Perjalanan itu akhirnya sampai juga ditempat yang dituju. Sebuah tempat mula pertama kali Unit XII Garda Penyerbu menginjakkan kakinya di Negara REON. Kendaraan yang dibawanya hanya bisa dibawa sampai di kaki bukit. Selanjutnya mereka harus berjalan kaki mendaki tebing terjal untuk sampai ke goa tempat menyimpan sisa perbekalannya. Dan, nanti ketika mau kembali merekapun harus melewati tempat itu.
Melihat kondisi seperti itu diputuskan hanya bertiga yang mengambil perbekalan itu. Lettu Seto, Sertu Gentar dan Serda Bajang yang kesana. Sisanya, Kapten Batara dan Serda Drako tinggal dibawah, ditemani Hans Jatmiko dan Balagho.
Semenjak sarapan dan melihat sikap anggota Garda Penyerbu yang baik kepada keduanya, membuat dua orang tawanan itu mulai membuka diri. Sikap sebagai orang ‘tertawan’ perlahan mulai terkikis. Rasa permusuhan dan merasa sebagai seorang lawan mulai dihilangkan. Kini yang dirasa keduanya adalah sebagai teman seperjalanan. Teman senasib sepenanggungan. Walau dengan tujuan yang berbeda, rasa pertemanan itu muncul seiring waktu berjalan.
Lebih – lebih, setelah Unit XII itu mengetahui motif dan alasan keduanya melakukan tindakan itu, membuat keduanya dianggap bukan ancaman yang berarti. Malahan keduanya bisa dijadikan porsenil pendukung untuk menyelesaikan misi di REON ini. Setidak – tidaknya bisa dijadikan informan sekaligus sebagai penunjuk jalan.
Kapten Batara masih ada di kabin kendaraannya. Duduk bersandar sambil memejamkan mata. Dibelakang, ada Serda Drako, Hans Jatmiko dan Balagho. Untuk komenghilangkan kejenuhan, ketiga orang itu asyik ngobrol. Sesekali ada gelak tawa di ketiganya. Hanya Kapten Batara yang mengulum senyum, mendengarnya, saat ada cerita lucu yang didengarnya.
Sampai pada suatu ketika Hans Jatmiko menceritakan kisah hidupnya. Semua yang ada di situ terlihat serius mendengarnya.
“Tidak pernah kusangka aku menjadi tawanan kalian,” kata Hans Jatmiko mengawali.
“Kejadian ini benar – benar di luar perkiraan aku. Awalnya, ada orang pemerintahan yang menawarin pekerjaan untukku. Kejadian itu hampir setahun lalu aku alami.” Lanjutnya lagi.
“Mengingat kondisi keuangan keluargaku sedang morat marit, aku sangat membutuhkan pekerjaan itu...”
“Pak Hans anaknya ada berapa?” Balagho menyela omongan Hans Jatmiko.
“Ada 3. Dua laki – laki dan satu perempuan. Yang laki – laki, pertama kira – kira seusia Pak Drako, yang kedua baru 21 tahun dan ketiga, perempuan usianya 17 tahun. Sudah hampir satu tahun ini, aku tidak ketemu dengan mereka.” Hans Jatmiko menerangkan.
Mendengar penuturan Hans Jatmiko. Kapten Batara sedikit tertarik. Ia memperbaiki duduknya. Supaya enak mendengar ceritanya.
“Kemarin, sebelum ketemu bapak – bapak ini, aku tidak pernah berpikir untuk bisa ketemu mereka lagi. Dengan wajah baruku ini, apakah mereka masih mengenaliku...?” tanyanya seperti kepada dirinya sendiri. Hans Jatmiko berhenti sejenak. Tiba – tiba mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Ada selembar photo yang ditunjukkan kepada Serda Drako.
“Wajahku dulunya seperti itu,” katanya menjelaskan.
“Pak Hans yang mana?” tanya Serda Drako kebingungan. Di gambar photo itu ada 3 orang. Laki – laki semua. Semua seperti bergaya bagai peragawan. Sambil mengamati photo itu, sesekali Serda Drako memandang Hans Jatmiko. Mencari persamaan antara kenyataan dan gambar. Sepertinya berbeda sekali. Tidak ada sama sekali. Lebih – lebih dengan wajah ketiganya, tidak ada yang mirip dengan wajah Hans Jatmiko sekarang.
“Yang tengah,” jawab Hans jatmiko. "Itu adalah keluargaku. Keduanya adalah kakak - kakakku."
Serda Drako seperti kebingungan. Ia mengamati gambar photo dengan seksama, lalu membandingkan dengan wajah Hans Jatmiko.
“Tidak sama...” gumannya perlahan.
“Justru itulah,” Hans Jatmiko menimpali. Ada gurat kekhawatiran di wajahnya. “Aku takut, keluargaku tidak mengenaliku lagi.”
“Dengan wajahku seperti ini, tahunya mereka aku adalah Presiden Sularso.”
Serda Drako menatap Hans Jatmiko, sambil mengulurkan tangannya, mengembalikan photo itu. Belum sampai ke tangan Hans Jatmiko, Balgho sudah menyambutnya. Ada keingin tahuan yang besar dari sikap Balagho.
“Kok bisa ya?!” tanyanya heran sambil memperhatikan gambar photo itu.
Hans Jatmiko hanya tersenyum kecut.
