Malam itu...
Jam sudah menunjukkan pukul 3.20. Menjelang subuh. Kapten Batara masih belum bisa memejamkan matanya. Hampir tengah malam tadi tiba di tempat itu. Disebuah rumah kosong di pinggiran Randcios City. Tempat itu, sebenarnya bukan sebuah pilihan untuk ditinggali. Namun mencari sebuah penginapan atau hotel di daerah pinggiran kota dalam susana perang di tengah malam buta seperti sekarang ini, adalah sesuatu yang sulit untuk ditemukan. Satu – satunya cara adalah mencari rumah kosong yang sudah ditinggal pemiliknya untuk pergi mengungsi. Ada banyak rumah yang kondisinya seperti itu. Tidak perlu lama untuk menemukannya. Kebetulan mereka melihat deretan rumah kosong yang layak untuk ditinggali barang satu atau dua hari sampai rencana mereka siap untuk dilaksanakan.
Kapten Batara menatap dua rekannya yang terlelap di atas tempat tidur usang dipojok ruangan. Semenjak datang tadi, matanya seperti tidak mau untuk di ajak istirahat. Sedetikpun belum terpicing. Ia mencoba mencari kesibukan untuk memancing agar bisa mengantuk. Matanya asyik membaca tablet comunicator yang ada dalam genggamannya. Tangannya sibuk menggeser - geser layar tablet itu.
Ada beberapa point yang ia searching di jagat maya. Ia tertegun ketika membaca berita mengenai kegagalan penyergapan terhadap Presiden Sularso yang dia lakukan, dua hari lalu. Kejadian omong kosong itu berhasil dimanfaatkan Presiden Sularso untuk mendongkrak popularitasnya. Sekaligus merubah image dari orang yang mendzolimi menjadi terdzolimi. Terbukti banyaknya comment di berita itu yang mendukung Presiden Sularso, dan mengutuk keras pelaku penyergapan itu. Ada hampir 8750 comment. Barangkali masuk trending topic. Ia masuk akun twiternya. Benar juga, berita itu masuk top ten topic populer. Tagar tangkap pemberontak, tagar tangkap antek asing, tagar seret penghianat bergema di jagat maya.
Kapten Batara menghela nafas panjang.
“Benar – benar ******** presiden itu...” geramnya kesal.
Kembali terngiang ucapan Serda Bajang tadi siang, “Dicari Kolonel Sugriwa, Ndan.” Bergema di telinganya. Kalimat itu benar – benar membuatnya tidak bisa tidur. Ada banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Kapten Batara tahu siapa sebenarnya Kolonel Sugriwa. Seorang Kolonel yang ambisius nan licik. Ia sanggup mengorbankan prajuritnya untuk bisa mencapai sebuah kemenangan. Baginya pengorbanan seorang prajurit adalah hal yang wajib dilakukan demi seorang komandan.
Misi yang dijalankan, pada akhirnya harus berhadapan dengan teman satu korpsnya. Pemburu yang diburu. Bukan hanya melawan Presiden Sularso dan anteknya. Teman – teman satu korpspun menjadi musuhnya. Sesuatu yang sangat ironis. Awalnya menjalankan tugas demi negara. Sekarang negara memusuhinya.
“Siapapun yang terlibat, semua harus mensnggung akibatnya..” katanya geram. Ia tahu, apa yang dilakukan ini adalah hasil konspirasi. Entah apa tujuan akhir dari semua ini. Ia dan teman – temannya dijadikan tumbal untuk sebuah tujuan yang tidak diketahui dimana dan kapan bermuara. Dalang dari semua ini masih gelap. Presiden Sularsokah? Jenderal Birawakah? Atau ada ‘kah – kah’ yang lain. Saat ini dia adalah bidak dari permainan catur yang dijalankan oleh orang yang tak diketahuinya.
Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya. “Selesai urusan ini akan aku cari kalian. Bukan kalian yang mencari kami..”
Kapten Batara meraih comunicatornya, mengetik massage pada padnya, dan dikirimkan ke Lettu Seto yang sudah bergerak ke Natuna. Dengan frekwensi low range yang dibuat, hanya mereka yang memiliki nomor gelombang frekwensi itu yang bisa menerima. Sistem itu mereka namakan two way comunication, atau komunikasi dua arah.
Jangan melakukan tindakan apapun. Hati – hati. Lakukan penyamaran. Team Sugriwa sedang mencari kita. Buat senyap.
“Beepp... beep.. beepp..”
Bunyi comunicator menerima balasan.
Siapp...
Hampir satu jam lamanya, Kapten Batara mengulik comunicatornya. Pada saat itu, lamat – lamat terdengar orang berlari menyusuri lorong yang berada di samping rumah yang dia tinggali. Segera ia mematikan comunicator dan mengenakan kacamata night visionnya. Meraih pistol, dan mengokang. Perlahan ia membangunkan Serda Bajang.
Serda Bajang tergagap bangun. Buru – buru Kapten Batara meletakkan jari telunjuk di mulutnya. Dan menaruh telapak tangan di telinga. Memberi perintah untuk mendengarkan.
Melihat itu Serda Bajang mengangguk. Ia konsentrasi mendengarkan. Tangan kanannya meraih night vision yang ada di atas tempat tidurnya. Mengenakan lalu meraba pistol yang ada pinggangnya. Berjingkat ia mengikuti Kapten Batara yang sudah terlebih dahulu keluar kamar.
Tanpa mengeluarkan sedikitpun, Kapten Batara menaiki tangga menuju ke atap. Melihat siapa yang larut malam begini berlarian di lorong. Ada kekhawatiran dan kecurigaan di wajahnya. Jangan – jangan orang itu adalah suruhan Kolonel Sugriwa atau mata – mata pasukan REON.
Dengan kacamata night vision yang dipakainya, semua terlihat jelas. Kapten Batara terhenyak ketika melihat orang yang berlari di lorong itu. Seorang wanita. Kemudian di ujung lorong ia melihat ada 5 orang berseragam tentara mengejarnya. Jelas itu tentara REON. Di tangan mereka tergenggam berbagai macam senjata. Satu orang menggenggam pistol dan yang lainnya Senapan Serbu M16 ditentengnya. Kapten Batara memberi tanda kepada Serda Bajang yang berjongkok dibelakangnya untuk menuju ke sebelah rumah dan memberi perintah untuk membunuhnya, dengan jari telunjuk terbalik. Bergegas Serda Bajang mengikuti perintah.
Bagaikan memiliki ilmu meringankan tubuh yang mumupuni, dengan entengnya Kapten Batara melompat ke gedung seberang lorong, setelah terlebih dahulu mengambil ancang – ancang berlari sekuat tenaga. Sengaja ia menjauhkan keributan yang bakal dialaminya ini dari tempat yang ditinggalinya. Ia memang harus membuat Hans Jatmiko tidak mengetahui. Membiarkan orang itu untuk tetap terlelap tidurnya. Dan, secara tidak langsung ia menyelamatkan Hans Jatmiko untuk tidak menjadi korban sia – sia.
Secara jelas, wanita itu mencari pintu rumah yang tidak terkunci, setelah ia berada di balik pertigaan lorong. Dan tidak tersorot oleh cahaya senter yang semenjak tadi menyinari dirinya terus menerus. Satu persatu dengan tergesa – gesa di dirongnya. Sudah ada 4 rumah, ia melakukan itu. Semua terkunci. Wanita itu adalah Dokter Anastasya yang tengah melarikan diri dari pengejarnya.
Hingga pada ahirnya..., ada tangan kuat yang menariknya memasuki sebuah rumah. Membekapnya untuk tidak bersuara.
“Mmmhp...” gelagepan ia merasakan.
Seserang membisikinya. “Jangan berteriak.., kalau mau hidup. Aku akan menolongmu.”
Anastasya mengangguk. Membuat bekapan itu mengendur. Di kegelapan seperti ini, ia merasa laki – laki yang mau menolongnya cukup kuat. Setidaknya ia sedikit memiliki harapan, mempunyai kesempatan bisa kabur dari prajurit REON yang mengejarnya.
“Kamu diam disini. Jamgan kemana – mana. Akan aku bereskan orang – orang itu.” Perintahnya lagi.
“Iya.” Jawab Dokter Anastasya lirih.
Ia membiarkan laki – laki yang tidak lain adalah Kapten Batara melompati jendela samping rumah. Mengendap disana.
“Jangan biarkan dia lolos!” pekik salah seorang pengejarnya kepada semua kawan – kawannya.
“Periksa semua rumah disini!! Satu persatu jangan sampai tertinggal! Aku yakin dokter sundal itu bersembunyi disini.” Teriaknya lagi sambil mengarahkan sorot cahaya senternya ke ujung lorong. Mencari – cari dokter Anastasya.
“Brakk! Brak!! Brakkk!!!” Suara tendangan sepatu lars menghantam pintu terdengar bersahutan.
Mendengarnya, Dokter Anastasya menggigil ketakutan. Badannya gemetaran. Pada kondisi seperti ini, tidak yakin ia bisa berhasil meloloskan diri. Hatinya berkecamuk. Kabur atau tetap berdiam diri. Teringat perintah orang yang barusan menariknya masuk, ia memilih untuk bertahan. Dalam hati ia hanya bisa berdoa semoga sang dewa penolong berpihak kepadanya. Orang itu benar – benar mampu membereskan semua. Menyingkirkan orang – orang yang berniat menangkapnya. Ia berdiam di belakang pintu. Tidak sengaja dia menemukan pemukul base ball yang tergeletak di lantai. Digenggamnya erat. Tekadnya sudah bulat. Ia harus memberikan perlawanan jika ada tentara REON yang memaksanya menyerahkan diri.
Kapten Batara cukup tenang menghadapi situasi seperti ini. Melihat gaya para tentara REON itu, ia yakin mampu membereskannya. Ia masih mengendap di balik pintu. Sabar menunggu kesempatan untuk bertindak. Telinganya tajam mendengarkan. Melalui night vision yang dikenakan, ia awas mengamati setiap pergerakan lawannya. Bagaikan harimau mengintai mangsanya.
“Brakkk!!” satu tendangan keras menjebol pintu yang ada disampingnya. Satu sosok muncul dengan senter terpasang di moncong senapan dan siaga untuk menembak.
Kapten Batara tidak menyia – nyiakan kesempatan itu. Secepat kilat tanganya menarik senapan itu sekuat tenaga sampai pemiliknya terhuyung kedepan tanpa sempat menarik pelatuknya.
“Dess!!”
Tanpa ampun Kapten Batara melepaskan tembakan pistol yang sudah ber-silencer ke pelipis tentara malang itu. Peluru itu menembus tulang tengkoraknya. Darah muncrat mengotori pintu yang barusan ditendangnya. Dalam sekejap orang itu ambruk tanpa sempat untuk berteriak. Sigap Kapten Batara menangkapnya, agar tidak berdebum ke lantai dan tidak menarik perhatian teman – temannya. Ia mendudukan tentara itu pelan – pelan ke lantai. Meraih senapan M16nya.
Hanya sekali gerakan Kapten Batara kembali melompati jendela menuju rumah berikutnya. Menghadang tentara REON lainnya.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
trus 👏
2021-04-04
1