Beberapa saat setelah Kapten Batara dan kelompoknya meninggalkan rumah kosong itu, satu unit mobil jeep wrangler mendatangi tempat itu. Mobil itu diparkir di belakang mobil tentara REON. Tiga orang keluar dari mobil itu. Semua tanpa menggunakan atribut militer yang mereka kenakan. Hanya sepatu lars panjang yang ada di kakinya. Mereka adalah Letnan Satu Darmaganti, Sersan Satu Wisrawa dan Kopral Kepala Joe. Bergegas mereka bertiga memasuki lorong jalan, setelah memperhatikan kondisi sekitarnya.
Satu persatu mereka memeriksa rumah – rumah kosong yang dibiarkan terbuka pintu depannya. Insting militernya berkata, bahwa barusan ada pemeriksaan di setiap rumah yang pintunya masih ternganga. Berbeda dengan yang lsinnya, sebab di deretan rumah – rumah itu masih banyak yang pintunya tertutup rapat. Bahkan masih ada yang terkunci. Artinya dengan demikian rumah – rumah yang pintunya terbuka itu pernah dimasuki seseorang. Dengan begitu mereka bertiga berharap untuk bisa mendapatkan petunjuk, tentang keberadaan kelompok Kapten Batara.
Dari informasi yang diberikan oleh orang – orangnya Bhre Wing Nam, kemarin siang di pulau Land Tera, teman – temannya menggunakan 2 unit kendaraan menuju Randcios City. Dalam perjalanan, ketika melihat ada 2 unit kendaraan militer tentara REON yang terparkir di pinggir jalan membuatnya tertarik untuk berhenti. Pemikiran Lettu Darmaganti, Kapten Batara dan teamnya tengah diburu oleh Pasukan REON, mengingat kondisi misi mereka sudah diketahui oleh Presiden Sularso.
Ketika sampai pada sebuah rumah, ketiganya terkejut bukan alang kepalang ketika menemukan satu sosok tentara REON yang terbujur kaku meregang nyawa. Kopka Joe berjalan mendekati mayat itu. Bau amis menyebar ke segala penjuru ruangan.
“Ditembak dari jarak dekat..,” kata Kopka Joe lirih mirip gumaman, ketika melihat tembakan pelipis yang mengecil di sebelah kiri dan membesar di pelipis sebelah kanan.
“Tentara ini ditembak tanpa sempat melakukan perlawanan,” guman Kopka Joe lagi, setelah melihat senjata M16 tentara itu tergeletak begitu saja dengan letak yang berjauhan dengan tempatnya mati. Dengan kondisi magazine peluru masih terisi penuh.
Seketika mereka memeriksa semua ruangan itu. Mencari – cari beberapa tanda yang bisa dijadikan informasi penting. Tidak lama kemudian Sertu Wisrawa menemukan sebuah selongsong peluru bekas tembakan ke tentara REON itu.
“Aku menemukan ini Ndan,” katanya sambil menyerahkan selongsong itu ke Lettu Darmaganti.
Letnan Darmaganti mengamati benda itu sebentar kemudian memasukkan ke dalam saku celananya.
“Kita cari yang lain..,” perintahnya kemudian.
Bertiga mereka berpindah ke rumah sebelahnya. Ada dua mayat terbujur kaku dengan beberapa tembakan di badannya. Segera mereka mengumpulkan beberapa selongsong peluru yang berserakan di lantai rumah itu. Selang beberapa rumah dari tempatnya menemukan dua mayat tadi, mereka menemukan satu mayat dengan leher patah.
Di sebuah rumah ujung lorong menemukan satu lagi sosok yang terbujur lemah tidak bergerak bersandar di dinding rumah. Sekujur tubuhnya banyak terdapat lebam dan luka bekas pukulan maupun tendangan. Darah membasahi sekujur tubuhnya.
Kopral Joe mendekati sosok itu, ia meraba pangkal lehernya. Ada denyut nadi meski terasa lemah. “Orang ini masih hidup Ndan,” katanya melaporkan.
Mulut orang itu komat – kamit, seperti ada yang mau diucapkan. Kopral Joe mendekatkan telinganya ke bibir orang itu.
“Aa… i… i… r…r.r..” ucapnya lirih hampir tidak terdengar.
“Cari air bro..” pinta Kopka Joe pada Sertu Wisrawa, setelah mendengar permintaan tentara REON itu.
Sertu Wisrawa bergegas mencari apa yang diminta Kopral Joe. Lettu Darmaganti ikut mendekati tentara yang terbujur lemah itu. Matanya menatap Kopral Joe dengan menaikkan alisnya. Seakan bertanya, bagaimana? Kopral Joe hanya menggeleng lemah.
Tidak lama Sertu Wisrawa datang membawa air dalam botol dan menyerahkan ke Kopka Joe yang langsung meminumkan ke tentara REON itu. Perlahan tentara itu mencecap air minum yang diberikan. Kopka Joe, sedikit heran ada bau yang tidak asing ketika memberikan minuman itu ke tentara REON.
Sesaat kemudian setelah dirasa agak mendingan, Lettu Darmaganti mencoba mengajukan pertanyaan.
“Siapa yang melakukan semua ini? Kamu tahu?”
Tentara itu mencoba membuka matanya, mencari tahu siapa yang bertanya kepadanya. Wajahnya terlihat kepayahan menahan rasa sakit yang di deritanya. Melihat kondisi yang demikian Kopka Joe yakin, bahwa tentara REON ini tidak akan mampu untuk bertahan hidup. Hanya keajaiban Tuhanlah jika dia bisa mempertahankan nyawanya.
Lemah ia menggeleng. Bibirnya bergetar. “Aa..kuu .. tid… dak… ta.. hu…”
“Berapa orang?” tanya Lettu Darmaganti penasaran.
Pelan tentara REON itu mengangkat tangannya dan menunjukkan telunjuknya.
“Kamu tahu ciri – cirinya..?” desak Lettu Darmaganti lagi.
Belum sempat tentara itu menjawab, nyawanya sudah lepas dari raganya. Kepalanya terkulai lemas. Kopral Kepala Joe kembali meraba pangkal lehernya.
“Dia sudah mati Ndan..,” katanya perlahan sambil mengatupkan mata tentara yang terbelalak menahan nyawanya.
Lettu Darmaganti mendengus kesal. Bangkit berdiri dia. “Sialan!” gerutunya geram. Ia menendang badan mayat itu. Meninggalkan begitu saja dan melangkah ke luar rumah.
“Segera kita tinggalkan tempat ini. Cari petunjuk lain siapa tahu ada informasi yang bisa kita peroleh,” perintahnya kepada kedua anak buahnya.
“Ndan…,” kata Kopka Joe menyela. “Tadi waktu kita keluar dari mobil di seberang jalan di rumah sana itu, saya lihat ada orang yang memperhatikan kita. Sepertinya dia bisa kita minta informasinya.”
Mendengar omongan Kopka Joe, mata Lettu Darmaganti berbinar.
“Ayo kita kesana,” katanya bersemangat. Sambil berjalan menuju rumah yang ditunjuk Kopka Joe dikuti keduanya.
Hanya berselang beberapa menit mereka sudah sampai dirumah itu. Sertu Wisrawa mengetuk pintunya. Tidak lama kemudian seorang wanita tua dengan rambut tersanggul rapi mengintip dari celah daun pintu yang terbuka sedikit.
“Siapa?” tanyanya khawatir dengan mimik was – was.
“Orang baik – baik bu,” jawab Sertu Wisrawa sekenanya. Mendengar jawaban Wisrawa, Kopral Joe hanya nyengir.
“Ada perlu apa?” tanyanya heran.
“Boleh kami masuk?” kata Sertu Wisrawa malah balik bertanya.
“Kalau tidak ada perlu, tinggalkan rumah ini.!” jawabnya ketus sambil mau menutup pintunya kembali.
Melihat hal itu bergegas Sertu Wisrawa mengganjal ujung pintu dengan ujung lars sepatunya, sehingga si ibu itu kesulitan menutupnya.
“Ada yang mau kami tanyakan ke ibu…,” Lettu Darmaganti segera mengambil alih dan berkata dengan ucapan sesopan mungkin. Ia berharap ibu itu mau berbagi informasi dengan mereka.
“Bertanya apa?! Cepat katakan..!” jawabnya lagi dengan ketus. Ada ketidak sukaan di wajahnya ketika menyadari daun pintu rumahnya tidak bisa ditutup karena diganjal kaki Sertu Wisrawa.
“Ibu tahu siapa yang datang tadi malam di rumah itu?”
“Tidak!” jawabnya singkat. Ada rasa keengganan menjawab pertanyaan Lettu Darmaganti.
Tiba – tiba Sertu Wisrawa menyodorkan beberapa lembar 100 dolar REON di depan ibu itu. Seketika wajah ibu itu berubah drastis. Yang semula ketus berubah menjadi ramah. Segera ia membuka pintu lebar – lebar, mempersilahkan semua tamunya masuk. Rejeki nomplok datang, gumannya dalam hati gembira ria.
“Apa yang ibu ketahui?” tanya Lettu Darmaganti ketika sudah di dalam rumah.
“Silahkan duduk dulu,” katanya mempersilahkan dan mengacuhkan pertanyaan Lettu Darmaganti.
Sang Letnan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Dasar ibu – ibu mata duitan,” gumannya dalam hati kesal. “Kalau bukan perempuan ku ‘pithes(¹)’ kamu.”
Letnan Darmaganti meraih lembaran uang itu dari tangan Sertu Wisrawa. Belum juga disodorkan ke si ibu, ibu itu sudah merebutnya cepat dari tangan Lettu Darmaganti. Dan segera menyimpan di balik kutang bajunya.
Tiga orang pasukan Garda Penyerbu itu hanya bengong menyaksikan ulah si ibu, yang seperti tidak mau kehilangan rejeki nomploknya. Mereka hanya tersenyum kecut. Sersan Satu Wisrawa sampai menggeleng – gelengkan kepalanya.
Selanjutnya tanpa diminta ataupun diperintah ibu itupun menceritakan semua yang dilihatnya. Nyerocos terus seperti peluru keluar dari mitraliur. Tidak ada putus – putusnya. Dari mulai kedatangan pasukan REON yang tergesa – gesa masuk ke dalam lorong sampai perginya orang – orang yang tinggal di rumah kosong seberang jalannya.
“Ibu tahu kenapa tentara REON itu buru – buru ke jalan lorong itu?” tanya Lettu Darmaganti.
“Sepertinya mereka ada yang dicari..”
“Aku tidak tahu…, tapi, dari teriakan teriakan para tentara REON itu, mereka menyebut – nyebut perempuan dan dokter sundal begitu. Aku rasa orang itulah yang dicari.”
Cerita si ibu itu, membuat kening Lettu Darmaganti berkerut, termasuk juga teman – temannya. Apa yang menjadi bayangannya bahwa tentara REON memburu Kapten Batara cs terbantahkan. Lantas siapa orang – orang yang membunuhi pasukan itu. Dari keterangan satu orang tentara yang masih sempat hidup tadi, hanya satu orang yang menghajarnya. Lantas kenapa jawabannya tidak tahu siapa yang melawannya. Kalau misalkan orang menghajarnya adalah orang yang dicarinya adalah hal yang mustahil kalau mereka tidak mengenalnya. Lantas siapa dia? Sendirian lagi.
“Ibu tahu, berapa orang yang pergi dari rumah itu?” tanya Lettu Darmaganti lagi dengan rasa penasara.
“Empat.” Jawabnya singkat. “Tiga orang laki – laki, dan seorang sepertinya perempuan, terlihat dari gaya berjalannya.”
Tiga orang itu semakin pusing kepalanya mendengar jawaban ibu itu. Harapan untuk menemukan keberadaan Kapten Batara dan anggotanya semakin tipis. Bahkan kini, mereka dihadapkan pada kepingan puzle permasalahan yang malah rumit.
Ketiganya terdiam cukup lama, sampai akhirnya Sertu Wisrawa bertanya ke ibu itu, “Mereka ke arah mana bu?”
“Kesana,” jawab ibu itu sambil menunjuk arah jalan yang dilalui Kapten Batara.
Merekapun akhirnya berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya dengan berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Jalan yang dilalui oleh mereka sepertinya menemui jalan buntu. Langkah kaki mereka mati. Tidak tahu harus kemana untuk berjalan
Akhirnya ketiga pasukan Garda Penyerbu itu mengikuti arah yang ditunjuk ibu tadi. Yang tidak dia sadari mengikuti arah perjalanan Kapten Batara.
Sepanjang perjalanan ketiganya berbincang tentang rencana selanjutnya. Mencari Letkol Bhre Wing Nam untuk meminta petunjuk.
“Eh bro, ngomong – ngomong air apa yang kamu berikan ke tentara REON tadi?” tanya Kopka Joe tiba – tiba.
Sersan Satu Wisrawa tergelak. Ketawa ngakak mendengar pertanyaan itu.
Kopka Joe dan Lettu Darmaganti saling menatap tidak mengerti.
“Jangan – jangan…”
“Ha.. ha.. ha.. itu air kencingku…”
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
1. Bahasa Jawa, artinya memijit dengan keras untuk sesuatu yang kecil seperti kutu, kepinding, semut dll.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments