Bab 6 - Manajer

Roni tersentak bangun dari tidurnya karena suara deringan ponsel. Ia pun menjawab panggilan tersebut.

"Halo." jawabnya dengan jiwa yang masih berhamburan.

"Halo, pak Ron. Ini saya Satria."

"Ada apa, Sat?" tanya Roni sambil merentangkan tangan.

"Di perusahaan saya bekerja sedang ada perekrutan karyawan. Anda bisa melamar di sana, pak." jelasnya.

Roni mengusap wajahnya. Sudah pasti ia tidak diterima kerja di sana.

"Tidak usah, Sat. Terima kasih untuk informasinya." ucap Roni atas kebaikan Satria memberi informasi.

"Anda bisa melamar di sana, pak. Anda punya banyak pengalaman!" Satria jadi sedikit kecewa. Sudah memberanikan diri meminta bantuan pada nona Maudy, malah Roni menolak niat baiknya.

"Satria, saya pasti tidak akan diterima. Kamu tahu usia saya sudah sangat melebihi syarat." jelas Roni mengingatkan Satria. Jadi percuma saja ia mencoba melamar ke sana.

Perusahaan punya standart sendiri dalam memilih karyawan. Salah satunya usia. Usia max 28 tahun, sedang ia sudah 37 tahun. Usia yang sudah dianggap alot dan sepuh.

Rasanya Satria ingin saja mengatakan jika lowongan yang dikatakannya ini berbeda. Tidak ada syarat-syarat. Ia memakai koneksi orang dalam yang langsung sat set sat set diterima. Orang dalamnya ini sangat dalam, dalam, dan dalam sekali.

Tapi tidak mungkin mengatakan hal itu. Ia takut jika Roni jadi tersinggung padanya. Tidak mau mantan atasannya itu beranggapan dikasihani. Padahal jujur niat Satria ingin membantu. Seperti Roni yang membantu saat ia terpuruk kala itu.

"Di perusahaan tempat saya bekerja sedang penerimaan karyawan besar-besaran dan mereka tidak melihat usia tapi pengalaman, pak. Anda coba saja melamar di sana! Saya yakin anda pasti diterima!" tetap Satria begitu semangat membujuk agar Roni setuju.

"Ta-tapi-"

"Besok pagi jam 8 saya akan tunggu anda di kantor. Anda harus datang!" paksa Satria akhirnya.

"Ha-halo, Sat." Roni menghembuskan nafasnya dengan kasar. Satria sudah memutuskan sambungan telepon.

Roni tahu jika Satria berniat baik padanya. Tapi melamar ke sana pun percuma saja, ia pasti akan ditolak perusahaan itu.

Ting, ting... suara pesan masuk.

Satria: anda harus datang besok

Satria: kalau anda tidak muncul, akan saya beritahu bu Upik di mana anda tinggal.

Roni tersedak membaca pesan yang dikirim Satria. Pesan ancaman yang aneh. Membawa-bawa bu Upik yang membuat bulu kuduknya jadi merinding.

Lama Roni berpikir, apa akan datang atau tidak ke perusahaan itu. Yakin sekali sudah pasti tidak diterima, tapi segan juga pada Satria yang begitu bersemangat memberikan informasi padanya.

Roni membuka lemari. Ia mencari pakaian kerjanya yang dulu. Pakaiannya sudah terlipat dan kekuningan. Wajar saja sudah lama tidak digunakan.

Pria itu memilih mencari pakaian yang masih layak dipakai, tidak mungkin membeli baru. Uangnya pas-pas an.

Setelah memilih, akhirnya Roni menemukan pakaian yang masih layak dipakai. Hanya perlu disetrika saja. Untuk mencuci sudah tidak sempat, karena besok pagi akan dipakai.

Dan kini Roni membuang nafasnya yang terasa berat. Sepatu yang dipegangnya sekarang sudah menganga tapaknya. Wajar saja sudah lama tidak dipakai. Selama beberapa tahun ini ia tidak pernah memakai sepatu kerja lagi.

Roni pusing, tidak mungkin ia memakai sandalnya. Datang interview kerja memakai sandal, yang benar saja.

"Uangku pas-pas an untuk makan!" gumamnya seraya menghitung uang yang didapatnya dari ojek hari ini.

"Apa pakai uang simpanan?"

Mata Roni tertuju pada celengan ayam yang berada di lemarinya. Selama ini ia menyisihkan sedikit dari pendapatannya. Hal itu dilakukan untuk berjaga-jaga, tah suatu saat ia tidak punya uang untuk membayar sewa kost-an.

