali.
Beberapa saat kemudian, waktu kini sudah menunjukkan pukul 9 malam. Jeri masih menonton tv dengan opa dan omanya.
Maudy datang dengan membawa segelas susu hangat.
"Jeri, ayo minum susu!"
Jeri pun menghabiskan susunya.
"Ayo, kita tidur." ajak Maudy.
Bocah kecil itu pun merentangkan tangan, ia minta digendong. Dan dengan sigap sang mama menggendongnya.
"Opa, oma, Jeri tidur dulu ya." pamitannya.
"Jangan lupa gosok gigi dan cuci kaki sebelum tidur." pesan oma Novia.
"Nanti jangan lupa berdoa juga." opa Agus ikut berpesan.
"Siap opa, siap oma!" ucap Jeri dengan semangat.
Setelah gosok gigi dan cuci kaki. Kini Jeri sudah berbaring di tempat tidur. Mama Maudy berada di samping.
"Baca doa tidur dulu!"
Jeri tampak komat kamit, lalu tangannya mengusap wajah. Tanda ia sudah selesai berdoa.
Maudy menepuk-nepuk pelan pundak sang anak. Ia menidurkan Jeri sambil bersenandung kecil.
Dan tak butuh waktu lama, Jeri sudah terlelap saja.
"Mimpi indah ya, kesayangan mama."
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
kalin memang cocok dan berjodoh sm"lupa kl pernah bertemu di taman hehe
2024-08-31
1