Dua hari sebelumnya...
Batara menatap map yang ada di depannya. Matanya tajam melihat titik – titik atau noktah merah yang ada di peta yang dihubungkan dengan garis – garis hitam ke setiap titik itu. Empat orang anggota timnya ikut mengawasi map yang terpampang di monitor transparan di depannya. Ada Seto, berdiri di pinggir monitor sebelah kiri. Gentar di balik layar monitor. Drako di sebelah kanan Batara. Dan Eagle berdiri disamping Gentar.
“Kita sergap mereka disini,” kata Batara tiba – tiba sambil menunjuk noktah merah yang ada di monitor.
“Tapi Kep,” kata Seto agak keberatan. “Masih ada peperangan di kota itu.”
“Kita tidak tahu, kawanan pemberontak itu berpihak ke siapa...” tukas Gentar.
“Lodaya ada di pihak kita.” Suara tiba – tiba muncul di ruangan itu diikuti sosok Jenderal Birawa bersama seorang ajudannya.
“Pagi Jenderal,” dengan sikap hormat Batara menyapanya.
“Jenderal!” yang lain ikut – ikutan memberi hormat.
“Lodaya?” Batara bertanya keheranan. Berdasarkan informasi intelijen yang diperoleh, Lodaya adalah pemimpin kawanan pemberontak itu. Dulunya dia adalah salah satu komandan anggota pengawal presiden Sularso. Entah apa yang melatar belakanginya, pada akhirnya ia disersi (1), bergabung bersama pemberontak. Dalam waktu yang tidak lama, tiba – tiba dia bisa menjadi pucuk pimpinan kawanan itu. Mungkin karena ia adalah mantan militer di pemerintahan sebelumnya, sehingga bisa menjadikannya Komandan. Kabar terakhir yang diperoleh, pangkat terakhir Lodaya ketika disertir adalah Kolonel.
“Dia orang kita Kep.” Jenderal Birawa menerangkan. “Pada suatu kesempatan kita berhasil menariknya. Kekacauan di negara itu harus segera diakhiri.”
Batara hanya diam mendengarkan.
“Sularso, Presiden keparat itu harus diseret ke Mahkamah Internasional untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sudah banyak kesengsaraan yang telah dibuatnya. Rakyat negara itu sudah terlalu lama menderita. Philiphina, Thailand, Vietnam dan Malaysia sudah setuju untuk tidak campur tangan. Sebagai negara tetangga, mereka akan pura – pura tidak tahu dengan apa yang kita lakukan. Semua negara Barat juga setuju untuk mendukung kita. Amerika Serikat. Inggris. Jerman. Bahkan Rusia setuju untuk membawa Sularso ke pengadilan. Hanya China yang msih bimbang. Mungkin karena negara itu ada di Laut China Selatan, ragu untuk bertindak. Takut akan mengganggu kestabilan wilayah teritori mereka.”
Jenderal Birawa diam sejenak.
“Begitu Sularso bisa kita ambil, Lodaya akan mengambil alih pemerintahan. Organ – organ birokrasi sudah mereka siapkan.”
“Bawa Sularso ke Batam. Sesampainya disana, orang – orang Mahkamah Internasional akan menjemputnya. Membawanya ke Belanda. Tugas kamu selesai.”
“Presiden sudah menyetujui.”
“Sore nanti kamu dan orang – orangmu akan diantar ke Natuna. Subuh kamu harus sudah sampai di negara itu. Semua peralatan kalian akan dikirimkan terpisah dengan drone.”
“Bersiaplah!!”
Jenderal Birawa berhenti sejenak. Matanya tajam menatap Kapten Betara. Seolah - olah ingin menelanjangi apa yang ada dalam pikiran sang Kapten itu.
“Tugasmu kali ini lumayan berat Srigala Hitam. Ini misi rahasia. Bawa orang – orangmu kembali pulang dengan selamat. Aku yakin unit kecil yang ada ditanganmu ini, akan mampu membereskan semua.” lanjutnya kemudian.
Ada penekanan di ucapan Srigala Hitam. Sepertinya, nama besar itu harus menjadi jaminan keberhasilan dalam melaksanakan misi. Lebih - lebih di dalam team ini, anggotanya juga bukan orang sembarangan. Orang - orang pilihan yang terlatih di dalam satuan elit pasukan khusus. Bukan saja sembarang orang untuk bisa memasukinya. Jauh sebelum menerima misi, mereka sudah digembleng cukup berat ketika memasuki satuan ketentaraan ini. Dilatih secara khusus untuk bisa menjadi Pasukan Khusus. Waktu berbulan - bulan dijalaninya untuk menempa mental dan fisiknya. Tidak perduli siang ataupun malam, latihan berat dijalani mereka. Semua dilakukan untuk menjadi seorang prajurit yang tangguh. Prajurit yang tidak ada kata menyerah.
