Merasa AK47-nya tidak berfungsi, ia melemparkan senapan itu ke arah Sertu Gentar.
“Makan ini!” teriaknya keras. Disusul dengan tendangan ke arah perut Sertu Gentar. “Hajar!” pekiknya lagi memerintah kepada semua rekan – rekannya.
Sertu Gentar hanya menggeserkan badanya sedikit. AK47 itu hanya lewat beberapa senti dari badannya. Luput. Sementara tangannya menepis tendangan itu.
“Des..!!”
Dua kekuatan beradu. Sertu Gentar masih tegak berdiri. Tidak bergeming sedikitpun. Sedangkan lawannya terpental kebelakang, dengan kaki membiru di bagian tulang keringnya. Ia meringis kesakitan. Rasanya kakinya itu menendang tembok.
Melihat komandannya dengan mudah dijatuhkan, serempak semua kawan – kawannya itu merangsek ke depan. Memasang kuda – kuda. Meingitari Sertu Gentar. Bersiap – siap untuk menyerang bersama – sama.
Melihat lawannya bergerak semua, untuk mengeroyok Sertu Gentar, Serda Drako melompat turun dari bak pick up itu. Belum juga melangkah pergi membantu, Sertu Gentar memberi tanda menggerak – gerakkan jari telunjuknya untuk tidak ikut membantu. No... no... no!! Mungkin itu maksudnya.
Serda Drako menyeringai. Ia menyandarkan badannya di pintu mobil di samping Serda Bajang.
Mulai menyaksikan pertarungan itu. Semua mata yang ada disitu ikut memperhatikan juga. Hanya Lettu Seto yang tidak antusias melihatnya. Ia masih bersandar di dinding pick up dengan mata terpejam. Acuh tak acuh. Sedari tadi ia sudah tahu, semua orang itu tidak akan mampu mengalahkan Sertu Gentar.
Dengan satu gerakan gerombolan itu mulai melakukan serangan secara membabi buta ke arah Sertu Gentar. Sementara Sertu Gentar hanya tersenyum tipis. Memberi tanda dengan melambaikan tangannya ke arah mereka. Kakinya kokoh tegak di atas kuda – kuda menunggu serangan dari mereka.
“Maju kalian semua..!!” gertak Sertu Gentar dingin.
Satu persatu mereka mengayunkan pukulan ke badan Sertu Gentar menggunakan berbagai macam senjata yang ada dalam genggamanya. Satu pukulan yang mirip sabetan dari sebatang linggis yang ada dalam genggaman seseoarang terlebih dahulu menghantam Sertu Gentar mengarah ke bagian kepala. Sersan Satu itu tidak mau ambil tesiko. Sedikit dia menggerakkan kakinya. Mundur selangkah kebelakang sambil menghindari sebuah cangkul yang tiba – tiba juga mengarah kepalanya. Dua benda itu lewat di depannya. Orang yang memegang linggis terhuyung kedepan, akibat semua kekuatan yang dimiliki disalurkan ke pukulannya, tetapi tidak mengenai sasaran. Iapun limbung. Demikian juga si pemegang cangkul, akibat luput ia juga sedikit limbung.
Serangan itu terus beruntun. Semua hampir serempak menyerang Sertu Gentar. Lagi – lagi serangan – serangan itu tidak mengenai sasaran. Dengan mudah berhasil di hindari atau ditangkis oleh Sertu Gentar. Melihat gaya dan cara berkelahi para pengeroyoknya itu, sedari awal Sertu Gentar yakin, bahwa mereka – mereka ini bukan profesional, atau sedikitnya bukan orang – orang yang terlatih, atau mungkin tidak pernah berkelahi. Gerakannya serampangan. Tidak menggunakan pijakan kuda – kuda sebagai basis dasar untuk bertarung. Semuanya ngawur dan asal mukul. Mengetahui hal itu, bukan cara yang sulit atau susah untuk mengalahkan mereka semua. Tidak perlu dengan tenaga dalam atau ilmu kanuragan yang sudah dilatihnya. Cukup dengan tenaga otot untuk mengalahkan mereka.
Para penyerang itu, satu persatu jatuh bertumbangan di atas tanah. Tidak lebih dari satu jurus yang dilontarkan Sertu Gentar ke setiap penyerangnya. Semua bisa dipukul olehnya. Bahkan ada beberapa yang jatuh pingsan. Lokasi perkelahian itu sangat berantakan. Banyak pohon kecil dipinggir jalan yang bertumbangan ditimpa badan para gerombolan itu.
Melihat kondisi semua kawannya tidak berkutik melawan Sertu Gentar, membuat si pemimpin itu bertambah kalap. Bukannya mikir malah ia membabi buta menyerang Sertu Gentar. Gerakan – gerakannya tidak terkontrol. Ia asal menyerang. Pikirannya, ia harus bisa menjatuhkan lawannya. Membalaskan kekalahan teman – temannya. Atau setidak – tidaknya mendaratkan pukulan ke badan Sertu Gentar, minimal sekali.
Sayangnya apa yang dipikirkan itu tidak semudah untuk dilakukan. Sertu Gentar bukan sansak hidup, yang hanya pasrah menerima pukulan. Ia bisa disebut ‘monster kecil’ kala bertarung. Dirinya tidak pernah memberi ampun untuk setiap lawannya. Hal yang musykil bila dia bisa menyarangkan satu pukulan atau tendangan ke Sertu Gentar. Tendangan demi tendangan, pukulan demi pukulan hanya mengenai tempat kosong. Tak satupun bisa mengenai Sertu Gentur. Bahkan untuk menyetuhpun tidak.
Pada satu kesempatan ia mengirimkan pukulan terkuatnya ke arah muka Sertu Gentar, namun hanya dengan satu tangan kirinya, Sertu Gentar menangkap kepalan itu. Meremasnya dengan kuat.
“Kreket...”
Tulang patah terdengar gemeretak.
“Aaauuuuch!!” Raungan si penyerang terdengar menggema, begitu merasakan tulang jari dan tulang lengannya patah dan bergeser dari tempatnya.
Sejurus kemudian, Sertu Gentar mengirim jab tangan kanannya ke dagu pemimpin gerombolan itu. Seketika ia terdongak ke atas. Ada beberapa giginya tanggal dan terlempar keluar dari mulutnya. Darah membasahi sudut bibirnya. Tanpa menunda waktu lagi, Sertu Gentar menyongsong dengan tendangan kaki kirinya. Berikutnya, si penyerang terlempar beberapa meter ke belakang. Jatuh berdebum menghantam pohon besar yang ada di situ.
“Aachk...” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Selanjutnya ia menggelosor tak berkutik. Entah mati, entah pingsan. Diam.
Mengetahui pemimpinnya sudah tak berdaya. Tergeletak di bawah batang pohon. Para penyerang ciut nyalinya. Ada beberapa orang yang kabur. Melarikan diri. Sementara yang tidak kabur, hanya tertunduk lesu menyerahkan diri. Menunggu menerima tindakan balasan dari orang – orang yang mau dipalaknya.
Kapten Batara yang semenjak tadi memperhatikan jalannya perkelahian itu, mendekati pemimpinnya yang tergolek tak berdaya di bawah pohon. Ia meraba urat nadi yang ada di batang lehernya.
“Hm..,” gumannya. “Masih hidup rupanya. Beruntung kamu.” Rupanya dia hanya pingsan.
Mendengar ucapan Kapten Batara, bergegas Serda Bajang menghampiri si pemimpin gerombolan itu sambil membawa beberapa perlengkapan ⁶kesehatan, dan botol veples (1) berisi air. Sedikit dia menyiram wajah pemimpin gerombolan itu, hingga membuatnya tersadar.
Sontak ia meringis kesakitan. Merasakan beberapa bagian tubuhnya yang terluka. Juga beberapa tulangnya yang patah atau remuk akibat perkelahiannya dengan Sertu Gentar.
“Minum ini,” kata Serda Bajang menyodorkan dua butir pil antibiotik dan penyembuh luka dalam dan veples air.
“Kamu...” katanya lirih.
“Hehehe.... Kamu salah memilih lawan, kawan...” kata Serda Bajang terkekeh. “Untung dia tidak membunuhmu.”
“Aku menyerah kalah,” gumannya lagi. Sambil mengambil pil yang disodorkan ke dirinya sekaligus menelannya semua.
Sertu Gentar yang habis memenangkan pertarungan itu sedang mengumpulkan semua orang yang barusan dihajarnya ke dekat kendaraannya. Duduk berjongkok disana.
“Kalian berani macam – macam. Kuhabisi kalian!”
Sertu Gentar berkata dengan nada mengancam.
Sorot matanya tajam menatap mereka.
Mereka semua menunduk ketakutan. Pasrah. Ancaman yang dikeluarkan Sertu Gentar sangat menakutkan. Menciutkan nyali mereka. Sama ketika Balagho, iya, Balagho adalah nama pemimpin kelompok mereka, mengajak menghadang orang – orang yang menuju ke pelabuhan penyeberangan ke pulau Land Tera. Awalnya juga ancaman, untuk menjadi pengikutnya. Padahal mereka tidak memiliki bekal bertarung. Hanya sekedar berani saja. Betul, memang selama ini mereka mendapatkan mangsa yang lemah. Cukup digertak oleh Balagho saja dengan ditakut – takuti acungan AK47 mereka langsung menyerahkan semua barang yang dibawanya. Tidak perlu bersusah payah. Sekedar sorak sorai saja mereka bisa mendapat hasil yang lumayan. Mereka terlena, mereka lupa bahwa akan ada orang yang mampu dan mumpuni mengalahkan mereka, meski jumlah mereka banyak.
“Kita apakan mereka ini Ndan?” tanya Sertu Gentar kepada Kapten Batara.
“Kita buang ke laut saja,” kata Lettu Seto menimpali dengan senyum dikulum.
Mendengar itu, mereka semakin ketakutan.
“Ampun pak... jangan buang kami.”
“Ampun..., anak kami banyak pak...”
“Jangan pak..., ibu saya sudah tua...”
“Iya... om, jangan buang kami om... Nenek kami juga.. sudah tua..”
Rengek mereka sahut menyahut.
“Buset dah..., Om.. om, kapan saya kawin ama tante kamu..” Serda Drako menimpali sambil nyengir kuda.
“Eh, maaf om, eh pak.. iya.. nenek kami sudah tua...”
“Giginya tinggal dua.” Serda Drako melanjutkan. “Hinggap di jendela.”
“He..he..he...,” Lettu Seto terkekeh.
“Kalian boleh pergi.” Kata Kapten Batara. “Pulanglah. Kembali ke keluarga kamu masing – masing. Jangan coba – coba mengulangi lagi. Carilah pekerjaan yang benar. Ketahuan kalian melakukan ini lagi, tak segan – segan lagi kami akan membunuh kalian. Camkan itu.”
Ucapan Kapten Batara yang mengampuni mereka, membuat mereka bersujud mengucapkan terima kasih berkali – kali.
“Pergilah! Bawa teman – teman kamu yang terluka... Kecuali dia..!!” ucap Kapten Batara lagi sambil menunjuk Balagho.
Balagho hanya tersenyum kecut. Ia hanya bisa melihat kawan – kawannya yang pergi meninggalkan dirinya.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
**1. Botol tempat minum tentara.
******
Like dan commentnya mana dong**...?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
AK 47~ senjata legendaris.,
2021-04-04
1