Malam terus berlalu...
Sesaat setelah kejadian penyelamatan dokter Anastasya berlangsung. Tidak terasa ufuk fajar mulai terlihat di sebelah langit timur. Ketiga orang itu masih ngobrol di ruang tamu. Kapten Batara, Serda Bajang dan dokter Anastasya. Berbincang menghabiskan malam.
“Sebelum pagi harus kita tinggalkan tempat ini...” kata Kapten Batara memberitahu. “Cepat atau lambat Tentara REON pasti akan mencari teman – temannya yang tidak kembali ke markas.”
“Bangunkan pak Hans Jatmiko, kita harus segera berpindah..”
“Siap perintah Ndan!” jawab Serda Bajang dan bergegas membangunkan Hans Jatmiko di kamar.
“Kalian tentara?” tanya dokter Anastasya keheranan kepada Kapten Batara.
Kapten Batara hanya tersenyum simpul.
“Nanti aku ceritakan..” jawab Kapten Batara sambil berkemas. Dokter Anastasya hanya memandangi apa yang dikerjakan Kapten Batara sampai selesai.
Tidak lama kemudian Hans Jatmiko datang sambil mengucek – ngucek matanya, diikuti Serda Bajang yang menenteng perbekalannya.
“Siapa?!” tanya Hans Jatmiko heran pada Serda Bajang. Keningnya berkerut. Ada wajah bingung disana. Kenapa tiba – tiba bisa muncul seorang wanita di rumah ini? Padahal waktu datang tengah malam tadi tidak ada siapa – siapa disini.
Melihat sikap Hans Jatmiko, dokter Anastasya mengulurkan tangannya. “Ana..” katanya disertai senyuman kecil.
Hans Jatmiko hanya menangguk, sembari ikut tersenyum.
“Bapak sich... tidurnya pulas banget, hingga tidak tahu ada bidadari datang kemari,” kata Serda Bajang bercanda.
Mendengar ucapan Serda Bajang, dokter Anastasya tersipu. “Bisa aja kamu..”
“Semalam seru banget lho pak, sayang Pak Hans nggak ikut. Andaikata ikut... wow..” lanjutnya lagi.
“Emang ada apa?” tanya Hans Jatmiko pengin tahu, dengan tatapan mata yang tidak pernah lepas dari wajah dokter Anastasya.
“Sepertinya aku pernah ketemu,” gumannya lirih. “Tapi, dimana?”
Hans Jatmiko berupaya untuk mengingat – ingat masa dimana pernah ketemu dengan dokter Anastasya.
“Di perjalanan nanti berpikirnya. Kita harus bergegas..” kata Serda Bajang membuyarkan ingatan Hans Jatmiko.
“Sepertinya aku kenal dengan bapak ini... “ ujar dokter Anastasya tidak kalah herannya dengan Hans Jatmiko. “Bukankah beliau pres....”
“Bukan..!!” Kapten Batara memotong ucapan dokter Anastasya. “Dia bukan Presiden Sularso. Itu Sularso palsu..”
Dokter Anastasya ternganga mendengar penjelasan Kapten Batara.
“Kok bisa?!” tanyanya heran.
Hans Jatmiko hanya tersenyum kecut, mendengar perdebatan keduanya.
“Panjang ceritanya..., sekalian nanti aku ceritakan rangkaian dan kaitannya,” lanjut Kapten Batara.
“Kita harus tinggalkan tempat ini, sebelum tentara REON datang.” Ucapnya mengingatkan sekali lagi, sambil memakai baju penyamarannya. Diikuti Serda Bajang. Hans Jatmiko juga mengenakan topi lebar dan masker di wajahnya. Sementara dr. Anastasya mengikat rambut panjangnya ditutupi topi dan mengenakan jaket.
Serda Bajang memimpin meninggalkan tempat itu. Dia berjalan di depan. Perlahan ia membuka pintu depan. Sebentar melongok ke kiri dan ke kanan. Melihat situasi. Setelah dirasa aman serta dirasa tidak ada orang yang melihatnya, bergegas ia menuju mobil yang semalam membawanya ke rumah kosong itu. Berturut – turut diikuti dr. Anastasya, Hans Jatmiko serta Kapten Batara.
Sayangnya, apa yang dirasa oleh Serda Bajang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Tanpa disadari oleh mereka, dari seberang jalan di pagi buta dengan cahaya yang masih remang – remang ada sepasang mata secara tidak sengaja dari balik gordyn jendela melihat kepergian mereka. Pemilik mata itu dari mulai tadi malam, merasa curiga rumah yang ada diseberang jalannya. Apalagi ada mobil asing terparkir di depan rumah itu. Kecurigaannya bertambah. Lebih – lebih ketika ada beberapa tentara REON yang berlarian memasuki lorong samping rumah itu, dan sampai sekarang tentara - tentara itu tidak kembali ke mobilnya yang masih terparkir di pinggir jalan, membuatnya tidak mengendurkan kewaspadaannya. Ia yakin pasti akan ada sesuatu yang terjadi. Dan... orang – orang Presiden Sularso akan mencari informasi tentang hal itu. Apabila informasi itu disampaikan kepada mereka, dirinya akan mendapatkan imbalan yang besar. Membayangkan hal itu, sudut bibirnya tersungging senyum kesenangan.
Sekejap kemudian kendaraan yang ditumpangi oleh keempat orang itu melaju meninggalkan rumah itu, melewati jalanan yang masih lengang.
@@@@@@@
Jam 9.00.. Sehari sebelumnya... Pangkalan Militer Tentara Republik Indonesia di Natuna..
Beberapa orang terlihat turun dari tangga pesawat Neo Hercules yang tengah terpakir di apron. Ada 3 orang yang berkelompok tengah memisahkan diri berjalan menuju sebuah kantor di ujung hanggar yang dijadikan markas komando. Kacamata rayben hitam yang tersemat di wajah mereka masing – masing menambah kesan gagah dan ‘sangar’ di diri mereka. Di punggungnya masing – masing ada ransel perbekalan yang tergendong. Tegap mereka berjalan memasuki Markas Komando.
Di dalam ruangan, Kolonel Sugriwa sudah menunggunya. Mereka melangkah menghampiri sang Kolonel. Sampai di depannya, ketiganya memberikan sikap hormat. Kolonel Sugriwa hanya mengangguk.
“Duduklah..” perintahnya kemudian.
Lettu Darmaganti, Sertu Wisrawa dan Kopka Joe adalah tiga orang yang tengah menghadap Kolonel Sugriwa itu. Berdasarkan Surat Perintah atau SPRINT yang sudah dikeluarkan oleh Kolonel itu, merekalah yang ditugaskan untuk mengakhiri misi Kapten Batara. Membawa pulang seluruh anggota Unit XII dari REON hidup atau mati.
Lettu Darmaganti sebenarnya adalah teman satu angkatan Kapten Batara di Akademi Militer. Mereka lulus bersama, sama – sama di wisuda oleh Presiden Republik Indonesia. Sama – sama menjadi Praja atau Perwira Remaja dan sama – sama menjalani Sumpah Prasetya Perwira. Yang membedakan keduanya adalah Kapten Batara mampu memperoleh rangking pertama di Akmil, dan menjadi yang terbaik sehingga mendapatkan Anugrah Adhi Makayasa. Sedangkan Lettu Darmaganti hanya mampu memperoleh peringkat ke 3.
Ketika sudah aktif dinas di kemiliteran, prestasi Kapten Bàtara sangat luar biasa. Sudah beberapa kali dia berhasil menjalankan misi yang ditugaskan kepada dirinya. Makanya, tidak heran ia pernah mendapatkan kenaikan pangkat istemewa. Berbeda dengan kawan – kawan se angkatan lainnya, rata – rata masih berpangkat Letnan Satu. Bahkan masih ada yang Letnan Dua. Hanya Bataralah satu – satunya orang di angkatannya yang sudah berpangkat Kapten. Ia termasuk anggota yang paling jenius di angkatannya.
