..."Kenapa memangnya? itu julukanku dari teman-temanku. Mereka menyebutku pria ganas atau hewan buas, sesuai dengan namaku Lion, Aldrick Lionel, Roarr!!!" Aldrick mengangkat keduanya seolah mengaum seperti singa....
...****************...
"Selamat Sore Mrs Hillbert" Aldrick tersenyum begitu mendapati Veronica yang nampak sibuk menggambar sesuatu di buku sketsanya. Yang di panggil pun lantas menghentikan gerakan pensilnya, netranya menatap ke arah pintu yang menampilkan seorang pria berdiri di sana.
"Ohh my boy" Veronica segera meletakkan pensilnya, mempersilahkan Aldrick masuk kemudian duduk di sofa ruang kerjanya. Veronica nampak antusias melihat kedatangan Aldrick kemari.
"Maaf, saya baru bisa datang sekarang padahal seharusnya saya datang tiga hari yang lalu, ya?"
Veronica terkekeh pelan "Tidak apa-apa, dan Omong-omong kau boleh bicara santai padaku"
"Aa...ini saya membawakan sesuatu" Aldrick menyodorkan sebuah paperbag pada Veronica.
"Terima kasih, ya ampun kau tidak perlu repot membawa sesuatu saat kemari" Veronica menerimanya dengan senang hati.
"I-itu Erie yang menyarankan. saya dengar Mrs Veronica suka sushi di restoran Kirei"
"Ini Sushi? Woah...Sushi di sana memang enak, sudah lama aku tidak datang ke sana. Ini tepat sekali, aku belum makan siang hari ini. Omong-omong dimana Valerie?"
"Dia masih di meja resepsionis. Tadi dia bertemu dengan temannya di sana. Ohh iya, Nyonya Hillbert, sebelum menikah saya meminta izin ingin melamar Valerie hari ini"
"Sungguh?" Veronica nampak antusias. "Maafkan aku dan orang tua karena mengadakan acara pernikahan ini secara mendadak, kita jadi tidak bisa mengadakan pesta pertunangan kalian karena pesta pernikahannya sebentar lagi akan di adakan" Veronica nampak menyayangkan hal itu.
"Tidak apa-apa, ini juga kemauan saya sendiri. Saya yang meminta acara pernikahannya di percepat"
"Ya ampun, kamu bisa berbicara santai padaku. Panggil saja Vee, kita akan segera menjadi keluarga kan?"
"Ba—baiklah Vee"
"Benar juga, kau ke sini untuk fitting tuxedo kan? Sebentar" Veronica mengeluarkan sebuah katalog di bawah meja dekat sofa, lalu katalog itu di sodorkan pada Aldrick.
"Tuxedo nya di ruang sebelah, sebelum mencobanya kau bisa melihat-lihat dulu lalu pilih yang kau suka. Nanti, jangan berharap banyak pada Valerie, dia pasti tidak mau kalau harus sekali lagi mencoba gaun pengantinnya. Ahh... sayang sekali, dia sangat cantik saat kemarin memakainya"
"Dia sudah mencobanya?"
"Mom jangan tunjukkan fotoku padanya" Suara seseorang di ambang pintu membuat Aldrick dan Veronica menoleh serentak.
Orang yang tadi mereka bicarakan kini berdiri di sana, tepat di depan pintu masuk. Aldrick heran, kenapa Valerie suka memasang wajah jutek dan kesal? Apakah dia memang seperti itu?
"Omong kosong! Aldrick pasti penasaran" Veronica mengalihkan tatapannya pada Aldrick "Jangan dengarkan dia. Nanti aku tunjukkan fotonya padamu"
"Okay" Aldrick melirik Valerie yang nampak kesal karena di hiraukan oleh sang ibu sementara Aldrick malah melempar senyum penuh kemenangan pada Valerie.
"Ohhh ya ampun, kenapa semua orang hari ini begitu menjengkelkan!?" Valerie berjalan menuju sofa sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar, dia memilih duduk di seberang Aldrick, lebih tepatnya Valerie mengambil tempat duduk di samping Veronica.
Veronica beralih ke samping Aldrick, wanita itu hendak menunjukkan foto kemarin saat Valerie mengenakan gaun pengantinnya.
"Lihat, dia cantik sekali bukan?" Veronica terus men scroll layar ponselnya, menunjukkan semua foto Valerie yang kemarin di ambil oleh sekretaris nya.
"Mengambil foto Valerie sulit sekali, aku harus menahannya agar dia tetap diam" Veronica memijat kedua sisi keningnya pelan, menghadapi tingkah putrinya yang tidak mau diam. Dari dulu memang seperti itu, apalagi jika di satukan dengan Ryder, Veronica cukup pasrah akan hal itu.
