...Hatinya semakin tak karuan, di antara kedua pilihan tadi. Valerie kembali mempertimbangkan keputusan mana yang harus dia ambil....
...****************...
Cahaya matahari bersinar begitu terik hari ini namun, cukup sebanding dengan angin yang berembus cukup kencang, menerbangkan dedaunan kering yang berguguran di setiap pohon di sepanjang jalan.
Begitu sampai di tempat tujuan, Valerie Hillbert memarkirkan mobilnya, dia lantas turun dari mobilnya. Netranya tak pernah lepas menatap ke arah Cafe yang cukup ramai di daerah sana.
Sejenak netranya melirik arloji yang melingkar indah di pergelangan tangan cantiknya. Rencananya, Valerie ingin menjadi orang yang paling telat datang di antara mereka namun ternyata dia yang pertama tiba di sini.
Itu seperti menunjukkan dia yang paling bersemangat di sini, ya ampun jangan sampai mereka berpikir seperti itu.
Valerie mencoba mencari-cari alasan kenapa dia tiba paling awal di sini. Di antara semua alasan yang dia pikirkan Valerie paling suka dengan alasan ini. "Aku hanya mencoba untuk datang tepat waktu"
Sekali lagi Valerie melirik arloji, dia nampak kesal begitu mengingat Evelyn yang sudah pasti akan terlambat. Katanya, dia masih ingin menghabiskan waktu berduaan bersama pacarnya, jika ingin begitu. Lantas? Kenapa Evelyn malah mengusulkan acara makan siang ini.
Kemudian Aldrick Grant, pria itu katanya akan terlambat juga karena ada urusan.
Valerie kembali mengedarkan pandangannya, netranya tanpa sengaja menangkap seorang pria yang berjalan ke arahnya. Pria itu adalah pemilik Cafe. Sudah pasti, dia mengenalnya dan baru mengetahui namanya tadi pagi.
"Selamat siang Mr Cavill" Sapa Valerie.
Yang di panggil pun lantas tersenyum. Pria itu menarik kursi di depan Valerie kemudian dia mendudukkan dirinya di sana. "Kau datang lagi? Nona Hillbert. Kali ini kau tidak datang sendirian, kan?"
Valerie melemparkan seulas senyuman pada Henry "Tentu saja tidak, adikku dan pacarnya sebentar lagi datang, mm...ya dan juga satu orang lagi selain mereka"
"Sambil menunggu, ingin memesan sesuatu?"
"Tidak terima kasih, aku pesan nanti saja"
"Okay, kalau begitu saya ke dalam dulu"
Valerie mengangguk pelan, sambil tersenyum. Netranya kembali menatap sekeliling kemudian di detik berikutnya Valerie menemukan Evelyn yang datang bersama seorang pria. Adiknya baru sampai ternyata.
Evelyn melambaikan tangan dan di balas dengan senyuman oleh Valerie. Adiknya dengan semangat berjalan ke arahnya. Di menit berikutnya, senyuman Valerie luntur begitu netranya menangkap seorang pria yang berjalan di belakang Evelyn.
Jangan bilang pria itu adalah pacarnya Evelyn. Tidak mungkin kan? Mungkin mereka hanya kebetulan bertemu.
Aldrick Lionel Grant.
Ya, pria itu yang datang bersama dengan Evelyn. Untuk pertama kalinya, Valerie melihat sosok Aldrick yang mengenakan pakaian yang cukup santai, pasalnya selama ini Valerie hanya pernah melihat Aldrick yang mengenakan setelan kantoran saja, kemeja putih di balut dengan jas hitam dan celana hitam, lalu dasi maroon polos yang melengkapi penampilannya.
Ahh...terkadang dia juga memakai dasi Navy atau warna lainnya. Dan terkadang, dia juga memakai dasi yang bercorak, tentunya bukan corak yang berwarna terang dan mencolok. Melainkan corak sederhana yang tidak terlalu mencolok. Seperti corak garis-garis.
Namun kali ini pria itu hanya mengenakan sweeter putih dengan celana jeans berwarna senada. Dia mengatakan sneakers putih, yang tidak berubah hanya gaya rambutnya saja.
"Ohh ayolah, Valerie Ini akhir pekan. Aldrick mana mungkin mengenakan setelan formal setiap hari" Ucap Valerie dalam hati.
"Kak ini pacarku yang tadi aku cerita, pacarku yang umurnya cukup jauh denganku"
Pertahanan Valerie hampir saja runtuh, dia yang tengah berdiri hampir saja ambruk begitu merasakan lemas di kedua lututnya.
Lantas, dia harus bagaimana sekarang? Haruskah dia jujur pada Evelyn bahwa yang datang bersamanya itu adalah calon suaminya? Ataukah dia harus merelakan pria itu bahagia bersama Evelyn?
Kedua pilihan itu terus berkecamuk di hatinya. Memporak porandakan batinnya yang terasa begitu tersiksa. Kenapa dia harus merasakan perasaan itu? Bukankah dia sudah menegaskan dia tidak suka pada Aldrick? Lantas perasaan apa ini? tak mengerti apa yang sebenarnya di inginkan, lantas Valerie kembali mendudukkan dirinya di kursi.
Hatinya semakin tak karuan, di antara kedua pilihan tadi. Valerie kembali mempertimbangkan keputusan mana yang harus dia ambil. Pertama, jika dia jujur, Evelyn pasti akan sedih dan sakit hati dan Valerie tidak ingin menyakiti perasaan adiknya, masih berputar dengan jelas di pikiran Valerie tentang Evelyn yang begitu bahagia menceritakan tentang pacarnya. Valerie belum pernah melihat Evelyn sebahagia itu.
Kemudian pilihan kedua, yaitu melepaskan. Itu adalah cara yang paling mudah, dia tidak akan terlibat perselisihan dengan adiknya. Dan hei, lagi pula Valerie tidak memiliki perasaan spesial pada Aldrick. Jika harus melepaskannya, itu mudah bukan? Namun entah kenapa hal itu malah membuat dadanya sesak. Setelah di pikir berulang-ulang kenapa malah keputusan ini yang paling sulit di ambil.
Di satu sisi, Aldrick pun tak kalah terkejutnya dengan Valerie. Dia masih bungkam setelah duduk di antara mereka.
Setelah cukup lama saling diam, akhirnya Aldrick yang pertama membuka suara "Eve dia—"
"Dia kakakku dan kakak perkenalkan, Dia Aldrick Grant, pacarku. Kau pasti tahu siapa dia bukan? Dia direktur muda dari perusahaan Grant Inc" Sahut Evelyn dengan cepat. "Kakak dimana calon suamimu?"
Valerie tahu itu, Valerie jelas tahu siapa pria itu. Pria itu yang tiga hari, larat empat hari terakhir ini mampu mengacaukan pagi indahnya.
"Eve sudah aku bilang kita tidak pacaran" Sahut Aldrick. "Jangan memutuskan secara sepihak"
"Tapi kita sudah bersama cukup lama, jika bukan pacaran lalu aku harus menyebutnya apa? Kita melakukan banyak hal bersama dan sering menghabiskan waktu bersama. Sudah cukup aku di gantung terus, kali ini aku ingin status kita pacaran"
Setelah mendengar ucapan Evelyn, Aldrick nampak gelisah, lantas dia mengalihkan tatapannya ke arah Valerie. Bagaimana reaksi gadis itu? Aldrick cukup penasaran.
"Eve kau harus mengetahui se—"
"Dia tidak datang, katanya dia sibuk dengan pekerjaannya" Sahut Valerie dengan cepat, sebelum Aldrick mengatakan yang sebenarnya.
Sedangkan Aldrick malah menatapnya dengan kecewa, banyak sekali hal yang ingin Aldrick katakan sekarang. Namun sepertinya Valerie Hillbert menyuruhnya diam untuk sementara.
Evelyn sedikit kecewa, padahal dia penasaran dan ingin bertemu dengan calon kakak iparnya itu. Dia pasti tampan dan sempurna. Secara, standar kakaknya begitu tinggi dalam urusan pria.
"Kenapa selama ini kau tidak bilang padaku?" Aldrick menatap Evelyn namun pertanyaan itu jelas bukan hanya untuk Evelyn saja namun pertanyaan itu berlaku juga untuk Valerie.
"Apa maksudmu? aku sudah bilang padamu kita akan bertemu dengan kakakku"
"Tidak maksudku—"
Aldrick hela nafas pelan, mulutnya terasa gatal ingin mengatakan yang sebenarnya. Namun, sang gadis yang kelak akan menjadi calon istrinya jelas tak mengizinkan hal itu, Valerie Hillbert masih memberi kode dengan maksud menyuruhnya untuk tetap diam.
Atmosfernya terasa aneh, Evelyn bisa merasakan hal itu. Ini pertama kalinya mereka saling bertemu, bukan? Namun entah kenapa Evelyn merasa tidak seperti itu. Dia merasakan mereka saling kenal dan pernah bertemu sebelumnya. Terlihat jelas dari cara mereka saling menatap atau saat mereka saling bicara.
Kedatangan seorang pelayan berhasil membuat suasana tegang mereka melunak, Valerie tersenyum dan berterima kasih pada pelayan.
Detik berikutnya, keheningan kembali tercipta di antara mereka berdua. Sementara Evelyn masih bercerita tentang kesehariannya selama kuliah di Paris, katanya dia hanya punya satu minggu lagi di Melbourne, minggu depan dia harus kembali ke negeri indah di Eropa sana. Melanjutkan kuliahnya yang tahun ini baru memasuki tahun kedua.
Valerie meraih cangkir kopi miliknya, menyesapnya sedikit, kemudian dia merasakan minuman hitam pekat itu menyebar ke permukaan lidahnya.
