..."Lakukan saja kalau berani" Aldrick tersenyum miring, Aldrick yang melihat itu semakin kesal di buatnya....
..."Kau pikir aku tak berani? Asal kau tahu saja ya, aku ini sudah mendapat sabuk hitam Taekwondo. Pukulan ku ini bukan sekedar pukulan lemah tak bertenaga" Valerie mengangkat lengannya yang terkepal ke depan wajah Aldrick, membuat Aldrick terkekeh pelan....
...>>><<<...
"Untuk pertama kalinya, kamu mengeluarkan sepatu high heels itu, di hari ulang tahunmu yang kedua puluh lima. Aku merasa terhormat kamu mau menerima hadiah dariku." Aldric tersenyum tulus.
Tanpa Valerie ketahui Aldrick cukup kesulitan saat memilih hadiah itu, dia sangat berhati-hati saat memilihnya. Aldrick tak ingin salah pilih hadiah dan berakhir dengan Valerie yang tak suka dengan hadiahnya nanti. Seorang Aldrick Grant tidak ingin melihat hadiahnya di abaikan atau di tolak, harga dirinya cukup terluka dan hal itu jelas tak di izinkan dalam kamus kehidupannya. Aldrick Grant, memang tak suka dengan penolakan.
Ayolah, memangnya gadis mana yang mau menolak pesonanya?
"Kulit kakiku mengelupas! Bahkan hampir berdarah. Tidak setiap barang mewah itu nyaman di pakai, terkadang barang yang bagus di lihat belum tentu nyaman di pakai. Ah...namun, akan lebih bagus jika barang itu terlihat bagus dan nyaman saat di pakai, itu lebih baik bukan?Jangan menilai sesuatu hanya dari luarnya saja!"
"Ahh...begitu" Aldrick mengangguk pelan "Jangan menilai sesuatu dari luarnya saja. Ya...eum...itu artinya, meskipun di luar kamu nampak tidak suka padaku sebenarnya di dalam hati kamu suka padaku, bukan begitu?"
"A—Apa? Hei!! Jangan menyimpulkan seenaknya!!" Valerie melipat tangannya kesal.
Para orang tua yang menyaksikan perdebatan kecil antara Aldrick dan Valerie saling menatap sambil tersenyum, mereka lega Valerie dan Aldrick bisa langsung akrab. Valerie dengan wajah merah padamnya karena kesal sedangkan Aldrick semakin gencar menggoda Valerie, membuat putri keluarga Hillbert itu semakin kesal.
"Valerie, kamu tidak mengadakan pesta ulang tahun seperti tahun lalu bersama teman-temanmu?"
"Rencananya begitu, tapi Mommy dan Daddy memaksaku ikut ke makan malam ini" Valerie beralih menatap sang ibu. "Mom kapan selesainya? Teman-temanku sudah menunggu dari tadi, aku sudah janji pada mereka kalau aku tidak akan pergi terlalu lama"
"Ohh jadi tadi bilang ngantuk cuma alasan aja ya!?" Veronica tertawa pelan sambil melirik suaminya "Tadi bilang dia ngantuk tapi sekarang habis ini mau ngadain pesta bareng teman-temannya"
"Aku beneran ngantuk mom, tapi setelah ingat ada pesta...yah, mana mungkin aku melewatkan pesta itu. Teman-temanku sudah menyiapkannya"
"Jangan bilang ngadain pestanya di rumah"
"Ya, pastinya di rumah lah mom, yang mengusulkan buat pesta kan putra bungsu mom"
"Ryder yang mengusulkan? Dia kan baru pulang dari Chicago" Tanya Veronica yang nampak antusias. "Dia pasti ngajak Felix dan Peter juga ya"
"Ya sudahlah, biarkan saja. Kita juga tidak sempat mengadakan pesta ulang tahun. Dia sibuk bekerja seharian ini" Sahut Ayah Valerie.
"Ya tapi kan—" Veronica menggantungkan kalimatnya begitu teringat sesuatu "Ahhh maaf Ann aku malah sibuk membicarakan keluargaku" jika Vee adalah sapaan akrab Veronica maka Ann adalah sapaan akrab dari Arianna, ibunya Aldrick.
"Tidak apa-apa, aku senang mendengarnya. Putra bungsumu sudah kembali Veronica?"
"Iya, dia sampai di rumah tadi siang. Setelah dua tahun lebih tidak bertemu, sekarang dia makin tampan"
"Mom" panggil Valerie.
"Sudah selesai sayang, karena kamu sudah mengetahui tentang pertunanganmu dengan Aldrick, kamu sudah boleh pergi" Sahut Arianna yang tak lain adalah ibunya Aldrick.
"Tidak masalah, lagi pula ini bukan acara makan malam formal, santai saja" Kali ini ayahnya Aldrick yang bicara.
"Auntie bolehkah saya yang mengantar Valerie pulang?" Tanya Aldrick dengan sopan dan ramah.
"Tentu saja, kenapa tidak?" Veronica nampak antusias, sebenarnya siapa yang tunangannya di sini? Kenapa malah ibunya yang nampak malu-malu dan bahagia?
Veronica mendorong pelan lengan putrinya untuk segera berdiri. Sedangkan Valerie hanya mendengus kesal melihat tingkah ibunya itu. Setelah berpamitan, Valerie segera beranjak pergi, begitu pun dengan Aldrick.
"Kamu tidak perlu repot mengantarku tuan Grant" Valerie mempercepat langkah kakinya.
"Tidak masalah, ini sama sekali tidak merepotkan. Nona Hillbert Pelan-pelan, nanti kamu bisa ja—"
Brukkk!!
