..."AYO MENIKAH DENGANKU!!!!"...
...****************...
Malam Kemarin....
Lagi-lagi kelopak mata Valerie terbuka sepenuhnya, padahal dia baru saja terlelap. Valerie kembali duduk kemudian netranya melihat ke sana kemari mencoba mencari ponselnya yang entah di simpan dimana.
Sampai akhirnya dia ingat, ponselnya masih di dalam handbag. Valerie meraih benda tersebut lalau dia mengaduk-ngaduk isi tasnya mencari benda pipih itu yang entah terselip di sebelah mana. Biasanya isi tasnya selalu rapi, namun kali ini Valerie mengabaikan hal itu, bukan itu yang terpenting sekarang.
Setelah ponselnya ketemu, Valerie mencari kontak yang belum lama ini dia simpan. Sesaat pikirannya nampak ragu, apakah dia harus menghubungi orang itu sekarang juga?
Valerie tak ambil pusing, akhirnya dia memutuskan untuk menelponnya.
"Halo Mr Edward"
"Ada yang bisa saya bantu Nona Hillbert?"
"Eumm....aku ingin bertanya sesuatu..." Valerie yang tengah duduk bersila di atas tempat tidur nampak tak tenang, kakinya tak mau diam bahkan tangannya nampak meremas ujung piyamanya sekarang.
"Miss Hillbert?" Tanya Edward memastikan bahwa Valerie belum memutuskan sambungan teleponnya.
Valerie mengembuskan napasnya pelan, entah apa yang ingin dia tanyakan sampai-sampai harus bersiap-siap begitu. Valerie seperti menunggu sebuah keputusan penting, dia nampak gugup sekarang.
"Apa Aldrick sedang di rumah sekarang?" Tanya Valerie dengan intonasi yang cepat dan nada suara yang sedikit meninggi, setelahnya Valerie hanya bisa menenggelamkan wajahnya ke atas bantal. Tanpa menunggu jawaban dari Edward- Sekretaris nya Aldrick.
Sementara di seberang sana, Edward nampak tersenyum sambil berdeham pelan. Dia tahu betul bagaimana hubungan Aldrick dan Valerie, sang atasan sering bercerita bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan pada calon istrinya.
Akan tetapi Aldrick tak menyerah, dia akan terus mengejar Valerie sampai gadis itu mau menerima kehadirannya kelak.
Dan sekarang, Edward turut berbahagia atas kemajuan hubungan mereka. Valerie yang menghubungi Aldrick lebih dulu, itu sebuah kemajuan yang luar biasa menurut Edward, biasanya Valerie tak peduli dengan keberadaan Aldrick, pria itu sedang apa entah dimana, sekali tidak peduli tetap tidak peduli. Lantas netranya melirik ke arah Aldrick yang nampak sibuk dengan Ipad nya.
"Ya nyonya, saat ini direktur sedang di ruang kerjanya. Sepertinya dia bersemangat sekali mencari tempat untuk pre wedding nanti" Edward bisa menangkap pantulan layar Ipad di kaca bening yang menjadi pembatas antara lorong dan ruang kerja Aldrick.
"Apa nyonya ingin menyampaikan sesuatu? Jika ada, saya nanti akan membantu menyampaikan pesan anda"
"Aa...tidak usah, aku akan mengatakan sendiri padanya. Terima kasih" Valerie lebih dulu memutuskan panggilan, setelah bertanya pada Edward, kali ini dia punya tujuan kedua.
Valerie nampak mengetikan sesuatu di papan pesan, semua hurufnya sengaja di caps lock. Valerie tidak mau terus larut ke dalam pikirannya, lagi pula ini memang sudah di putuskan.
Setelah mengklik kirim, Valerie kembali menyimpan ponselnya di atas meja. Dia tidak akan menunggu balasan apa pun dari orang itu, sebentar lagi ponselnya pasti ramai dengan puluhan notifikasi pesan dari orang yang sama. Jika bukan pesan maka sebuah panggilan tak terjawab yang nantinya akan menggantikan notifikasi pesan tersebut.
Valerie benar-benar mengantuk kali ini, dia mulai terlelap dan mengabaikan puluhan notifikasi di ponselnya. Apa yang tadi di pikirkan oleh gadis itu memang benar terjadi.
Aldrick Grant terus menghubunginya tanpa henti.
Itulah yang terjadi semalam, fakta bahwa Aldrick masih ada di rumah dan Evelyn sebenarnya tidur dengan pria lain.
Satu pernyataan itu membuat Veronica maupun Aiden pening.
"Apa maksudmu?" Evelyn nampak gelagapan sesaat, manik matanya gelisah menatap ke sana kemari.
"Aku tahu bahwa Aldrick ada di rumahnya semalam, Edward yang memberi tahuku. Lalu kau tidur dengan siapa semalam? Siapa yang meninggalkan tanda di lehermu itu?" Pertanyaan beruntun mengarah pada Evelyn.
Valerie berpikir mungkin Aldrick yang mengantar Evelyn kemari. Alasan kenapa mantel pria itu bisa ada pada Evelyn pun pasti karena Aldrick yang meminjamkannya.
"Aldrick yang melakukannya!! Puas!! kau jangan bermimpi" Evelyn mulai berani menatap nyalang pada Valerie "Sampai kapan pun dia tidak akan pernah menyukaimu. Dia mau menikah denganmu hanya karena kedua orang tuanya suka padamu. Jadi jangan terlalu banyak berkhayal"
Valerie menyilangkan kedua lengannya di dada. Dia tak percaya bahwa Evelyn masih terus berbohong.
"Aldrick itu milikku!!" Teriak Evelyn tepat di depan wajah Valerie "Lihat saja nanti, begitu aku mengandung anaknya. Kalian tidak akan bisa memisahkan ku dengannya"
"EVELYN HILLBERT!!!" Aiden Hillbert yang sedari tadi diam akhirnya mulai angkat bicara. Dia melonggarkan dasi yang melilit di lehernya. Ah... Bukan, dia melepaskan dasinya sekarang.
"Sayang jangan lakukan itu" Veronica mencoba mencegah suaminya yang hendak men cambuk Evelyn. Veronica nampak ketakutan melihat suaminya tengah menggulung dasi ke pergelangan tangannya.
"Jangan lakukan itu" Lirih Veronica sambil mencoba menahan lengan suaminya yang bersiap melayangkan benda itu kada Evelyn.
Namun Aiden berhasil menepisnya.
Plak!
Satu cambukan berhasil Evelyn dapatkan tepat di lengan kirinya. Veronica yang merasa lemas hampir saja terduduk di lantai jika saja Giselle tidak membantunya berdiri.
"Kau membuat ayah malu, kabar itu menyebar luas di kalangan para kolega ayah. Selama ini ayah selalu memaklumi kenalan mu, mengeluarkan uang yang tak sedikit jumlahnya demi menutupi perbuatanmu. Jika nilai akademik mu tak bisa sebagus milik Valerie dan Ryder setidaknya kau bisa berprilaku baik. Tapi kau malah membuat nama ayah semakin buruk di mata mereka" Aiden menyambar lengan Evelyn, menyeretnya ke sebuah ruangan di bawah tangga.
"Valerie, lakukan sesuatu sayang. Jangan biarkan ayahmu bertindak lebih jauh lagi" Veronica mencoba mengatur napasnya, dia tak bisa mengejar suaminya yang menyeret Evelyn ke sana.
Valerie lantas segera melangkah cepat mengejar ayahnya. Semoga saja dia masih sempat sampai di ruangan itu. Ternyata situasinya lebih buruk dari yang Valerie kira.
...****************...
"Apa maksud pesanmu semalam?" Aldrick menelusup menatap dalam manik mata Valerie yang masih tenang menyesap kopinya.
"Aku sudah mengetiknya dengan jelas, bukan? Ayo menikah!" Sergah Valerie, masih dengan air muka yang sama. Dingin tak berperasaan.
Aldrick mendesah, astaga. Kenapa gadis ini kelihatan keren sekali. Aldrick sedikit kesal karena bukan dirinya yang mengatakan itu melainkan Valerie yang mengatakannya. Apakah tarik ulur hubungan ini sudah selesai?
"Itu dia maksudku, aku datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menanyakan itu padamu. Sungguh kau yang mengirimkan pesan? Bukan Ryder yang iseng membajak ponselmu?"
"Mmm..." Valerie menggumam pelan. Hanya dia yang satu-satunya tenang di sini, sementara Aldrick masih heboh menanggapi pesan itu.
Aldrick mengeluarkan ponsel dari balik jas hitamnya, mencari pesan yang Valerie kirim semalam kemudian menggeser ponselnya ke pada Valerie.
^^^"!!! AYO MENIKAH DENGANKU!!"^^^
Itu adalah pesan yang Aldrick terima semalam, dia yang hampir tertidur seketika langsung terjaga setelah membaca pesan tersebut. Dan berakhir dengan dirinya yang tak bisa tidur karena memikirkannya semalaman, Aldrick baru terlelap tepat pukul satu malam.
"Ya itu dariku, bukan Mommy atau pun Ryder yang melakukannya" Valerie kembali bungkam, kejadian tadi pagi masih terbayang dengan jelas di kepalanya bak kaset rusak. Ruangan di bawah tangga adalah mimpi buruk bagi keluarga Hillbert.
Aldrick menempelkan telapak tangannya di kening Valerie. "Kau tidak sakitkan?"
"Menyingkir!!" Valerie menepis lengan Aldrick dengan kasar. "Aku hanya sedikit demam"
"Sudah aku duga, kau memang sedang sakit. Jika sehat mana mungkin kau mau mengambil keputusan itu"
Alis Valerie menukik tajam. Okay, terserah Aldrick, dia bebas berpikir tentang hal itu.
"Sekarang bagaimana kondisimu? Apa masih demam?"
"Aku baik-baik saja sekarang"
"Kau tahu? Soal Evelyn" Aldrick menggantungkan kalimatnya, dia nampak ragu sesaat jika saat ini harus membahas topik ini.
"Aku mendengarnya dari Ryder, dia tidak menceritakan tentang hal itu hanya saja dia bilang padaku bahwa di rumahmu terjadi sesuatu karena Evelyn pulang memakai mantel punyaku"
Valerie masih diam, tak berniat menyela bahkan dia tidak berniat memotong cerita Aldrick.
"Itu salah paham. Aku tidak tidur dengannya kemarin malam, kami memang pernah tidur bersama tapi itu sudah lama sekali, mungkin sekitar satu setengah tahun yang lalu itu pun saat aku tak sadar, terlalu samar jika harus di paksa mengingatnya"
Aldrick melipat tangannya di dada "Mommy Vee juga tahu aku selalu berusaha menghindarinya. Lama kelamaan aku lelah jika harus terus menghindar. Aku juga punya pekerjaan dan tak mungkin juga aku harus pindah kantor gara-gara di kejar-kejar seorang gadis remaja yang baru lulus SMA. Setelah itu, aku tak pernah memberi tahu Mommy Vee lagi kalau selama ini Evelyn selalu mengikuti ku. Jika ibumu tau, dia pasti akan merasa tak enak hati"
"Apa kau tahu, Evelyn tidur dengan siapa semalam?" Tanya Valerie sambil memicingkan matanya pada Aldrick.
"Dia bersama Daniel semalam, tadi pagi dia menelpon ku karena Evelyn terus meracau menyebut namaku. Itu sebabnya mau tak mau aku harus menjemputnya, tentang mantel yang dia pakai" Aldrick menjeda sejenak, dia menyesap kopi miliknya karena takut dingin jika di biarkan terlalu lama.
Sementara Valerie masih mendengarkan cerita Aldrick meski wajahnya menunjukkan tak bersahabat.
"Karena di luar dingin, aku meminjamkannya. Aku tak mampir ke rumah mu karena tak ingin terjadi kesalahan pahaman. Ternyata benar yang aku pikir, terjadi ke salah pahaman di rumahmu meski aku tak mampir"
"Kau ini tipe pria yang tak tegaan ya?" Valerie lantas tersenyum tipis.
"Mmm...." Aldrick nampak mengangguk "Aku tak tega melihat seorang gadis memohon dan menangis di depanku"
"Itu sebabnya kau mudah tergoda?" Valerie masih tersenyum seperti tadi, dan pertanyaan dari Valerie itu berhasil membuat senyuman di wajah Aldrick luntur.
"Tunggu, tunggu, maksudmu aku nampak seperti pria bajingan di matamu?"
"Terima saja kenyataannya, kau memang bajingan brengsek, maniak seks. Tak ku sangka calon suamiku seperti itu" Valerie mengedikan bahu, dia masih nampak tenang meski sudah mengatai Aldrick dengan frontal tanpa di saring.
Aldrick mengangkat kepalan tangannya ke udara, dia hendak mengatakan sesuatu namun dia tak bisa menyangkal semua itu. Pada akhirnya dia hanya bisa mengembuskan nafasnya pelan.
"Hei! Aku tak tidur dengan sembarang wanita, ada standar tertentu sebelum aku meniduri mereka."
"Tetap saja sekali bajingan tetap bajingan dan aku harap kau mau berhenti tidur dengan sembarang wanita sebelum atau sesudah menikah denganku"
"Aku memang sudah berhenti, astaga kenapa tidak ada yang mempercayai ucapanku. Setelah bertemu denganmu satu tahun yang lalu aku sudah berhenti, jika tak percaya kau bisa bertanya pada Edward"
Aldrick berdeham pelan, pria itu kini nampak frustrasi sekarang "Okay, aku pernah mengakui bahwa aku memang bajingan brengsek seperti yang kau bilang tadi, tapi itu dulu sebelum aku bertemu denganmu. Ahh...sayang sekali, kenapa kita baru bertemu tahun lalu? Jika saja kau yang ikut jamuan makan malam perusahaan, mungkin kita akan saling kenal lebih dulu. Aku tak perlu bertemu Evelyn dan masalah merepotkan ini tidak akan terjadi"
"Kita pernah bertemu sebelumnya?" Valerie nampak berpikir, dia bahkan tak ingat bahwa dirinya pernah bertemu Aldrick setahun yang lalu.
"Tidak ada gunanya menyesali itu sekarang, lagi pula semuanya sudah terjadi. Sebelum menikah, aku ingin semua permasalahan ini selesai dengan begitu pernikahan kita bisa di laksanakan dengan tenang tanpa drama"
"Kau benar, kau bilang tidak ingin menjalani kehidupan pernikahan penuh drama, tapi belum juga menikah sudah penuh drama" Aldrick nampak menahan tawanya, karena dia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk tertawa.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Cherisha
terima aja kenyataan, kecuali kalo km mau berubah
2024-11-19
2
Cherisha
panik ngga panik ngga, panik lah masa ngga wkwk
2024-11-19
2
Cherisha
Ya sama aja lah mas
2024-11-19
2