“Operasi plastik.” Hans Jatmiko berkata datar.
Semua yang ada disitu tertegun. Sampai Kapten Batara terhenyak dari tempat duduknya. Kemudian ia keluar dari kabin depan dan ikut nimbrung duduk di bak belakang.
Serda Drako beringsut sedikit, memberikan ruang untuk tempat duduk Kapten Batara.
“Pak Hans pergi ke luar negeri?” tanya Kapten Batara tiba – tiba. Sepengetahuan dia, sampai sejauh ini, hanya Negara Korea Selatan, Jepang, Thailand dan beberapa negara barat yang ahli dalam bidang operasi plastik. Dokter – dokter spesialisnya sangat mumpuni dalam bidang itu. Tidak diragukan lagi, mereka sangat ahli untuk bisa merubah wajah ataupun bodi orang sesuai dengan selera pemiliknya.
Hans Jatmiko menggeleng. “Tidak.”
“Kok?!” Serda Drako bertanya penuh keheranan.
“Semua dilakukan di REON ini. Presiden Sularso membawa dokter ahli bedah pastik dari North Korea dan membangunkan laboratorium serta kliniknya di pinggiran kota Randcios City.”
“Aku di operasi di sana”
“Hampir 3 bulan aku menjalani perawatan disana.”
“Jadi, selama ini Pak Hans yang memerintahkan untuk menahan semua tetua adat, dan membunuh orang – orang yang melawan pemerintahan?” tanya Balagho tiba – tiba. Sedikit nada bicaranya ada intonasi marah.
Lagi – lagi Hans Jatmiko menggeleng. “Keberhasilan dan kesembuhan operasi wajahku baru beberapa hari ini,” katanya menjelaskan.
Balagho menghela nafas lega mendengar ucapan Hans Jatmiko. Jika saja apa yang dipikirkan benar, ia tidak segan – segan akan berlaku kasar kepadanya. Bahkan mungkin akan membunuhnya. Sebab, karena gara – gara Presiden Sularsolah ia berubah menjadi seperti ini. Untungnya hal itu tidak terjadi.
“Untuk diketahui, sebenarnya selama ini yang memberikan perintah adalah Letjen Frank Amaritus, Commander of REON Force. Presiden Sularso hanya bonekanya.”
“Dan juga, sebenarnya sudah banyak korban dari kegagalan operasi plastik ini. Bahka ada juga yang meninggal. Semua itu karena ulah ambisius dr. Wang Bu Yie..”
Hans Jatmiko mengambil nafas sebentar.
“Keberhasilan operasi wajahku ini karena aku beruntung. Entah sudah berapa banyak korban mesin brengsek itu..”
“Mesin?!” Kapten Batara bertanya.
“Iya. Dr. Bu Yie menyebutnya Modular Microsurgery Beauty Set. Padahal operasi wajahku ini bukan micro, tapi udah macro. Malahan udah menjadi rekonstruksi total..” kata Hans Jatmiko sambil tertawa getir.
“Bahkan khabarnya lagi, di lab itu tidak hanya digunakan untuk sekedar operasi plastik saja, namun juga ada pembuatan virus genetika biomolekuler imunity.”
“Virus apa itu?” tanya Kapten Batara penuh dengan keingintahuan.
“Khabarnya virus buatan untuk kekebalan tubuh. Nantinya virus itu akan disuntikkan ke seluruh prajurit REON agar kebal terhadap peluru maupun senjata tajam..”
“Busyet dah..” Serda Drako hanya menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal mendengar omongan Hans Jatmiko.
Kapten Batara membayangkan apa jadinya jika apa yang diceritakan oleh Hans Jatmiko itu benar adanya. Mungkin tatanan dunia akan porak poranda, bila virus itu digunakan secara salah oleh Presiden Sularso. Dengan model pasukan yang kebal peluru dan anti senjata tajam dia akan mudah menguasai negara – negara lain. Dan kemungkinan dia akan menjadi seorang diktator apabila pasukan yang dimiliki tidak terkalahkan.
“Itulah yang aku takutkan, pada akhirnya Presiden Sularso akan sewenang – wenang jika ambisinya tercapai. Tidak menutup kemungkinan, dia memiliki keinginan menciptakan virus – virus lainnya untuk mendukung rencananya.” Ujar Hans Jatmiko penuh dengan kekhawatiran.
“Kita harus mengkhiri semuanya itu..,” kata Kapten Batara. “Apapun resikonya semua harus berakhir. Kita harus mengembalikan semua ke kodrat manusia kala diciptakan oleh Tuhan Yang Kuasa. Tidak dibenarkan manusia untuk bisa menjadi tuhan atas sesamanya.”
“Betul itu pak.” Hans Jatmiko menimpali. “Jika ini terjadi, kekacauan tidak hanya ada di REON saja. Tapi seluruh dunia akan merasakannya.”
Bersamaan dengan berakhirnya ucapan Hans Jatmiko, Lettu Seto bersama dengan dua rekannya muncul dengan membawa berbagai barang yang ada dalam gendongan mereka. Ada 4 ransel besar dan 2 kantong bluesacks penuh dengan perbekalan mereka.
“Ada berita untukmu Ndan,” kata Serda Bajang ketika dekat dengan Kapten Batara “Kolonel Sugriwa mengirim orangnya untuk mencari kita...”
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
👍👍👌👌
2021-04-04
1