Cerita di Balik Sepatu High Heels

...Tanpa sengaja, Valerie saling bertukar pandang dengan Aldrick. Pria itu nampak senang sambil menaik turunkan alisnya. Dia seperti mengetahui hal ini akan terjadi dan juga dia nampak tak masalah dengan keputusan itu....

...****************...

[Flashback]

"Anda baik-baik saja nona?" Suara bariton seorang pria berhasil memenuhi indra pendengaran Valerie, lantas Valerie mendongak menatap wajah seorang pria yang kini tengah mengulurkan tangan padanya.

"Saya baik-baik saja" Valerie berusaha berdiri namun dia tak menyahut uluran tangan dari pria itu. Lagi pula tak masalah bukan? Valerie tak ingin berhutang budi yang nantinya harus dia balas, jika itu terjadi bisa saja dia di haruskan bertemu dengan orang itu lagi.

Omong-omong tentang Valerie, dia memang gadis yang sedikit menyebalkan, terutama pada pria namun dia tak se-menyebalkan itu, dia cukup baik juga. Valerie juga punya alasan kenapa dia begitu. Seperti seolah dia membangun sebuah tembok tinggi yang tidak ingin di tembus oleh siapapun.

Pria itu menyadari Valerie mengabaikan uluran tangannya lantas dia tersenyum sambil menunjuk high heels putih yang Valerie kenakan.

"Sudah aku duga, high heels itu memang cocok untukmu"

Mendengar hal itu dari orang asing, membuat Valerie kebingungan sesaat. Pria itu berbicara seolah dia-lah yang membelikan sepatu itu.

"Saya tidak mengerti kenapa anda berbicara begitu, tapi itu membuat saya tak nyaman"

Pria itu hanya terkekeh sambil mendekatkan wajahnya pada Valerie, hal itu membuat Valerie secara refleks mundur beberapa langkah

"Kamu cantik, persis seperti yang ibuku katakan"

Valerie hanya menggeleng heran, dia hendak melanjutkan kembali langkah kakinya, namun pria itu menarik lengannya dan mendorong pelan tubuhnya agar duduk di kursi panjang di sekitar sana.

Mata gadis itu membulat dengan sempurna begitu melihat tindakan pria itu selanjutnya. Dia melepas high heels di kakinya Valerie.

"Apa yang anda lakukan?"

"Diam sebentar, ini tidak akan sakit"

"Anda tidak perlu memikirkan ini, saya masih bisa berjalan."

"Hei! Kenapa bicaramu formal sekali? Kamu bisa bicara santai padaku, lagi pula ini bukan pertama kalinya kita bertemu."

Valerie masih kebingungan. Mereka pernah bertemu sebelumnya? Dimana dan tepatnya kapan? Sekeras apa pun usahanya untuk mengingat pria itu, Valerie tetap tidak mengingatnya. Namun hal itu cepat di lupakan oleh Valerie, dia lebih memilih mengabaikan ucapan pria itu. Mungkin mereka hanya pernah berpapasan di jalan? Bukan begitu.

Apa dia tidak sadar bahwa dia juga bicara formal padanya? Pria itu yang pertama kali memulainya dia hanya memikirkan tentang kakinya yang perlahan mulai tidak terasa sakit.

"Tidak perlu, ini bukan apa-apa bagiku"

"Hei! Jangan remehkan hal seperti ini, bagaimana kalau terjadi hal yang serius. Setidaknya aku harus memastikan kakimu baik-baik saja"

"Tidak akan terjadi hal serius" Gumam Valerie "Percaya padaku, aku bahkan pernah mengalami hal yang lebih serius dari ini" lanjut Valerie. Dia merasa ini bukan hal yang serius namun lihatlah apa yang di lakukan pria ini. Tanpa Valerie duga pria itu meraih kakinya dan melakukan sesuatu yang tidak terduga menurut Valerie.

"Kau harus merasa terhormat, karena aku tidak dengan mudahnya menyentuh kaki orang lain. Bagaimana sekarang? Masih sakit?"

Valerie kembali terkejut, dia mencoba menggerakkan pergelangan kakinya dan ternyata sudah cukup membaik.

"Terima kasih" Ucap Valerie sesaat setelah sepatunya di pasang kembali di kakinya. Pria itu nampak bersikeras ingin memasangkan sepatu itu untuk Valerie.

"Kita lihat saja, untuk ke depannya. Kita akan sering bertemu" Mereka berdua kembali berdiri, mata pria itu beralih menatap sepasang high heels yang terpasang di kaki Valerie.

"Jadi kau memang tidak suka high heels, ya. Eum...cukup menarik. Lain kali aku akan kirim hadiah lain untukmu" Setelah mengatakan itu, dia pergi begitu saja.

[Flashback End]

Mengingat hal itu, Valerie lantas meringis pelan. Dia berharap agar pria itu tak membahas hal itu sekarang.

Tunggu, Valerie kembali menatap pria itu, dia masih tersenyum seperti tadi. Kata-kata terakhir darinya....

Ahh..sekarang dia mengerti, itu artinya?? Sepatu ini pemberian darinya?? sekarang Valerie tahu kenapa pria itu bersikap sok akrab padanya. Rupanya mereka akan bertemu kembali di sini, pria itu sudah tahu hal ini akan terjadi.

Valerie nya saja yang kurang memperhatikan dan sebelumnya lampu di sini temaram itu juga salah satu kenapa Valerie tak langsung mengenali pria itu, dia baru sadar bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah pria yang tadi menolongnya sesaat setelah ruang berubah menjadi terang.

"Kakimu baik-baik saja?" Pertanyaan darinya berhasil menarik perhatian orang tua Valerie maupun orang tua Aldrick.

"Eh kakimu kenapa sayang?"

"Hanya keseleo mom, jangan khawatir. Sekarang udah ngga apa-apa"

"Ahh...syukurlah, jadi Aldrick yang tadi membantu Valerie? terima kasih."

Veronica menoleh ke arah Valerie kemudian menyadari bagaimana Valerie menatap Aldrick.

"Valerie kamu harus bersikap ramah pada Aldrick, dia itu calon tunanganmu ahh... maksud Mommy dia calon suamimu. Kamu sudah berterima kasih padanya kan?"

"Hmm..." Valerie hanya menggumam pelan.

Tunggu, ibunya bilang tunangan? Jangan bilang dia sedang di jodohkan di sini? Ya ampun, sebenarnya apa yang di pikirkan oleh ayah dan ibunya?

"Mom!!" Valerie menatap Veronica, sebenarnya banyak hal yang ingin Valerie tanyakan pada sang ibu. Akan tetapi, Valerie harus menyimpan semua pertanyaan itu di pikirannya, sebaiknya Valerie menanyakan itu saat di rumah nanti.

Tanpa sengaja, Valerie saling bertukar pandang dengan Aldrick. Pria itu nampak senang sambil menaik turunkan alisnya. Dia seperti mengetahui hal ini akan terjadi dan juga dia nampak tak masalah dengan keputusan itu.

Valerie menggeser kursinya ke belakang, membuat setiap pasang mata menoleh ke arahnya. Karena ini ruang VIP, hanya ada keluarga Valerie dan Keluarga Aldrick disini

"Kau mau kemana? Makan malamnya belum selesai sayang" Veronica menatap Valerie dan menyuruhnya kembali duduk.

"Aku hanya ingin ke kamar mandi sebentar mom!!"

"Ahh.. Begitu, jangan terlalu lama" Sang ibu tersenyum kemudian di akhir dia berbisik "Jangan berpikir untuk melarikan diri"

"Tentu saja mom, jangan khawatir" Valerie balas berbisik. "Ya ampun, ini ulang tahun terburuk sepanjang hidupku"

Bagaimana bisa ibunya melakukan ini tanpa bertanya kepadanya terlebih dahulu, apa katanya tadi? Di jodohkan? Astaga memangnya itu masih berlaku saat ini? Valerie merasa itu sudah ketinggalan zaman.

Valerie menatap pantulan dirinya di cermin raksasa di depan bilik-bilik toilet. Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa dia kelelahan dan membutuhkan istirahat atau tidur selama beberapa jam.

Saat gadis itu hendak mengambil lipstik dari tas selempangnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Valerie mengambil benda pipih itu lalu mengangkat panggilan masuk itu tanpa berpikir panjang.

"Apa ada masalah Jennie?"

"Yaa, disini ada masalah. Hei! Valerie kenapa yang punya pestanya tidak ada tempat?"

"Aku ada acara lain Jen, kau bisa nikmati pesta ulang tahunku tanpa diriku" Valerie tertawa hambar.

"Hei itu tidak lucu, apa ini pesta ulang tahun Valerie namun di rayakan tanpa Valerie?"

Valerie bisa mendengar Jennie dan teman-teman lainnya tertawa sementara Valerie menghela nafas pasrah sambil mengapit ponselnya di antara pundak dan telinganya.

"Aku serius Jen, aku tidak bisa meninggalkan acara ini karena ada Mommy-ku disini* Valerie menyalakan kran air,lalu dia segera mencuci tangannya sambil terus mendengarkan ocehan Jennie.

"Setelah selesai acara itu kau harus cepat datang yaa?"

"Okay, aku akan datang beberapa menit lagi" Valerie melirik arloji di tangan kirinya, dia memperkirakan kapan acara makan malam ini akan selesai.

"Omong-omong Adikmu sangat tampan Valerie! Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku bahwa kau punya adik setampan itu?"

"Come on Jen! Apa itu penting?"

