“Bajang.., lakukan!!” Kapten Batara berteriak.
Sedetik kemudian... tepat VAC melintas.
“BUMMM..!!”
Berikutnya...
“Buummm! Bummm! Bumm!! Bumm!!! Buummm.... !!!”
Lima ledakan berturut – turut mengiringinya.
Satu VAC yang melintas, langsung terbang begitu saja. Terlontar ke udara. Jatuh terhempas ke bumi, dan terbakar dengan bentuk berantakan. Pengemudi dan penembak AMG entah terlempar kemana. Ketika jatuh, keduanya sudah meregang nyawa.
Dua unit VAC yang mendampingi limousine Presiden Sularso juga kena imbasnya. Keduanya juga sama dengan kondisi VAC yang membuka jalan. Hancur berantakan. Setelah terlempar dan terguling beberapa kali. Meledak dan terbakar.
Suara tembakan masih terus tedengar. Sesekali terdengar jeritan kesakitan diantara desingan peluru. Sertu Gentar masih menembaki sisa – sisa pasukan pengawal Presiden Sularso. Senapan Serbu ZHG24 miliknya masih lancar memuntahkan peluru. Serda Draco maupun Lettu Seto juga tidak ketinggalan. Apalagi dengan Kapten Batara dan Serda Bajang. Semua seperti berpesta. Satu persatu pasukan pengawal presiden itu berhasil dilumpuhkan. Tidak bersisa. Hanya tinggal Presiden Sularso seorang diri, di dalam mobil kepresidenan.
Presiden Sularso semakin pucat pasi. Limousine yang ditumpangi tidak bergerak. Sopir yang mengemudikannya sudah menemui ajal. Satu tembakan tepat mengenai batang tenggorokan. Sedangkan dua pengawalnya tidak diketahui keadaanya. Apakah sudah tertembak atau belum, Sularso tidak memperdulikan. Satu – satunya yang ada dalam otaknya saat ini adalah bagaimana ia bisa selamat. Kabur dari tempat ini. Cuman bagaimana caranya?
Satu unit VAC yang tersisa juga sudah tidak terdengar lagi balasan tembakan ke arah musuh. Semua hening. Hanya terdengar gemertak kobaran api yang membakar beberapa kendaraan pengawal presiden. Sesekali rintihan kesakitan juga ikut mewarnai.
Presiden Sularso meraih gagang pintu mobil, ketika tiba – tiba ada ketukan pintu di mobilnya.
“Tok! Tok.. ! Tokk!!”
Presiden Sularso gemetar menatap pintu, pada arah ketukan itu.
Tangannya gemetar menekan tombol kunci pintu.
Seketika wajah Lettu Seto nongol dari balik pintu. Ia tersenyum dingin, meski sebenarnya mirip seringaian.
“Sore pak Presiden..” sapanya datar sambil menghempaskan pantatnya di kursi penumpang depan presiden. Matanya tajam menatap wajah Presiden Sularso. Tangannya siaga menenteng SS ZHG24 dengan kondisi terkokang.
Presiden Sularso tersenyum kecut. “A.. apa mau.. kali.. an..?” tanyanya terbata – bata. Wajahnya pucat pasi.
“Hmm..,” Seto hanya mendengus. Ia memberi tanda dengan mengetuk sekat pembatas antara penumpang dan pengemudi.
Serda Drako yang sudah duduk di depan setir mobil hanya mengacungkan jempol.
“Harimau siap di antar ke kandang, Kapten.” lapornya melalui headset comunicator yang terpasang di helmnya.
Sejenak kemudian limousine bergerak melaju dengan kecepatan tinggi diiringi satu unit VAC, yang ditumpangi oleh Kapten Batara, Serda Bajang dan Sertu Gentar. Meninggalkan sisa – sisa perang dan korbannya. Bergerak menuju titik penjemputan berikutnya. Sampai sejauh ini misi bisa dilaksanakan dengan baik. Masih ada step berikutnya. Mengantarkan Presiden Sularso ke titik penjemputan berikutnya. Jarak 3 KM, bukan jarak yang jauh. Meski begitu, dalam suasana perang seperti ini, perjalanan yang hanya berlangsung beberapa menit cukup mencekam. Menegangkan.
Di dalam limousine, Presiden Sularso kelihatan tegang. Anehnya Lettu Seto seperti acuh tak acuh. Matanya terpejam, seolah – olah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Memperhatikan hal itu, Presiden Sularso menatapnya penuh curiga. Dirinya tidak habis pikir, apa yang direncanakan oleh gerombolan itu terhadap dirinya. Kenapa menculiknya? Kenapa dirinya dibiarkan untuk terus hidup? Kenapa? Banyak pertanyaan kenapa bermunculan di kepalanya. Banyak juga bayangan buruk berseliweran di benaknya. Sularso hanya bisa menduga - duga. Tak tahu apa jawabannya.
Untuk mengurangi kegugupannya, Presiden Sularso meremas – remas jari jemarinya. Sesekali ia mengelus – ngelus jari kelingking atau jari tengahnya. Baik itu yang ada di tangan kanan maupun tangan kirinya.
Semua gerakan yang dilakukan oleh Presiden Sularso tidak luput dari pengamatan Lettu Seto. Mata terpejam yang dilakukan hanyalah kepura – puraan. Sudut matanya tetap awas mengamati semua tingkah laku Presiden REON ini. Keningnya berkerut ketika melihat jari manis tangan kanannya. Seketika ia mengamati jari manis tangan kanannya sendiri. Ada sebentuk cincin almameter akademi Militernya dulu. Ia tahu, di dalamnya tertanam chip yang berisikan data diri dan sejumlah prestasi semasa di Akademi dulu.
Dan, di jari Presiden Sularso, cincin itu tidak ada. Atau mungkin tidak dipakainya. Ini adalah hal yang aneh. Padahal sepengetahuannya Presiden Sularso adalah satu almameter dengan dirinya. Sama – sama dididik di Kawah Candradimuka Akademi Militer Magelang. Ada peraturan tidak tertulis dan seperti merupakan sebuah keharusan, setiap alumnus wajib memakai cincin itu. Sudah seharusnya Sang Presiden memakainya juga. Sekali lagi Lettu Seto melihat jari jemari Presiden Sularso. Untuk memastikan. Kali ini dengan mata terbuka lebar. Untung saja, Presiden Sularso tidak memperhatikan Lettu Seto yang tajam menatap tangannya, matanya memandangi pepohonan yang seperti berlarian lewat kaca jendela mobilnya.
Lettu Seto berpikir keras. Seperti ada keganjilan. Ia melirik wajah Presiden Sularso. Matanya mencoba me-reka konstruksi kembali wajah presiden itu. Sama seperti yang terlihat di photo yang kemarin dilihatnya. Tidak ada yang berbeda. Sama. Tidak mungkin orang lain menyaru menjadi Presiden Sularso. Tapi, kalau tidak kenapa tidak memakai cincin almameternya. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di benaknya.
Merasa diperhatikan secara berlebihan oleh Lettu Seto, Presiden Sularso semakin gugup. Grogi. Bingung harus berbuat apa. Mau ngomong takut.. Diam saja juga semakin membuatnya bingung. Presiden Sularso tahu, meski sebagai presiden, ia sebagai tawanan di mobilnya sendiri. Sedikit saja dia bertindak salah, atau melakukan tindakan yang mencurigakan, tidak mustahil orang di depannya akan berbuat kasar. Salah – salah nyawanya bisa menjadi taruhan. Karena itulah dia berlaku hati – hati.
Suasana di dalam mobil terasa kaku. Sama - sama saling menjaga diri. Sebagai seoarang tawanan Presiden Sularso tidak ada hak untuk berkata apalagi bertanya. Sedangkan Lettu Setto tidak tahu apa yang harus diomongkan. Sebagai seorang prajurit bisanya hanya bertempur dan menjalankan perintah. Menginterogasi tawanan, bukan tugasnya. Namun, ketika ingat Presiden Sularso tidak memakai cincin almameter seperti dirinya, dorongan untuk bertanya menjadi besar.
"Pak Presiden, telah membuat malu almameter." kata Lettu Seto getir.
Biar bagaimanapun, orang yang ada didepannya adalah kakak angkatannya. Satu almameter. Jiwa korsa (1) sudah mendarah daging. Satu orang tersakiti, yang lainpun ikut merasakan rasanya sakit. Demikian juga sebaliknya, jika seorang bahagia, yang lainpun ikut merasa senang. Menjadi ironi, bila tiba - tiba ada salah satu anggota almameter berkelakuan tidak mencerminkan rasa, semangat, prilaku dan jiwa almameter. Sebab ketika dididik disana, rasa itu ditanamkan kedalam setiap sanubari para siswa dalam prilaku kehidupan keseharian mereka.
"Aku... a.. ku..," Presiden Sularso tergagap. Tidak tahu apa yang akan diomongkan, ketika tiba - tiba Lettu Seto berbicara dengannya.
Lettu Seto menatap tajam.
"Kenapa?"
"Aku... tidak tahu apa maksudmu..." Presiden Sularso berkata lirih, mirip seperti gumaman.
"Kamu telah membuat malu, almamater kita!!" bentak Lettu Seto.
"Almamater?" Presiden Sularso bertanya tidak mengerti. "Benar. Aku tidak tahu apa yang kamu maksud.."
Deg!
Jantung Lettu Seto, seperti mau copot mendengar pernyataan Presiden Sularso. Ia beranjak mendekati sang Presiden. Tangan kirinya meraih muka sang Presiden. Mencekeram dagunya. Memaksa menolehkan ke kiri dan ke kanan berkali - kali. Mengamati dengan seksama.
"Nggak ada yang aneh," gumannya perlahan.
"Kamu..," katanya kemudian dengan tatapan mata penuh selidik ke arah Presiden Sularso.
"Aku hanya diperintah..," mimik wajah Presiden Sularso penuh dengan ketakutan ketika mengucapkan kalimat itu.
"Apa?!" teriak Lettu Seto penuh keterkejutan. "Sialan!" geramnya kemudian.
"Siapa yang menyuruhmu?!"
"Presiden... Presiden Sularso."
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
**1. suatu konsep militer mengenai kesadaran seorang individu dalam suatu korps, yang memiliki perasaan sebagai suatu kesatuan, kekitaan, kecintaan terhadap suatu perhimpunan atau lembaga.
*****
Terima kasih kepada rekan - rekan pembaca yang meluangkan waktu dan sudi membaca naskahku ini.
Kasih like dan comment dong, biar AUTHOR bertambah semangat menulisnya**...
Salam. (BS**)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
anggita
like lgi.,
2021-04-04
1
anggita
ZHG 24-Sertu Gentar., Jozz.👏
2021-04-04
1
Little Fish
Mantap thor👍👍
2020-12-21
1