Tiba di sebua taman dalam Markas Utama Faksi REON Merdeka, Agen Jeanny menghentikan larinya. Ia bersandar pada sebuah batang pohon yang tumbuh disana. Tangannya mengepal memukul – mukul batang pohon itu. Dan menangis sesenggukan disana. Seperti tidak bisa menerima situasinya sekarang ini.
Tanpa disadari mamanya sudah sampai di dekat dirinya. Tetua Diane itu merengkuh anaknya. Mengelus punggung Agen Jeanny yang tak lain adalah Debi, sang buah hatinya.
“Maafkan mama nak...,” katanya parau. “Keadaanlah yang memaksa mama berbuat seperti itu...”
Agen Jeanny hanya memeluk mamanya. Isak tangisnya sudah mereda.
Di belakangnya Kolonel Lodaya yang juga papanya hanya termangu menatap ibu dan anak menangis berpelukan. Orang yang biasa disegani dan berwibawa di depan anggota Faksi REON Merdeka itu, kini hanya tertunduk lesu melihat keduanya. Di depan anaknya, kesan wibawa yang ada di dirinya kini sirna sudah. Berubah menjadi kesan cengeng dan rasa penuh penyesalan.
“Semua ini karena salah papamu ini nak...,” ucapnya dengan mulut bergetar. “Maafkan aku..”
Agen Jeanny berganti memeluk Kolonel Lodaya. Isak tangisnya kembali terdengar.
“Papa...,” hanya kata itu yang terucap di mulut Agen Jeanny.
Mata Kolonel Lodaya berkaca – kaca. Satu kata dari mulut Agen Jeanny meruntuhkan seluruh keangkeran yang dimilikinya. Tidak terasa rasa kebahagian menyelusup ke dalam relung hatinya. Seperti beban berat yang selama ini bergayut di dalam hatinya, sirna dalam sekejap. Plong..!! Terbebas dari belenggu bersalah yang mengikatnya. Kolonel Lodaya meraih tubuh Tetua Diante yang tidak lain adalah istrinya kedalam pelukannya. Ketiganya berpelukan hangat.
“Ma, pa..., apakah selamanya kita akan terus bersatu...?” tanya Agen Jeanny tiba – tiba sambil melepaskan pelukan ayahnya.
Tetua Diane termangu, ia menatap wajah gagah suaminya, Kolonel Lodaya, menunggu jawaban apa yang akan diberikan suaminya.
“Suatu ketika.., kita pasti akan bersatu nak..” Kolonel Lodaya berkata pelan seperti tidak yakin.
“Kapan pa?”
“Tunggu ketika REON sudah mencapai apa yang diinginkan sebagian rakyat REON tercapai. REON yang aman, makmur, adil dan sejahtera.”
Agen Jeanny menatap wajah ayahnya.
“Percayalah! Tidak lama lagi tujuan itu pasti akan tercapai. Itulah salah satu alasan yang membuat papamu ini mengirimkan kamu belajar kepada CIA. Tanpa kamu ketahui, papamu ini menangis sedih ketika melepas kamu berangkat ke Amerika. Papamu harus bersandiwara di hadapan mamamu untuk bisa menjagamu, agar kamu bisa berhasil. Aku tidak ingin kamu diganggu dengan berbagai masalah yang kami hadapi di REON. Satu – satunya jalan adalah menjadikan tugas belajarmu menjadi sangat rahasia. Agar tidak ada satu orangpun termasuk mamamu, ya, juga istri papamu ini mengetahui keberadaanmu. Bahkan akibat itu, sampai mamamu menuntut papa untuk memutuskan hubungannya. Tapi, itulah resiko yang harus papa tanggung. Karena papa tahu, apa yang kamu lakukan di Amerika taruhannya adalah nyawamu. Jangan sampai konsentrasimu berlatih terganggu, sebab saat salah sedikit saja nyawamu terancam...”
Tetua Diane hanya manggut – manggut mendengar penjelasan Kolonel Lodaya.
“Maafkan aku sayang, yang telah menuduhmu yang bukan – bukan,” ucapnya tersipu.
Kolonel Lodaya tersenyum, “Sudahlah. Yang penting persoalan ini sudah clear. Cuman untuk sementara waktu hubungan kita ini di rahasiakan dulu. Ada waktunya nanti kita umumkan.”
Tetua Diane mengangguk. Ia percaya apa yang direncanakan oleh Kolonel Lodaya pasti akan membawa kebaikan bagi dirinya, keluarganya dan sekaligus juga bagi Faksi REON Merdeka.
“Debi, kamu harus fokus pada tugasmu...”
“Izin Kolonel, code name saya adalah Jeanny. Bukan Debi.” Agen Jeanny memotong ucapan Kolonel Lodaya.
Sang Kolonel hanya tersenyum, ia menggusal rambut anaknya...”Dasar kamu..”
“Agen Jeanny! Lakukan tugasmu dengan baik.”
“Siap Kolonel!” jawabnya sembari beranjak pergi.
“Oh iya..,., satu lagi. Jangan lupa.. Bawakan cucu buat papa dan mamamu ini...” kata Kolonel Lodaya sambil tergelak.
Agen Jeaany hanya merengut menanggapinya sambil berkata, “Pamit ma...!!”
💗💗💗
Selesai menyelesaikan semua urusannya di Markas Utama, Jeanny kembali ke tempat tinggalnya dengan perasaan bahagia. Bagaimana tidak? Seorang sosok papa yang selama ini dirindukan akhirnya kembali muncul dikehidupannya. Hubungan dengan mamanya juga kembali normal. Sebuah kehidupan yang bisa dikatakan sempurna bagi dirinya.
Ia melangkah mendekati pintu rumahnya. Namun hati kecilnya, memberitahu ada sesuatu yang tidak beres. Insting intelijen berkata lain. Sebagai seorang agen rahasia, dia dilatih dengan kewaspadaan yang cukup tinggi. Ia mengambil pistol revolver yang ada terselip di balik jaketnya. Membuka kuncinya, siap untuk ditembakkan. Pelan – pelan ia membuka handle pintu. Benar juga, pintu itu tidak terkunci. Padahal saat pergi tadi ia sudah menguncinya. Sangat yakin dia. Sesaat dia diam di depan pintu. Menjaga – jaga siapa tahu lawannya menunggu di balik pintu.
“Sistem, pindai suasana rumah...” bisiknya pelan mengarah pada HP pintar di dalam genggamannya.
Beberapa detik kemudian, semua situasi dan kondisi rumah terpantau secara real time. Ruang – ruang tempat tinggalnya terlihat dengan jelas. Berkat kecanggihan teknologi yang terpasang di rumah itu. Ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, dapur, gudang, beranda sampai halaman belakang terpantau dengan jelas. Pergerakan sekecil apapun bisa terlihat di layar HPnya. Agen Jeanny memantau satu persatu ruangan itu. Jari – jari tangannya menggerak – gerakkan layarnya, dan terkoneksi dengan mini cam yang terpasang secara tersembunyi di berbagai tempat di dalam rumah.
Dia mendengus kesal ketika melihat ada satu orang laki – laki berpakaian rapi tengah mengobrak – abrik lemari pakaiannya. Melemparkan beberapa bajunya ke atas tempat tidurnya. Terlihat, beberapa barang – barangnya berserakan dimana – mana.
“Sialan! Apa yang dicarinya?!” geramnya kesal bercampur heran.
Berjingkat ia mendekati kamar tidurnya. Mengendap – endap disana. Menunggu dengan sabar di samping pintu. Menanti lawannya untuk keluar dari kamar tidurnya. Ia sudah menyelipkan kembali revolver yang dimilikinya ke jaketnya. Jeanny berniat melakukan pertarungan tangan kosong dengan penyusup yang memasuki rumahnya. Sekaligus mencoba kemampuan bertarung yang dikuasainya. Sudah hampir 3 bulan dia tidak pernah bertarung. Hitung – hitung dia mendapatkan mitra tanding. Kawan berlatih.
Hampir lima menit dia menunggu disana. Sampai kemudian terdengar langkah kaki mendekati tempat dia berdiri. Ia bersiap menyambut kedatangan penyusup itu.
“Dughk..”
Satu pukulan menghajar pipi penyusup itu secara tiba – tiba, membuatnya terhuyung kebelakang. Langsung Agen Jeanny menerjang secepat kilat ke tubuh penyusup itu.
Laki – laki itu terkesima, tidak sempat ia bersiap diri untuk bertahan. Satu pukulan cukup mengagetkannya. Ditambah lagi dengan tendangan tiba – tiba membuatnya tidak sempat untuk menghindar ataupun menangkis. Seketika ia terjengkang ke belakang. Menabrak almari yang berjarak sekitar 3 meter dari pintu.
Agen Jeanny langsung merangsek kedepan, kembali menlancarkan tendangan ke arah dadanya. Melihat hal itu, si penyusup tidak tinggal diam, meski dengan sedikit kesempatan dia menyilangkan lengannya, menahan tendangan itu.
“Dess..!!”
Dua kekuatan beradu. Agen Jeanny sedikit terdorong kebelakang. Sementara sang penyusup, terdorong kembali. Badannya kembali terhempas menabrak almari yang sudah hancur berantakan. Penyusup itu menyeringai. Kesal. Ada rasa asin keluar dari mulutnya. Darah. Di sudut bibirnya ada darah yang mengalir. Agar tidak jadi bulan – bulanan Agen Jeanny bergegas ia bangkit berdiri. Sambil mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung telapak tangannya.
“Hebat juga, agen faksi ke**rat ini!!” rutuknya kesal.
Agen Jeanny hanya tersenyum datar. “Apa yang kau cari dirumahku ini. Jangan berharap kau mendapatkannya!”
Penyusup itu tidak memperdulikan apa yang diucapkan Jeanny. Ia malahan bersiap untuk menyerang sang Agen dengan tangan kosong. Mencoba membalas terhadap apa yang sudah dilakukan oleh Agen Jeanny kepada dirinya. Mencari revans.
Agen Jeanny memasang kuda – kuda, menunggu serangan laki – laki penyusup itu. Kedua kakinya tetancap kokoh menahan serangan balasan lawan yang akan dilancarkan.
“Ayo lakukan!!” teriaknya menantang. “Keluarkan semua kemampuan yang kamu niliki..!!”
Merasa diremehkan, sang penyusup semakin geram. Segera ia melakukan gerakan menyerang Jeanny. Sebuah tendangan yang mengarah ke ulu hati.
Jeanny hanya mundur dua langkah. Membuat tendangan itu lewat beberapa centi meter di depannya. Ia membiarkan begitu saja. Melihat apa yang akan dilakukan si penyusup ketika tendangannya hanya mengenai udara kosong belaka.
Begitu tahu tendangannya tidak mengenai sasaran, segera ia menarik diri menjaga jarak dari jangkauan pukulan Jeaany. Secara tiba – tiba ia mengubah arah gerakannya untuk mencoba melakukan guntingan ke kaki Jeanny.
Gerakan itu terbaca oleh Jeanny. Gadis itu mencari titik terlemah dari gerakan si penyusup, sehingga membuatnya seperti mencoba untuk bertahan. Tindakan yang dilakukan oleh Jeanny rupanya terbaca oleh si penyusup. Tanpa basa – basi lagi ia terus melakukan serangan beruntun ke arah Jeanny. Tendangan dan pukulan kembali dilancarkan.
Jeanny hanya terus menghindar. Sesekali tangkisan dan juga balasan menahan tendangan dengan kaki dilakukan. Sedikit dirinya merasa terdesak.
“Plakk....!!!”
Satu pukulan keras terdampar di wajah Jeanny. Ia terhuyung kebelakan, dengan wajah terasa panas. Cap telapak tangan terpapar di pipinya. Lebam membiru. Ia meraba pipinya.
“Hehehe..., itu baru pipi..” ejek sang penyusup. “Sebentar lagi tubuhmu akan jadi sansak hidupku...”
“Cuih...!!” Jeanny meludah ke lantai. “Tidak semudah itu kawan...” ucapnya balas mengejek.
Perkelahian itu kembali terjadi. Entah sudah jurus yang mereka keluarkan. Tidak terasa hampir 15 menit mereka bertarung. Pelan tapi pasti Jeanny mendominasi pertarungan itu. Berkali – kali dia berhasil mendaratkan pukulan maupun tendangan ke laki – laki penyusup itu. Tak urung penyusup itu semakin geram dibuatnya. Pada satu kesempatan ia berhasil menarik pistol yang ada di pinggangnya. Membidik ke arah Jeanny.
“Dorr..!! Dorrr!!” Dua tembakan mengarah ke Jeanny.
Melihat hal itu Jeanny berjumpalitan menghindar dari tembakannya. Bergegas mencari perlindungan dengan memanfaatkan meja marmer yang ada di ruangan itu. Ia pun mulai membalas tembakan itu. Revolver yang terselip di balik jaketnya, kini, berada dalam genggamannya.
“Dorr!!” Satu tembakan balasan dilakukan.
Merasa musuhnya juga bersenjata, si penyusup berusaha untuk melarikan diri. Kabur dari rumah Jeanny.
“Dorr..! Doorr...!! Dorr!!”
Tembakan beruntun dilakukan untuk menghalangi pergerakan Jeanny agar tidak membalasnya. Sekaligus membuka kesempatan merealisasikan niatnya meloloskan diri.
Jeanny pun tidak tinggal diam. Begitu tembakan itu berhenti, segera dia beraksi mengejar penyusup yang sudah hampir sampai di pintu depan.
“Dorr!!”
Satu tembakan melesat dari revolver Jeanny, menembus punggungnya. Seketika dia tersungkur sebelum mencapai pintu.
“Simulasi end...”
"The winner is Agen Jeanny."
Suara robotik wanita terdengar bergema. Seketika lampu – lampu ruangan menyala. Bersinar terang. Sekat – sekat ruangan yang tadi terlihat jelas, pelan – pelan memudar menghilang. Hologram – hologram itu mati, berganti ruangan luas seperti hall olahraga.
Sekelompok orang yang berada di dalam ruangan sekat kaca, tersenyum puas melihat semua reka adegan yang dilakukan oleh Agen Jeanny. Mereka adalah para Tetua dan Komandan Lapangan Faksi REON Merdeka.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
frsksi reon merdeka.,🙌
2021-05-27
0