Ajudan Jenderal Birawa, menyodorkan mapfile warna merah yang dibawanya ke Kapten Batara. “Semua informasi ada disini semua, Kapten.” ucapnya.
Batara hanya mengangguk.
“Selamat bekerja!”
“Siap Jenderal!” teriak semua anggota Unit XII serentak sembari dengan sikap hormat.
Jenderal Birawa hanya mengangguk. Terus berjalan meninggalkan mereka ke luar ruangan.
Batara menatap satu persatu wajah rekan – rekannya.
“Perintah adalah perintah,” tegasnya kemudian. “Resiko itu sudah kita ketahui bersama. Apapun akibatnya tidak ada kata mundur. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.”
Tanganya sibuk membolak – balik lembaran kertas yang ada di mapfile yang dipegangnya. Sesekali matanya tajam melihat data – data yang terpampang di dokumen itu. Ada banyak informasi yang diperoleh dari file – file itu. Mulai kondisi negara itu terupdate. Latar belakang Sularso. Sumber daya yang dimiliki, sampai nama – nama pendukung setia, maupun para pengawalnya. Termasuk juga beberapa kemampuan perang dan bertarung para pengawal presiden yang mengelilingi Sularso.
Meski sedikit, gambaran Lodaya juga ada disitu. Mungkin karena bukan musuh, penggalian informasi terhadap diri Lodaya tidak sedetail Sularso. Meski begitu Batara cukup berterima kasih atas informasi dasar terntang Lodaya.
Berikutnya, dokumen itu dilemparkan ke Seto yang dengan sigap menangkapnya.
“Pelajari itu, Letnan.”
Setelah cukup lama menatap layar monitor. Tangannya kembali sibuk menzooming noktah merah yang ditunjuknya. Perlahan titik map itu membesar. Berkat kecanggihan satelit yang mendokumentasikan kamera realtime, membuat lokasi – lokasi yang ditunjuk sangat presisi situasinya. Garis jalan terpampang akurat, titik – titik gedung serta gambar kondisi yang diperoleh ketika itu. Ia, sibuk menggeser ke kanan atau ke kiri dengan telapak tangan atau dengan ujung jarinya. Seekali juga seperti mencubit layar tersebut. Memperkecil zooming mapnya. Seringkali Batara mengusap ke atas atau ke bawah, untuk melihat kondisi sebelumnya atau menyakinkan pilihannya.
“Kita sergap disini.”
Di layar monitor terpampang persimpangan jalan. Batara melingkari simpang itu dengan warna merah. Menzoom outnya, hingga detail tempat itu terlihat jelas.
“Arah perjalanan itu dari sini,” katanya sambil menunjuk tepi kiri monitor. “Ada beberapa gedung yang bisa kita jadikan area penyergapan.”
Batara melingkari beberapa lokasi. “Aku disini sama Serda Bajang, Lettu Seto dan Serda Drako, disini. Kemudian Sertu Gentar membuat barikade disini. Buat senapanmu menjadi minigun. Jangan menembak, sebelum mereka sampai di titik ini. Ledakkan mini bomb di iring – iringan terdepan, ketika mereka sudah tiba, sehingga mereka kacau. Jangan buat yang belakang merangsek kedepan.”
“Alangkah bagusnya kalau kita pasang minibomb di sini Kep,” kata Lettu Seto mengusulkan, sambil menunjuk titik dalam lingkaran. “Sebagai ranjau dan penghalang mereka melarikan diri.”
Semua orang yang hadir disitu memperhatikan dengan seksama.
“Di titik ini kita bawa Sularso,” Batara menunjuk map itu. “Ada jarak 3 km dari sini, atau sekitar 4 menit untuk ke sana.”
“Back up penjemputan sudah siap untuk membawa Sularso ke Batam dan membawa kita pulang.”
“Hm,” Seto berdehem pelan.
“Lodaya sudah membersihkan area ini,” lanjut Batara kemudian. “Plan di mapfile itu ada..” sambil menunjuk mapfile yang dibolak – balik Gentar.
“Dengan begitu tugas kita sedikit ringan.”
“Jam 4.30, kita sudah standby di pangkalan.”
“Siap!!!”
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
1. Pelarian (keluar dari) ketentaraan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Nikodemus Yudho Sulistyo
Rapi, terstruktur. sya suka.
2021-04-17
1
anggita
Salam kenal., Batara👌
2021-04-04
1