Sedangkan, Lettu Darmaganti meski berhasil meraih peringkat tiga di Akademi, selama dinas militer ia termasuk anggota yang biasa – biasa saja. Memang, semenjak di Akademi dia selalu iri dengan Taruna Batara, seperti itu Kapten Batara dipanggil saat masih di Akademi, nilai akademisnya selalu nomor satu, baik itu di pendidikan umum maupun pendidikan kemiliteran. Darmaganti tidak pernah bisa melewati nilai Taruna Batara. Selalu berada di bawahnya. Pun, ketika sudah berdinas tidak pernah bisa melampui karier Kapten Batara.
Untungnya, keduanya bisa terpilih masuk pasukan elit Korps Pasukan Khusus. Meski begitu persaingan keduanya tidak berakhir begitu saja, malah makin menjadi. Tak urung, Lettu Darmaganti selalu mencari kesempatan untuk bisa mengalahkan Kapten Batara. Ketika ia mendapatkan misi untuk ‘menghabisi’ Kapten Batara, Lettu Darmaganti sangat antusias dan bersemangat. Kesempatan untuk mengalahkan sang rivalnya akhirnya kesampaian juga.
“Kalian sudah tahu, apa yang harus kalian kerjakan,” ucap Kolonel Sugriwa kemudian.
“Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Buat kolonelmu ini bangga dengan keberhasilan kalian. Sengaja aku terbang jauh – jauh dari Passer Utara untuk melepas keberangkatan kalian di Natuna ini.”
“Siap perintah!” Lettu Darmaganti menjawab.
“Letnan.., aku percaya dengan kemampuanmu. Buru mereka. Habisi mereka semua. Buat seolah – olah itu adalah kegagalan misi mereka. Buat serapi mungkin. Jadikan mereka menyesal karena telah menerima misi itu. Jangan tinggalkan jejak. Aku yakin kemampuan kalian tidak lebih rendah dari kemampuan mereka.”
“Siap!” serempak mereka bertiga menjawab.
“Ini kontak personmu disana...,” kata Kolonel lagi sambil menyerahkan satu lembar photo ukuran post card ke Lettu Darmaganti. “Nama dan nomor yang bisa kamu hubungi ada dibelakang photo itu.”
Lettu Darmaganti mengamati photo itu. Berikutnya ia membalik photo itu, melihat di belakangnya, mengikuti seperti yang diucapkan Kolonel Sugriwa. Sekilas ia membaca tulisan itu.
“Letkol Bhre Wing Nam,” gumannya dalam hati.
“Disana kamu akan tahu siapa dia.” Lanjut Kolonel Sugriwa.
“Berdasarkan informasi dari dia. Kapten Batara mendarat pertama kali di pulau Land Tera. Kamu mulai dari sana. Cari petunjuk disitu. Wing Nam sudah menyiapkan semua akomodasi yang kalian perlukan disana.”
“Tapi ingat, bantuan yang diberikan itu ilegal. Jangan sampai ini diketahui oleh siapapun. Jangan buat Wing Nam dan aku dalam kesulitan. Camkan itu.”
“Siap Kolonel..!!”
“Persiapkan diri kalian, untuk segera berangkat ke REON.”
“Siap..!!”
Setelah memberi hormat kepada Kolonel Sugriwa, bertiga mereka meninggalkan ruangan itu. Bergegas kembali menuju apron pesawat yang akan menerbangkan mereka menuju REON.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
Ok thor Smpai sni dlu., trus berkarya salam dari novel silat 13 Pembunuh, dan Pendekar Tanpa Kawan.,
2021-04-04
1
Isriansyah Link Iis
misi mustahil dari kol Sugriwa
2020-12-01
0
Isriansyah Link Iis
misi mustahil dari kol Sugriwa
2020-12-01
0