"Vee, jangan lupa kirimkan fotonya padaku, aku juga ingin menyimpannya"
"Tentu, aku kirimkan sekarang juga"
"Mommy!!" Valerie segera bangkit, dia berusaha mengambil ponsel milik ibunya. Sebelum foto-foto itu berhasil di kirim kepada Aldrick.
Veronica segera berdiri, menghindari tangan Valerie yang bergerak ke sana kemari yang masih berusaha merebut ponsel miliknya.
"Mommy"
"Ryder tangkap!" Veronica melempar ponselnya pada Ryder yang baru saja membuka pintu. Untungnya Ryder berhasil menangkapnya, refleksnya memang cukup bagus itu sebabnya dia bisa menangkap ponsel tersebut.
"Mom sudah menandainya, klik kirim"
"Jangan Ryder!!!" Teriak Valerie.
Ryder menuruti ucapan sang ibu, mengindahkan ucapan Valerie, lantas dia mengklik kirim sebelum Valerie berhasil menghampirinya.
"Ini kedua kalinya kau mengkhianati ku" Valerie mendaratkan satu pukulan ke lengan Ryder. "Kenapa kau mengklik kirim?"
Aldrick ikut tertawa menyaksikan bagaimana interaksi keluarga Hillbert, itu tampak lucu di tambah lagi wajah cemberut dari Valerie membuat Aldrick tak bisa berhenti tersenyum.
Valerie kembali duduk di sofa, dia merasa lelah karena tadi harus bergerak ke sana kemari demi merebut ponsel ibunya. Valerie mencoba mengatur napasnya yang sedikit tak beraturan.
"Memang apa yang tadi mom kirimkan pada Aldrick?"
"Foto kakakmu saat memakai gaun pengantin"
"Apa? Aku juga ingin melihatnya. Tunjukkan padaku Al" Ryder ikut duduk di samping Aldrick sama seperti Veronica.
"Woah...Erie" Ryder bergantian menatap Valerie dan foto di ponsel Aldrick. "Kau cantik" Sambung Ryder sambil menunjuk Valerie kemudian menunjuk foto.
"Kau mencoba mengejekku huh??" Valerie memajukan tubuhnya demi bisa menendang kaki Ryder.
"Mau apa kau ke sini?" Valerie berhasil mendaratkan satu tendangan di kaki Ryder membuat Ryder meringis kesakitan.
"Ayo ke ruangan sebelah" Veronica dan Aldrick bangkit berdiri, mereka beranjak pergi dari sana, meninggalkan Valerie dan Ryder yang masih ribut di sana.
"Mom lihat Valerie" Rengek Ryder.
"Erie" Sahut Veronica di lorong, namun cukup terdengar jelas sampai ke ruang kerjanya.
"Dasar manja!" Valerie mendengus kesal.
"Itu bukan ejekan" Ryder mengerling kesal pada Valerie, sekaligus berniat menendang balik kaki Valerie, namun Valerie lebih dulu melotot padanya. Alhasil, Ryder tidak jadi melakukannya.
...****************...
"Valerie kita perlu bicara" Aldrick menarik lengan Valerie yang hendak masuk ke dalam mobilnya, gadis itu sama sekali tidak mau di antar oleh Aldrick dan lebih memilih pulang sendiri.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan" Valerie masih nampak kecewa, terlihat jelas dari tatapan matanya.
"Aku minta maaf, sungguh. Aku tidak berbohong padamu, aku memang masih lajang dan Eve bukanlah pacarku"
Valerie sedikit bosan mendengar ucapan Aldrick yang terus saja mengatakan itu.
"Lalu kenapa kau tidak bilang pada Evelyn bahwa aku adalah calon istrimu? Lalu kenapa kau hanya diam saja? Kenapa kau tidak bilang kita akan menikah?" Valerie menghela nafas, kenapa dia harus merasakan perasaan tidak nyaman itu? Dia frustrasi dan tak tau harus bilang apa.
"Aku tidak ingin merusak hubungan persaudaraan kalian hanya karena perjodohan ini, aku sudah memberi tahu Evelyn bahwa aku akan menikah"
"Lalu apa kau memberi tahu Eve bahwa calon istrimu adalah aku?" Valerie bertanya meskipun dia sudah tahu jawabannya, jika Aldrick sudah memberi tahu Evelyn bahwa kakaknya adalah wanita yang akan menikah dengan pria yang di cintainya, Evelyn pasti akan datang padanya dan bertanya tentang hal itu, namun kenyataannya, Evelyn tidak pernah datang dan itu artinya gadis itu masih belum tahu bahwa mereka akan menikah.