'Dicoba saja. Mudah-mudahan diterima!' pikir Roni. Ia akan berbaik sangka. Perusahaan itu memang akan mencari karyawan yang berpengalaman.

Roni pun mengambil pisau dan tak lama,

Leher celengan ayam itu pun terbang.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Pagi itu, Maudy pamitan pada kedua orang tuanya. Ia akan liburan bersama anaknya.

"Jaga Jeri di sana!" wanti oma Novia. Ia tidak mau cucu kesayangannya kenapa-kenapa.

Maudy mengangguk. Ia pasti akan menjaga Jeri dengan jiwa dan raganya. Tidak akan dibiarkan siapapun menyakiti putranya.

"Opa, oma, Jeri pergi dulu ya." pamit bocah kecil itu seraya menyalami tangan kedua orang tua itu.

"Oma pasti akan merindukan Jeri." oma Novia sedih berpisah dengan cucunya. Meski hanya beberapa hari, tapi itu akan terasa lama sekali. Ia sudah biasa bersama cucunya itu.

"Oma... Jeri dan mama perginya cuma sebentar. Nanti pulang akan Jeri bawakan ole-ole." ucap Jeri membujuk agar omanya tidak bersedih. Mereka pergi sebentar saja, nanti pulang juga.

Oma Novia memeluk cucunya dengan erat. Ucapan Jeri membuat hatinya menghangat. Ucapan yang begitu sangat tulus.

Setelah drama berpamit-pamitan, Maudy dan Jeri pun pergi. Mereka saling melambaikan tangan.

Sementara di lobi sebuah perusahaan, Satria mondar mandir tidak jelas. Ia sudah menelepon Roni dan katanya sudah di jalan. Tapi sudah pukul 8 lewat, pria itu belum sampai juga.

"Sat, maaf. Saya terlambat. Motornya mogok tadi." ucap Roni sambil ngos-ngosan menghampiri Satria. Sepeda motornya keluaran tahun lama, jadi wajar saja banyak penyakitnya.

"Anda tidak apa, pak?" tanya Satri jadi khawatir.

Dan Roni pun mengangguk. Ia mengatur nafasnya.

Tak lama di sebuah ruangan,

"Manajer?" tanya Roni saat hrd menawari posisi tersebut.

Sepertinya ia salah dengar, tidak mungkin baru masuk langsung dapat tawaran seperti itu.

"Posisi manajer kebetulan sedang kosong dan dilihat dari riwayat pengalaman, anda layak di posisi itu." ucap hrd menjelaskan dengan detil.

Roni masih mencerna apa yang didengarnya. Ia melamar jadi staff biasa dan kini malah ditawari manajer.

"Selamat bergabung di perusahaan ini. Besok anda sudah bisa memulai untuk bekerja." ucap hrd seraya mengulurkan tangan.

Roni pun terpaksa menerima uluran tangan tersebut.

Beberapa saat kemudian di sebuah rumah makan.

"Kan benar apa yang saya katakan. Anda pasti diterima, pak." ucap Satria sambil melahap makan siangnya. Tadi Roni meminta bertemu dan sekalian saja makan siang bersama.

"Tapi, kenapa saya di tempatkan di posisi manajer ya?" Roni masih bingung dan tidak percaya. Baru masuk masa sudah menjabat manajer saja.

"Namanya pengalaman pak Roni sesuai dengan posisi tersebut. Sudahlah, pak. Tidak usah terlalu anda pikirkan kenapa bisa begini begitu. Yang penting sekarang pak Roni tunjukkan saja kalau anda memang pantas berada di posisi itu!" Satria menyemangati Roni. Mantan atasannya itu harus lebih percaya diri.

"Pak Roni, ayo semangat!"

Roni mendengus sesaat, Satria memang terlalu bersemangat.

"Baiklah. Nanti gajian saya akan mentraktirmu." ucap Roni lalu tersenyum tipis. Satria sudah membantunya, maka ia harus membalas kebaikan pria itu.

"Terima kasih, pak Roni."

"Saya yang seharusnya berterima kasih sama kamu. Terima kasih Satria untuk semuanya." ucap Roni seraya mengangguk kecil.

"Anda terlalu berlebihan, pak." Satria merasa Roni terlalu sungkan dengannya.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

pasti di terima km Roni krn mantan maneger yg baik kinerjamu jg bagus dl hanya krn di kantor suami sang mantan buat km resain dan mengundurkan diri semangat Roni semoga bertemu wanita yg bs obati luka hatimu krn salah mu dl dan hilangkan traumamu sdpt wanita yg tepat semoga

2024-08-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!