Sambil mengendap – ngendap Kapten Batara mengintai seorang tentara REON yang tengah memeriksa ruangan sebuah rumah. Sorot cahaya senternya, menyinari setiap sudut yang dicurigai tempat persembunyian dokter Anastasya. Sesekali ia memeriksa dengan teliti tempat – tempat tertentu. Kolong tempat tidur. Dalam almari atau dibalik kotak – kotak kardus dan box – box barang yang ada di sudut ruangan.
Perlahan Kapten Batara menunggu di balik pintu. Dengus nafasnya di atur sedemikian rupa dengan ritme pelan. Tangannya mengangkat ke atas. Siap siaga untuk menerkam musuhnya. Pistolnya sudah diselipkan di pinggang. Matanya tajam mengintip musuh. Sabar ia menunggu lawan keluar kamar.
Sang lawan tidak sadar, bahwa maut tengah mengintainya. Merasa tidak ada yang dicari, ia berniat balik dan mau memeriksa ruangan lainnya.
Baru saja keluar pintu, satu pitingan keras secara tiba – tiba telah mencengkeram tanganya. Tanpa sempat melawan, sebuah gerakan telah mematahkan lehernya.
“Kraak!” bunyi leher patah terdengar. Kapten Batara menyeringai. Selesai menghabisi dua orang tentara REON, bergegas ia menuju ruangan persembunyian Dokter Anastasya, setelah meletakkan tubuh musuhnya di lantai. Mengajaknya untuk keluar dari persembunyiannya.
Wanita itu mengikuti perintah Kapten Batara, ia berjingkat di belakang lelaki itu. Setelah tiba di depan pintu, Kapten Batara berbalik menatapnya.
“Kamu bisa menggunakan pistol?” tanya Kapten Batara tiba – tiba.
Seketika Dokter Anastasya menggeleng.
“Hemh..” Batara mendengus. Sekilas ia memberi pelajaran singkat ke dokter itu. Setelah terlebih dahulu menunjukkan bagian – bagiannya.
Dokter Anastasya hanya mengangguk – ngangguk. Setengah ragu. Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat dan memegang benda itu. Selama ini dia hanya melihat di film – film saja. Itupun tidak begitu jelas. Sekarang ia memegang benda itu.
“Setelah kamu tarik kuncinya, baru bisa kamu gunakan,” kata Kapten Batara menjelaskan.
“Arahkan laras itu ke orang yang kamu tembak,” katanya lagi sambil mendorong tangan dokter itu berpindah ke depan.
“Eh..., maaf... maaf,” katanya ketika menyadari kekeliruan arah ujung pistolnya yang ke arah Kapten Batara, dengan dua tangan siap menembak.
“Nah begitu...,” jawab Kapten Batara tersenyum geli. “Paham kan?”
Dokter Anastasya mengangguk.
“Kamu pergi ke rumah yang ada di sana,” perintah sang Kapten lagi. “Kamu sembunyi dulu disana. Nanti disitu ada satu orang lagi tidur. Biarkan saja. Tunggu aku disana.”
“Kalau dalam lima belas menit aku tidak datang. Bangunin dia. Ajak pergi. Dia tahu kemana harus pergi. Kamu ikuti dia.”
“Tunggu setelah aman kamu boleh kesana... Aku memberesi orang – orang itu. Oh iya, satu lagi. Tembak setiap orang yang masuk.”
Kembali dokter itu mengangguk lagi.
Kapten Batara kembali bergegas melangkah ke luar. Melanjutkan niatnya membereskan tentara REON yang tersisa. Sedangkan Dokter Anastasya mengamati kondisi diluar. Setelah dirasa cukup aman, berlari ia menuju rumah yang ditunjuk Kapten Batara melewati lorong yang tadi dilewatinya. Sekejap ia sudah tiba disana. Pelan – pelan ia membuka pintu depan rumah itu. Sekilas ia melihat ada orang yang tengah tertidur di kamar. Seperti yang diperintahkan oleh Kapten Batara ia berjaga di sebelah kamar yang ditiduri orang itu dengan tangan siaga di pistol mengarah ke pintu...
Di rumah lain, pada waktu yang sama...
Serda Bajang sedang bersiaga menunggu tentara REON yang bakalan menggeledah rumah itu. Meski gelap, dia dapat melihat suasana ruangan itu dengan jelas berkat kacamata night vision yang dipakainya. Tangannya tergenggam pistol bersilencer, sama persis dengan milik Kapten Batara. Pintu yang ada di depannya sengaja dibuka sedikit untuk bisa mengintip kondisi di luar rumah.
Dua orang di terlihat berlari menuju rumah yang di tunggunya. Sementara yang lari menuju rumah yang berbeda – beda. Serda Bajang segera mengokang pistolnya. Menanti bersama maut menjemput kematian dua tentara REON.
Salah satu dari mereka menendang pintu.
“Brakk!”
“Dess! Dess!”
Berbarengan dengan pintu yang terbuka, dua tembakan menghajar keduanya. Satu di dada. Satu di perut.
“Aackhkk...” Satu teriakan terdengar. Disusul berikutnya, satu ambruk kedepan. Satunya terhuyung ke belakang...
“Desss!!Des!”
Belum sempat dia membalas. Dua tembakan lagi menyusul. Dua - duanya mengenai dada, sekaligus mengantarnya menemui malaikat maut..
Mendengar teriakan temanya, seketika orang yang lagi memeriksa sebuah rumah, membatalkan niatnya. Segera ia mau memeriksa teriakan itu. Belum sampai ia di depan pintu, seseorang, si Kapten Batara telah menghadangnya. Menantangnya untuk duel tangan kosong one by one.
Tentara REON itu menyeringai. Sebagai seorang komandan regu, ia merasa tertantang. Demi kehormatannya, ia bersedia melayani tantangan Kapten Batara. Senapan serbu M16 dilemparkan begitu saja, dan membiarkan sinar lampu senter yang terpasang di laras senapan hidup sebagai cahaya penerangan.
Bersiap dia maju dengan melepaskan pukulan ke arah Kapten Batara.
Dengan sedikit melangkahkan kaki kirinya ke samping, sang Kapten mengelak. Tangan kanannya menangkis serangan itu.
Merasa pukulan tangan kanannya tidak berhasil, segera ia menyusul dengan tangan kiri sambil merangsek kedepan. Dengan mudah Kapten Batara kembali menangkisnya.
Selanjutnya iapun membalas pukulan itu. Dengan kekuatan penuh tangan kanannya mingirimkan tinju ke arah kepala, namun secara tiba – tiba Kapten Batara merubah arah pukulannya. Sebuah gerakan yang sangat sulit diikuti mata biasa, tiba – tiba menghajar dada tentara REON itu, membuatnya ia terdorong 10 langkah kebelakang.
Rasa sakit yang luar biasa dirasakan tentara itu. Untung saja dia tidak terduduk. Ia menggerak – gerakkan otot dadanya untuk mengurangi rasa sakit itu.
“Hiiiyyaaa...!!”
Sambil berteriak, ia kembali menyerang Kapten Batara. Kali ini adalah kepala yang menjadi incarannya. Dan, tendangan kaki yang nenjadi senjatanya.
Melihat hal itu, Kapten Batara segera menyongsong tendangan itu. Hanya sedikit mundur saja, tandangan itu lewat beberapa centi dari wajahnya. Tidak lupa pukulan dengan tangan kanannya digunakan menghajar paha lawanya yang tidak terlindungi. Bukan hanya sekali, tangan kirinya juga ikut membantu menyusul pukulan itu.
Tidak terasa duel itu sudah berlangsung hampir 7 menit. Pukulan demi pukulan dilancarkan keduanya. Juga tendangan demi tendangan, berlaku untuk keduanya. Entah sudah berapa kali tentara REON itu menerima pukulan maupun tendangan dari Kapten Batara. Darah sudah banyak bercucuran di wajahnya. Pelipisnya robek. Bibirnya juga pecah. Ada 4 atau 5 giginya tanggal. Mata sebelah kiri sudah lebam. Hanya semangat yang membuatnya masih bisa bertahan. Pertarungan itu tidak seimbang. Bukan level dia berduel dengan Kapten Batara.
Sementara dirinya hanya berhasil beberapa kali menyarangkan pukulannya ke wajah atau badan Kapten Batara. Itupun juga bukan pukulan yang keras atau tendangan yang menyakitkan. Seperti pukulan atau tendangan ala kadarnya saja. Hanya menunggu waktu saja untuk tumbang di tangan Kapten Batara. Nafasnya sudah terengah – engah. Malam itu membawa mimpi buruk bagi dirinya.
Pada satu kesempatan Kapten Batara berhasil melayangkan tendangan yang cukup telak didadanya. Ia terhuyung. Matanya nanar. Sesaat hanya bisa menatap Kapten Batara. Selanjutnya semua gelap. Ia tidak ingat apa – apa. Tumbang untuk selamanya.
Melihat lawanya sudah tidak berkutik lagi, Kapten Batara mengusap bibirnya. Di sudut mulutnya ada noda darah sedikit. Ia meludah ke lantai. Membersihkan sisa – sisa darah yang barangkali masih ada di mulutnya.
Berbarengan dengan itu. Serda Bajang tiba - tiba muncul dari balik pintu. Mendengar suara langkah kaki, Kapten Batara bersiaga. Bersiap untuk berduel lagi. Kalau saja tidak berteriak, hampir saja kena hajar dia.
“Beres Ndan?!” katanya.
Kapten Batara menarik nafas laga. Bukan musuh rupanya. Ia kembali bersikap biasa.
“Kamu?” katanya balik bertanya.
“Selesai Ndan.”
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
Kyaknya dokter ini bakal jdi patner kapten Batara.,😽
2021-04-04
1
Sgt. Rafli "Wibu" Maulana
narasinya sangat jelas dan nggak lebay
satu kata KEREN
panjang umur author
2021-01-20
2
follow IG @jannuary_biru
ehh niat kasih 80 ehh lebih 10 terlalu semangat nih jari gpp itung itung sebagai penyemangat jangan lupa vote back hehehe eh lupa kalo judulnya diganti PARA PEMBURU gimana cuma usul doang.
2020-08-30
1