Susana Ruang Monitor Markas Pusat Komando...
Kesibukan terjadi sangat luar biasa. Monitor pemantau dan radio komunikasi tiba – tiba mati. Barusan mereka bisa melihat live penyergapan Presiden Sularso. Kenapa tiba – tiba seperti tidak terkoneksi? Semua mati total. Seorang Teknisi Pusat Komando itu sibuk mencoba untuk mengetahui sebab musabab kematian total itu. Di layar monitor utama hanya ada gambar bintik – bintik hitam memenuhi luas layar itu. Demikian juga monitor pemantau untuk semua anggota unit. Mati total.
“Tidak ada yang bermasalah, Ndan,” katanya sambil mengotak – atik beberapa softwere di layar laptop yang terkoneksi ke dalam jaringan itu.
“Semua oke. System Check. Display oke. Device check. Network not conection. Please your check the divice conection or your device loss contact.”
“Ndan, sepertinya communicator mereka dimatikan…” katanya kemudian memberi laporan
Kepala Pusat Komando itu mengernyitkan keningnya.
“Apa mungkin?” gumannya perlahan.
“Apa yang terjadi?” Tanya Jenderal Birawa tiba – tiba, di belakang mereka.
“Mereka mematikan communicatornya Jenderal,” lapor Kepala Pusat Komando.
Jenderal Birawa diam. Dia menatap layar monitor yang masih dipenuhi bintik – bintik hitam berkedip – kedip. Ia menghela nafas.
“Ada yang salah ini… “ gumannya pelan.
Belum selesai ia ikut memeriksa kondisi koneksi monitor dengan pasukannya di lapangan, ajudannya bergegas mendekati. Menyerahkan handpone yang ada dalam genggamannya.
“Izin Jenderal. Pak Presiden menelepon anda…”
“Siap Pak Presiden…,” kata Jenderal Birawa begitu menerima telepon dari Ajudannya.
Sesaat Jenderal Birawa hanya mendengarkan omongan Sang Presiden. Hanya wajahnya yang berubah – ubah. Ketegangan ada di raut wajahnya. Kadang mimik wajahnya mengkerut.
“Siap… Siap Pak..!”
Dia diam sesaat. Barangkali Jenderal Birawa mendapat perintah.
“Selamat sore pak..” jawab Jenderal Birawa mengakhiri pembicaraannya dan menyerahkan kembali handphone itu kembali ke Ajudannya.
“Hubungkan monitor ke TV CNBC,” perintahnya kemudian kepada Operator yang ada di depannya.
Seketika siaran televisi CNBC bermunculan di monitor utama. Dengan beberapa klikan monitor – monitor kecil yang ada di bawah layar menghilang. Siaran berita TV CNBC memenuhi layar monitor itu.
Alangkah terkejutnya Jenderal Birawa, ketika melihat di layar monitor Presiden Sularso sedang konferensi pers secara live. Ia mengusap – usap matanya. Benarkah presiden keparat itu yang bicara? Ia membatin. Bagaimana bisa?
Keterkejutan iku juga menyelimuti ruangan pusat komando. Barusan tadi secara live dan jelas, Presiden Sularso berhasil di ‘ambil’ oleh Unit XII Garda Penyerbu, Pasukan Elite mereka. Kenapa sekarang bisa tiba – tiba bisa muncul memberikan konferensi pers dengan wartawan di Istana Kepresidenannya.
Di layar monitor terlihat beberapa mayat yang berserakan dan beberapa kendaraan yang terbakar, sisa – sisa peperangan. Presiden Sularso sedang menceritakan kondisi Negara REON saat ini. Ada beberapa pemberontakan yang terjadi, namun berhasil dikendalikan. Ada pergerakan musuh yang ditengarai mendapatkan bantuan dari pemerintah asing. Terbukti dengan ditemukannya banyak selongsong peluru yang bukan merupakan standar selongsong peluru senjata pasukan REON maupun jenis peluru milik pemberontak. Namun berkat kejeliannya dia selamat, meski kendaraan kepresidenan hancur berantakan. Kamera di monitor itu juga mengclose up limousine Presiden Sularso yang terbakar habis. Pada saat sesi tanya jawab, Presiden Sularso mengancam akan menyeret mereka – mereka yang sudah memberikan bantuan kepada pemberontak, ke pengadilan rakyat dan menghukum mereka seberat – beratnya. Bahkan kalau perlu akan menembak mati mereka.
“Putar kembali rekaman penyergapan itu..” perintah Jenderal Birawa tiba – tiba.