Prediksi Aldrick memang benar ternyata, Valerie yang kelimpungan akhirnya jatuh mencium lantai, untungnya di lorong ini tidak ada siapa pun, hanya ada dirinya dan Aldrick Grant di sini. Valerie meringis saat merasakan sakit di pergelangan kakinya.
Aldrick yang masih berjalan di belakang Valerie lantas tersenyum miring, ini kesempatan besar untuknya. Dia bisa membantu Valerie dan bisa semakin dekat dengan gadis itu.
Tanpa banyak bicara, Aldrick segera mengangkat tubuh Valerie, membuat bola mata Valerie membulat dengan sempurna saking terkejutnya.
"He—hei!! Turunkan aku!! Aku bisa berjalan sendiri!!"
"Aku tak tega melihatmu berjalan pincang-pincang di depan orang banyak. Lagi pula, yang tadi itu pasti sakit bukan?"
"Memang sakit, tapi itu tak seberapa. Aku masih bisa menggerakkan ka—awsss!!!" Valerie meringis pelan.
"Lihat! Kamu diam saja, itu tidak sulit bukan??"
Valerie hanya bergumam tak jelas, kali ini dia tak bisa melawan lagi.
"Valerie, kamu tak akan mengundangku ke pestamu?"
"Hah? Mengundangmu? Dengarkan tuan Aldrick Grant! Pestaku itu hanya khusus anak muda, pria tua sepertimu jelas tak di izinkan di sana"
Jika tadi Valerie yang di kerjain oleh Aldrick maka kali ini sebaliknya, Valerie balas mengerjai Aldrick. Nampaknya gadis ini begitu senang melihat wajah kesal Aldrick.
"A—apa? Pria tua?!! He—hei! Umurku tak setua itu, kita hanya terpaut tiga tahun asal kamu tahu!!"
"Ya ya terserah"
"Jadi? Kamu masih tak mengizinkanku datang ke pestamu?"
"Itu terserah mu, jika ku tidak datang, itu artinya kamu mengakui bahwa kamu memang seorang pria tua" Valerie terkekeh pelan dan hal itu berhasil membuat Aldrick ikut tersenyum.
Mereka menjadi pusat perhatian di restoran mewah itu, tindakan gentleman dari Aldrick dan perdebatan manis mereka nampak menggemaskan di mata pengunjung di sana. Bukan hanya satu orang atau dua orang saja yang menyebut mereka pasangan serasi, namun hampir seluruh pengunjung restoran. Namun, seperti mereka tak peduli dengan pembicara orang-orang, mereka masih sibuk melanjutkan perdebatan itu.
"Okey, nanti jangan kesal kalau aku pamer pada teman-temanmu bahwa aku tunanganmu"
"A—apa? H—hei kalau kamu berani melakukan itu, satu pukulan keras ini akan melayang ke wajahmu detik ini juga"
"Lakukan saja kalau berani" Aldrick tersenyum miring, Valerie yang melihat itu semakin kesal di buatnya.
"Kau pikir aku tak berani? Asal kamu tahu saja ya, aku ini sudah mendapat sabuk hitam Taekwondo. Pukulan ku ini bukan sekedar pukulan lemah tak bertenaga" Valerie mengangkat lengannya yang terkepal ke depan wajah Aldrick, membuat Aldrick terkekeh pelan. Aldrick mendaratkan sebuah kecupan ringan pada kepalan tangan Valerie, membuat Valerie kembali terkejut dan tersipu selama beberapa saat.
"Kau berani melakukan itu padaku?"
Cup!!
Aldrick kembali mendarat satu kecupan di lengan Valerie "Kenapa tidak? Satu minggu lagi kamu akan menjadi istriku bukan?"
"Menyebalkan" Valerie menghindari tatapan Aldrick, manik matanya nampak bergerak gelisah setelah kecupan kedua tadi.
"Menyebalkan!!" Valerie mendaratkan satu pukulan ringan di dada bidang Aldrick.
Tanpa terasa akhirnya mereka sampai di depan mobil milik Aldrick, sopir keluarga Grant segera membukakan pintu untuk Aldrick, dia ikut tersenyum melihat interaksi Aldrick dan seorang gadis yang dia ketahui sebagai calon istrinya.
"Saya akan menyetir sendiri, paman antar ayah dan ibu saja" Ucap Aldrick. Setelah menurunkan Valerie di mobil, Aldrick tidak langsung menarik dirinya keluar, dia masih menatap Valerie selama beberapa saat.
"Lihatlah dirimu, kamu tadi memaksaku minta di turunkan, tapi lihatlah bagaimana tingkahmu tadi. Kamu nampak menikmatinya"
"Itu terpaksa! Kamu harus tahu itu TERPAKSA" Valerie menekankan setiap kata yang dia ucapkan terlebih lagi pada bagian kata 'Terpaksa'
"Akan lebih memalukan jika aku harus menjatuhkan diri ke lantai" Valerie melipat tangan di dada sambil berdecak kesal.
Aldrick malah tertawa melihat wajah Valerie yang nampak kesal sekaligus malu-malu "Okey, meski merasa terpaksa juga tidak apa-apa. Tapi aku senang bisa menggendong mu tadi. Setelah acara pernikahan kita nanti, kamu ingin aku gendong lagi?"
Valerie menghindari tatapan Aldrick sambil mencoba mendorong tubuh Aldrick agar menjauh.
"Tidak terima kasih"
"Aku tak keberatan meski kita harus melakukannya lagi"
"Kau bisa melakukannya" Valerie tersenyum sinis.
"Sungguh?" Aldrick yang tengah tertawa mendadak berhenti, lalu menatap Valerie tak percaya.
"Di dalam mimpimu!!" Valerie tersenyum penuh kemenangan sambil mendorong tubuh Aldrick agar segera menjauh"
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments