Konvoi Presiden Sularso itu melaju dengan kecepatan tinggi. Ada 10 kendaraan berjalan beriringan. Didepannya ada voorijder sebagai pembuka jalan. Ada 4 kendaraan bermotor roda 2 dengan CC 2000 yang masing – masing dikendarai oleh seorang Military Police, melaju berdampingan. Di belakangnya beriringan 2 unit mobil Jeep Rubicon seri terbaru. Baru terselip mobil limousine kepresidenan, yang mengikuti perjalanan mereka. Berikutnya disusul oleh mobil type VAC (Vehicle Army Combat), dengan senapan Armory Mini Gun (mesin senapan ringan) terpasang di kap mobil, dan dijaga oleh 3 orang tentara yang berdiri di bak terbuka belakangnya.
Lengangnya jalan raya membuat para pengawal yang mengiringi Presiden Sularso ini meningkatkan kewaspadaanya. Tidak biasanya situasi jalanan seperti itu. Biasanya di setiap perjalanan mereka, meski berada dalam kondisi perang selalu ada satu atau dua orang penduduk yang melintas. Ini tidak ada sama sekali. Cukup waspada mereka berlalu. Sesekali beberapa orang yang memegang AMG menoleh ke kiri ataupun ke kanan jalan dengan tangan tetap siaga di pelatuk senapan. Mata mereka awas melihat di sela – sela bangunan yang masih kokoh berdiri atau puing – puing reruntuhan bangunan yang hancur karena perang.
Debu – debu berterbangan, sampah – sampah jalanan berhamburan ketika roda – roda kendaraan itu melintas didekatnya. Sesekali terdengar suara decitan ban kendaraan saat bergesekan dengan aspal jalanan. Raungan kendaraan menggema sepanjang jalan itu.
Di dalam mobil kepresidenan. Presiden Redneck Sularso di dampingi 2 orang pengawal presiden yang duduk di bangku depan tempatnya duduk. Menghadap ke arah tempat duduk sang Presiden. Di bangku paling dèpan seorang sopir ditemani satu orang pengawal juga. Senapan serbu laras pendek tergenggam erat ditangan masing – masing dengan diletakkan di atas pangkuannya. Matanya tajam milhat sisi luar kendaraan melalui jendela kecil di samping kendaraan.
Sementara di setiap kendaraan lainnya ada 4 porsenil tentara pengawal presiden yang bersiaga mengawal Presiden Sularso. Di setiap porsenil yang ada di dalam mobil itu juga menenteng senapan serbu sejenis dengan pengawal yang ada di mobil kepresidenan. Semua waspada menghadapi semua kemungkinan yang terjadi.
Satu persatu kendaraan tetap melaju dengan ritme yang sama. Kencang dengan hati – hati. Jarak antar kendaraan juga sama. Stagnan. Tanpa ada keinginan untuk saling mendahului. Bergerak bersama, melaju saling beriringan. Menjaga mobil presiden.
Di tempat lain, masih di ruas jalanan itu...
Kapten Batara bersama teamnya masih mengamati laju iring – iringan itu dengan teropong binoculer yang tergenggam di depan wajah Kapten Batara.
“Semuanya siaga.” Ia kembali mengulang perintahnya.
Detik – detik itu begitu menegangkan. Dalam waktu yang tidak lama lagi, penyergapan terhadap orang no 1 REON akan dilakukan. Tugas yang dibebankan kepada teamnya kali ini bukalah tugas yang terbilang ringan. Meski sudah sering melakukan tugas berat lainnya, tugas sekaranglah yang paling beresiko. Selama ini tugas yang diberikan selalu tugas di dalam negeri. Artinya, dukungan yang diberikan tidak susah. Dan juga medan yang ada dia kuasai. Familier. Setidak – tidaknya dia sedikit sudah tahu wilayahnya, penduduknya maupun kondisi sosial politiknya.
Nah sekarang, semua berbeda. Masyarakatnya, juga orang – orangnya. Lingkungan sosialnya ataupun kondisi geografisnya. Ini di luar negeri. Di luar wilayah teritori mereka. Sekalipun mereka belum pernah kesana. Bahkan informasi yang diperoleh dari internet juga tidak banyak membantunya. Hanya sedikit yang membahas negara REON. Semenjak Presiden Richardsom bukan lagi presiden REON, negara itu seperti menutup diri. Akses informasi ke sana tidak ada sama sekali. Semua hanya diketahui lewat berkas laporan yang dibacanya, ketika akan memulai misi. Bisa saja berkas itu salah, walau sudah di verifikasi. Kalau itu benar terjadi, jangan berharap misi itu berhasil dilaksanakan. Kegagalan total membayanginya.
Kapten Barata masih menatap kedepan lewat teropong binokuler yang dipegang dengan tangan kirinya. Tangan kanan memberi kode kepada Bajang, si Eagle sang Operator Komunikasi yang ada disebelahnya.
Seperti biasa Serda Bajang hanya memperhatikan gerakan tangan sang Kapten. Dalam hati ia mulai menghitung mundur mengikuti gerakan tangan Kapten Batara.
“Lima..”
“Empat...”
“Tiga...”
“Dua...”
“Satu.”
Sesaat kemudian...
“Bummm..!!”
Ledakan keras terdengar berbarengan dengan tombol pad dari monitor 6” di lengan kiri Serda Bajang ditekan. Salah satu mini bomb yang dipasang di jalan oleh mereka sebagai barikade meledak. Tepatnya diledakkan Serda Bajang. Pertanda misi mereka di mulai.
Seketika terdengar rentetan tembakan yang dimuntahkan oleh senapan serbu ZHG24 Sertu Gentar, ke arah konvoi itu.
Satu kendaraan Rubicon terlempar ke atas seiring bunyi ledakan itu. Terlontar jauh kedepan. Mendarat ke bumi dengan api menyambar bodi mobil itu. Terbakar. Keempat sepeda motor besar yang berfungsi sebagai voorijder bertumbangan tidak karuan arah. Dampak dari ledakan itu. Salah satunya bahkan terlempar jauh, mental ke udara dan jatuh menghantam pot bunga pinggir jalan, membuatnya hancur berantakan. Para pengendara itu hanya bisa berteriak kaget. Wajah – wajah mereka pucat pasi. Sesaat ketika kendaraan mereka menyentuh bumi, semuanya tak sadarkan diri. Bahkan ada beberapa orang yang kehilangan nyawanya.
Berikutnya, kekacauan iring – iringan kendaraan itu tercipta. Semua kendaraan itu merangsek kedepan. Lebih – lebih mobil VAC mereka. Bergerak membentengi mobil Sang Presiden Sularso. Dengan moncong senapan mengarah pada arah tembakan yang dikeluarkan oleh teamnya Kapten Barata.
Balasan tembakan menyalak ke arah Sertu Gentar dari beberapa senapan yang ada di atap mobil VAC. Sementara beberapa pasukan pengawal presiden yang ada di mobil Rubicon maupun di VAC bergerak mencari perlindungan di balik mobil – mobil mereka. Sesekali juga mengeluarkan tembakan ke arah yang di anggap ada musuh bersembunyi. Tembakan – tembakan masih gempita. Balas membalas. Ada satu orang penembak AMG yang terkena tembakan Sertu Gentar.
Serda Bajang dan Kapten Batara tidak tinggal diam. Keduanya ikut membantu Sertu Gentar. Menembakkan senapan keduanya ke arah penembak AMG yang tersisa.
Melihat hal itu, Serda Draco dan Lettu Seto tersenyum dingin. Para Pengawal itu menjadi sasaran empuk peluru keduanya. Mereka tidak tahu bahwa ada dua orang pasukan khusus yang bersiap di posisi yang tidak pernah mereka duga.
“Aahk...” jeritan kesakitan tertahan, terdengar tiba – tiba.
Ketika tanpa diduga salah satu teman yang ada disebelahnya terkulai lemah dengan darah mengucur dari belakang kepala, membuat salah satu pasukan pengawal Presiden Sularso terkejut. Itupun tak berlangsung lama. Diapun ikut ambruk menyusul rekannya dengan peluru bersarang di punggung tembus ke dada, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Lettu Seto dan Serda Drako menghajar satu persatu pasukan pengawal yang tak terlindung dengah ZHG24 bersilencer. Tak ada bunyi tembakan yang menggema. Keduanya bak sniper, yang menghabisi sasaran target tanpa ampun sedikitpun.
Melihat pasukan pengawalnya tidak berdaya dan kebingungan menerka dari mana arah tembakan, di dalam mobil kepresidenan, Presiden Sularso menyumpah serapah dengan wajah pucat pasi ketakutan. Memutih seperti tidak berdarah.
“Sialan,” rutuknya kesal. “Perintahkan VAC maju kedepan. Bagaimana caranya, kita harus kabur.” Perintahnya kepada 2 orang pengawalnya yang duduk didepannya.
Dua orang itu hanya mengangguk. Bergegas ia keluar. Menyelinap di balik pintu limousine yang ditumpangi. Dan berlindung diantara mobil VAC yang membentengi.
Salah satunya berteriak. “Kalian lindungi Presiden!!”
“Buka jalan!” Sejurus kemudian ia bersuara lagi.
Satu VAC bergerak maju. Menyingkirkan terlebih dahulu VAC yang tidak bergerak karena sopirnya sudah tertembak dengan bumper depannya. Mendorong ke samping. Menjadikan perlidungan dan mencari celah untuk melarikan diri.
VAC yang tersisa mengapit kiri kanan limousine presiden. Ada 3 VAC. AMG yang terpasang tak henti – hentinya memuntahkan peluru ke sisi kiri kanan jalan. Mencoba melindungi sang presiden untuk menahan musuh tidak menembak.
Mereka tidak tahu, bahwa jalan yang dilalui sudah dipasang barikade oleh musuhnya. Medan itu sudah dikuasai oleh Kapten Batara bersama teamnya.
Beberapa mini bom yang terpasang siap meledak, untuk mereka yang coba – coba kabur. Semua sesuai dengan rencana yang sudah dibuat oleh Kapten Batara. Saat ini konvoi Presiden Sularso sudah masuk dalam perangkapnya. Bak ikan yang sudah masuk ke dalam bubu. Untuk keluar sudah hal yang mustahil.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗
**Terimakasih atas dukungan yang sudah diberikan.
Kritik dan saran sangat diharapkan, sehingga bisa menjadikan Author, menulis lebih baik lagi sekaligus semangat untuk terus berkarya...
Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi...
Terus ... sumur dirumah buat apaan**?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
like👍nya buat Presiden Sularso,.🤗
2021-04-04
1
Little Fish
Mantap thor, semangat👍👍
2020-12-21
1