"Tentu saja penting, aku harus mengenal setiap pria tampan di negeri ini apa kau lupa?"

"Aku punya sesuatu yang lebih mengejutkan dari pada adik tampanku itu" Valerie tertawa pelan, dia berniat menceritakan tentang makan malam ini kepada teman-temannya.

"Apa itu?" tanya Jennie penasaran

"Nanti aku ceritakan, ya sudah seperti nya aku harus pergi dulu Jen, Mommy-ku akan marah jika aku menyelinap keluar terlalu lama"

"Tentu saja, See you, selamat menikmati acara makan malam mu"

"Yeahhh"

...****************...

Terpopuler

Comments

alivya Hanida

alivya Hanida

bisa ae

2024-12-31

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 First Impression
3 Cerita di Balik Sepatu High Heels
4 I know your birthday
5 Wisecrack
6 Who?
7 Ryder
8 Resleting
9 A scarf and hair clip
10 Dinner
11 Weekend
12 It Is a Gift
13 The Same Person
14 Hate
15 Heavy Heart I
16 Heavy Heart II
17 Gloomy Morning
18 Drama
19 One Years Ago
20 As You Love It
21 Red Wedding Dress I
22 Red Wedding Dress II
23 Red Wedding Dress III
24 Lonely
25 Seandainya Kita Bertemu Lebih Awal
26 Mafia Boss??
27 Untouchable
28 Sigma Gold
29 Little by Little
30 A Little Naughty
31 Challenge
32 Ruang Rahasia
33 Banana Milk
34 Isi dari Ruang Rahasia
35 Bittersweet
36 Choice
37 A Warm Hug
38 Reason?
39 Not Acceptable
40 Pergi ke Pantai
41 First Love?
42 Grandma's House
43 Again?
44 The Second Time
45 Cerita Masa lalu Al
46 Seorang Bodyguard?
47 I'll protect You
48 Evelyn kembali?
49 Renggang
50 Incident
51 Curious
52 Two Sides
53 The Assassin
54 Ancaman?
55 Nevertheless
56 Step Back
57 Pregnant?
58 Christmas gift?
59 Taruhan
60 Surat Cerai
61 Craving
62 Jump
63 Trauma
64 Rahasia terungkap
65 Pria Kaku & Wanita Bar-bar
66 Dilemma
67 Pergulatan Batin
68 Max
69 Penyesalan?
70 Early Morning
71 Nebraska
72 Surat Wasiat
73 A Key
74 Bad News
75 Surat Darinya
76 Penyesalan
77 Aku Pulang...
78 Sebuah Janji
79 Gairah Yang Tertahan
80 Passionate Kiss
81 Sunset
82 Traitor
83 Melihatmu Dengan Cara Yang Berbeda
84 Confidential Documents
85 Teman Lama
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Prolog
2
First Impression
3
Cerita di Balik Sepatu High Heels
4
I know your birthday
5
Wisecrack
6
Who?
7
Ryder
8
Resleting
9
A scarf and hair clip
10
Dinner
11
Weekend
12
It Is a Gift
13
The Same Person
14
Hate
15
Heavy Heart I
16
Heavy Heart II
17
Gloomy Morning
18
Drama
19
One Years Ago
20
As You Love It
21
Red Wedding Dress I
22
Red Wedding Dress II
23
Red Wedding Dress III
24
Lonely
25
Seandainya Kita Bertemu Lebih Awal
26
Mafia Boss??
27
Untouchable
28
Sigma Gold
29
Little by Little
30
A Little Naughty
31
Challenge
32
Ruang Rahasia
33
Banana Milk
34
Isi dari Ruang Rahasia
35
Bittersweet
36
Choice
37
A Warm Hug
38
Reason?
39
Not Acceptable
40
Pergi ke Pantai
41
First Love?
42
Grandma's House
43
Again?
44
The Second Time
45
Cerita Masa lalu Al
46
Seorang Bodyguard?
47
I'll protect You
48
Evelyn kembali?
49
Renggang
50
Incident
51
Curious
52
Two Sides
53
The Assassin
54
Ancaman?
55
Nevertheless
56
Step Back
57
Pregnant?
58
Christmas gift?
59
Taruhan
60
Surat Cerai
61
Craving
62
Jump
63
Trauma
64
Rahasia terungkap
65
Pria Kaku & Wanita Bar-bar
66
Dilemma
67
Pergulatan Batin
68
Max
69
Penyesalan?
70
Early Morning
71
Nebraska
72
Surat Wasiat
73
A Key
74
Bad News
75
Surat Darinya
76
Penyesalan
77
Aku Pulang...
78
Sebuah Janji
79
Gairah Yang Tertahan
80
Passionate Kiss
81
Sunset
82
Traitor
83
Melihatmu Dengan Cara Yang Berbeda
84
Confidential Documents
85
Teman Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!