Seketika layar monitor selebar screen bioskop itu ter split menjadi 2 secara vertical. Layar sebelah kiri masih siaran live TV CNBC. Sedangkan yang kanan terputar rekaman penyergapan yang dilakukan oleh Kapten Batara dan teamnya.
“Rewind ke point Lettu Seto masuk ke mobil Presiden.” Perintahnya lagi
“Stop!!” Tukasnya ketika layar monitor itu sampai pada rekaman Lettu Seto duduk di depan Presiden Sularso.
Jenderal Birawa memperhatikan dengan seksama view itu.
“Zoom out wajah presiden itu.”
Layar monitor yang sebelah kiri langsung mengclose up wajah Presiden Sularso.
“Record, livenya CNBC ketika Presiden Sularso bicara. Close Up.”
Screen sebelah kiri juga mengclose up saat Presiden Sularso bicara di depan media. Masih ada sedikit gambar microphone di depannya. Itu yang membedakannya.
Orang – orang seruangan itu memandang seksama monitor besar yang ada di depannya. Kedua wajah Presiden Sularso itu tanpa ada perbedaan sama sekali. Sama persis. Baik yang ada di mobil kepresidenan maupun yang lagi memberikan konpres.
Jenderal Birawa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Penjelasan ini yang diminta oleh Presiden barusan. Kenapa ada dua Presiden Sularso?
Sementara semua jawaban itu ada di Kapten Batara, si Srigala Hitam, Komandan Unit XII. Dan sekarang unit itu tidak ada khabar beritanya. Monitor pantau dan communicator yang terpasang di mereka, tiba – tiba mati atau mungkin di matikan. Entahlah.
Sang Jenderal itu kembali ke ruangannya. Menghempaskan diri ke kursinya. Berpikir keras memecahkan teka – teki yang sekarang dihadapinya. Kemana perginya Unit XII ini? Atau jangan - jangan mereka sudah ditangkap oleh pasukan Presiden Sularso. Tapi kalau sudah tertangkap, kenapa Presiden Sularso tidak mengisyartkan pasukan itu telah tertangkap, tapi malah mengumbar ancaman di media, akan menghabisi mereka. Artinya keberadaan pasukan itu tidak diketahuinya. Terus, bagaimana bisa Presiden Sularso bisa muncul di dua tempat yang berlawanan. Jelas yang satu berhasil ditangkap Unit XII Garda Penyerbu. Satunya lagi konpers di Istana. Sebuah kejadian yang bertolak belakang.
Pertanyaan – pertanyaan membingungkan pikirannya itu berkecamuk di otaknya. Ia menghisap cerutunya dalam – dalam, yang barusan di sulutnya itu. Mencoba mencari jawaban atas kebingungannya sekaligus mencari jawaban atas pertanyaan Presiden yang barusan ditanyakan tadi.
“Tok… tok!!”
Belum selesai mencari jawaban, ia dikejutkan dengan suara ketokan pintu. Ia melihat layar monitor di meja sampingnya, yang terkoneksi dengan CCTV yang terpasang di samping pintu ruangannya.
Terlihat Kolonel Sugriwa, Komandan Batalyon Garda Penyerbu II di depan pintu membawa beberapa prajuritnya untuk menghadap dirinya.
Batalyon Garda Penyerbu, sebenarnya adalah bagian dari Korp Pasukan Khusus atau KOPASUS. Ini memiliki 3 Batalyon, yaitu Batalyon Garda Penyerbu I yang dipimpin oleh Kolonel Destra, berkedudukan di Sukabumi Jawa Barat. Dimana markas Batalyon ini berada satu lokasi dengan Markas Komando Garda Penyerbu, dan merupakan pilar utama pasukan Garda Penyerbu, sekaligus menjadi pendukung pasukan Kopasus di Mako KOPASUS Cijantung Jakarta.
Berikutnya adalah Batalyon Garda Penyerbu II yang dikomandoi oleh Kolonel Sugriwa, bermarkas di Penajam Passer Utara Kalimantan Timur. Sang komandan ini, Kolonel Sugriwa, adalah orang yang sangat ambisius bahkan cenderung menghalalkan segala cara, tidak segan – segan untuk menjilat ke Atasan demi tujuannya tercapai. Ia juga senang di puji oleh anak buahnya. Tidak perduli apakah pujian itu untuk mengharapkan sesuatu atau bukan, tidak menjadi masalah bagi Kolonel Sugriwa. Layaknya seorang Komandan, ia cenderung memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki.
Markas Batalyon Garda Penyerbu II Korp Pasukan Khusus, ini terletak tidak jauh dari Ibukota Negara Republik Indonesia, yang sudah ada di Kalimantan Timur. Peletakan Batalyon Garda Penyerbu II disana diharapkan bisa menjadi penopang keamanan Ibukota Negara RI, meskipun disana di Kalimantan ada beberapa Markas KODAM VI/Mulawarman di Balikpapan serta KODAM XII/Tanjungpura di Pontianak. Jarak dua markas KODAM yang cukup jauh dari IKN (Ibukota Negara) membuat Markas Batalyon Garda Penyerbu II cukup dibutuhkan disana.
Kemudian untuk Batalyon Garda Penyerbu III, bermarkas di Biak, sebuah pulau yang ada di Teluk Cenderawasih Provinsi Papua. Batalyon itu dikomadani Kolonel Nabuwa, putra asli Papua Barat. Letaknya cukup strategis, di masa silam waktu perang dunia ke 2, Pulau Biak pernah dijadikan Pangkalan Komando Impereal Jepang. Ada Lapangan terbang disana, yang digunakan sebagai pangkalan Perang Pasifik. Jejak – jejak sejarah ada disana, sisa – sisa kendaraan perang, seperti tank masih ada di sana. Biak bisa dijadikan basis kekuatan militer untuk wilayah Indonesia Bagian Timur.
Secara geografis ketiga Batalyon Garda Penyerbu mewakili bagian wilayah Republik Indonesia. Batalyon I mewakili wilayah barat, Batalyon II mewakili wilayah tengah dan Batalyon III mewakili Indonesia Timur.
Sedangkan Unit XII dengan Komandan Unitnya Kapten Batara adalah bagian dari Batalyon Garda Penyerbu I, yang diperbantukan ke Markas Komando. Secara hirarki mereka adalah anggota Batalyon I, namun kewenangan tugas dan perintah milik Markas Komando atau langsung di bawah perintah Jenderal Birawa. Penugasan itu sebenarnya juga tidak melulu diberikan ke Batalyon I, semua Batalyon memiliki kesempatan yang sama, hanya saja tergantung kesiapan masing – masing anggota di setiap Batalyon itu.
Jenderal Birawa mempersilahkan masuk.
“Selamat sore Jenderal,” Kolonel Sugriwa berbasa basi sebentar dengan sikap hormat.
“Lapor Jenderal. Meneruskan perintah Jenderal Sasongko untuk anda Pak.” Kolonel Sugriwa menyodorkan supucuk memo kepada Jenderal Birawa.
Jenderal Sasongko adalah Deputi II Staff Kepresidenan Bidang Intelijen Luar Negeri.
Setengah malas ia menerima memo itu. “Sialan. Manusia satu itu, pasti ini ada urusannya dengan REON,” umpatnya dalam hati. Ia masih menghisap cerutunya.
Membacanya sekilas, dan meletakkan di meja. “Nah kan, memintanya untuk melibatkan Kolonel tengik ini ke sana.” Rutuknya dalam hati lagi, sambil menghebuskan asap cerutu.
“Semuanya sudah sepengetahuan Pak Presiden, Jenderal.” Cerocos Kolonel Sugriwa lanjut. “Orang – orang saya tinggal menunggu perintah untuk menjemput Presiden Sularso.”
Jenderal Birawa menatap Kolonel Sugriwa.
“Kau pikir disana rekreasi…” guman Jenderal Birawa kesal, sambil menjentikkan api cerutu di asbak.
“Jenderal tidak perlu khawatir. Mereka kemampuannya sama dengan teamnya Batara. Bahkan mungkin setingkat di atasnya pak.”
Kolonel Sugriwa diam sejenak.
“Tugas ini layak diberikan kepada mereka.” Lanjut Sugriwa sambil menunjuk 2 orang yang berdiri mematung di belakang Kolonel itu.
“Siap. Lettu Darmaganti menerima perintah!”
“Siap! Sertu Wisrawa siap menjalankan!”
Jenderal Birawa menatap tajam keduanya. Mencoba mencari kebenaran omongan Kolonel Sugriwa. Mulutnya masih mengepit cerutu Kolombia miliknya.
Kemudian ia menarik laci mejanya. Mengambil beberapa map yang ada disitu. Dan menyerahkannya ke Kolonel Sugriwa. Ada tulisan ‘CONFINDENSIAL’di setiap sudut bawah kanannya. Sangat rahasia.
“Pelajari ini. Bawa orang – orangmu ke REON. Bawa pulang Kapten Batara dan teamnya, hidup atau mati!”
“Dan… pastikan Sularso diseret ke Mahkamah Internasional.”
“Siap Jenderal!” jawab Kolonel Sugriwo dengan mata berbinar – binar.”
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
Jenderal Birawa.,😎
2021-04-04
1