..."Memangnya siapa kau berani bertindak seenaknya padaku!?" ...
..."Aku calon suamimu! Puas! Kau yang mengajakku menikah jadi kau harus menurut pada calon suamimu ini" Aldrick nampak menikmati setiap ucapannya. Rasanya cukup menyenangkan membuat Valerie tak bisa berkata-kata. ...
...****************...
"Jadi, sekarang ke salah pahaman nya sudah selesai?" Tanya Aldrick yang nampak begitu penasaran.
Sementara Valerie hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. "Evelyn jadi tidak mau bicara padaku, hari ini dia akan di jemput oleh Aunty Reina"
"Aku kira dia tinggal sendirian di Paris"
Valerie tersenyum tipis, memikirkan adiknya tinggal di Paris adalah sebuah pemikiran yang kurang bagus. Ayah dan ibunya tentu saja tak setuju jika membiarkan Evelyn sendirian si negara asing, selain khawatir mereka juga memikirkan tingkah laku Evelyn yang selalu bebas. Gadis itu tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi jika dia melakukan sebuah tindakan dan biasanya dia tak pernah memperhitungkan hal itu.
Dengan kata lain, dia selalu bertingkah seenaknya tanpa berpikir dua kali.
"Mommy dan Daddy tidak mengizinkan Evelyn tinggal sendirian. Selama di sana, dia tinggal di rumah Aunty Reina dan Uncle Alex. Dengan begitu, mereka bisa memperhatikan Evelyn di sana."
"Dia paman dan bibimu?"
"Mmm... Bibi ku berasal dari Jepang seperti ibuku, lalu dia menikah dengan paman Alex yang berasal dari Paris dan akhirnya mereka berdua menetap di Paris"
"Kau tidak penasaran kenapa aku dan Evelyn bisa saling kenal?"
"Kau tadi sudah mengatakannya, kan?"
"Aku hanya bilang aku dan dia bertemu di jamuan makan malam perusahaan. Sebenarnya dia yang pertama mendekatiku"
Valerie tersenyum simpul "Aku sudah menduganya. Evelyn bilang kalian bertemu di Sigriswil, Woah...bukankah tempat itu indah? Apalagi jembatan panoramanya. Pasti pertemuan kalian manis sekali, ya"
"Aku sedang melakukan perjalanan bisnis waktu itu lalu aku bertemu dengan Evelyn yang sedang jalan-jalan dengan teman-temannya. Dia yang menyapaku duluan. Dia masih SMA waktu itu"
"Kau sering bertemu dengannya tapi tidak tahu dia putri ayahku" Sergah Valerie.
"Kalau itu bukan salahku, dia memperkenalkan dirinya sebagai Eve tanpa menambahkan nama marga. Jika seperti itu, aku mana tahu kalau ternyata dia adalah putri dari Aiden Hillbert"
3 Tahun yang lalu......
Saat itu, ballroom sebuah hotel berhasil di sulap menjadi sebuah tempat elegant untuk jamuan makan malam perusahaan, siapa lagi kalau bukan Veronica yang menata ruang itu. Dia bukan hanya seorang designer tapi juga dia cukup lihai dalam penataan sebuah ruangan, interior dan eksterior. Seperti seorang arsitek saja, ya. Anggap saja begitu.
Karena acaranya masih belum di mulai, para tamu undangan nampak asing berbincang.
Dari temanya saja sudah jelas "jamuan makan malam perusahaan" tentu saja orang-orang di sini membicarakan bisnis, seperti investasi, harga saham, kerja sama antar perusahaan dan lain sebagainya.
Aldrick adalah salah satu dari sekian banyak tamu undangan yang berhasil menarik perhatian beberapa anak gadis dari beberapa pimpinan di sana. Dengan kata lain, para pimpinan itu membawa putri mereka yang sudah menginjak remaja ke acara itu.
Aldrick yang baru selesai menyapa salah satu teman ayahnya lantas segera mencari tempat duduk yang sudah di sediakan oleh tuan rumah dari perjamuan kali ini, dia mencari meja yang terdapat papan nama dirinya di sana.
Seorang pelayanan menyodorkan sebuah nampan padanya, di atas nampan tersebut tentunya terdapat sekitar dua atau tiga gelas sampanye. Aldrick mengambil segelas kemudian menyesapnya sedikit, membiarkan sampanye itu menyebar di permukaan lidahnya, lantas ia tersenyum setelah merasakan minuman itu meluncur dengan bebas ke tenggorokannya.
Sudah lama lidahnya tak merasakan sensasi ini. Begitu minuman itu habis sepertinya Aldrick akan mengambil segelas lagi nanti. Bersamaan dengan itu, seorang gadis tiba-tiba bergabung di meja yang sama dengannya.
Aldrick hanya menatap gadis itu sejenak, dia cukup lelah hari ini. Semenjak dia datang ke sini para remaja itu memang selalu mencuri pandang dan bahkan ada yang menatapnya secara terang-terangan.
Aldrick akui, dia memang tampan tapi jika di tatap oleh seorang gadis sampai seperti sekarang ini, dia cukup risih.
Lihat tatapan gadis itu, tatapan itu seperti tatapan seekor singa betina yang kelaparan, dia siap menerkam sang jantan kapan saja. Alis Aldrick menukik tajam ke kanan, dia sering melihat tatapan itu.
Tatapan itu persis seperti para wanita yang sering dia tiduri di akhir pekan. Namun, entah kenapa rasanya sedikit aneh jika mendapat tatapan seperti dari seorang remaja.
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan tuan" Ucapnya berbisik, terdengar begitu sensual, namun percayalah, Aldrick tidak tergoda sedikit pun. Malahan dia ingin tertawa karena seorang remaja baru saja berbicara seperti itu padanya.
Remaja itu jelas tak tahu seperti apa pria itu. Aldrick Grant lebih brengsek dari yang dia duga. Gadis itu menggeser kursinya agar bisa lebih dekat dengan Aldrick.
"Aku sudah tahu namamu, perkenalkan namaku Eve. Asal kau tahu, aku berbeda dengan mereka" Lantas gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Eve itu melirik para gadis yang sedari tadi melirik Aldrick secara diam-diam. Eve tersenyum mengejek pada sekumpulan gadis itu.
"Apa orang tuamu tahu kelakuanmu yang seperti ini?" Aldrick masih nampak tenang meski tangan gadis itu sudah berani memainkan dasinya, jemari mungil itu nampak santai memilin dasi Aldrick di sana.
Sementara sekumpulan gadis tadi nampak kesal dan menatap Eve tak bersahabat. Aldrick melirik jemari mungil itu, dia tersenyum miring kemudian Aldrick mencengkram lengan sang gadis dengan kasar.
"Hei nak! Kau tidak di ajarkan sopan santun oleh orang tuanmu? Apa ini caramu bersikap pada orang dewasa yang baru kau temui? Coba beri tahu aku siapa ayahmu? Biar sekalian aku umumkan tindakan kurang ajar mu ini. Anak-anak seharusnya belajar di jam segini. Astaga, siapa yang memperbolehkan membawa anak-anak kemari?" Aldrick berdiri sambil memasukkan lengannya ke saku celana.
Gadis itu nampak kesal, namun dia tak menghiraukan peringatan dari Aldrick Selama acara berlangsung dia tetap mengekori Aldrick ke sana kemari dan itu cukup membuat Aldrick jengah.
Lalu saat di tanya siapa ayahnya, gadis itu selalu bungkam dan tak ingin menjawab pertanyaan Aldrick yang satu itu.
"Berarti aku tak salah menyebut dia rendahan" Valerie meletakkan cangkir kopinya yang telah kosong.
"Kau menyebutnya rendahan?" Tanya Aldrick, nampak terkejut. Dia tak menyangka Valerie mengatai adiknya sendiri.
"Itulah kenyataannya. Seharusnya dia berpikir bahwa tindakannya itu sungguh hina, dia seharusnya bersikap sopan pada orang dewasa"
"Kau jangan terlalu keras padanya, dia mungkin bisa salah mengartikan sikapmu itu" Kali ini, kopi milik Aldrick pun habis juga.
"Menurutmu aku harus sesekali bersikap lembut padanya?"
"Bukan itu maksudku, jika dia salah kau tinggal beri tahu dia secara baik-baik, Memangnya dengan kekerasan permasalahannya akan selesai? Yang ada nantinya adikmu malah membencimu" Sahut Aldrick.
Valerie terhenyak, dia bisa merasakan kehangatan dari setiap kata yang tadi Aldrick ucapkan. Yang pria itu katakan memang benar.
Valerie melirik arlojinya sejenak "Jam makan siangku sudah selesai, aku harus kembali ke kantor sekarang"
"Pergilah, kenapa harus bilang padaku?"
"Aku akan mengantarmu ke rumah. Setelah itu baru kembali ke kantor"
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" Valerie masih mencoba menolak tawaran Aldrick.
"Astaga, kau ini! Aku ingin mengantarmu pulang, peka sedikit dong!!" Aldrick sedikit memaksa dan itu malah membuat Valerie kesal.
"Kau jangan membuat kepalaku semakin pusing, jika ingin kembali ke kantor tinggal pergi saja. Apa susahnya sih? Aku bukan gadis yang mudah peka asal kau tahu!!" Ucap Valerie asal, itu kebalikan dari dirinya, justru Valerie kelewat peka.
"Lihat! Kau bilang kepalamu pusing, aku akan mengantarmu pulang! Tidak ada penolakan!?" Aldrick meraih lengan Valerie, kemudian dia menariknya pelan.
"Memangnya siapa kau berani bertindak seenaknya padaku!?"
"Aku calon suamimu! Puas! Kau yang mengajakku menikah jadi kau harus menurut pada calon suamimu ini" Aldrick nampak menikmati setiap ucapannya. Rasanya cukup menyenangkan membuat Valerie tak bisa berkata-kata.
"Bukan aku, tapi kau yang pertama mengajakku menikah. Aku hanya menerima lamaranmu saja" tangan kanan Valerie mencoba berpegang pada sudut meja sementara tangan kanannya masih di tarik oleh Aldrick..
"Astaga, jangan keras kepala! Ayo pulang, kau harus istirahat. Cuaca di luar cukup dingin hari ini, tidak baik untuk kesehatanmu"
Karena aksi tarik menarik itu, mereka berdua menjadi pusat perhatian.
Karena tidak ingin terlalu lama di menjadi bahan perbincangan orang-orang, akhirnya Valerie menuruti ucapan Aldrick
Valerie membiarkan pria itu mengantarnya sampai rumah.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments