Markas Utama Pemberontak...
Hari ke 3 setelah penyergapan...
Seperti diceritakan di depan, di REON ada banyak faksi yang ingin menggulingkan kekuasaan Presiden Sularso. Salah satunya adalah Faksi yang dipimpin oleh Kolonel Lodaya. Seorang desertir tentara REON. Di REON sendiri faksi itu terkenal dengan sebutan Faksi REON Merdeka. Soal nama, Kolonel Lodaya tidak pernah sekalipun menyebutnya. Mungkin, ia tidak perduli dengan semua itu. Baginya nama adalah bukan hal utama, yang penting adalah bagaimana tujuan faksi itu tercapai, membebaskan REON dari cengkeraman Presiden Sularso.
Nama itu sebenarnya disematkan oleh beberapa atau malah banyak orang diluar kelompok faksi itu. Mungkin untuk membedakan kelompok faksi yang satu dengan yang lainnya. Atau barangkali untuk memberikan penghormatan atas jasa militansinya kelompok Kolonel Lodaya yang ingin terbebas dari belenggu Presiden Sularso.
Kolonel Lodaya menghembuskan asap rokoknya kuat – kuat. Di dalam ruangan yang hanya berukuran 9 meter persegi kian dipenuhi oleh asap rokoknya. Entah sudah berapa batang dihabiskannya. Asbak rokok di meja kerjanya sudah dipenuhi oleh puntung – puntung rokoknya. Kegalauan yang membuncah membuatnya seperti itu. Mengabaikan norma kesehatan tubuhnya. Tidak perduli dengan anjuran yang tertulis di bungkus rokok. Merokok dapat membunuhmu. Bah..!!!
Telepon Jenderal Birawa yang diterimanya dua hari lalu, benar – benar menyita pikirannya. Tidak terbayangkan bila misi yang dijalankan oleh pasukan elit anak buah Jenderal itu gagal total. Yang semakin membuatnya tidak mengerti adalah adanya 2 orang Presiden Sularso di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama. Aneh. Ia berpikir, dalam situasi seperti ini dibutuhkan langkah yang tepat, agar perjuangannya selama ini tidak sia – sia.
Berkali – kali ia memutar tayangan 2 wajah presiden di layar Personal Data Assistant (PDA) miliknya untuk mencari sebuah jawaban atas persamaan dua wajah itu. Hasilnya nol. Nihil besar.
Atas kejadian itu, tidak urung ia mengumpulkan seluruh Tetua Faksi dan semua Komandan Lapangan untuk diminta pendapat sekaligus bersama – sama mencari jalan keluar dan membuat rencana darurat pemecahan masalah itu. Biar bagaimanapun masalah ini adalah masalah Faksi juga. Suka maupun tidak suka Faksi harus terlibat dalam persoalan ini.
Suara alunan musik terdengar di PDAnya dengan layar menyala terang menampilkan wajah asisten pribadinya, pertanda ada panggilan masuk.
“Ya..., hallo...,” jawabnya sambil meng’hold’ panggilan itu.
“Bos.., semua tetua dan komandan lapangan sudah hadir di ruang rapat.”
“Oke. Sebentar nanti saya kesana.” Katanya dengan mengklik PDA itu. Menutup pembicaraan.
Markas Utama Faksi REON Merdeka ini berada di kawasan yang semua wilayah itu dikuasai sepenuhnya oleh pasukan Kolonel Lodaya. Berada di pulau terpisah dari pulau utama REON. North Bira Land. Orang – orang menyebutnya Bira Land. Dari Randcios City berjarak hampir 200 km. Melewati sebuah jembatan yang menghubungkan antara pulau Nacturno dan Bira Land. Membentang di atas laut sepanjang 600 meter. Dan jembatan itulah satu – satunya penghubung dari dan ke Bira Land atau sebaliknya ke pulau Nacturno. Masing – masing di ujung jembatan di jaga oleh pasukan masing – masing penguasa wilayah. Ujung jembatan di Bira Land dijaga oleh pasukan Faksi REON Merdeka. Yang ujung jembatan di Pulau Nacturno dijaga oleh tentara REON of Force. Jembatan itu seperti garis demarkasi. Jembatan batas wilayah. Hanya penduduk yang memiliki id card khusus yang bisa melewatinya.
Dulunya, sebelum dijadikan markas bangunan itu adalah bangunan ‘boarding school’. Sekolah berasrama. Karena perang saudara yang berkepanjangan membuat sekolah itu banyak kehilangan murid. Baik itu murid yang tidak berniat untuk kembali ke sekolah maupun murid yang sudah menjadi korban perang. Hingga pada akhirnya bangunan itu dibiarkan terbengkalai, dibiarkan begitu saja. Tidak terurus sama sekali. Saat Faksi REON Merdeka membutuhkan tempat untuk menjadi sarana untuk berkoordinasi maupun mengevaluasi semua pergerakan untuk melawan Presiden Sularso, satu - satunya pilihan hanya bangunan sekolahan itu.
Awalnya sekolahan itu terdiri dari beberapa massa bangunan. Kemudian berikutnya, oleh Faksi semua ruangan yang ada dimanfaatkan untuk keperluan Markas Utama dan untuk kepentingan pasukan. Gedung – gedung itu dikelompokkan manjadi beberapa zona fungsi. Ada yang dijadikan ruang komando, ruang kantor, ruang rapat, barak pasukan dan beberapa bangunan dijadikan barak perawatan atau lebih tepatnya dimanfaatkan sebagai rumah sakit tentara. Disitupun juga ditambahin beberapa bangunan pendukung yang memang tidak ada, diantaranya adalah gudang senjata, bungker komando, dan 3 buah menara pengintai atau pengawas.
Meski beberapa kamera pengawas sudah terpasang dibeberapa titik bangunan. Kelompok itu beranggapan, menara pengawas masih berfungsi utama sebagai menara pengintai untuk melihat kedatangan langsung musuh dengan mata telanjang. Perannya masih dianggap penting, sehingga masih perlu dibangun. Sedangkan kamera, hanya sebagai pendukung untuk ikut membantu memantau atau mengawasi keadaan di dalam markas.
Secara kewilayahan, Bira Land dibagi menjadi 3 distrik, yaitu distrik utara, distrik tengah dan distrik selatan. Masing – masing dipimpin oleh seorang tetua dan satu orang komandan lapangan. Secara umum tugas pokok tetua adalah mengurusi di bidang pemerintahan dan komandan lapangan bertugas di bidang kemiliteran maupun ketertiban umum.
Di dalam sebuah ruangan yang dijadikan ruang rapat sudah ada 6 orang yang tengah menunggu kehadiran komandan faksi mereka, Kolonel Lodaya. Mereka adalah Tetua Lo, Ketua Distrik Utara dan Letkol Jones sebagai komandan lapangannya. Tetua Diane untuk Ketua Distrik Tengah, dibantu Letkol Brams. Dan Tetua Tianse serta Letkol Golan yang menguasai Distrik Selatan. Mereka – mereka inilah andalan Kolonel Lodaya.
Ada 3 orang yang tengah mengerubungi Tetua Diane. Bersama – sama melihat layar tablet yang ada di atas meja Tetua Diane. Dan yang dua orang lainnya juga asyik melihat layar HP masing – masing. Wajah – wajah mereka berkali – kali terlihat berubah saat melihat video itu. Lebih – lebih Tetua Diane, seringkali wanita tua itu menghela nafas panjang, menyaksikan apa yang terjadi di depannya.
Video yang di share oleh Kolonel Lodaya ke masing – masing perangkat komunikasi para petinggi Faksi, sangat menyita perhatian mereka. Membuat mereka bertanya – tanya, kok bisa?! Ilmu apa yang dipakai oleh Presiden Sularo bisa membuat dua wajah yang sama dalam satu waktu pada tempat yang berbeda. Mirip amuba yang bisa membelah diri. Aneh, guman mereka bingung.
“Hhmm..,” Kolonel Lodaya berdehem kecil. Membuat orang – orang yang ada di situ, seketika menghentikan keasyikannya. Serentak mereka berdiri, dan bergegas menuju ķursinya masing – masing.
“Salam Komandan...” ucap mereka serempak.
“Silahkan..,” kata Kolonel Lodaya mempersilahkan mereka duduk.
Setelah semuanya duduk, Kolonel melanjutkan kalimatnya, berwibawa.
“Para Tetua dan Komandan saya yakin sudah tahu, maksud pertemuan kita sekarang ini.”
Sejenak sang kolonel itu berhenti bicara. Menatap satu persatu orang – orang yang ada di depannya.
“Orang – orang Jenderal Birawa telah gagal membawa Sularso ke Mahkamah Internasional. Malahan saat ini ada dua presiden yang berwajah sama. Apakah itu betul atau tidak, sampai sejauh ini kita tidak tahu. Bahkan bisa dikatakan belum tahu. Orang – orang kita yang di Istana juga belum melapor ke saya. Kita masih minim informasi. Dengan begitu, rencana kita untuk membuat pemerintahan darurat, sementara waktu tertunda.”
“Izin komandan,” Ketua Distrik Utara, Tetua Lo menyela.
Kolonel Lodaya memberi tanda mempersilahkan.
“Ada baiknya kita mengutus orang untuk menyelidiki hal ini Komandan. Dan, kalau perlu suruh untuk temukan orang – orang Jenderal Birawa. Saya yakin, kalau memang mereka sadar ada 2 Presiden Sularso, mereka pasti akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan kunci dari penjelasan ini adalah dari mereka..”
Tetua Lo berhenti sejenak. Membasahi bibirnya yang terasa kering.
“Kita kerahkan, orang – orang intelijen kita untuk mencari tahu.”
Saya sependapat dengan apa yang dikatakan Tetua Lo, Komandan.” Letkol Golan menukas. “Ada benarnya juga, dalam hal ini kita harus jemput bola, Ndan..”
“Yang lain bagaimana? Ada usul?!”
“Saya setuju.” Tetua Diane cepat menjawab. “Tugaskan orang untuk mencari orang – orang Jenderal Birawa.”
Tetua Tianse hanya mengangkat tangannya, pertanda setuju. Berikutnya Letkol Brams juga. Berturut – turut Letkol Golan, Tetua Lo dan Letkol Jones.
Kolonel Lodaya menarik nafas lega. Ia meraih PDAnya. Memijit – mijit pad digitalnya dan mengangkat dengan tangan kirinya diletakkan di sebelah kupingnya. Sesaat ia mendengarkan.
“Step, panggil Jeanny menghadap kemari,” katanya kemudian memerintah kepada ajudannya setelah PDA itu tersambung komunikasinya.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
like👌
2021-05-27
0