A scarf and hair clip

..."Kalau aku tidak suka benda ini, aku pasti sudah membuangnya. Kau bisa melihatnya sendiri, aku masih menyimpannya sampai sekarang" ...

...****************...

"Ini gaun murahan ya?" Aldrick memiringkan kepalanya, dia menatap Valerie dari samping.

"A—apa?" Valerie mendengus kesal sedangkan Aldrick malah tertawa "Sudah selesai?"

"Sebentar, ini hal yang mudah" Aldrick menarik resleting itu ke bawah secara perlahan, melepaskan rambut yang tersangkut dengan hati-hati.

"Tarik saja, ke atas. Aku tidak akan mengganti bajuku" Valerie mencoba untuk tetap tenang, namun sekeras apa pun usahanya, dia masih tetap tidak bisa tenang. Bagaimana pun juga Aldrick seorang pria.

"Yakin? Bukannya tadi kau bersikeras ingin berganti baju?" Lewat cermin di depan sana, Aldrick menunjukkan smirk nya pada Valerie.

"Tidak jadi, aku rasa ide yang buruk melakukan itu saat kau ada di sini" Valerie sedikit menunduk sambil memejamkan matanya rapat-rapat, dia tak berani menatap pantulan sosok Aldrick di cermin.

Aldrick masih berusaha menggoda Valerie, dengan cara menarik resleting gaun Valerie ke bawah secara perlahan. Valerie yakin, sekarang Aldrick bisa melihat bagian belakang pengait bra nya, tubuhnya yang polos pasti sudah terlihat juga.

"Berhenti main-main! Tarik saja resletingnya ke atas. Bukankah kau sudah janji tidak akan menyentuhku?"

"Tentu, aku tak pernah mengingkari janji."

"Kalau begitu, lepaskan! Sekarang aku bisa melakukannya sendiri"

Aldrick bisa melihat kulit putih mulus dan pundak polos Valerie yang bergerak naik turun, ke atas dan ke bawah secara bergantian. Dia nampak tak tenang, Aldrick pun merasakan hal yang sama. intuisinya berhasil mengambil alih kesadarannya. Perlahan ibu jarinya bergerak lembut menyentuh bagian atas pundak Valerie.

Membuat Valerie yang merasakannya meremang. Di tambah lagi, nafas hangat Aldrick di lehernya benar-benar hampir membuat Valerie gila. Mereka sama-sama terbuai satu sama lain. Namun, Aldrick langsung berbalik sebelum tindakannya tak terkendali.

Ini benar-benar gila, seharusnya Valerie mendorong pria itu tadi. Namun, entah kenapa rasanya sulit sekali berbalik. Valerie tak berani menatap Aldrick tadi. Sekujur tubuhnya serasa membeku. Wajahnya yang memanas berbanding terbalik dengan telapak tangannya yang terasa dingin. Valerie kembali membuka matanya, netranya langsung tertuju pada pantulan sosok Aldrick di cermin, dia masih berdiri membelakanginya. Pria itu menepati janjinya, meski selama beberapa detik dia sempat hilang akal.

"Aku akan kembali ke bawah" Aldrick berjalan gontai menuju pintu kamar, dia menutupnya dengan pelan sebelum akhirnya kakinya kembali menuruni tangga menuju lantai bawah.

...****************...

^^^Seorang Pria nampak sibuk dengan beberapa berkas di balik meja kerjanya, atensinya memindai setiap dokumen di atas meja sana.^^^

Pekerjaannya hampir selesai sekarang, sejenak dia memutar kursi kebesarannya kemudian menatap pemandangan kota di malam hari di balik dinding kaca tebal di belakang meja kerjanya.

Dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Di saat bersamaan pintu ruang kerjanya terbuka, menampilkan Vincent Leighton yang ternyata belum pulang juga. Vincent adalah teman masa kecil Aldrick dan sekarang mereka adalah rekan di tempat kerja.

Aldrick kembali memutar kursi, tangannya sibuk membereskan berkas-berkas di atas meja.

"Jam kerja sudah berakhir, aku bisa berbicara santai padamu, kan?"

"Tentu saja"

"Ray dan yang lainnya sedang di tempat biasa. Kau ingin bergabung juga?"

Aldrick memikirkan ajakan dari Vincent selama beberapa saat, hari ini dia ada makan malam dengan Valerie. Jika di suruh memilih antara dua hal tersebut, tentu saja Aldrick akan memilih makan malam bersama Valerie. Berkumpul dengan teman-temannya bisa di lakukan nanti. Namun, makan malam bersama Valerie akan sulit jika di lakukan nanti.

"Aku ada urusan lain"

Vincent memicingkan matanya "Kau berniat melanjutkan pekerjaanmu di rumah?"

Pintu kembali terbuka, kali ini yang terlihat adalah sekretarisnya Aldrick.

"Tuan, nona Valerie sudah sampai. Dia sekarang sedang menuju kemari"

Mendengar hal itu lantas Aldrick meraih jas kerjanya, setelah mengenakan jas ke tubuhnya sesekali Aldrick akan merapikan tatanan rambutnya yang cukup berantakan. Karena di rasa dasinya tak rapi, Aldrick melepasnya kemudian kembali melilitkan dasi itu ke lehernya.

"Aahh...jadi akan ada seseorang yang datang dan dia adalah calon istrimu?"

"Yeahh..."

"Kau tidak ingin menghabiskan malam akhir pekanmu bersama Purple? Katanya Ray sudah menyuruhnya untuk tak menerima klien malam ini. Hanya demi melayani mu, ahh...bukan, maksudku, gadis dengan kode name Purple itu yang menginginkanmu"

"Mungkin lain kali, suruh saja dia menghabiskan malamnya bersama Ray"

"Ray sudah tak melakukan itu lagi sekarang. Kau lupa? Sekarang dia punya pacar"

"Ahh...benar juga. Lalu kenapa di-"

"Purple yang menginginkanmu. Aku sudah mengatakan tadi"

"Bitc—"

Aldrick hampir saja mengumpat, namun tidak jadi begitu melihat pintu kembali terbuka. Menampakkan gadis yang sudah Aldrick tunggu dari tadi.

"Ehem...aku pergi dulu" Vincent menepuk-nepuk pundak Aldrick. Sambil berbisik "Sebaiknya kau berhenti melakukan one night stand, ya sudah, aku duluan."

Sementara di ambang pintu, Valerie yang nampak berdiri dengan angkuh hanya bisa merotasi kan manik matanya.

Valerie menatap Vincent yang berjalan melewatinya, mereka saling melempar senyuman tipis hanya untuk formalitas. Setelah Vincent pergi Valerie kembali menatap Aldrick.

"Masuklah"

"Tidak perlu, kita langsung berangkat saja. Aku ingin segera pulang dan beristirahat. Kau harus tahu, makan malam ini hanya formalitas saja! Jangan salah paham!"

Singkat cerita, makan malam ini memang sudah di atur oleh Veronica dan Arianna. Kedua wanita itu memang turut andil dalam kedekatan mereka berdua, yah...meskipun itu terlihat seperti pemaksaan di pihak Valerie. Sedangkan di pihak Aldrick tidak seperti itu, dia dengan senang hati mau makan malam bersama Valerie.

"Tidak masalah, itu cukup membuatku senang"

Valerie melangkah lebih dulu, kemudian di susul oleh Aldrick yang melangkah dengan cepat. Pria Grant ini mencoba menyejajarkan langkah kakinya dengan Valerie.

"Omong-omong kau potong rambut?" Aldrick berbalik, dia berjalan mundur karena ingin melihat wajah Valerie lebih lama lagi.

"Hmm..."

"Kenapa tidak memberi tahuku?" Aldrick nampak merengut kesal, sedangkan Valerie Hillbert nampak acuh meski wajahnya sedang di perhatikan oleh Aldrick.

"Aku rasa itu tidak perlu" Balas Valerie cuek. Dia melirik Aldrick sejenak "Jalan yang benar! kau bisa menabrak orang kalau berjalan seperti itu"

"Tunggu, kau mengkhawatirkan?"

"Tidak"

Aldrick menyilangkan lengannya. Karena dia berjalan di sisi kiri, Aldrick jadi tak bisa melihat sisi kanan tubuh Valerie. Alhasil Aldrick tidak tahu, bahwa hiasan rambut yang dia berikan tiga hari yang lalu, tersemat dengan manis di sana.

Bukan hanya Aldrick yang tidak sadar, namun Valerie juga tidak menyadari kalau benda itu terpasang di sana.

"Tunggu!" Aldrick menghadang langkah kaki Valerie dan membuat Valerie mengernyit heran.

"Di kepala mu" Aldrick menunjuk sisi kanan rambut Valerie "Kau memakainya" Aldrick nampak heboh, dia beralih menuju sisi kanan Valerie dan memperhatikan hiasan rambut itu dalam jarak yang cukup dekat.

Valerie yang kebingungan lantas menyentuh bagian kanan kepalanya, telapak tangannya bisa merasakan sebuah benda kecil tersemat di sana. Seingatnya, dia tak memakai ini tadi, lantas bagaimana benda itu bisa terpasang di rambutnya?

"Bersikap baiklah pada calon suamimu"

Valerie yang masih sibuk bermain ponsel tak mengindahkan ucapan ibunya serta tangannya yang mengelus-elus rambut Valerie, dia biarkan begitu saja. Toh, itu sudah biasa, ibunya memang sering melakukan itu sejak Valerie masih kecil.

Bahkan sampai sekarang pun masih begitu.

Tanpa sepengetahuan Valerie, Veronica memasang kan hiasan rambut tersebut di sana.

"Ini pasti ulah ibuku" Gumam Valerie sambil melepas hiasan rambut tersebut dengan kasar.

Tanpa pikir panjang, Valerie langsung memasukkan benda berkilauan tersebut ke dalam saku mantelnya.

"Kenapa di lepas?"

"Aku tidak terbiasa memakainya" Jawab Valerie seadanya, dia tidak ingin membuat-buat alasan atau pun mengatakan sesuatu yang mungkin bisa menyakiti perasaan pria itu. Meski Valerie tak menyukai pria yang ada di sampingnya ini, bukan berarti dia bisa menyakiti perasaannya seenaknya.

"Kau tidak suka benda itu?"

Mereka akhirnya sampai di tempat parkir, Aldrick menahan pintu mobil yang hendak di buka oleh Valerie. Mereka saling diam dan tanpa sengaja saling bertatapan, Valerie mengalihkan tatapannya ke arah kaca mobil. Selama beberapa saat, Valerie hanya menatap bayangan dirinya di sana.

"Kalau aku tidak suka benda ini, aku pasti sudah membuangnya. Kau bisa melihatnya sendiri, aku masih menyimpannya sampai sekarang"

Secara tak langsung, Valerie mengatakan dia cukup menyukai benda kecil berkilauan itu. Akan tetapi makna dari ucapannya itu entah sampai atau tidak pada Valerie, yang jelas, dia sudah mengatakannya. Yah...meskipun secara tak langsung.

"Jangan salah paham! Aku hanya menghargai usaha mu" Ralat Valerie.

"Aku tau, aku tau. Setidaknya kau tak perlu mengatakannya dengan jelas. Padahal suasana hatiku sedang baik hari ini"

.

Pada akhirnya Aldrick yang membukakan pintu untuk Valerie. Detik berikutnya sebuah senyum jahil terbit di kedua sudut bibirnya. Bermain-main sedikit tidak masalah bukan?

"Jangan salah paham! kebetulan saja aku ada di sini, sekalian saja aku buka kan pintunya untukmu" Aldrick meniru nada bicara Valerie, namun setelahnya Aldrick malah tertawa. Dia tak bisa berlama-lama berlagak ketus seperti Valerie. Sejatinya, itu bukan sifat Aldrick Grant.

Aldrick berjalan memutari bodi mobil, setelah melirik Valerie yang masih memasang air muka yang sama seperti tadi, Aldrick segera masuk ke mobil.

"Aku sudah tau, kau pasti tidak akan tertawa"

"Bisa cepat sedikit? Kenapa kau terus mengulur waktu?" Valerie mengernyit kesal.

"Kau tau kenapa?" Aldrick seolah tidak peduli walaupun Valerie terlihat tak begitu senang.

"Tidak mau tau dan tidak peduli" Valerie bertopang dagu, mengabaikan Aldrick yang saat ini masih memperhatikannya.

Setelah di pikir-pikir kenapa di umurnya yang kedua puluh lima ini, dia malah menjalani kehidupan yang merepotkan. Padahal selama ini hidupnya tenang-tenang saja sebelum mengenal Aldrick Grant.

Selama tiga hari terakhir, setiap pagi-pagi sekali Valerie akan mendapat sebuah pesan.

Sebuah pesan singkat yang isinya hanya ucapan selamat pagi, lalu beberapa kalimat lainnya seperti, jangan lewatkan sarapan pagi atau sang pengirim pesan berharap bahwa Valerie bisa menjalani hari-harinya dengan menyenangkan.

Menyenangkan? Valerie rasa kata-kata itu tidak pas untuk menggambarkan suasana hatinya akhir-akhir ini. Bagaimana mungkin bisa di sebut menyenangkan sementara pria itu yang sering sekali mengacaukan kehidupannya.

Kalian tidak akan percaya apa yang Valerie alami selama tiga hari terakhir ini, di hari senin kemarin. Aldrick tiba-tiba datang ke kantornya dan mengumumkan tentang pernikahan mereka.

Ohh... Ayolah, mereka bahkan belum bertunangan, katanya sebelum menikah, Aldrick ingin mengadakan acara pertunangan.

Itu keinginan Aldrick tentunya. Bukan keinginan Valerie.

Di hari kedua, Aldrick kembali datang dan menjadi pusat perhatian di kantornya. Kali ini tujuannya sederhana, dia hanya ingin memastikan Valerie makan siang dengan baik.

Hal itu bisa di katakan lewat pesan. Tidak perlu sampai repot datang ke kantor tempat Valerie bekerja. Dia juga sibuk dengan pekerjaannya, bukan? Pekerjaannya pasti tak kalah banyak dengan Valerie.

Selanjutnya pagi tadi, Valerie mendapat sebuah kiriman berupa buket bunga yang cukup besar di meja kerjanya. Karena hal itu, rekan-rekannya di kantor penasaran dan banyak yang melirik ke arah meja kerjanya, selain itu ada sebuah paperbag juga di sana.

Namun Valerie hanya melirik isinya saja tanpa mau mengeluarkan benda yang ada di dalam paperbag tersebut. Bukan tidak ingin melihat, namun dia tidak ingin mengeluarkannya di depan banyak orang. Di tambah lagi, dia sudah tahu apa isi dari paperbag tersebut.

Itu sebuah syal. Sebentar lagi musim dingin, Valerie akan menerimanya dan mungkin nanti dia bisa memakainya sesekali. Valerie cukup bernafas lega, setidaknya Aldrick tidak mengirimkan benda yang tidak Valerie sukai.

"Karena...." Aldrick menoleh ke arah Valerie, lagi lagi tatapan mereka saling bertemu dan itu cukup membuat Valerie tak bisa melakukan apa-apa. "Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu, yah...setidaknya dengan cara mengulur waktu seperti ini cukup berhasil

...****************...

Terpopuler

Comments

alivya Hanida

alivya Hanida

jleb

2024-12-31

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 First Impression
3 Cerita di Balik Sepatu High Heels
4 I know your birthday
5 Wisecrack
6 Who?
7 Ryder
8 Resleting
9 A scarf and hair clip
10 Dinner
11 Weekend
12 It Is a Gift
13 The Same Person
14 Hate
15 Heavy Heart I
16 Heavy Heart II
17 Gloomy Morning
18 Drama
19 One Years Ago
20 As You Love It
21 Red Wedding Dress I
22 Red Wedding Dress II
23 Red Wedding Dress III
24 Lonely
25 Seandainya Kita Bertemu Lebih Awal
26 Mafia Boss??
27 Untouchable
28 Sigma Gold
29 Little by Little
30 A Little Naughty
31 Challenge
32 Ruang Rahasia
33 Banana Milk
34 Isi dari Ruang Rahasia
35 Bittersweet
36 Choice
37 A Warm Hug
38 Reason?
39 Not Acceptable
40 Pergi ke Pantai
41 First Love?
42 Grandma's House
43 Again?
44 The Second Time
45 Cerita Masa lalu Al
46 Seorang Bodyguard?
47 I'll protect You
48 Evelyn kembali?
49 Renggang
50 Incident
51 Curious
52 Two Sides
53 The Assassin
54 Ancaman?
55 Nevertheless
56 Step Back
57 Pregnant?
58 Christmas gift?
59 Taruhan
60 Surat Cerai
61 Craving
62 Jump
63 Trauma
64 Rahasia terungkap
65 Pria Kaku & Wanita Bar-bar
66 Dilemma
67 Pergulatan Batin
68 Max
69 Penyesalan?
70 Early Morning
71 Nebraska
72 Surat Wasiat
73 A Key
74 Bad News
75 Surat Darinya
76 Penyesalan
77 Aku Pulang...
78 Sebuah Janji
79 Gairah Yang Tertahan
80 Passionate Kiss
81 Sunset
82 Traitor
83 Melihatmu Dengan Cara Yang Berbeda
84 Confidential Documents
85 Teman Lama
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Prolog
2
First Impression
3
Cerita di Balik Sepatu High Heels
4
I know your birthday
5
Wisecrack
6
Who?
7
Ryder
8
Resleting
9
A scarf and hair clip
10
Dinner
11
Weekend
12
It Is a Gift
13
The Same Person
14
Hate
15
Heavy Heart I
16
Heavy Heart II
17
Gloomy Morning
18
Drama
19
One Years Ago
20
As You Love It
21
Red Wedding Dress I
22
Red Wedding Dress II
23
Red Wedding Dress III
24
Lonely
25
Seandainya Kita Bertemu Lebih Awal
26
Mafia Boss??
27
Untouchable
28
Sigma Gold
29
Little by Little
30
A Little Naughty
31
Challenge
32
Ruang Rahasia
33
Banana Milk
34
Isi dari Ruang Rahasia
35
Bittersweet
36
Choice
37
A Warm Hug
38
Reason?
39
Not Acceptable
40
Pergi ke Pantai
41
First Love?
42
Grandma's House
43
Again?
44
The Second Time
45
Cerita Masa lalu Al
46
Seorang Bodyguard?
47
I'll protect You
48
Evelyn kembali?
49
Renggang
50
Incident
51
Curious
52
Two Sides
53
The Assassin
54
Ancaman?
55
Nevertheless
56
Step Back
57
Pregnant?
58
Christmas gift?
59
Taruhan
60
Surat Cerai
61
Craving
62
Jump
63
Trauma
64
Rahasia terungkap
65
Pria Kaku & Wanita Bar-bar
66
Dilemma
67
Pergulatan Batin
68
Max
69
Penyesalan?
70
Early Morning
71
Nebraska
72
Surat Wasiat
73
A Key
74
Bad News
75
Surat Darinya
76
Penyesalan
77
Aku Pulang...
78
Sebuah Janji
79
Gairah Yang Tertahan
80
Passionate Kiss
81
Sunset
82
Traitor
83
Melihatmu Dengan Cara Yang Berbeda
84
Confidential Documents
85
Teman Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!