..."Mom apa aku tak bisa menolak? Aku tidak ingin menikah dengannya"...
...****************...
Bunyi ketukan sepatunya menggema di sepanjang lorong sepi itu. Valerie Hillbert terus melangkah sampai akhirnya berhenti di depan sebuah pintu raksasa di ujung lorong.
Tanpa menunggu lama, Valerie langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Beberapa umpatan masih terus lolos dari mulutnya, dia baru berhenti setelah mendapat teguran dari sang ibu yang kali ini meletakkan pensil dan kertasnya di atas meja.
"Sekretaris ibu bilang kau tak henti-hentinya mengumpat saat di pintu masuk tadi, hentikan kebiasaan buruk mu itu! Sekarang ada apa lagi?" Valerie berjalan menuju manekin yang mengenakan gaun putih di belakang meja kerjanya.
"Evelyn Hillbert, dia sinting!" Valerie menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa yang ada di ruang kerja ibunya.
Veronica hanya menggeleng heran, lagi-lagi mereka bertengkar. Kali ini apa lagi yang mereka ributkan? Veronica berbalik, wanita yang nampak masih muda itu masih tetap cantik. Mungkin penampilan bisa menipu tapi sebenarnya dia seorang ibu dari tiga orang anak yang kini ketiga anaknya sudah beranjak dewasa.
"Itu gaun pengantin milik siapa Mom?" Valerie penasaran kenapa ibunya lama sekali mengerjakan gaun itu, sebenarnya gaun pengantin itu milik siapa? Apakah milik orang penting? sampai-sampai ibunya langsung turun tangan mengerjakan gaun itu tanpa mau di bantu oleh pegawainya.
Tidak ada jawaban dari sang ibu, pada akhirnya Valerie kembali fokus pada ponselnya.
"Milikmu" Beberapa menit kemudian akhirnya Veronica menjawab, membuat sang putri yang kini tengah minum segelas air tersedak dan batuk-batuk selama beberapa saat.
"Jangan bercanda mom!" Valerie mengusap sisa air di ujung bibirnya.
"Sungguh, ini gaun milikmu" Veronica berjalan ke arah Valerie, menarik tangan Valerie kemudian membiarkan putri sulungnya itu berdiri tepat di depan manekin tersebut.
Valerie bungkam selama beberapa saat, dia tak bisa membayangkan tubuhnya memakai gaun indah itu. Detik itu juga beberapa pertanyaan mulai terlintas di benak Valerie, Ini sungguh terjadi? Dia akan segera menikah?
Woah....secepat itu? Padahal dua minggu yang lalu dia masih berenang-senang bersama teman-temannya, seperti pergi berkemah sambil mendaki gunung atau melakukan pajama party. Kemudian pergi ke pantai dan musim panas tahun depan, mereka masih punya rencana liburan yang belum terpenuhi.
Membayangkan dirinya yang akan segera berumah tangga membuat kepalanya pening, Itu bukan hal sepele. Valerie tersadar dari lamunan panjangnya saat sang ibu menepuk pelan pundaknya.
"Ingin mencobanya?" Veronica segera berjalan menuju manekin, hendak melepas gaun itu dari patung plastik tersebut.
"Mom apa aku tak bisa menolak? Aku tidak ingin menikah dengannya"
Veronica yang tengah menurunkan resleting gaun itu lantas gerakannya terhenti, netranya kembali pada sang putri yang kini nampak memelas.
"Apa yang membuatmu tak ingin menikah dengannya?"
Valerie bergerak dengan gelisah, hendak menjelaskan alasannya menolak pernikahan ini. Namun, entah kenapa ini begitu sulit di jelaskan, padahal sudah di ujung lidah namun semuanya tertahan saat sang ibu mengatakan sesuatu yang membuat Valerie tak mampu bersuara.
"Jika saja kami dulu tidak membuat janji, mungkin kau tidak perlu menghadapi perjodohan ini. Maaf karena harus membuatmu menerima semua ini, sayang. Gara-gara kami, kau tidak bisa bahagia bersama dengan orang yang kau cintai. Namun Valerie, percayalah, cinta bisa tumbuh karena terbiasa, seiring berjalannya waktu ibu yakin kau akan mencintainya, karena ibu juga pernah mengalami hal yang sama. Lagi pula, Aldrick tidak seburuk yang kau kira."
Valerie merotasikan manik matanya malas, Cinta tumbuh karena terbiasa? Membayangkan dirinya yang nantinya jatuh cinta pada Aldrick Grant saja membuat Valerie merasa ngeri.
"Itu artinya, dulu mom dan dad juga di jodohkan?" Tanya Valerie.
Veronica tertawa mendengar pertanyaan dari Valerie "Tentu saja tidak, kami menikah karena saling mencintai. Ahh...masa-masa itu sungguh indah, mom bertemu ayahmu saat di bangku kuliah. Ayahmu itu dulu senior yang menyebalkan, mom yang baru masuk sering sekali di jahili"
"Dulu ayah seperti itu? Bukankah ayah dan mom dulu satu angkatan? Ayah bilang dia mahasiswa teladan saat kuliah." Valerie mengernyit heran, menatap bingung pada sang ibu yang terkadang menceritakan sosok ayahnya yang sikapnya sungguh berbanding terbalik dengan ayahnya yang sekarang.
Ibunya seolah menceritakan sosok ayah yang lain, apa mungkin? Ibunya selalu teringat pada mantan pacarnya? Ahh tidak mungkin, lagi pula ibunya selalu mengatakan bahwa dia mencintai ayahnya, jadi mana mungkin ibu masih belum melupakan mantan pacarnya.
Valerie menggeleng kuat, mungkin dia terlalu berpikir berlebihan. Ohh ayolah, sekarang ayahnya sudah cukup tua untuk melakukan hal semacam itu. Sekarang sudah berubah, ayahnya sudah berkeluarga dan memiliki tiga anak yang kini sudah tumbuh dewasa.
"Mom lupa, Itu cerita senior mom dulu. Senior mom ada yang sifatnya begitu, nakal dan jahil. Entah kenapa mom malah tiba-tiba ingat padanya" Veronica memijat pelipisnya pelan "Ahh..benar juga, jangan bilang pada ayahmu. Dia suka cemburu kalo mom bercerita soal senior itu"
Valerie memicingkan mata, ternyata benar, itu adalah cerita tentang mantan pacarnya. Valerie teringat sesuatu yang tadi ibunya katakan. Sebuah janji katanya? Apa janji yang ibunya buat sampai-sampai dia harus menerima getahnya?
"Tadi mom bilang, sebuah janji? Memangnya janji apa yang kalian buat?"
Veronica berhasil melepas gaun itu, lantas dia membawa gaun itu pada Valerie. "Dengar baik-baik, Erie" Veronica meraih tangan Valerie, terdengar helaan napas dari mulutnya sebelum memulai cerita.
"Perusahaan kakek sempat terpuruk dulu dan nyaris hancur. Kakekmu yang tak ingin itu terjadi, akhirnya membuat kesepakatan dengan paman Albert, kakeknya Aldrick. Dia akan membantu kakek asalkan dengan satu syarat, yah...intinya paman Albert dan kakekmu ingin anak mereka menikah tapi ternyata mereka berdua sama-sama memiliki seorang putra, karena itu mereka tidak bisa menikah, lalu ayahmu sepakat dan akan menepati janji itu dengan menikahkan putrinya dengan putra Mr Grant yang sekarang"
"Kenapa begitu? Ya ampun, apa ini semacam pernikahan bisnis?" Valerie menatap ibunya tak percaya.
"Lalu sepeninggal kakek, kami berjanji akan menikahkan salah satu putra dan putri kami, tapi kau tidak perlu khawatir. Aldrick itu pria baik, dia jelas sudah mapan di usianya yang terbilang cukup muda, mom lega karena pria seperti Aldrick akan menjadi suamimu nantinya"
"Mom tidak bisa menilai orang dari luarnya saja" Sahut Valerie dengan suara yang nyaris pelan. "Kenapa mereka tidak membuat kesepakatan lain saja?"
"Mom tidak tahu tentang itu. Kenapa mereka malah memilih pernikahan di antara semua pilihan yang ada. Ya sudah, ini." Veronica mendorong Valerie ke ruang ganti.
"Kau harus mencobanya dulu, jangan lupa hubungi Aldrick, ya. Suruh dia datang ke sini besok. Dia juga harus mencoba tuxedo nya, sekarang memang belum jadi tapi besok pasti selesai"
...****************...
"Tuan, kami sudah menemukan orang yang tuan cari" Seorang pria bersetelan hitam dan berperawakan kekar tinggi berjalan menuju meja kerja sang atasan yang nampak sibuk memutar-mutar pena di tangannya.
Tanpa di minta, pria itu menyodorkan sebuah amplop besar berwarna coklat ke meja kerja atasannya.
Pria yang menjadi atasannya itu lantas menyimpan pena itu ke tempatnya semula, beberapa lembar dokumen di atas meja di biarkan begitu saja, bagaimana pun juga dia lebih tertarik pada amplop coklat tersebut.
Dengan perasaan was-was pria itu meraih amplop coklat tersebut. Dia hanya menatapnya selama beberapa saat sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengeluarkan isi dari amplop tersebut.
"Tuan Grant"
Gerakan sang atasan yang hendak mengeluarkan isi dokumen tersebut lantas terhenti, atensinya kembali pada pegawainya yang nampaknya merasa was-was juga.
"Kenapa?" Tanya Aldrick yang nampak kesal pada pria itu, dia sudah tidak sabar ingin melihat isi amplop tersebut.
"Tidak jadi, tuan bisa langsung memeriksa isi dokumen itu" Dia menunduk sejenak kemudian kembali berdiri dengan tegak.
Alis Aldrick menukik tajam, dia semakin penasaran dengan dokumen tersebut.
Lembar pertama adalah sebuah data diri, Aldrick membacanya secara saksama. Setelah sekian lama, akhirnya dia berhasil menemukan orang yang sudah lama dia cari. Jika dulu dia tak bisa mencarinya karena keterbatasan koneksi, maka kali ini berbeda. Dia yang sekarang sudah berbeda dengan dirinya saat remaja dulu, yang tak tahu harus mulai dari mana agar dia bisa menemukan orang itu.
Dirinya yang sekarang bisa dengan leluasa mencari orang itu, misalnya seperti menyewa seorang detektif dan hal lain sebagainya.
"Christopher Evans, pria berkebangsaan Canada namun dia berdarah China yang berasal dari neneknya, yang ternyata orang China asli. Setelah dua puluh tahun di penjara akhirnya dia di bebaskan." Aldrick mengernyit.
"Itu artinya, dia bebas dari penjara enam bulan yang lalu?"
"Ya tuan" Kali ini pria itu nampak takut melihat bagaimana reaksi Aldrick yang nampak kesal. Aura mengintimidasi bisa dia rasakan, begitu kuat dan dia bisa merasakan bagaimana aura itu menyebar bahkan sampai menguasai seluruh ruangan. Sebentar lagi dia pasti akan memarahinya, tentu saja.
"Dia memiliki seorang putri yang kini berusia dua puluh lima tahun, namun kami belum bisa menemukan putrinya" Jelas pria berjas itu. "Menurut informasi dari kenalan saya, dia berhasil mendirikan sebuah organisasi gelap yang melayani perdagangan senjata, transplantasi organ secara ilegal dan perdagangan obat-obatan, dia juga melayani jasa pembunuh bayaran. Menurut saya, anda tidak perlu meneruskan ini tuan, orang itu berbahaya"
Aldrick meremas kertas dokumen tersebut, emosinya memuncak. Dendamnya lebih besar dari apapun, melampiaskannya dengan sebuah kemarahan saja tentu tidak cukup, memangnya dengan mengamuk tidak jelas dendamnya akan hilang? Tentu saja tidak dan Aldrick sungguh membenci itu.
"Woah...dalam waktu enam bulan dia bisa melakukan itu semua?" Aldrick menggebrak mejanya "Lalu selama ini apa yang kalian kerjakan? Dia bebas enam bulan yang lalu dan kalian baru menemukan orang itu sekarang?" Aldrick berteriak kesal. Dia melonggarkan dasi yang melilit di lehernya yang entah kenapa terasa begitu mencekik.
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Menurut laporan, dia sekarang sedang berlibur di mansion mewahnya di pulau Sisilia Italia"
Kemarahan Aldrick semakin memuncak, mengabaikan ponselnya yang berbunyi dari tadi. Dia meninju meja kerjanya yang terdapat foto orang itu yang terpampang jelas di sana.
Orang itu nampaknya bahagia menikmati liburan sementara dirinya di sini masih menderita bahkan sampai sulit tidur di malam hari.
"Tuan ponsel anda dari tadi berbunyi" Pria berjas hitam itu mencoba meredakan amarah atasannya dengan dalih ponselnya berbunyi, dia sendiri tidak yakin cara itu akan berhasil, mungkin saja sedetik kemudian ponsel itu akan hancur akibat emosi Aldrick yang meluap.
Ternyata cara itu berhasil, Aldrick melirik ponselnya, setelah mencoba menstabilkan suasana hatinya, Aldrick meraih ponselnya. Sedetik kemudian, matanya membulat dengan sempurna setelah mengetahui siapa yang meneleponnya.
"Erie Calon istriku"
Air muka Aldrick berubah tiga ratus enam puluh derajat. Auranya sangat berbeda dengan tadi dan pria berjas hitam itu sedikit bernapas lega karena calon istri atasannya tanpa sengaja sudah berhasil menyelamatkan nyawanya.
Jika saja wanita itu tak menelpon, mungkin dia bisa kena amuk bos nya yang sedang marah itu.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments