Bab 16 - Papa Jadi-jadian

Jeri telah selesai menghabiskan makanannya. Bocah kecil itu juga menenggak air minum dan membersihkan mulutnya dengan tisu. Lalu membuang sampah kotak makanannya ke tong sampah.

Maudy memang membiasakan putranya untuk membuang sampah pada tempatnya. Dari kecil sudah diajarkan untuk menjaga kebersihan.

Setelah itu, Jeri akan kembali duduk di sofa. Bocah kecil itu tampak kesulitan untuk naik ke sofa dan tidak sengaja kepalanya mendorong tubuh Roni.

Hal itu membuat bibir Roni jadi menempel pada wanita yang terlalu dekat dengannya.

Cup...

"Kamu mau modus ya?" ucap Maudy yang langsung bangkit. Pria modus itu berani sekali menciumnya.

Maudy menggosok-gosok bibirnya, walau cuma menempel tapi terasa menjijikkan.

"Nona, anda salah paham!" ucap Roni membela diri. "Jeri tadi mendorong saya dan jadinya tidak sengaja mencium anda!"

Maudy mendecih sambil melipat tangan. Alasan apa itu malah menyalahkan putranya.

"Kamu sepertinya begitu sangat tertarik padaku?!" ucap Maudy. Pria modus itu melakukan segala cara untuk mendekatinya.

"Kamu salah paham. Aku tidak tertarik padamu!" sanggah Roni cepat.

Roni tidak terima tuduhan Maudy padanya. Ia sama sekali tidak tertarik pada wanita aneh itu.

"Kamu sengaja melakukan berbagai cara untuk mendekatiku. Pura-pura menabrakku sampai 2 kali, lalu mengajakku bicara dengan bilang pernah bertemu sebelumnya. Dan sekarang apa? kamu mendekati putraku untuk mencari perhatianku, kan?!" Maudy menjelaskan dengan rinci semua modus pria itu yang sudah terbaca olehnya. Jelas sekali pria itu begitu sangat menyukainya.

Roni tercengang mendengar kepedean wanita itu mengatakan tuduhan menggelikan tersebut. Ia sampai memijat pelipisnya.

"Kamu salah paham. Aku tidak pernah berniat mendekatimu. Apalagi mendekati Jeri. Jelas-jelas Jeri yang datang-datang memegang kakiku dan mengatakan aku papanya. Aku juga heran!" Roni menjelaskan juga, ia tidak mau dituduh begitu.

"Pasti kamu yang terus mendekati anakku dan pura-pura menyayanginya. Kamu mau mencari perhatianku, kan!"

"Aku tidak begitu, nona!"

"Jelas sekali, kamu menyukaimu!" Maudy masih menuduh.

"Aku tidak menyukaimu!" tegas Roni.

"Aku sudah bilang kamu itu bukan tipeku, jadi berhentilah mendekatiku!" Maudy akan menolak pria itu, tidak akan memberikan kesempatan untuk mendekatinya.

"Aku juga tidak menyukaimu, jadi berhentilah menuduhku mendekatimu!"

Keduanya berdebat saling menuduh dan saling tidak terima. Mereka kini bicara tidak formal. Melupakan jika mereka atasan dan bawahan dan juga masih di area kantor.

"Papa, mama." panggil Jeri pada kedua orang yang tampak berdebat itu.

"Ya, Jeri." jawab keduanya kompak dan langsung saling melihat dengan sinis. Malah sama-sama menjawab.

"Jeri sudah makan?" tanya Maudy menghampiri. Gara-gara berdebat dengan pria itu, jadi lupa jika Jeri di sini juga.

"Papa sama mama kenapa? Jangan berantem ya." ucapnya dengan polos.

Roni menghela nafas yang terasa berat dan menghampiri Jeri.

"Jeri, kamu sama mama ya. Om mau lanjut kerja." ucap Roni berpamitan pada bocah itu. Ia membujuk terlebih dahulu agar Jeri jangan sampai menangis lagi.

"Papa mau pergi?" tanyanya dengan mata mulai berair.

"Om mau lanjut kerja."

"Papa tidak pergi kan?" Jeri masih mempertanyakan.

Roni menggeleng. "Om mau lanjut bekerja, Jeri. Nanti kita ketemu lagi ya."

Jeri pun mengangguk pada penjelasan Roni. Papanya hanya bekerja dan tidak akan pergi lagi, jadi ia tidak akan menangis untuk menahannya.

Teman-teman di sekolah juga begitu. Yang didengarnya papa mereka juga bekerja dan nanti akan datang lagi.

Setelah berpamitan pada Jeri, Roni pun berlalu pergi dan ia sempat melirik wanita kepedean itu melihatnya dengan sinis.

"Jeri, mama mau lanjut kerja ya."

"Iya, mama kerja saja. Jeri mau menggambar."

Maudy melihat sang putra sibuk mengeluarkan buku gambar dan pensil warnanya. Wanita itu pun akan meneruskan urusannya, ia kembali ke meja kerjanya.

Tak lama keduanya pada fokus. Satu pada pekerjaan yang menumpuk. Dan yang satu lagi sedang menggambar.

"Mama tidak makan siang?" tanya jeri disela kesibukannya. Mamanya belum ada makan siang dan langsung bekerja saja.

Maudy tersenyum tipis, ia sampai lupa makan siang.

"Mama harus makan. Jeri tidak mau mama sakit." ucap Jeri. Jika mamanya sakit, ia bisa sedih. Nanti tidak ada yang memasak dan membawakan bekal untuknya.

Wanita itu jadi terharu mendengar perkataan putranya.

"Nanti kalau mama sakit, papa juga repot."

Maudy menepuk jidatnya, Jeri malah membawa papa jadi-jadian itu.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Roni telah berada di ruangannya. Hari ini ia tampak lelah sekali, anak atasannya itu tidak mau melepaskan dirinya. Harus dibujuk pelan-pelan baru nurut.

Ini juga ia baru selesai makan siang. Tadi makan dengan terburu-buru, karena jam makan siang akan berakhir.

Pria itu mulai fokus pada pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Tapi pikirannya mulai mengingat wanita itu.

"Dia mantannya Yoan, kan?" gumam Roni. Yoan itu suami dari mantan pengantin wanita yang ditinggalkannya. Dan Yoan itu, pria yang ditinggalkan Maudy di hari pernikahan.

"Si Eneng." ucapnya pelan. Dahulu ia memanggil wanita itu dengan panggilan si eneng. Dan dari dulu wanita itu memang sombong dan kepedean sekali. Sifatnya tidak pernah berubah.

Sementara di ruangannya, Maudy juga mulai mengingat Roni. Pria itu dulu pernah memberi informasi padanya tentang istri sang mantan. Mereka dulu pernah kompak akan menghancurkan pernikahan mantan-mantan mereka kala itu.

'Ihhh, kenapa dulu aku bisa kompak dengan pria jahat itu!' Maudy jadi merinding. Saat itu Roni yang memberi tahu alamat rumah Yoan, hingga ia datang dan meneror istrinya.

Kalau diingat lagi, Maudy jadi menyesal pernah berbuat jahat pada orang lain. Saat itu ia sangat egois dan tidak pernah memikirkan orang lain.

"Ma." panggil Jeri sambil menarik ujung baju mamanya.

"Hah, iya sayang." jawab Maudy saat tersadar dari lamunannya.

"Ma, kita tidak pulang?" tanya Jeri. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4. Sudah jam pulang kantor.

"Mari kita pulang, sayang." Maudy pun membereskan barangnya, lalu membantu Jeri membereskan buku dan pensil warnanya.

Tas ransel itu kini Maudy pakai dan ia akan meraih Jeri dan akan menggendong sang anak.

"Jeri jalan saja, ma." ia menolak untuk digendong. "Mama sudah capek kerja, nanti tambah capek jika gendong Jeri lagi."

Jeri melihat wajah mamanya yang tidak secerah saat berangkat kerja. Pasti mamanya kelelahan dan dilihatnya juga sepatu tinggi yang dipakai mamanya begitu tinggi dan lancip. Nanti kesulitan jika menggendongnya.

"Mama tidak apa, nak. Mama kuat!"

Jeri menggelengkan kepala. "Jeri tidak mau nanti mama sakit."

Maudy mulai berwajah mewek. Putranya begitu peka sekali.

"Nanti kalau Jeri capek bilang sama mama ya." saran Maudy. Jarak dari ruangannya ini ke parkiran mobil cukup jauh.

"Siap, mama!" jawab Jeri bersemangat.

Maudy pun tersenyum senang.

"Ma, telepon papa. Jeri mau pulang sama papa." pinta Jeri.

"Apa?"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

hahaha Jeri maunya sm Papa Roni kalian serasi kan dr dl sama "pernah tinggalin hari H pernikahan kalian dan tinggalin calon pengantin pria dan wanita kalian sang Mantan demi pria lain wanita lain jg cocok dan berjodoh kalian🤣🤣🤣Jeri bikin ngakak

2024-09-02

1

umatin khuin

umatin khuin

papa jadi jadian g tuh....hehehe....

2024-08-17

2

Anna Kusbandiana

Anna Kusbandiana

modusnya papanya jery dimananya, Maud......😅😅😅😅

2024-08-16

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2 Bab 2 -Calon Papa Baru
3 Bab 3 - Tidak Punya Papa
4 Bab 4 - Akan Menakuti
5 Bab 5 - Merekomendasikan
6 Bab 6 - Manajer
7 Bab 7 - Sempat Dilema
8 Bab 8 - Jeri Pengertian
9 Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10 Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11 Bab 11 - Modus
12 Bab 12 - Papa Jeri
13 Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14 Bab 14 - Salah Paham
15 Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16 Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17 Bab 17 - Bukan Anak Saya
18 Bab 18 - Sayang Papa
19 Bab 19 - Tidak Tertarik
20 Bab 20 - Makan Siang Bersama
21 Bab 21 - Kamu Berat
22 Bab 22 - Mengantar Pulang
23 Bab 23 - Secepat itu
24 Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25 Bab 25 - Demi Jeri
26 Bab 26 - Menginap
27 Bab 27 - Bersama Papa
28 Bab 28 - Kesal Sekali
29 Bab 29 - Penjahat Wanita
30 Bab 30 - Calon Istri
31 Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32 Bab 32 - Selalu Ditolak
33 Bab 33 - Calon Suami
34 Bab 34 - Janda Anak Satu
35 Bab 35 - Bekal Untukmu
36 Bab 36 - Kecupan Singkat
37 Bab 37 - Mirip Bocah
38 Bab 38 - Pindah
39 Bab 39 - Telepon Papa
40 Bab 40 - Khawatir
41 Bab 41 - Ciumnya Mana
42 Bab 42 - Jangan Lebay
43 Bab 43 - Sedikit Kecewa
44 Bab 44 - Sudah?
45 Bab 45 - Tingkah Maudy
46 Bab 46 - Aku Ikut
47 Bab 47 - Meleleh
48 Bab 48 - Kebun Binatang
49 Bab 49 - Cemburu
50 Bab 50 - Jatuh Cinta
51 Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52 Bab 52 - Anakmu?
53 Bab 53 - Ternyata Benar
54 Bab 54 - Bertekad Percaya
55 Bab 55 - Maafkan aku
56 Bab 56 - Mencintainya
57 Bab 57 - Pemilik Hati
58 Bab 58 - Jalan-jalan
59 Bab 59 - Papa Bilang
60 Bab 60 - Anakku
61 Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62 Bab 62 - 6 bulan?
63 Bab 63 - Berharap
64 Bab 64 - Punya Adik
65 Bab 65 - Begitu Akrab
66 Bab 66 - Kotak Kecil
67 Bab 67 - Manja
68 Bab 68 - Ancaman
69 Bab 69 - Kenapa?
70 Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71 Bab 71 - Papa Mama
72 Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73 Bab 73 -Negosiasi
74 Bab 74 - Tidak Enak Hati
75 Bab 75 - Niat Baik
76 Bab 76 - Penasaran
77 Bab 77 - Menjodohkan
78 Bab 78 - 3 Bulan
79 Bab 79 - Sebulan Lagi
80 Bab 80 - Sehati
81 Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82 Bab 82 - Pingit
83 Bab 83 - Hari Pernikahan
84 Bab 84 - Melayang terbang
85 Bab 85 - Pindah Rumah
86 Bab 86 - Doakan
87 Bab 87 - Gosip
88 Bab 88 - Istrinya Sombong
89 Bab 89 - Listrik Padam
90 Bab 90 - Minum Kopi
91 Bab 91 - Tetangga Rempong
92 Bab 92 - Ronda
93 Bab 93 - Shoping
94 Bab 94 -Ikut Campur
95 Bab 95 - Apaaa???
96 Bab 96 - Nona
97 Bab 97 - Adik
98 Bab 98 - Tinggal Bersama
99 Bab 99 - Sayang
100 Bab 100 - Bahagia
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1 - Kesalahan Masa Lalu
2
Bab 2 -Calon Papa Baru
3
Bab 3 - Tidak Punya Papa
4
Bab 4 - Akan Menakuti
5
Bab 5 - Merekomendasikan
6
Bab 6 - Manajer
7
Bab 7 - Sempat Dilema
8
Bab 8 - Jeri Pengertian
9
Bab 9 - Sombong Dan Angkuh
10
Bab 10 - Jeri Sayang Mama
11
Bab 11 - Modus
12
Bab 12 - Papa Jeri
13
Bab 13 - Oh, Tidak Bisa
14
Bab 14 - Salah Paham
15
Bab 15 - Sulit Bilang Maaf
16
Bab 16 - Papa Jadi-jadian
17
Bab 17 - Bukan Anak Saya
18
Bab 18 - Sayang Papa
19
Bab 19 - Tidak Tertarik
20
Bab 20 - Makan Siang Bersama
21
Bab 21 - Kamu Berat
22
Bab 22 - Mengantar Pulang
23
Bab 23 - Secepat itu
24
Bab 24 - Bisa Ke Rumah?
25
Bab 25 - Demi Jeri
26
Bab 26 - Menginap
27
Bab 27 - Bersama Papa
28
Bab 28 - Kesal Sekali
29
Bab 29 - Penjahat Wanita
30
Bab 30 - Calon Istri
31
Bab 31 - Tidak Suka Mamanya
32
Bab 32 - Selalu Ditolak
33
Bab 33 - Calon Suami
34
Bab 34 - Janda Anak Satu
35
Bab 35 - Bekal Untukmu
36
Bab 36 - Kecupan Singkat
37
Bab 37 - Mirip Bocah
38
Bab 38 - Pindah
39
Bab 39 - Telepon Papa
40
Bab 40 - Khawatir
41
Bab 41 - Ciumnya Mana
42
Bab 42 - Jangan Lebay
43
Bab 43 - Sedikit Kecewa
44
Bab 44 - Sudah?
45
Bab 45 - Tingkah Maudy
46
Bab 46 - Aku Ikut
47
Bab 47 - Meleleh
48
Bab 48 - Kebun Binatang
49
Bab 49 - Cemburu
50
Bab 50 - Jatuh Cinta
51
Bab 51 - Berpikir Terlalu Jauh
52
Bab 52 - Anakmu?
53
Bab 53 - Ternyata Benar
54
Bab 54 - Bertekad Percaya
55
Bab 55 - Maafkan aku
56
Bab 56 - Mencintainya
57
Bab 57 - Pemilik Hati
58
Bab 58 - Jalan-jalan
59
Bab 59 - Papa Bilang
60
Bab 60 - Anakku
61
Bab 61 - Jangan Sakit Lagi
62
Bab 62 - 6 bulan?
63
Bab 63 - Berharap
64
Bab 64 - Punya Adik
65
Bab 65 - Begitu Akrab
66
Bab 66 - Kotak Kecil
67
Bab 67 - Manja
68
Bab 68 - Ancaman
69
Bab 69 - Kenapa?
70
Bab 70 - Cukup Mengerti Saja
71
Bab 71 - Papa Mama
72
Bab 72 - Kaki Mama Sakit
73
Bab 73 -Negosiasi
74
Bab 74 - Tidak Enak Hati
75
Bab 75 - Niat Baik
76
Bab 76 - Penasaran
77
Bab 77 - Menjodohkan
78
Bab 78 - 3 Bulan
79
Bab 79 - Sebulan Lagi
80
Bab 80 - Sehati
81
Bab 81 - Yang Ditinggalkan
82
Bab 82 - Pingit
83
Bab 83 - Hari Pernikahan
84
Bab 84 - Melayang terbang
85
Bab 85 - Pindah Rumah
86
Bab 86 - Doakan
87
Bab 87 - Gosip
88
Bab 88 - Istrinya Sombong
89
Bab 89 - Listrik Padam
90
Bab 90 - Minum Kopi
91
Bab 91 - Tetangga Rempong
92
Bab 92 - Ronda
93
Bab 93 - Shoping
94
Bab 94 -Ikut Campur
95
Bab 95 - Apaaa???
96
Bab 96 - Nona
97
Bab 97 - Adik
98
Bab 98 - Tinggal Bersama
99
Bab 99 - Sayang
100
Bab 100 - Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!