..."Itu semacam double date, bukan begitu?"...
..."Ini bukan double date, aku dan dia bukan pasangan!" Ucap Valerie penuh penekanan dan di tambah sedikit penegasan di akhir....
...****************...
Valerie kembali melirik ponselnya yang bergetar di atas meja. Panggilan tak terjawab dari orang yang sama. Ini yang ketiga kalinya namun Valerie enggan menjawab panggilan itu bahkan Valerie merasa malas hanya sekedar meraih ponselnya saja.
Kali ini Valerie bisa bernapas dengan lega, akhirnya pria itu menuruti keinginannya. Pernikahan mereka di undur dan tentu itu membuat Valerie cukup senang.
Rencana selanjutnya, Valerie bukan ingin mengundur pernikahan namun dia ingin pernikahan ini di batalkan sepenuhnya.
Omong-omong Valerie sedang di Cafe sekarang, namun tidak sendirian. Ada Lucas yang menemaninya di sini, Lucas adalah sahabat Valerie, mereka seumuran dan karena mereka bertetangga mereka sudah berteman cukup lama, bahkan dari kecil mereka sering main bersama.
"Aku tidak setuju kau menikah dengannya" Kata-kata itu selalu Lucas ucapkan setiap kali bertemu dengan Valerie. Semenjak pertemuannya dengan Aldrick seminggu yang lalu, Lucas tak henti-hentinya memberi tahu Valerie agar gadis itu menjauhi Aldrick Grant.
"Kau tidak tahu siapa dia? Dia tidak sebaik yang kau kira" Lucas memutar bola matanya malas menanggapi sifat keras kepala dari Valerie Hillbert. Dengan kesal, Valerie menyambar Americano miliknya yang hampir habis, dia kembali menyeruputnya tanpa peduli apa yang tengah Valerie lakukan sekarang.
Ini akhir pekan, jangan bilang gadis ini masih mengerjakan pekerjaan kantor yang masih belum selesai kemarin.
"Dengarkan kata-kataku! Pokoknya kau harus pikir-pikir dulu sebelum menerima lamarannya, okey" Lucas mengacak rambutnya frustrasi, dia tidak tahu harus bagaimana lagi agar gadis itu mengerti.
"Hmm..." Jawab Valerie asal, netranya masih fokus pada laptop yang ada di atas meja. Jemarinya bahkan tak pernah beranjak dari keyboard, ke sepuluh jemarinya semakin sibuk menari-nari di sana mengetik kata demi kata yang kian banyak menurutnya. Ya ampun, kapan selesainya.
"Ini demi kebaikanmu Erie, jangan libatkan dirimu dengan pria seperti dia"
"Aku sudah tahu seberapa brengseknya dia" Ucap Valerie sambil menatap Lucas sejenak kemudian netranya kembali menatap ke layar laptop.
"Lalu kenapa kau tetap menerimanya, huh?"
Pertanyaan barusan dari Lucas membuat Valerie mematung. Valerie tak bisa terus mempertahankan eksistensinya pada pekerjaan di depan mata yang saat ini masih belum selesai, eksistensinya sepenuhnya mengarah pada Lucas.
"Aku tidak pernah bilang aku menerimanya"
"Lalu kenapa dia berani membuat pengumuman itu di hari ulang tahunmu? Dan kau yang bersangkutan pun malah diam saja, seharusnya kau berdiri dan menyangkal semua itu"
"Tidak ada gunanya, dia akan semakin koar-koar di tempat kerja dan di tempat latihan ayahmu juga. Ahhh..bikin kesal saja" Valerie mengambil gelas miliknya dengan kasar, dia menghabiskan Minumannya dengan sekali teguk. Lagi pula minumannya sudah hampir habis. Begitu minumannya habis, Valerie akan memesan lagi dan terus berulang sampai pekerjaannya selesai.
Valerie memandangi gelas miliknya yang sudah kosong, netranya menangkap seseorang berdiri di samping mejanya. Dia seorang pria, tampan dan juga ramah, dia melempar sebuah senyuman pada Valerie begitu gadis ini mengangkat wajahnya.
"Ingin memesan lagi nona?" Tanyanya dengan ramah, senyumannya tak pernah luntur barang sedetik dan itu cukup berefek bagi jantung Valerie.
"A—ah....Aku rasa sudah cukup" Valerie berpikir sejenak, sudah berapa cangkir kopi yang dia habiskan hari ini, Valerie merasa asupan kafeinnya sudah cukup untuk hari ini. Dia tidak ingin menambah lagi dan berakhir dengan ibunya yang mengomel karena dirinya yang terlalu banyak minum kopi.
Valerie kembali menyambar gelas kosongnya, melupakan kenyataan bahwa minumannya sudah habis sekarang.
"Kau mendengarkan ku atau tidak?" Lucas mengetuk-ngetuk meja, mencoba menyadarkan Valerie yang mendadak gugup begitu pria itu ada di sana.
"Hei Lucas!!" Panggilan Valerie.
"Kenapa??" Sekarang Lucas nampak malas meladeni Valerie. Dia kesal karena sepertinya Valerie sama sekali tidak mendengarkan ceritanya tadi.
"Aku rasa kita datang terlalu pagi" Valerie menyapukan pandangan, menatap ke segala penjuru ruangan dan menyadari hanya ada mereka berdua di sini. Jangan lupakan keberadaan pria tadi.
"Kau baru sadar? Ahhh...bikin kesal saja. Kau tidak lihat? Aku baru selesai Jogging, belum sempat pulang karena kau memintaku datang ke sini." Lucas menggerutu kesal.
Valerie menatap sahabatnya itu dari ujung kepala sampai kaki, Lucas masih mengenakan sepatu olahraga dan rambutnya sedikit basah karena keringat.
"Karena kau yang memanggilku, kau yang bayar minumanku!" Lucas lantas berdiri sambil menggeser gelas kosong miliknya ke hadapan Valerie.
"Iya, aku yang bayar"
"Ya sudah aku pulang sekarang, ya? ini benar-benar tidak nyaman"
"Hei! Tunggu sebentar, setidaknya tunggu sampai cafe nya ramai" Teriak Valerie. "Kau tidak kasihan pada teman mu yang sedang kesepian ini huh??"
"Kenapa kau tidak kerjakan saja di rumah?" Lucas yang sudah sampai di depan pintu keluar lantas kembali berbalik menatap Valerie.
"Di rumah terlalu berisik, Ryder dan Evelyn selalu ribut"
"Evelyn masih di sini?" Lucas malah kembali dan berjalan cepat ke meja Valerie, dia kembali ke kursi tadi begitu Valerie menyebut nama Evelyn.
"Ya, karena sedang libur, mom menyuruhnya tetap di sini selama beberapa hari"
"Sepertinya hari ini aku harus ke rumahmu"
Valerie memutar bola matanya malas, jika menyangkut soal Evelyn, Lucas memang selalu bersemangat.Semua anggota keluarga Valerie maupun keluarga Lucas tahu bahwa Lucas suka pada Evelyn. Itu sudah bukan rahasia lagi.
"Kau mengenalnya?"
Setelah cukup lama terdiam akhirnya Valerie mulai menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ada di kepalanya. Beberapa saat yang lalu Valerie bisa menahan untuk tak bertanya, namun kali ini Valerie tak bisa diam saja, dia begitu penasaran tentang pria tinggi yang tadi menyajikan kopi dan beberapa dessert untuknya dan Lucas.
Pagi-pagi sekali dia sudah stay di Cafe, menyapu lantai dan mengatur ulang tata letak meja dan kursi. Setelah itu dia akan mengambil ember dan lap lalu mengepel lantai dengan begitu cekatan, tak berhenti sampai di situ. Tugasnya masih berlanjut, dia akan pergi ke depan lalu mengelap kaca-kaca besar yang menjadi pembatas antara bagian dalam cafe dan bagian luar cafe.
Pertanyaannya, bagaimana Valerie bisa tahu sampai sedetail itu? Jawabannya cukup sederhana, setiap lari pagi atau hendak berangkat kerja, Valerie selalu lewat ke Cafe itu. Lalu, setiap akhir pekan dia sering kali menghabiskan waktunya di sini. Entah itu sendirian atau bersama dengan teman-temannya.
Lucas mengikuti tatapan Valerie, pria itu mendecak kesal setelah mengetahui apa yang sedari tadi menarik perhatian Valerie.