"Bilang saja kau tidak ingin melepaskan Evelyn dan tetap ingin menikah denganku demi keuntungan pribadimu"
"Kau berpikir seperti itu tentangku?" Aldrick sedikit kecewa, jadi seburuk itu dia di mata Valerie?
"Pernikahan ini memang atas dasar bisnis kan? Kalau begitu kau bisa menikah dengan Evelyn, dia juga sama-sama putri ayahku, dan kau masih bisa menjadi bagian dari keluarga Hillbert meskipun menikah dengan Evelyn"
"Kau tidak tahu? Aku hanya ingin menikah denganmu" Aldrick berbicara tulus tentang itu.
"Apa alasanmu ingin menikah denganku? Apakah karena kau mencintaiku?"
"Ya, aku mencintaimu. Setelah kita sering menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari terakhir ini, aku menyadari bahwa aku tulus mencintaimu dan ingin bahagia bersama mu"
"Cukup! Aku tidak akan luluh dengan ucapanmu itu. Lepaskan aku dan menikahlah dengan Evelyn"
"Aku tidak bisa menikah dengan Evelyn, aku tidak mencintainya"
"Kenapa Kau tidak bisa bersama Evelyn? Apakah karena dia tidak memiliki saham di perusahaan ayahku? Kau ingin memperluas pengaruh mu di dunia bisnis dengan menikah dengan ku, putri sulung pemilik perusahaan Hill Corp pemegang saham terbesar ketiga setelah Ayahku dan pamanku di perusahaan Hill Corp. Kau mempertimbangkan siapa yang paling menguntungkan antara aku dan Evelyn?" Valerie hampir saja menangis, dia mengalihkan tatapannya ke arah lain, dia tak bisa jika harus terus menatap mata Aldrick di saat dia harus melepaskan pria itu.
"Kau yakin ingin melihatmu menikah dengan Evelyn?" Tanya Aldrick.
"Ya" Jawab Valerie dengan cepat.
"Kau yakin tidak akan menyesalinya?"
"Ya" Valerie kembali menjawab. Air mata itu tak bisa di tahan lagi oleh Valerie dan akhirnya cairan bening itu menetes dengan sendirinya, menuruni pipinya dengan perlahan.
"Kenapa kau menangis?"
Valerie tidak menjawab, dia masih diam sambil mengusap air mata di mata di pipinya.
Aldrick mendekat dan memeluk Valerie dengan perlahan, itu adalah pertama kalinya mereka saling berbagi pelukan. Tidak ada yang berbicara dan Valerie pun tidak menolak saat Aldrick memeluknya, gadis itu masih diam mematung.
"Menikahlah denganku Valerie Hillbert, apa kau yakin ingin menyerahkan pria brengsek ini pada adikmu? Aku rasa tidak, kau tidak bisa melepaskan ku, aku tahu itu" Aldrick semakin erat memeluk Valerie, pria itu mencoba membenamkan wajahnya di ceruk leher Valerie.
"Selain itu, tidak ada yang bisa menjinakkan Aldrick Grant selain Valerie Hillbert. Selamat, kau berhasil membuat Hewan buas ini bertekuk lutut Valerie" Aldrick tertawa pelan.
"Apa-apaan kau ini!! Kau bukan hewan buas" Sahut Valerie tak terima, entah kenapa dia tidak suka saat Aldrick menyebut dirinya sendiri hewan buas. Itu bukan julukan yang baik.
"Kenapa memangnya? itu julukanku dari teman-temanku. Mereka menyebutku pria ganas atau hewan buas, sesuai dengan namaku Lion, Aldrick Lionel, Roarr!!!" Aldrick mengangkat keduanya seolah mengaum seperti singa.
Valerie mencoba menahan tawanya, dia menutup mulutnya sambil menggeleng heran setelah menyaksikan tinggal lucu dari seorang Aldrick Grant.
"Sepertinya aku perlu bertemu dengan teman-temanmu" kata Valerie.
"Tidak boleh, aku tidak akan menunjukkan wanitaku kepada pria lain. Aku takut mereka menyukaimu nanti. Valerie ku ini terlalu menarik dan sangat cantik" bisik Aldrick tepat di telinga Valerie.
Lantas, gadis itu langsung mendorong tubuh Aldrick saat jantungnya di rasa berpacu semakin cepat, bahkan Valerie bisa merasakan wajahnya yang memanas.
...**************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Cherisha
udah mulai merasakan benih-benih cinta yaa wkwk
2024-11-19
2
Cherisha
Ya ampun mas al, kenapa malah gue yg baper
2024-11-19
2
Cherisha
jangan bohong mbak, nanti kamu yg sakit hati
2024-11-19
2