Pulau Land Tera.... Pagi hari...
Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan. Kapten Batara dan orang – orang yang bersamanya masih bermalas – malasan untuk bangun. Kebetulan, dalam perjalanan yang mereka lakukan menemukan sebuah pondok huma di ladang yang sudah lama ditinggal pemiliknya. Malam itu mereka menginap disitu. Nampaknya, ladangnya pun sudah lama ditinggalkan. Pepohonan kecil liar dan semak belukar banyak tumbuh disana. Sambil melepaskan lelah, mereka mencoba untuk menyusun rencana selanjutnya. Sekaligus mencari tahu identitas sebenarnya dari Hans Jatmiko, si penyaru Presiden Sularso dan motif Balagho, si pemalak. Dua orang itu diikat satu sama lainnya, dengan kabel ties (1), agar mereka tidak melarikan diri dan memudahkan pengawasan.
Kapten Batara melangkah ke luar pondok diikuti Lettu Seto, yang sudah duluan bangun. Menikmati cahaya pagi.
“Kep, apa rencana kita selanjutnya?” tanya Lettu Seto ketika berada disamping Kapten Batara. Matanya masih tidak lepas dari pandangan ladang yang sebagian ditumbuhi belukar, dan sebagian dibiarkan kosong. Hanya bekas batang – batang pohon melintang kesana kemari, sisa tebangan.
“Semalam aku berpikir, kita harus dibagi dua kelompok,” jawab Kapten Batara. Tangannya menyibak ranting – ranting kecil di depannya. “Aku sama Serda Bajang. Kamu, Drako dan Sertu Gentar.”
“Aku akan bawa Hans Jatmiko, mencari keluarganya. Cerita laki – laki itu sangat menarik. Aku ingin kebenaran ini terungkap,” lanjutnya lagi.
“Balagho, kamu antar ke kelompoknya, setelah dia sembuh.”
Lettu Seto hanya mendengarkan.
“Temui, pemimpin kelompok yang mengutus dia. Arahkan, bahwa modal perjuangan itu bukan menghalalkan segala cara....”
Kapten Batara berhenti sebentar.
“Ada banyak jalan untuk bisa mencapai tujuan. Buat Balagho sadar, bahwa mengabdi untuk bangsa tidak harus mengorbankan orang lain.”
“Setelah dari sana. Tinggalkan REON. Kamu dan orang – orang kita pergi ke Natuna. Sembunyi disana. Tunggu kabar dari saya.”
“Menurut prediksiku, markas pasti akan mencari kita. Pasti menyuruh team lainnya untuk menjemput, bahkan mungkin akan membunuh kita.”
“Dengan kita memisahkan diri, setidak – tidaknya ada salah satu dari kita bisa menyelesaikan misi ini, dan memberi laporan kepada Jenderal Birawa bahwa ini diluar dugaan.”
“Aku akan mencari tahu apa yang terjadi,” katanya menegaskan lagi.
“Setelah kita mengambil semua perbekalan kita di pulau ini pagi ini, kita langsung berangkat,” lanjutnya lagi. “Aku khawatir orang – orang suruhan Jenderal Birawa sudah bergerak mencari kita.”
“Berikutnya, buat comunicator kita hanya menjadi hubungan dua arah. Setiap dua jam kita rubah frekwensi untuk menhindari Pusat Komando memonitor kita. Daftar frekwensinya nanti aq kasih.”
“Siap Kep!” jawab Lettu Seto sigap.
Sampai di sebuah tempat, ada satu batang roboh yang bisa di jadikan tempat duduk, keduanya kembali berbincang. Mengatur strategi dan cara untuk menjalankan rencana mereka.
Hampir setengah jam lamanya keduanya ngobrol, sebelum akhirnya kembali ke pondoknya. Ketika itu, didapatinya Serda Bajang yang sedang memasak dibantu Hans Jatmiko. Rupanya ‘tali ties’nya yang mengikat dia dengan Balagho sudah diputus oleh Serda Bajang. Serda Drako dan Sertu Gentar masih ngorok di lantai yang di alasi mantel hujan mereka. Sementara Balagho duduk di kursi termenung.
“Woi..., harum banget baunya, sepertinya enak banget rasanya...,” puji Lettu Seto, begitu sampai di tempat Serda Bajang memasak.
Serda Bajang tersenyum. “Sabar, sebentar lagi masak...” katanya kemudian.
Iya, di Unit XII ini Serda Bajang memang jagonya memasak. Setiap mendapatkan misi saat jauh dari pemukiman, Serda Bajang kebagian peran sebagai juru masak. Dengan bahan seadanya dia bisa menciptakan menu yang menggugah selera. Kebetulan di pondok itu ada tempat untuk memasak, dan beberapa sisa bahan – bahan makanan yang ditinggal pemiliknya. Juga ada sisa - sisa tanaman sayur – sayuran di belakang pondok yang masih bisa dipanen oleh Serda Bajang. Beberapa pohon cabai yang berbuah juga ada tumbuh disitu. Untuk nasinya, Serda Bajang bisa menggunakan ransum RS1, yang merupakan bekal makanan wajib bagi setiap Pasukan Garda Penyerbu menjalankan misi.
Mendengar suara ribut – ribut dan mencium aroma yang menggugah selera. Sertu Gentar dan Serda Drako bangun dari tidurnya. Masih dengan mata yang kriyip – kriyip dan setengah mengantuk menuju ke dapur.
“Hei..., cuci muka dulu. Tuh, dibelakang ada sumur..!” teriak Serda Bajang ketika melihat temannya mencomot beberapa sayur yang masih di atas perapian.
Serda Drako terkekeh, dengan mulut penuh makanan.
Hans Jatmiko hanya ikut tersenyum kecil. Melihat tingkah polah orang – orang yang menawannya.
Sembari menunggu dua manusia temannya itu cuci muka, Serda Bajang dibantu Hans Jatmiko menyiapkan hidangan itu di meja tengah pondok itu. Kapten Batara sudah duduk terlebih dahulu di sanping Balagho. Sekedar basa – basi menanyakan kondisinya pasca di hajar Sertu Gentar kemarin.
“Sarapan sudah siap..!!” Serda Bajang berteriak, memberi isyarat kepada rekan – rekannya yang masih di belakang.
Lettu Seto mengambil tempat duduk di depan Kapten Batara. Berturut – turut, ada Hans Jatmiko dan Serda Bajang. Karena kursi di situ hanya ada lima, Serda Drako dan Sertu Gentar duduk di balai – balai yang semalam di tiduri Kapten Batara dan Lettu Seto, setelah terlebih dahulu mengambil sarapannya.
Sambil makan pagi mereka mendengarkan rencana Kapten Batara yang sudah dijabarkan ke Lettu Seto tadi.
“Selesai sarapan kita berangkat, ambil semua perbekalan yang kita miliki di pulau ini. Berdasarkan GPS kita, paling sekitar 3 jam perjalanan kita menuju titik persembunyian bekal kita.” Kapten Batara memberikan instruksi.
“Kita harus bergegas. Aku khawatir orang – orang suruhan Jenderal, pasti akan mengobrak abrik pulau ini. Pulau Land Tera. Mencari keberadaan kita. Mobil angkutan kita, kita tinggalkan di pelabuhan penyeberangan. Untuk kamufalse. Setelahnya kita mencari 2 unit kendaraan untuk pergi ke tujuan kita.”
Semua menyimak ucapan Kapten Batara. Sesekali mereka saling berpandangan, mencoba menyelami apa yang ada dalam sanubari mereka masing – masing.
Teringat awal mula perjalanan mereka. Untuk Unit XII Garda Penyerbu, kembali terngiang perintah misi menàngkap Presiden Sularso untuk dihadapkan ke Mahkamah Internasional. Mereka diterbangkan ke REON secara rahasia dan mendarat di Pulau Land Tera. Pagi – pagi buta mereka sudah sampai di pulau itu. Pulau dimana sekarang yang dipijaknya. Ketika itu, hampir seharian mereka secara sembunyi – sembunyi dan mengendap – ngendap mununggu perbekalan mereka dikirim melalui drone. Jam 5 sore, perbekalan itu dijatuhkan. Tiba disana. Mereka hanya membawa beberapa perlengkapan penting yang dibutuhkan saat menjalankan misi. Tidak semuanya dibawa. Sisanya mereka sembunyikan di sebuah goa kecil, tidak jauh dari titik pendaratannya.
Untungnya, daerah pendaratan itu bukan kawasan yang dijamah manusia. Wilayah itu hanya berupa pulau karang seluas sekitar 5 ha. Ada sedikit area datar yang bisa digunakan sebagai titik pendaratan terjun bebas. Selebihnya adalah gugusan karang yang membentuk perbukitan dan lembah. Daerah itu bisa dikatakan zona ‘unindentity area’. Daerah tak bertuan. Sehingga bisa dibilang daerah aman. Orang akan berpikir seribu kali untuk pergi kesana. Disamping tidak ada yang menarik perhatian, juga untuk menginjakkan kaki kesana butuh ketrampilan khusus dan tenaga extra. Artinya, kalau tidak ada keperluan yang sangat.., sangat... spesial wabil khusus orang enggan untuk kesitu.
Hampir satu setengah hari lamanya perjalanan mereka menuju ke kota Randcios City, ibukota REON menyergap iring – iringan Presiden Sularso, yang berdasarkan informasi akan melakukan rendezvous, bersenang – senang, di tempat peristirahatannya di pinggiran kota.
Secara teori, misi itu bakal berjalan mulus. Dan tidak susah. Informasi yang diterima sebenarnya sudah sangat detail. Berapa jumlah pengawalannya. Jam berapa di berangkat. Menggunakan kendaraan apa. Termasuk senjata apa saja yang dibawa. Juga, kekuatan pendukung di belakangnya. Semua dijabarkan jelas. Dengan begitu teori probialitas keberhasilan misi adalah 90 berbanding 10.
Tidak pernah ada bayangan misi ini akan gagal. Bahkan, membuat mereka untuk ‘disersi’ semntara dari ketentaraan. Bertahan di REON dalam waktu yang tidak diketahui secara pasti kapan berakhirnya. Awalnya adalah misi sederhana, sekarang berubah menjadi sebuah misi yang penuh dengan ketidakpastian.
“Oke. Kita berkemas sekarang,” kata Kapten Batara akhirnya. “Rapikan perlengkapan makan kita. Kita tinggalkan tempat ini dalam kondisi sama dengan kondisi sebelum kita ke sini.”
“Siap..!!”
Kapten Batara tidak lupa menaruh 10 lembar uang pecahan 10 dolar REON, di toples tempat rempah – rempah, sebagai pengganti semua bahan yang sudah diambilnya juga sewa pondoknya. 10 dolar REON setara dengan nilai 100 ribu rupiah uang Indonesia. Atau kalau ditotal sama dengan 1 juta rupiah.
Tepat ketika matahari terbit di ufuk timur, semua orang bergerak meninggalkan pondok itu menuju goa kecil mengambil sisa perbekalan mereka.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
1. Tali yang terbuat dari nylon untuk mengikat sesuatu dengan cara yang praktis dan mudah
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
REON.,😠
2021-04-04
1
Zahroni Nur Hafid
Semangat upnya thor...[Blossom with you] support dgn boomlike, vote dan rating 5..... Jika ad waktu silahkan mampir support novelku jg ya
2020-12-16
1