"Aku mengenalnya, tentu saja. Kami pernah sekelas saat SMA dulu"
"Kenapa kau tidak memberi tahuku" Valerie melemparkan tatapan kesal pada Lucas.
"Ohh ayolah, kau sering datang ke kelasku dulu, mana mungkin kau tak pernah melihat Henry. Dia begitu mencolok karena tingginya yang di atas rata-rata, wajahnya juga tampan, yah...jika denganku tentu lebih tampan aku di bandingkan dengannya" Lucas nampak begitu percaya diri, pria itu nampak sedikit merapikan rambutnya.
Valerie nampak mendecih kesal, dia hanya menggeleng pelan. "Jadi siapa namanya?" Valerie kembali ke topik awal, yaitu membahas tentang pria itu, pria yang sering dia lihat di Cafe.
"Henry Cavill" Jawab Lucas malas. "Karena kau memanggilku lagi kemarin, kau harus mentraktir satu cangkir lagi untukku"
"Ya Ya terserah, pesan saja apa yang kau mau"
Lucas lantas tersenyum sambil mengambil buku menu yang letaknya ada di tengah-tengah meja.
"Kau sudah sarapan?" Tanya Lucas.
"Sudah, mana mungkin aku datang ke sini dengan perut kosong"
"Setelah ini, kau harus membantuku belanja. Ibuku menyuruhku pergi ke supermarket, aku terlalu malas pergi ke sana sendirian."
Valerie mengangguk setuju "Omong-omong dia rajin sekali, pasti dia menjadi pegawai teladan di Cafe ini"
"Kau bercanda? Dia bukan pegawai teladan, lebih tepatnya dia pemilik Cafe ini. Sesuai nama tempat ini Cavill Coffe Shop"
"Apa??" Valerie memekik kaget. Netranya kembali pada Henry yang tengah melayani pelanggan yang baru datang.
"Kenapa kaget begitu? Kau yang paling sering datang ke sini. Aku kira kau sudah tahu tentang itu"
"Itu artinya, wangi vanilla yang sering tercium di sini itu..."
Ya, itu benar. Alasan lain karena Valerie suka datang ke sini karena aroma Vanilla itu. Begitu kaki Valerie melangkah memasuki Cafe ini, aroma Vanilla khas dari tempat ini langsung menguar bahkan sampai ke pojok ruangan sekali pun. Valerie tak tahu apa rahasianya, mungkin sang peracik mencampurkan Vanilla dan bahan lainnya.
"Ya, dia yang meraciknya"
"Itu hebat"
"Aku lebih setuju kau mendekati Henry dari pada pria itu" Yang di maksud 'pria itu' di sini adalah Aldrick. "Henry sudah pasti pria baik"
"Tunggu tunggu, kau salah paham. Aku menanyakan namanya bukan berarti aku tertarik padanya dan ingin pacaran dengannya"
"Hah?? Bukan itu? Lalu?"
"Hmm....ya...aku hanya penasaran saja"
"Nanti siang aku akan ke rumahmu!"
"Kau sudah mengatakan itu tadi. Omong-omong kau tetap tidak akan bisa bertemu dengan Evelyn"
Lucas menutup buku menu, netranya lantas menatap Valerie penasaran. "Jangan bilang dia mau berangkat lagi hari ini"
"Bukan itu, siang ini dia mau mengenalkan pacarnya padaku sekalian dia juga ingin tau pria yang di jodohkan denganku"
"Itu semacam double date, bukan begitu?"
"Ini bukan double date, aku dan dia bukan pasangan!" Ucap Valerie penuh penekanan dan di tambah sedikit penegasan di akhir.
Lucas terdiam selama beberapa saat, dia baru menyadari apa yang Valerie katakan sebelumnya "Tunggu tunggu, Pacar Evelyn? Dia sudah punya pacar????"
"Yeahh"
Lucas menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Siapa sangka cintanya akan kembali gagal kali ini, padahal sebelumnya Lucas yakin dia akan berhasil kali ini. Dia akan mendapatkan cintanya.
"Tidak masalah, dia hanya pacar. Bukan suami, belum tentu mereka akan melanjutkan hubungan sampai ke pernikahan" Lucas selalu berpikir optimis, dia mengangkat kepalanya dan kembali menegakkan tubuhnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments