Keterjutan yang dirasakan Lettu Seto benar – benar luar biasa. Kembali ia menghempaskan dirinya ke tempat duduknya. Ia menarik nafas panjang. Misi ini tidak sama dengan apa yang sudah direncanakan. Tidak sadar ia melepas helm yang dipakainya. Setengah kasar dia menaruh di samping duduknya. Membiarkan tergeletak begitu saja. Semenjak dari kecurigaanya muncul terhadap sang Presiden tadi, ia sudah mematikan radio komunikasinya. Semua pembicaraan tidak ter-direct ke Pusat Komando, juga tidak ter-live ke semua teamnya. Pembicaraan itu bersifat personal. Punggungnya di sandarkan ke tempat duduknya. Matanya kembali menatap tajam Presiden Sularso KW 2, ia menyebutnya demikian. Seperti tidak percaya.
“Tidak..., tidak...” gumannya perlahan. “Ini ada yang aneh... Kapten harus mengetahui ini,” sungutnya beberapa saat kemudian.
Ia meraih helmnya. Comunicator yang tersemat di helm dilepas dan diarahkan ke mulutnya.
“Kapten, kita geser sebentar..” pintanya kepada Kapten Batara, dengan bahasa sandi.
Mendengar suara Lettu Seto, Kapten Batara mafhum, pasti ada sesuatu yang dia ingin sampaikan. Apalagi melihat mobil limousine itu berhenti. Tidak lama kemudian, Serda Drako, keluar dari mobilnya diikuti Lettu Seto dan Sang Presiden Sularso. Beberapa saat kemudian Serda Drako meletakkan mini bom di kolong mobil. Membiarkan Lettu Seto dan Presiden Sularso KW menghampiri mobil VAC yang ditumpangi Kapten Batara dan kawan – kawan.
“Kenapa?” tanya Kapten Batara keheranan. Sesaat setelah Lettu Seto sampai di depannya.
“Panjang ceritanya Kep, “ jawabnya. Ia memerintahkan Sularso KW duduk didepan. Sementara sang Kapten sendiri berpindah ke belakang mengikuti Lettu Seto yang sudah naik duluan. Serda Drako tergopoh – gopoh mengikuti.
Sesaat setelah ketiganya duduk di bak belakang. VAC itu kembali bergerak. Meninggalkan limousine yang sudah terpasang mini bom. Dalam jarak sekitar 100 m, Serda Drako memicu tombol bom itu melalui remote control yang tersemat di saku kirinya.
“Buummm..!!!”
Suara menggelegar kembali terdengar, melontarkan limousine itu ke udara. Berdebum ke bumi dan terbakar. Kobaran api terlihat dari kejauhan beriring dengan VAC yang melaju menjauh.
Keterkejutan kembali melanda raut wajah Kapten Batara, mendengar laporan Lettu Seto. Sesekali ia memandang Presiden Sularso KW, yang duduk diantara Serda Bajang sebagai sopir dan Sertu Gentar.
“Kita terlalu bodoh, kalau mengikuti alur permainan mereka,” kata Kapten Batara geram. “Kita lanjutkan dengan plan B kita..”
“Artinya misi selanjutnya diluar seragam kita Ndan...” timpal Serda Drako.
“Iya!” jawab Kapten Batara tegas.
“Ini ilegal Kep,” protes Lettu Seto.
“Mau tidak mau. Putuskan komunikasi dengan mako. Bawa presiden abal – abal itu ke pulau Land Tera. Kita sembunyi dulu disana. Baru kita susun rencana selanjutnya. Kita harus tahu sebenarnya apa yang terjadi.”
Lettu Seto terdiam. Ia merenungi perintah Kapten Betara.
“Rencana ini penuh resiko. Markas pasti akan mencari kita. Mungkin kita akan dilenyapkan atau setidak – tidaknya diseret provos ke pengadilan militer. Karena kita lari dari misi kita,” kata Kapten Batara melanjutkan.
“Saya mengerti, jika nanti di antara kalian tidak setuju dengan apa yang saya perintahkan. Ini taruhannya nyawa dan reputasi. Keluarga kita juga bisa jadi korban. Yang mau kembali ke markas silahkan. Di depan ada pertigaan. Kita berhenti dulu di sana. Yang ikut saya ke kiri. Yang ke kanan itu menuju titik penjemputan.”
Lettu Seto saling berpandangan dengan Serda Drako.
“Apapun yang terjadi aku ikut Ndan,” Serda Bajang menukas. Sambil mengacungkan jempol kirinya. Sementara tangan kanannya memegang kemudi VAC. Matanya tetap menatap tajam ke depan.
“Siap! Aku juga Ndan. Resiko ini harus kita tanggung bersama.” Sertu Gentar menimpali, sembari menoleh ke belakang.
“Ok. Aku ikut.” Serda Drako berucap. “Kita adalah Garda Penyerbu. Susah senang kita tanggung bersama.”
“Shit!!” Lettu Seto mengumpat. “Kalian memaksaku untuk tidak memiliki pilihan. Demi jiwa korsa.”
Kapten Batara tersenyum kecut. “Terima kasih kawan – kawan”
“Di depan kita belok kiri, kawan.” Perintah sang Kapten sambil menepuk pundak Serda Bajang.
“Siap...”
Melihat antusiasme para pasukan yang tidak dikenalnya itu, membuat Presiden Sularso KW hanya ikut tersenyum kecut. Nyalinya malah semakin mengkerut. Orang – orang ini ternyata bermental baja, gumannya dalam hati. Ia tidak tahu nasibnya seperti apa. Walau sampai sejauh ini mereka tidak pernah berlaku buruk terhadapnya. Dia sudah bercerita apa adanya. Dia bukan presiden Sularso. Namanya sendiri adalah Hans Jatmiko, meski ia belum detail bercerita kepada mereka. Hans sendiri berharap, dengan belum lengkapnya bercerita, bisa menjadi kartu truf untuk menolong nyawanya, atau minimal bisa memperpanjang nafasnya untuk bisa tetap hidup.
VAC itu menambah kecepatan. Melaju meninggalkan debu – debu jalanan yang berterbangan. Untuk tidak menarik perhatian, mereka sudah mencopot mini gun yang ada di kap mobil. Pakaian merekapun sudah diganti dengan baju biasa. Pakaian sipil. Uniform yang mereka pakai sudah mereka tinggalkan. Kecuali baju lapis anti peluru tetap mereka pakai. Senjata – senjata mereka sudah disimpan sedemikian rupa ditaruh di bawah jok depan mobil untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan. Presiden Sularso Kw alias Hans Jatmiko sudah didandani sedemikian rupa juga menggunakan masker dan topi untuk mengelabui orang – orang yang nanti melihat atau mengenalinya.
Tiba di persimpangan, VAC itu mengambil arah berbelok ke kiri, melaju menuju penyeberangan ke pulau Land Tera. Tidak ada yang diperbincangkan selama dalam perjalanan ke sana. Bahkan bertanya secara detail tentang siapa sebenarnya Presiden KW inipun tidak dilakukan. Pertanyaan itu belum tepat untuk ditanyakan sekarang. Masing – masing masih bergulat dengan alam pikirannya sendiri – sendiri. Menyeimbangkan kesadaran mereka masing – masing dari rasa keterkejutan yang menderanya.
Ketika hampir mendekati pelabuhan mereka di hadang oleh beberapa orang. Jumlahnya kira - kira ada 20-an orang. Ditangannya tergenggam berbagai macam perkakas rumah tangga, yang dipakai sebagai senjata. Ada cangkul, linggis, kayu pemukul dan belincong. Nampaknya, mereka bukan pasukan profesional. Dilihat dari gayanya mereka hanyalah gerombolan masa yang mencoba memanfaatkan setiuasi. Atau mungkin, masa yang berhasil diprovokasi untuk ikut melakukan kekacauan. Hanya ada satu orang yang menenteng senjata AK47. Sepertinya dia adalah pemimpin dari masa penghadang itu.
“Kalian tidak boleh melewati jalan ini!” katanya pongah.
Melihat hanya ada 6 orang di atas kendaraan berpakaian sipil dan berperawakan biasa – biasa saja, membuatnya merasa yakin orang – orang ini mudah di intimidasi dan dipalak. Apalagi jumlah orang dipihaknya cukup banyak, ia cukup yakin dengan kekuatan mereka, mampu mengalahkan 6 orang itu.
Sertu Gentar bergegas keluar dari mobil, ketika melihat Lettu Seto mau melompat turun.
“Biar aku saja Ndan. Lama tidak olahraga.” Ucapnya seraya melemaskan otot – otot jari tangan serta otot lehernya. “Jaga presiden kita bro,” pintanya kepada Serda Bajang dengan senyum mencibir ke arah Hans Jatmiko.
Serda Bajang hanya mengacungkan jempol kanannya, dengan dagu bersandar di kemudi mobil di topang tangan kirinya. Senyum tersungging di sudut bibirnya. Ia tahu Sertu Gentar itu siapa. Jago berkelahi di kesatuannya. Pemegang sabuk hitam untuk Taekwondo, Pencak Silat, Karate maupun bertarung gaya bebas mua thay. Di setiap pertarungan ia tidak pernah terkalahkan. Bahkan, ia sering mewakili kesatuan kala ada kejuaraan bela diri. Tak jarang ia menjadi juaranya. Ia hanya tunduk kepada Kapten Batara. Karena dengan dialah, Sertu Gentar berhasil dipecundangi.
“Hati – hati,” Lettu Seto berpesan. Ia juga yakin dengan kekuatan Sertu Gentar.
Sertu Gentar menghampiri mereka. Mencoba untuk bersikap baik dan menghindari pertikaian.
“Kami mau ke pelabuhan penyeberangan,” katanya dengan sikap sopan.
“Tidak bisa!” teriak si pembawa senapan AK47. “Siapapun tidak boleh ke pelabuhan!”
“Kenapa?” tanya Sertu Gentar masih mencoba untuk sopan.
“Pokoknya tidak boleh! Kecuali kalian serahkan barang – barang yang kalian bawa!” gertaknya dengan mata melotot.
“Hm..” Sertu Gentar mendengus. “Kami tidak memiliki barang apapun. Kecuali mobil rongsokan itu. Itupun masih kami gunakan untuk mengantar kami di perjalanan.”
“Enak saja..!!” teriaknya geram sambil menodongkan senapannya ke dada Sertu Gentar. “Kalian tidak boleh pergi, kecuali nyawa kalian yang pergi.”
Sertu Gentar menatap tajam wajah orang itu. Seolah memberi tanda bahwa kalian salah menghadang kami.
“Eit.., hati – hati kalau membawa senjata. Jangan sampai nanti malah mencelakai kalian..,” katanya santai sambil menepis ujung senapan dengan tangan kirinya pelan.
“Sialan!” kata si pembawa AK47 geram. Ia merasa diremehkan dengan tingkah laku Sertu Gentar. Tangannya menarik kunci di badan senapan itu. Mengokangnya.
Tanpa disadari, secepat kilat tangan Sertu Gentar menarik magazin AK47. Melepasnya dari bodi senapan.
Berkali – kali si pembawa AK47 itu menarik pelatuknya. Namun tidak juga keluar letusan. Ada keheranan di wajahnya.
“Kamu mencari ini...” kata Sertu Gentar sambil menunjukan magazin senapan yang tergenggam di tangannya.
Si pembawa AK47 kaget setengah mati. Ia merasa tidak melihat orang yang ada di depannya itu menggerakkan tangannya. Kenapa tiba – tiba magazin itu ada di dia. Anehnya lagi peluru yang ada di magazen sekarang berserakan di tanah di depan kakinya.
Kemudian...
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Ayo dong di like.., biar tambah semangat menulisnya.
Dan makasih yang tak terhingga bagi para readers yang sudah sudi meluangkan waktu memberikan like pada AUTHOR.
Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
mantab.,👊
2021-04-04
1