Pahit, itu yang Valerie rasakan. Sama seperti hatinya yang kian detik kian mengeruh. Lantas kata apa yang tepat untuk mendefinisikan suasana hatinya saat ini?
"Kakak dan Honey, aku ingin ke kamar mandi sebentar" Setelah meletakkan tas tangannya, Evelyn segera melesat pergi.
Bahkan Evelyn memanggil Aldrick seperti itu?
Ternyata, Aldrick memang berbohong. Dia yang sebelumnya mengatakan tidak punya pacar, sekarang malah mempertemukan calon istrinya dan pacarnya yang masih muda. Lebih parahnya lagi, perempuan itu adalah adiknya sendiri.
Valerie sudah menduganya karena tanpa sengaja dia pernah mendengar gadis yang menelpon Aldrick memanggil pria itu dengan mesra.
"Eve pulanglah dengan Edward eum...jangan menungguku terus, aku minta maaf karena tidak bisa menjemputmu"
Benar, Eve. Valerie menatap mereka secara bergantian. Akan tetapi, Valerie tidak pernah menyangka ternyata Eve yang Aldrick sebutkan itu adalah Evelyn Hillbert, adik perempuannya.
Hei! Lagi pula, gadis yang bernama Eve itu banyak, bukan hanya Evelyn saja. Wajar saja Valerie berpikir bahwa Eve itu adalah Eve yang lain.
Di satu sisi, Aldrick yang nampak menahan kesal lagi-lagi hanya bisa bisa menatap Valerie dalam diam.
Sedari tadi, mereka tak saling bicara.
"Kau salah paham, dia bukan pacarku"
"Lalu? Kau hanya mempermainkannya? Kau hanya menganggapnya sama seperti para wanita yang sering kau tiduri itu? Setelah bosan kau akan meninggalkannya. Bukan begitu? Itu yang sering kau lakukan bersama teman-temanmu, kan? sebaiknya kau berhenti, jangan jadikan adikku sebagai salah satu teman tidurmu."
"Aku selalu menghindarinya, adikmu! Aku sering menghindarinya. Tapi dia tak pernah menyerah dan terus saja mencari ku. Meski sudah tahu aku pria brengsek, dia tetap saja mengikuti ku dan dia yang menawarkan tubuhnya padaku. Kau salah paham tentang satu hal, aku tak pernah meminta para wanita itu datang padaku, tapi mereka yang menyerahkan tubuhnya padaku demi satu lembar cek di dompetku." Aldrick mencoba menjelaskan situasinya, berharap Valerie tidak salah paham.
"Tapi aku tak melakukan itu lagi sekarang, kali ini aku hanya minum - minum saja saat di pub, aku tak pernah menemui para wanita itu lagi karena aku berniat serius sekarang. Kalau kau takut menikah denganku karena itu, kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan selingkuh dan aku tidak akan meninggalkanmu." Aldrick masih mengatakan pembelaan, walaupun ucapannya tidak sepenuhnya salah, dia tetap merasakan perasaan bersalah pada Valerie.
Valerie meremas ujung mantelnya, dia tak tahan ingin melayangkan sebuah tamparan pada sang lawan bicara. Pria itu selalu seenaknya dan itu membuat Valerie kesal.
Adiknya tak mungkin seperti itu, dia tidak mungkin bertindak rendahan seperti itu hanya karena cinta. Valerie tahu betul sang adik yang harga dirinya begitu tinggi.
"Kau juga, kenapa tidak langsung mengatakan pada Eve bahwa aku adalah calon suamimu?" Tanya Aldrick, ada sedikit rasa kecewa dari nada suara nya Valerie pun menyadari hal itu. Di bandingkan dengan rasa kecewa Aldrick, sepertinya rasa kecewa nya lebih besar.
Begitu Evelyn kembali, mereka kembali saling diam seolah tak terjadi apa-apa.
Setelah berbincang sebentar, akhirnya Valerie memutuskan untuk pergi. "Karena aku sudah bertemu dengan pacarmu, sebaiknya aku pergi. Aku masih ada urusan" Valerie bangkit berdiri.
"Eh?? kakak bukan itu rencana awal kita. Bukankah kita akan makan siang bersama di restoran? Aku sudah memesan tempatnya"
Valerie hanya tersenyum simpul "Tidak Evelyn, aku tidak lapar. Kalian bisa makan siang berdua saja"
"Apa kakak membatalkannya karena calon suami kakak tidak datang?"
Valerie hanya mengernyit "Dia bukannya tidak datang, dia ada di sini. Pacarmu ini—ah..lupakan saja" Valerie mengalihkan pandangan
"Tidak, bukan karena itu. Aku memang sedang ada urusan Evelyn, mungkin kita bisa makan bersama di lain waktu"
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Cherisha
gue juga kaget, ngapain si eve manggil al honey segala 😭 dia itu calon suami kakak lu
2024-11-19
5
Cherisha
udah ngga usah ngalah, gas aja nikah sama Al
2024-11-19
2
Cherisha
gapapa mbak tampar aja
2024-11-19
2