Hampir setengah jam lamanya, para petinggj Faksi REON Merdeka menunggu orang yang dipanggil Kolonel Lodaya. Mereka pengin tahu seperti apa orangnya. Orang yang disuruh untuk mencari orang – orang Jenderal Birawa. Sebab selama ini, para petinggi REON tidak pernah bertatap muka atau bertemu langsung dengan para intelejen Faksi. Semua anggota intelejen dirahasiakan identitasnya. Bahkan saking rahasianya satu sama lain tidak saling mengenal, termasuk juga orang tua mereka pun tidak tahu bahwa anaknya adalah seorang agen rahasia faksi. Nama – nama yang disematkan kepada para agen itu bukan nama asli mereka, tapi adalah “code name”. Panggilan mereka di lapangan.
Langkah – langkah kaki sepatu hak tinggi terdengar mendekati pintu. Semua mata memandang pintu. Menanti. Menunggu salah satu anggota agen faksi mereka memasuki ruang rapat. Tidak lama kemudian ketukan pintu terdengar pelan.
“Masuk..” Kolonel Lodaya terdengar mempersilahkan.
Semua mata yang ada di ruangan itu menatap ke pintu. Satu sosok gadis cantik muncul dari balik pintu. Wajah cantik dengan rambut berponi dan dandanan yang modis khas remaja masa kini, membuatnya sangat enak untuk dipandang melangkah masuk ke dalam ruangan. Menuju kursi kosong yang ada disamping Kolonel Lodaya. Sambil melemparkan senyum ke semua orang.
Wajah – wajah yang ada diruangan itu menampakkan keterkejutan dan kekaguman yang sangat besar. Lebih – lebih dengan Tetua Diane. Wanita itu terbelalak matanya.
“Debi...,” tak sadar Tetua Diane mengucapkan kata itu. Wajah gadis itu kembali mengingatkan masa lalu tentang anaknya. Sesaat ia tertegun. Benarkah ia Debi.., anak gadisnya yang telah meninggalkan dirinya beberapa tahun lalu. Hampir 4 tahun ia tidak tahu kondisi anaknya itu. Kabar beritapun ia tidak pernah menerima. Semenjak perang saudara terjadi di REON, anaknya tidak pernah menghubunginya. Bagai hilang ditelan bumi. Malahan ada kabar berita anaknya sudah mati, ditembak tentara REON, atas perintah Presiden Sularso. Akibatnya ia sangat benci pada sang Presiden dan juga kepada tentara – tentara REON itu. Tak ayal diapun bergabung dengan pemberontak. Bersatu dengan Kolonel Lodaya, mengangkat senjata melawan Presiden Sularso.
Gadis itu hanya tersenyum menatap Tetua Diane.
Baru saja Tetua Diane mau ngomong, Kolonel Lodaya berkata, “Tetua Diane, singkirkan dulu perasaanmu. Ada waktunya nanti kamu mengungkapkan semua itu.”
Tetua Diane hanya diam. Sementara semua yang hadir disitu, menatap Tetua Diane dengan pandangan tidak mengerti. Kebingungan.
Dengan penuh wibawa Kolonel Lodaya kembali melanjutkan perkataannya.
“Ini agen Jeanny, orang yang kita suruh untuk menyelidiki dan mencari orang – orang Jenderal Birawa.”
Agen Jeanny hanya menganggukkan kepalanya, ketika mendengar Kolonel Lodaya memperkenalkan dirinya.
“Untuk para tetua dan Komandan Lapangan, jangan kalian ragukan kemampuan agen Jeanny ini. Dia sudah dua tahun digembleng oleh CIA. Sekali lagi, kemampuannya jangan kalian ragukan,” katanya meyakinkan para Tetua.
“Dia mendapat nilai terbaik, di angkatannya. Dan mendapat predikat the best of the best,” tambahnya lagi.
Para Tetua itu hanya mengangguk – anggukkan kepalanya, sambil menyiratkan rasa kekagumannya. Masih begitu muda tapi mampu menjalani pelatihan yang dilakukan oleh CIA. Padahal, seperti yang mereka ketahui pelatihan seorang agen di Badan Intelijen Amerika Serikat memiliki standart yang cukup tinggi. Tidak sembarang orang bisa menjalani. Tapi gadis muda di depan mereka ini bisa melewatinya, dengan predikat the best of the best lagi. Terbaik dari yang terbaik.
“Agen Jean...,” kata Kolonel Lodaya, sesaat setelah membiarkan orang – orang itu tenggelam dalam pikirannya masing – masing. “Tugas kamu adalah mencari orang – orang ini di seantero REON. Aku yakin mereka belum keluar dari sini. Kalau misalkan mereka sudah pergi dari sini, temukan mereka. Aku memberi wewenang otoritas penuh kepadamu. Pergunakan semua sumber daya yang kamu perlukan.”
Kolonel Lodaya memberikan berkas – berkas yang tadi dibawanya ke Agen Jeanny.
“Identitas dan photo mereka ada disitu.” Katanya lagi menambahkan.
Agen Jeanny sigap menerima berkas itu. Membolak – balik sebentar, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia mengeluarkan hand phone pintarnya dari dalam saku jaketnya. Menscan semua berkas serta photo – photo itu, dan setelahnya mengembalikan semua berkas ke Kolonel Lodaya.
“Jean.., sementara kamu keluar dulu. Tunggu di depan. Jangan pergi. Setelah ini ada yang ingin aku bicarakan padamu.”
Agen Jeanny hanya mengangguk. Berikutnya ia tersenyum kepada semua yang hadir di situ, lalu berpamitan keluar ruangan, meninggalkan semuanya.
“Deb..., eh, Agen Jeanny tunggu...” Tetua Diane berteriak, meminta untuk menahan Agen Jeanny.
Lagi – lagi Kolonel Lodaya hanya mengangkat tangannya. Memberi tanda kepada Tetua Diane bersabar dan kembali duduk. Serta tetap mempersilahkan Agen Jeanny meninggalkan ruangan.
Ruang rapat kembali hening. Hanya raut mimik Tetua Diane yang kecewa. Ia hanya bisa mendesah panjang, dengan tatapan kesal ke arah Kolonel Lodaya.
Dan Kolonel hanya tak acuh melihat sikap Tetua Diane. Baginya di dalam situasi dan forum resmi harus dipisahkan mana kepentingan pribadi dan mana untuk kepentingan umum, khususnya untuk kemajuan dan keberhasilan Faksi REON Merdeka. Tidak boleh ada sentimen pribadi yang menguasai dan bermain disana. Tugas negara lebih utama daripada urusan pribadi. Itu adalah prinsip Kolonel Lodaya. Dan semua orang, anggota faksi tahu itu. Begitu mereka masuk menjadi anggota faksi, tidak ada toleransi sedikitpun untuk membawa kepentingan pribadi. Hukuman dan sangsinya sangat jelas, dikeluarkan dari faksi atau keluar sendiri. Hal itulah yang membuat faksi REON merdeka menjadi salah satu yang terbesar di REON. Disiplin yang tanpa kompromi.
Sepeninggal Agen Jeanny para Petinggi Faksi REON Merdeka kembali melanjutkan rapatnya, membahas rencana – rencana faksi ke depannya sekaligus mengambil langkah dan mengantipasi tindakan orang – orang atau pasukan Presiden Sularso nantinya.
💗💗💗
Di luar ruangan...
Agen Jeanny masih asyik memandangi layar HP pintarnya. Dengan seksama mengamati photo – photo di layarnya itu. Ada 5 orang yang terpampang di situ. Serda Draco. Serda Bajang. Sertu Gentar. Letda Seto dan Kapten Batara.
“Hmm..., keren juga ini cowok,” gumannya pelan ketika dia mengamati photo Kapten Batara. Pangkat tertinggi didalam Team ini, pasti dia pemimpinnya. Kemudian ia mecari berkas Kapten Batara yang sudah terscan di dalam HPnya.
“Hebat juga dia,” gumannya dalam hati ketika membaca biodata singkat sang Kapten. Keningnya berkernyit, ketika dia mengetahui meraih pangkat pertama sebagai seorang Kapten dalam satu angkatannya. “Orang ini tidak bisa diremehkan. Lebih – lebih dengan code name ‘Black Wolf’ alias ‘Srigala Hitam’, membuat orang keder mendengar dan melihatnya. Pasti dia sudah banyak misi yang dijalaninya. Sampai mendapat julukan seperti itu.”
Beberapa saat kemudian para Tetua Faksi dan Danlap (Komandan Lapangan) Faksi REON Merdeka ke luar ruangan. Salah seorang dari mereka menghampiri Agen Jeanny yang tengah asyik menatap layar HPnya.
“Agen Jean, Komandan memanggilmu masuk..” katanya pelan dan penuh rasa hormat.
“Terima kasih..” Agen Jeanny menjawab singkat. Dan melangkah menghampiri pintu masuk.
Sesaat sebelum membuka pintu itu, terdengar lamat – lamat suara perempuan menangis disertai ucapan kasar kepada Kolonel Lodaya.
“Kamu keterlaluan Lodaya..., sengaja kau membuat aku kehilangan anakku. Kau membuat berita bohong.. hiks.. hiks.. Empat tahun lalu, kamu katakan Debi sudah meninggal... Jadi selama ini kau membohongiku Lodaya... Dasar ******** kamu...”
“Maafkan aku Diane..., ada hal yang lebih penting yang kamu tidak mengerti...”
“Persetan itu Lodaya... Tega – teganya kamu memisahkan aku dengan Debi. Teganya kau katakan anakmu sudah mati. Bisa - bisanya kamu membuat anakmu sendiri melakukan itu... Apapun ceritanya ia darah dagingmu sendiri Lodaya.... hiks..”
Jeanny tertegun mendengar ucapan itu. Awalnya, saat memasuki ruangan itu, ia tidak pernah menyangka akan ketemu mamanya yang dia tinggalkan begitu saja empat tahun lalu, untuk pergi menjadi seorang agen rahasia dan pergi ke Camp Peary, Virginia dan di Harvey Point, North Carolina Amerika Serikat. Menjalani pelatihan dan pendidikan di CIA. Lebih – lebih sebagai petinggi faksi. Meski begitu, ia bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa kekagetannya. Sebagai seorang agen yang terlatih dia pandai menyembunyikan perasaan itu. Hanya saja yang membuatnya tidak mengerti semenjak kapan mamanya bisa menjadi salah satu tetua Faksi REON Merdeka yang disegani? Dulu, ketika ditinggalkan dulu, mamanya hanyalah wanita biasa dan seorang pebisnis di REON. Tidak tertarik dengan urusan politik maupun hal – hal yang berbau politik.
Berikutnya adalah ketika mendengar omongan mamanya, Kolonel Lodaya adalah papanya. Ia tidak habis mengerti. Bagaimana mungkin? Selama ini setiap ia bertanya, jawaban mamanya selalu marah. Tidak pernah ditunjukkan siapa sebenarnya papanya. Sampai ia remaja tidak pernah sekalipun ia mempertanyakan lagi. Ia membiarkan saja, tidak pernah sedikitpun dia berusaha untuk mencari tahu. Bahkan ketika mula pertama diangkat menjadi agen intelijen faksi REON Merdeka, tidak juga ada keinginan mencari keberadaan papanya. Ketika mengisi formulir biografi dirinya, papanya disebutkan sudah meninggal.
Jujur, ia teramat kecewa mendengar apa yang diomongkan oleh mamanya. Seseorang yang dianggap jauh ternyata cukup dekat. Selama ini orang yang di dambakan untuk bisa melindungi dirinya disaat butuh uluran tangannya ternyata tidak pernah mau menolongnya meski berada di depan matanya. Seorang ayah yang diharapkan hadir di saat dibutuhkan, tak pernah sekalipun ada walau orang itu tidak pernah jauh darinya. Anehnya, orang itu bisa bertindak seperti bukan orang tuanya.
Mengingatnya Agen Jeanny hanya bisa meneteskan air mata. Pada situasi seperti ini, ia tidak merasakan sebagai seorang agen yang tangguh. Ia kembali menjadi seorang anak yang merindukan belaian kasih sayang orang tuanya. Bergegas ia berbalik meninggalkan pintu itu...
“Debi... tunggu.!” Mamanya berteriak memanggilnya, di depan pintu. Ketika menyadari anaknya telah menguping pembicaraannya dengan Kolonel Lodaya.
Buru – buru Kolonel itu mengejar anak dan istrinya yang belari di koridor, dengan diikuti beberapa pandangan mata orang – orang yang ada di Markas Utama, dengan tatapan tidak mengerti.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
code name.,
2021-05-27
0